Putra Nasution

Archive for the ‘pemimpi subuh’ Category

euphoria

Tuesday, July 4th, 2006

Gelisah dan menatapi langit-langit kamar dengan gamang. Selama satu jam dia telah mencoba untuk tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Jangankan tertidur, mengantukpun tidak. Ditekannya tombol power laptopnya yang sedari tadi malam aktif dalam mode suspend.

Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Tapi dia acuhkan, walaupun suara-suara yang terdengar mengalahkan suara yang mengalun sayup-sayup dari LCD TV 29 inch yang menggantung di pojok kamar tidurnya. Terdengar disana statement Steve Jobs yang sedang diwawancara di Bloomberg, yang kemudian disambut gelak tawa ketika dia ditanyakan soal kemiripan GUI Windows Vista dan Mac.

Tapi tetap, dia tak tertarik. Perhatiannya kembali tertuju ke layar laptop yang kini menunjukkan halaman hitam polos dengan beberapa baris teks. Tak sampai 2 detik, jari-jari itu mengetik, sudo alva, dan lalu password–yang urung diganti selama 2 tahun; deardea.

(more…)

 

Je t’aime, mon amour (part 1)…

Sunday, January 1st, 2006

HALAMAN PARKIR PLAZA MEDAN RAYA, tepat 5 menit setelah hitung mundur selesai tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tempat lainnya di seluruh Indonesia dan mungkin di seluruh dunia, masih penuh sesak diisi oleh anak-anak muda yang sedang menikmati suasana pergantian tahun yang meriah.

Di langit malam Medan masih berpendar cahaya dari pecahan kembang api yang berwarna-warni yang bermacam bentuk. Suara terompet masih terdengar dimana-mana, seakan mengiringi hentakan musik rock dari panggung sebelah timur gerbang. Sedemikian bersatunya irama yang tercipta, sehingga dari jauh terdengar seakan-akan yang beraksi di atas panggung adalah band ska.

Semua orang merasakan semangat dan aura yang tersebar, aura tahun baru. Semuanya, kecuali dua orang yang terlihat sedang bertengkar.

“Lebih baik sekarang kamu jujur sama aku Roy,” gadis itu terisak sambil menyeka air matanya, “kamu memang pacaran sama dia kan?”

“Kenapa kamu lebih percaya sama orang sih dari pada pacar kamu sendiri? Aku nggak habis pi–”

“orang lain kata kamu?” Sorot mata gadis itu tiba-tiba menajam, “ORANG LAIN?? Aku mergokin kamu jalan sama dia di 21 Roy!!”

Sontak raut muka laki-laki yang dipanggil Roy itu berubah. Dia sama sekali tidak menyangka kalimat itulah yang akan keluar. “Tapi Fi … aku sama dia cuman temenan aja kok, kamu gak boleh berprasangka buruk begi–”

“Emang temen pelukan kalo lagi ngantri tiket Roy? Emang temen itu saling mencium satu sama lain? Emang temen..” Gadis itu tidak sanggup meneruskan kalimatnya, “..emang temen masuk ke hotel berdua??” Fia tenggelam dalam tangis. Walaupun rambutnya yang panjang menutupi wajah karena sedang menunduk, tapi isak tangisnya terdengar begitu jelas.

