Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya.
Sudah tiga hari pula ia tak berinteraksi dengan manusia nyata. Mungkin tidak sepenuhnya tiga hari, jika menjawab salam mbak Nani –asisten rumah tangganya– yang baru saja tiba, terhitung sebagai interaksi sosial langsung. Selebihnya, ia lebih banyak berdiam diri, dan menutup rapat-rapat telinganya sambil mendengarkan lagi-lagu yang menggambarkan perasaan hatinya.
Tepat ketika JA Verdianto menyanyikan “Hanya tinggal kita berdua”, sms tersebut masuk ke telepon genggamnya. Dilihatnya jam di dinding, sambil menghela nafas berat. Sms tersebut dikirim empat jam yang lalu, dan baru ia terima saat ini. Betapa operator telekomunikasi saat ini tidak mengenal lagi istilah customer satisfaction, hanya atas nama menyedot pelanggan sebanyak-banyaknya dengan tarif yang menyesatkan.
Namun seketika matanya terpaku kepada beberapa baris kalimat yang tertera di layar. Kekesalannya tidak lagi tertuju kepada operator, dan sejujurnya ia tak tahu harus kesal kepada siapa. Dibacanya lagi kata demi kata yang ditujukan kepadanya tersebut berulang kali, berharap ia salah membaca. Atau jika dibaca berkali-kali, mungkin kalimat tersebut akan berubah makna. Tapi tidak, kalimat itu tetap sama…
“Mas, aku dilamar orang. Selesai lebaran mungkin. Dan aku menerimanya..”
Sender: ..baby (06/04/2008 10:17 PM)
Seketika pula jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia seperti linglung, tapi segenap tenaga ia berusaha untuk tetap sadar dan berpikir jernih. ‘Tarik nafas, dan mencerna!’
Demikian batinnya berbicara. “Tidak, jangan kali ini. Jangan kali ini.. Tidak lagi..” Ia terbata berbicara, entah kepada siapa, mungkin berharap sekonyong-konyong masuk pesan berikutnya yang mengatakan itu hanya lelucon april mop yang terlambat lima hari.
Dan lima detik kemudian, masuk pesan lainnya. Dia menekan tombol VIEW.
“Maafin aku ya mas…”
Sender: ..baby (06/04/2008 10:19PM)
Tidak membantu. Pesan tersebut tidak membantu keadaan, malah memperburuknya. Ia pun terduduk lesu, tanpa perasaan yang jelas. Ditekannya tombol NEXT di pemutar musiknya yang di-set random, karena mendadak ia merasa sendiri di dunia ini. “Berdua saja sudah tak cukup baik, apalagi tinggal sendiri..” Lagi-lagi ia menggumam sendiri.
Ketika lagu berikutnya mengalun, ia mencoba bernostalgia. Amy Winehouse seolah menyambut kalimatnya, dengan berujar,
For you I was a flame
Love is a losing game
Five story fire as you came
Love is a losing gameOne I wish I never played
Oh what a mess we made
And now the final frame
Love is a losing gamePlayed out by the band
Love is a losing hand
More than I could stand
Love is a losing hand
Self professed… profound
Till the chips were down
…know you’re a gambling man
Love is a losing handThough I’m rather blind
Love is a fate resigned
Memories mar my mind
Love is a fate resignedOver futile odds
And laughed at by the gods
And now the final frame
Love is a losing game(Amy Winehouse – Love Is A Losing Game)
Ia ingin sekali membantah, tapi lalu ia terdiam. Mungkin Amy memang benar, love indeed is a losing game. Dan dia sama sekali bukan penjudi yang baik. Dengan parau ia berujar pada dirinya sendiri, “shit does happens, Yo. You have chosen your way, and you love that game. You know you will loose, but still, you put all your money on the table.” Ia tahu, ini adalah uang terakhirnya, dan jika ia kalah ia mungkin tak akan pernah bisa berjudi lagi.
