Putra Nasution

Archive for the ‘pemimpi subuh’ Category

saya memilih untuk tidak memilih

Saturday, December 24th, 2005

Perkenalkan, nama panggilan saya Deo. Well, nama lengkap saya Deon Maxwell Plank, dan bagi kalian yang mengerti fisika, tentu akan tersenyum mendengar nama saya. Mungkin kalau ibu-ibu hamil biasanya ngidam mangga muda, ibu saya waktu sedang mengandung saya ngidam untuk ikut olimpiade Fisika.

Saya sebetulnya bukan Fisikawan, bahkan saya tidak kuliah di jurusan Fisika. Tapi saya suka dengan hal-hal baru, dan fisika kuantum menawarkan segalanya untuk saya.

Mungkin, beberapa dari anda sudah berkenalan dengan saya secara tidak langsung, bagi yang belum, mari kita berkenalan lagi. Nama saya Deo, kalau nama anda?

Baiklah, tidak usah basa-basi lagi ya. Saya ini sebetulnya orang yang sangat galau, mengalahkan galaunya seorang vokalis stereofoam yang terkenal sangat galau itu. Dan dari seluruh alasan kegalauan akan hidup ini, saya memilih yang paling sempurna; cinta.

Saya percaya bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna, dan tidak ada hal di dunia ini yang mutlak tunggal. Mencoba merujuk kepada konsep dualitas-nya Einstein walaupun dengan implementasi yang berbeda, semua hal memiliki lawannya masing-masing.

Begitu juga hati, begitu juga raga, begitu juga cahaya, begitu juga cinta.

Jika demikian, maka pilihan pun ada lawannya, jadi saya memilih untuk tidak memilih. Itu tidak salah kan? Karena tiba-tiba terkuak sebuah jawaban sederhana dari misteri yang begitu besar tentang alam semesta dan jagad raya ini.

Ternyata apa yang saya alami selama ini tidaklah mudah untuk dicerna, saya saja sulit mengerti, apalagi anda :) Ternyata semua ini hanya fatamorgana, tak ada hal yang begitu nyata untuk bisa dipercaya, dan tak ada hal yang begitu mustahil untuk dapat dinafikan. Hidup ini harusnya dinikmati, bukan dijadikan benturan-benturan demi mengulangi teori big-bang yang tersohor itu.

Dan indahnya, teori big-bang itu sendiri dibentuk oleh 2 unsur. Materi, dan AntiMateri.

Begitu pula hidup ini, begitu banyak hal yang saya cintai. Tapi ada satu rutinitas yang saya paling tidak suka dalam hidup ini; tidur.
Memang, jumlah oksigen di otak akan menurun dengan drastis apabila kondisi tubuh sedang letih, lalu reflek mata akan terasa berat dan selanjutnya, menguap. Dan berbeda dengan hampir 99% seluruh ummat manusia yang menghuni bumi ini, ketika saya menguap saya tidak ingin untuk tidur, malah cenderung berusaha keras agar tetap terjaga, selama berhari-hari.

Sekedar informasi, rekor saya paling lama tidak tidur adalah 9 hari nonstop, tanpa tertidur sedetikpun. Rata-rata saya tidur 3 hari sekali, itupun kalau sudah terlalu banyak pikiran.

Saya benci tidur, karena di dalam mimpi saya memperoleh banyak jawaban. Jawaban yang selama ini saya cari, tentang dimana saya akan bisa berhenti berjalan, dan menikmati sisa hidup sambil sesekali menggubah beberapa bait puisi di pagi hari. Dan ternyata jawabannya terpampang jelas di dalam mimpi, bahwa tempat yang selama ini saya cari, ada di awal perjalanan.

Bukankah itu mengesalkan? Untuk apa berjalan jauh-jauh kalau akhirnya akan kembali lagi ke awalnya? Ataukah sebenarnya dari awal saya sudah tahu bahwa awal itulah yang akan menjadi akhir, tapi saya tidak mau mengakuinya? Itu bisa saja, karena toh saya sudah memilih untuk tidak memilih, bukan?

Ternyata, semua pertanyaan saya yang sangat kompleks tentang teori kosmik, paralelitas dimensi yang sebenarnya saling bersinggungan, dan –ini yang paling rumit dari semuanya– kemajemukan yang sebetulnya adalah tunggal, terangkum dalam sebuah jawaban sederhana..

Tepatnya, sebuah nama yang sangat sederhana.

Karena itulah saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya bermimpi tentang jawaban itu. Jawaban yang tidak pernah rasional jika dipikirkan bahkan jika dihitung dengan perkalian setingkat bilangan Quadrillion berkuadrat Quadrillion. Jawaban yang kelihatan sebesar alam semesta ini, tapi ternyata tak lebih besar dari unsur sub atomik paling kecil dengan satuan yocto. Jawaban yang batasnya tidak memiliki ambang, dan ambangnya tidak memiliki batas.

Sebegitu sulitnya kah untuk menerima cinta?