Roy terlihat serba salah. Dia merangkul gadis disampingnya perlahan –seolah-olah yang disebelahnya adalah granat yang siap meledak begitu salah sentuh, tapi gadis itu terlihat tak perduli.

~~~~~~~~

Deo mengajak Fia makan siang di Kafe Air Mancur yang terletak di lantai 5 Plaza Cahaya. Sebetulnya, ada satu lagi cabang kafe ini, masih di dalam kompleks plaza yang sama. Hanya saja, tempatnya terlalu kecil, dan sekelilingnya hanya ditutupi oleh kaca yang tembus pandang. Kurang privasi, begitu Deo menganggapnya.

Sayap timur kafe itu terlihat sepi, hanya ada Deo dan Fia yang duduk di pinggir jendela. Deo selalu menyukai kafe ini –khususnya meja yang sedang ia duduki, karena dari jendela dia bisa melihat jalan Gatot Subroto dari atas. Dan tentunya yang paling utama, karena Fia tergila-gila pada es krim kafe ini.

“Kenapa sih Deo masih nunggu Fia? padahal kan Fia udah nyakitin Deo?”

Nyakitin? Emangnya Fia nyakitin Deo?” Yang ditanya memandang bingung.

“Maksudnya Fia, kan Fia nggak pernah bisa ngebalas cintanya Deo. Terus, ya … yang dulu-dulu itu deh Yo…” Fia memainkan ujung rambutnya.

Deo mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu. Sesaat, dia terbawa dalam lamunannya.

Ketika itu Jakarta sedang macet, maklumlah, jam pulang kantor. Deo terjebak macet di daerah Sarinah. Sembari menunggu, dia membaca materi presentasi untuk persiapan R U P S minggu depan. Bahkan disaat office boy pun libur, aku masih harus tetap bekerja di kantor besok, Deo memaki dalam hati. Betapa awal tahun yang sempurna.

Saat dia sedang mengoreksi materi presentasinya itu, tiba-tiba sebuah S M S masuk, dan wajahnya langsung berubah.

Deo lagi ngapain? Fia lagi sedih. Ken selingkuh ama cewek lain.
Yo, Fia gak tau harus ngapain.. Fia……
sender:
Dream (+6281120021984)

Refleks setelah membaca S M S dari tersebut, dia langsung berusaha menelpon Fia. Sial, mailbox! Deo mengumpat.

Konsentrasinya buyar. Dari belakang mobilnya terdengar suara klakson dan orang yang memaki. Perlu 3 detik sampai Deo akhirnya mengambil keputusan dan akhirnya menginjak pedal gasnya. Hanya ada satu tempat yang ada di pikirannya. Bandara.

Sesampainya di bandara, Deo langsung bergegas membeli tiket pesawat. Tak dihiraukannya lagi suasana yang sangat ramai di sekelilingnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Biasanya Deo selalu menikmati saat-saat setelah check-in, sambil melepas lelah. Tapi tidak kali ini, seluruh proses yang harus dilewatinya terasa begitu menyiksa.

Sesampainya di Bandara Polonia, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Deo langsung menghubungi rumah Fia, dan ternyata persis seperti dugaannya, yang menjawab telepon adalah mamanya Fia. Setelah menutup flip handphone-nya, tanpa banyak berpikir Deo langsung masuk ke dalam taksi.

“Plaza Medan Raya, pak! Tolong cepat ya!”

Sepanjang jalan Gatot Subroto macet total, taksi yang ditumpangi Deo terhenti di sebuah menara jam besar di depan Yumi Plaza, tepat di simpang lima Glugur. Deo akhirnya memutuskan untuk turun dan berlari menerobos kerumunan orang.

Begitu tiba di halaman Plaza Medan Raya, Deo melihat lautan manusia. Dia tak tahu harus melangkah kemana untuk mencari Fia. Dalam kebingungannya, Deo memejamkan matanya. Dan entah bagaimana, ada semacam kekuatan yang mengarahkannya.

Hatinya bergetar, tak jauh di depannya dia bisa melihat Fia. Dia berjalan untuk mendekati Fia, tapi tiba-tiba, persendian lututnya terasa lemas, kakinya tak dapat bergerak. Seorang laki-laki memeluk gadis pujaannya, di depan matanya.

