Aku memang tak berarti, tapi bukan berarti aku mati. Walaupun aku hanya remah-remah kecil dunia diantara keangkuhan dan megahnya istana kalian, tapi aku masih sanggup berdiri tegak dengan penuh percaya diri.
Oh, sudah gilakah dunia ini? Tertutupkah mata hati sehingga tak lagi bisa mengerti?
Sebait kata aku teriakkan samar, ungkapan kegelisahan dan dorongan saraf yang membengkak di badan. Sebait kejujuran dalam huruf dan spasi yang kemudian aku mereka adili.
Oh, salahkah hati kecil ini kalau merasa tersakiti? Tak ada kah lagi ruang untuk berbicara jujur tanpa harus dibui?
Terasing aku diantara ramainya hiruk-pikuk ketidakadilan, merangkak dengan letih dan terseok demi menghentikan tangis anakku yang ingin disusui.
(Sebuah dedikasi untuk Ibu Prita Mulyasari. Jangan takut, kami tidak tuli, bu…)

![[Billboard Di Lampu Merah] - Siapa yang baca?](http://farm8.staticflickr.com/7011/6503542363_4e837e5fba_s.jpg)



















June 4th, 2009 at 1:37 pm
duh, speechless, put…
kata2mu itu dalem…
June 4th, 2009 at 11:05 pm
sayang jarak kita terlalu jauh kesana.. kita terus berteriak, dari sini..
June 5th, 2009 at 7:18 am
it is a crazy world we’re lived in bro, all we can do is trying to be a little bit sane, and use a little bit of heart.
*grenengan putus asa setelah euphoria berakhir dan tembok masih tebal berdiri*