Maka atas nama kepedihan pun, ia mengenang lagi apa yang terjadi sejak enam bulan terakhir dalam hidupnya. Betapa semua hal ia lakukan untuk tidak kalah kali ini, dan betapa ia berusaha untuk menjadi penjudi yang baik. Tapi keberuntungan tidak selalu datang –malah sangat jarang– kepada orang baik.
Dan sang kekasih pun kini ingin melangkah pergi. Dia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah gadis yang –mungkin masih– dicintainya itu untuk melambaikan tangan dan pergi. Logikanya memaksa ia untuk melawan dan berjuang mati-matian untuk memenangkan lagi pertarungan cintanya kali ini. Tetapi hatinya menolak dan melawan. ‘Tidak ada gunanya memperjuangkan apa yang tidak ingin dimenangkan,’ begitu kata hatinya.
Ia tahu, seluruh dunia mungkin mencemoohnya karena menyerah begitu saja. Tapi bukankah sang gadis telah membuat pilihannya? Dan bukankah itu adalah keputusan yang harus ia hormati? Bukankah itu berarti sang gadis hanya mengabarkan, dan tidak meminta pendapatnya? Tanpa ingin mengetahui alasan yang mendasari keputusan tersebut –karena seminggu yang lalu kata ‘i love you’ masih merupakan penutup pembicaraan di telepon– ia menyerah dan menunduk kalah.
Dan tepat ketika ia menyerah kalah, Adam Lazzara seolah bernyanyi untuknya. New American Classic mengalun dari speakernya, dan petikan gitar itu perlahan-lahan menenggelamkannya dalam penyesalan yang tak terjelaskan –antara menyesali sebuah keputusan, atau berharap bisa memutar balik waktu dan berharap sekalian saja tak usah mengirimkan email yang mengawali ini semua. Namun sekali lagi Adam Lazzara bernyanyi dengan parau diiringi biola yang makin lama makin menyayat hati.
Retrace the steps (retrace the steps) as if we forgot
Say you won’t care, say you won’t care
Try to avoid it (try to avoid it) but there’s not a doubt
And there’s one thing I can do nothing
Cahaya matanya meredup, dan diraihnya jaket yang tergantung di kursi kerjanya. Ia lalu melangkah keluar dari rumahnya, tanpa memperdulikan hujan yang turun dengan deras membasahinya. Seolah ikut berduka, langit Jakarta malam itu mencurahkan hujannya, menggantikan air mata Deo yang tak menetes sedikitpun.
Bagaikan dalam film cinta dengan ending menyedihkan, episode malam itu ditutup dengan suara Akhdiyat Duta Modjo yang menyanyikan lagu “Saat Yang Tepat Untuk Berpisah” sebagai soundtrack penutup.
Dan bila kau harus pergi
Jauh dan takkan kembali
Ku akan merelakanmu bila kau bahagia
Selamanya di sana walaupun tanpakuKu akan mengerti cinta dengan semua yang terjadi
Pastikan saja langkahmu tetap berarti
Bisakah aku tanpamu
Sanggupkah aku tanpamuSehangat pelukan hujan saat kau lambaikan tangan
Tenang wajahmu berbisik
Inilah waktu yang tepat ‘tuk berpisah
Selembut belaian badai saat kau palingkan arah
Jejak langkahmu terbaca
Inilah waktu yang tepat ‘tuk berpisahKu akan pahami cinta
Dengan apa yang terjadi
Pastikan saja mimpimu tetap berartiAku tak pernah mengharap untuk kau kembali
Saat kau temukan duniamu
Aku tak pernah menunggu tuk kau kembali
Saat bahagia mahkotamu bila kedamaian selimutimu
Jangan kau kembali…(Sheila on 7 – Saat Yang Tepat Untuk Berpisah)
Kemudian kini ia bisa mengerti, seolah terkuak rahasia semesta yang paling besar. Ia akan membunuh hatinya, beranjak dari meja judi, dan meninggalkannya selama-lamanya. Walaupun itu berarti ia tak akan pernah bisa merasakan hatinya lagi. Dalam derasnya hujan, ia berbisik kepada semesta dan berharap bisa menggaung sampai ke hati yang meninggalkannya. “Selamat tinggal, kekasih hati. Selamat menemukan hidup yang kau inginkan…”
****

Iya, abang gak akan mencegah. Be sudah mengambil keputusan, dan abang gak akan berusaha mencegahnya. Selamat berbahagia, semoga Be menemukan apa yang Be mau.