*** cukuplah sudah cinta ini dipaksakan,
*** nyatanya begitu nyata alurnya seperti ini..
*** betapa tidak adilnya mencoba untuk menafikan,
*** ketika kau begitu indah untuk dipahami…
***
*** tidak pernah sedetikpun aku tak mencoba,
*** mencoba memahami keindahan tanpa menjadi getir..
*** tapi ternyata apa yang ada tak pernah benar-benar ada,
*** sebagaimana butiran air di tengah gurun pasir…
***
*** sudah saatnya kita bisa mengerti,
*** bahwa cinta hanya bisa diterima dengan hati…

Maka lantas saya melatih otot-otot dan sistem saraf saya untuk melawan kodrat alam, seakan saya mengingkari bahwa raga ini milik Sang Maha Tunggal, yang ketetapanNya dituliskan dengan begitu anggun dengan penuh metafora –dan lagi-lagi dua hal yang berlawanan– matahari dan bulan.

Saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya memimpikan dia, dan saya menginginkannya untuk selamanya. Lalu dia akan selalu hadir di setiap depa dari seluruh jarak perjalanan saya.

Seumur hidup, percaya atau tidak, saya baru satu kali jatuh cinta. Dan celakanya, gadis ini tidak pernah mengerti kalau saya mencintainya. Saya memang tidak pernah bisa mengungkapkan kalau saya mencintainya, tidak pernah ada kesempatan, dan tidak pernah ada keberanian. Dan kini, sudah genap 8 tahun sejak pertama kali saya jatuh cinta dengannya, dan tetap, saya masih belum punya keberanian untuk menyatakan cinta saya kepadanya.

Bagi saya, cinta adalah sebuah konsep yang terlalu utopis untuk diwujudkan, karena tidak ada hal yang mutlak di dunia ini bukan? Begitu pula dengan cinta. Dan percayalah, dari semua kehilangan yang pernah dicatatkan dalam sejarah manusia, kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.

Maka seumur hidup saya pula tak pernah berhenti belajar mengepakkan sayap, hanya untuk bisa terbang menembus awan dan melintasi jajaran bintang-bintang, lalu melesat secepat mungkin ke ujung semesta … hanya untuk melupakan cinta saya kepada seseorang yang nyaris sempurna, seorang Alifia Soraya.

Tapi jujur saja, bahkan di ujung semesta pun namanya masih terukir di jutaan bintang yang menghiasi angkasa raya. Lalu saya harus bagaimana?

 

jika harus menunggu,

Thursday, September 22nd, 2005

Melambat dan terlihat blur di sekelilingnya..

dia ada di dalam dimensi itu.. dimensi dimana satu menit bukanlah 60 detik, dan dimana 1 detik bukanlah seper enampuluh milisekon.. dimensi orang-orang yang sedang jatuh cinta…

Gadis itu masih berdiri disana, dengan rambutnya yang berwarna burgundy gelap, memakai kaos biru muda polos dengan bawahan celana jins, terlihat begitu sesuai dengan kulitnya yang putih pucat.

Mata itu masih memandang kagum, bukan baru kali ini dia melihat gadis cantik.. tapi yang ini berbeda. Ada daya tarik tersendiri, seperti magnet yang menarik remah-remah besi..

Setiap jum’at sore dia selalu menghabiskan waktunya duduk di tempat yang sama, mengamati gadis yang sama, mendengarkan gadis itu bersenandung kecil menyanyikan lagu kesukaannya.. hari ini, adalah hari jum’at ke delapan.

‘aku pernah bermimpi tentang seorang bidadari.. rambutnya panjang bergelombang, suaranya indah, kulitnya halus.. aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu dia cantik sekali..’ Dia menggumam pelan, sambil kembali menggoreskan penanya dibuku yang selalu dia bawa kemana-mana.

Dia memejamkan matanya, menundukkan kepalanya, ‘berbaliklah.. berbaliklah.. agar aku tahu kau memang indah..’ Dan seketika, gadis itu berpaling.

***

Dua bulan terakhir ini, setiap hari Jum’at sore agenda Cimi selalu sama; menemani Deo pergi ke Sabuga –sebuah arena olah raga yang paling lengkap di kota mereka. Setiap hari Jum’at juga, Cimi selalu mengeluh..

“Lo tu apa-apaan sih? ini udah minggu ke tujuh lo merhatiin cewek itu mulu.. cewek yang bahkan, untuk nanya namanya aja lo gak berani.. dah gitu mending kalo cake..”

“cim..” Deo menepuk bahu temannya itu, “ada saatnya nanti gue bakal ngajak dia kenalan.. nanti Cim..” lirih, dan hampir berbisik, “nanti..”

***

aku tahu, aku akan jatuh cinta kepadamu, sebelum aku berbincang denganmu, bahkan sebelum aku melihat cantik wajahmu..
aku tahu itu, karena setiap kali aku memandangmu, tubuh ini terasa bergetar.. mungkin, kau memang belahan rusuk ini..

mungkin..

lalu biarlah jika hati ini harus menunggu, seperti biasanya nasib jarang berpihak kepadaku.. walaupun harus mengambil masa delapan purnama..

biarlah, biarlah begitu…

Deo menutup bukunya, lalu melangkah pergi.

 

At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

a story of… daily scratchs.. i-learning Islam just a thought… pemimpi subuh poetry Uncategorized

Flickr

111098654312

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008