I don’t want to be dramatic, and I can’t be. But it’s a goodbye, then.
Good bye, dear lover…
![[Billboard Di Lampu Merah] - Siapa yang baca?](http://farm8.staticflickr.com/7011/6503542363_4e837e5fba_s.jpg)



















April 7th, 2008 at 8:35 am
maybe she has her own reasons..
let her go..
if u love her,, u’ll happy for her..
April 7th, 2008 at 11:24 am
tabahlah, mungkin emg belom jodoh..
April 7th, 2008 at 3:32 pm
seperti kanye west bilang
stronger
nothing can mend a broken heart than yourself
don’t u think stranger?
April 8th, 2008 at 1:22 am
Wah udah nulis panjang x lebar submit error ilang deh*
jangan putus asa, jangan menyerah, mari pegang tanganku, kita lalui bersama jalan jalan penuh liku itu, tengadahkan kepalamu lihatlah masa depan cita cita dan cintamu masih menunggu disana.
kami disini akan selalu setia membantumu dan berharap serta penuh doa demi kesuksesanmu disuatu saat nanti. Amin
April 8th, 2008 at 4:43 am
yups..biarkanlah dia pergi dan carilah bunga segar yang lain
April 8th, 2008 at 10:10 am
Sedikit bercerita, Jadi ingat tmnku kalo pacarnya ninggalin dia karena akan menikah dengan orang lain tapi satu bulan kemudian tepatnya kemarin dia begitu sumringah bercerita pacarnya telah kembali kepadanya lagi.
Apa yang dilakukan tmnku?
Dia datang kerumah ceweknya dan melamar ke kedua orang tuanya berjanji untuk tunangan dulu dan diberi waktu satu tahun untuk mengumpulkan uang sebanyak -banyaknya.
Kadang saat dihadapkan pada pilihan, wanita lebih memilih lelaki yang mengajaknya menuju sebuah komitmen kejenjang yang serius daripada cinta yang penuh janji.
April 9th, 2008 at 2:05 am
kalo dibaca lebih dalem, ini mungkin sebuah justifikasi dari putra untuk menyukai sesama jenis, seperti pohon nangka dan rambutan *dikemplang sempak gajah*,…
btw, cerita gw persis cerita temennya si leah
,..
apalagi yang kau tunggu nak, sekarang memang musim kawin bagi kita keturunan pinguin ini, jangan nunggu kaya, ntar kaya ikez, nunggunya udah 3x reinkarnasi, masih gak kawin2 jugak.
kaya lagunya jamal mirdad
“kalo kau benar2 suka padaku
kalo kau benar2 cinta padaku
kawinin saja aku
apalagi yang kau tunggu
babirusa takkan berkulit ungu
yuuu kawin yuuuuu, eh menikah yuuuu”
April 9th, 2008 at 6:07 am
“Kadang saat dihadapkan pada pilihan, wanita lebih memilih lelaki yang mengajaknya menuju sebuah komitmen kejenjang yang serius daripada cinta yang penuh janji.”
Cuma ‘meng-quote’ atas doang… Why not try that, Man?
April 9th, 2008 at 11:37 am
Siap2
Berarti ada yang lebih baik sedang menunggu di sana …
April 11th, 2008 at 12:23 pm
*menyesakkan*
Terus berjuang!
April 11th, 2008 at 10:26 pm
hmmm…… welcome pacik…. keep on fighting… cheers…..
April 12th, 2008 at 7:35 am
I rather say good bye than good riddance
April 12th, 2008 at 9:55 am
salamun alaik ya akhi,
segala yang memiliki awal pasti akan berakhir.
awali segala sesuatu dengan baik dan menyebut nama Al Haq, Insya Allah akhirannya pun akan menjadi baik.
Pahamilah bahwasannya Al Haq telah memutuskan segala sesuatu dan sesuai dengan kadar kemampuan kita serta yang terbaik untuk kita.
Bersabarlah …
April 12th, 2008 at 6:41 pm
i feel you, buj.
don’t know what to say more.
About girls what we always talk about, same topic, don’t give up on us, my friend.
let’s have some fun, just like we do as always when this kind of case happened (again), bilyaaaar
April 15th, 2008 at 5:03 am
another story is written in your book of life.
April 15th, 2008 at 9:04 am
i dont really know what to say but i think i know what u feel.
cheer up!
April 15th, 2008 at 9:59 am
love is hurt.
sigh.
April 15th, 2008 at 6:35 pm
mari tertawa bersama…
sambil nunggu script baru…
sebelum Asthon Kutcher muncul
April 16th, 2008 at 11:27 am
Pesan dr mbah marijan: “Menangislah sekeras yg kau bisa, Nak. Karna itu menandakan kamu masih seorang manusia yg punya rasa. Tapi jangan lama² nangisnya dan jangan dengerin lagu sedih terus. Cepet cuci muka dan kembali berjuang. Banyak²lah semedi di gng merapi. Mbah Marijan doakan semoga kamu mendapatkan yg lebih baik. Amiin. ”
Pesen dr gue: Perjuangan belum berakhir poet.
April 18th, 2008 at 10:31 pm
mencintai adalah.. melepaskan, membiarkan dia memilih yg terbaik
April 22nd, 2008 at 3:14 pm
bener-bener tragis. selamat mencari yang baru mas.
April 24th, 2008 at 12:32 am
bro… sometimes love just ain’t enough… sabar yak… edan, gw berkaca-kaca gini baca postingannya… hiks hiks….
April 29th, 2008 at 9:20 am
http://anzarra.multiply.com/journal/item/957/Lelaki_dan_Malam_Celaka
April 30th, 2008 at 7:02 am
[...] iya, untuk yang comment soal postingan lalu, dan juga teman-teman saya yang menasehati saya untuk tetap sabar dan merelakan dia pergi, saya [...]
May 4th, 2008 at 8:30 pm
ditinggalkan seseorang yg dicintai demi org lain?
saya tau sakitnya!
yg tabah, ya…
May 5th, 2008 at 12:08 pm
Malam masih panjang bos …
Hidup cuma sekali …
dan hati cuma bagian kecil dari tubuh …
hehe … semangat bos …
May 5th, 2008 at 7:24 pm
edan. emang udah pro banget nulis nya ya bang.
:nyembah:
*maap klo aku bukan komentarin isinya, hoho*
May 5th, 2008 at 11:23 pm
Cerita yang sama.. *Ups*
Tulisannya keren, teman..
Salut!
May 20th, 2008 at 12:40 am
whew…this is just….apa ya? bitter? pahit tapi manis sekali cara bertuturmu.
so you’re okay now? jangan lama2 sedihnya yak.. they say good thing comes to those who wait. nasihat basi tapi seriusan, it is true. trust me on this
June 8th, 2008 at 9:50 am
weirdly i found this site after googling about adam lazzara. lol
June 12th, 2008 at 12:20 pm
agak2 tragis, n turut berduka.
tapi kalo udah kayak gini, enaknya dengerin
Nada Surf – Inside of Love
sambil senderan di kaca bus malam2 pas gerimis. Mata harus menatap menerawang ke luar
June 23rd, 2008 at 1:34 pm
haruskah hati (heart) yang hanya satu-satunya ini melarikan diri dari cinta?
July 11th, 2008 at 4:44 pm
[...] sehabis semua ini, masih bilang [...]
October 26th, 2008 at 3:30 pm
[...] aku masih punya cukup taruhan untuk berjudi mendapatkan hatimu. Inginnya begitu, tapi aku sudah bangkrut dan hancur lebur di meja –the so called– [...]