“Yo! Deo!” Suara Fia menyadarkan Deo dari lamunannya. “Aah, tu kaan, Fia ngomong gak didengerin … BT ah,” Fia merungut, “lagi ngelamunin apa sih?”

“Hehehe, nggak kok … Fia nanya apa tadi?” Deo mendehem.

“Duuuh, Fia nanya, setelah apa yang Fia lakukan ama Deo,” gadis itu menunduk, “kenapa Deo masih nungguin Fia?” Suaranya terdengar lirih.

“Deo nggak tau Fi … mungkin,” Deo menarik nafas dalam, “karena Deo nggak pernah bisa ngelupain Fia.”

Sunyi.

“Tapi Yo, apa Fia memang bener-bener … pantas untuk ditunggu?” Fia menyeruput ice cappucino-nya. “Gimana kalo ternyata Fia nggak pantas untuk ditunggu?”

“Berarti, gak ada wanita lain juga yang pantas untuk Deo perjuangkan. Dan mungkin, udah sepatutnya Deo hidup selibat aja.” Deo menatap wajah Fia dalam-dalam. Fia menunduk malu.

Deo mengeluarkan selembar kertas, dan meletakkannya di atas meja. Wajah Fia terlihat bingung, tapi dengan penasaran dibukanya juga lipatan kertas tadi. Sebuah puisi! Fia terkesiap. Dia membacanya perlahan.

suatu malam yang kuingat jelas,
aku sedang memandangi langit malam
menunggu bintang jatuh,
mencuri-curi saat untuk membuat sebuah permintaan

lalu aku melihatmu……

bayanganmu berpendar sejuta warna.
kau melesat secepat mahacahaya..

berliuk indah dengan penuh keanggunan,
menukik dengan sempurna..
lalu pecah menjadi jutaan titik kecil,
melukis langit dalam waktu beberapa detik.
dan seisi jagad raya terpana…

saat itu, aku melihatmu dimana-mana.

malam itu, aku jatuh cinta….

Tuhan, aku ingin hidup dengannya..” hatiku yang berkata.

malam itu, 329 hari yang lalu.
dan hingga kini, tak ada yang berubah dalam setiap doa malamku…

Je t’aime, mon amour… toujours….

Deo terlihat seperti menunggu sebuah jawaban. Namun Fia diam saja, lama sekali. Sesaat kemudian, bibirnya tersenyum. Pipinya memerah.

Sunyi lagi. Diam berbahasa.

(to be continued………)

 

saya memilih untuk tidak memilih

Saturday, December 24th, 2005

Perkenalkan, nama panggilan saya Deo. Well, nama lengkap saya Deon Maxwell Plank, dan bagi kalian yang mengerti fisika, tentu akan tersenyum mendengar nama saya. Mungkin kalau ibu-ibu hamil biasanya ngidam mangga muda, ibu saya waktu sedang mengandung saya ngidam untuk ikut olimpiade Fisika.

Saya sebetulnya bukan Fisikawan, bahkan saya tidak kuliah di jurusan Fisika. Tapi saya suka dengan hal-hal baru, dan fisika kuantum menawarkan segalanya untuk saya.

Mungkin, beberapa dari anda sudah berkenalan dengan saya secara tidak langsung, bagi yang belum, mari kita berkenalan lagi. Nama saya Deo, kalau nama anda?

Baiklah, tidak usah basa-basi lagi ya. Saya ini sebetulnya orang yang sangat galau, mengalahkan galaunya seorang vokalis stereofoam yang terkenal sangat galau itu. Dan dari seluruh alasan kegalauan akan hidup ini, saya memilih yang paling sempurna; cinta.

Saya percaya bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna, dan tidak ada hal di dunia ini yang mutlak tunggal. Mencoba merujuk kepada konsep dualitas-nya Einstein walaupun dengan implementasi yang berbeda, semua hal memiliki lawannya masing-masing.

Begitu juga hati, begitu juga raga, begitu juga cahaya, begitu juga cinta.

Jika demikian, maka pilihan pun ada lawannya, jadi saya memilih untuk tidak memilih. Itu tidak salah kan? Karena tiba-tiba terkuak sebuah jawaban sederhana dari misteri yang begitu besar tentang alam semesta dan jagad raya ini.

Ternyata apa yang saya alami selama ini tidaklah mudah untuk dicerna, saya saja sulit mengerti, apalagi anda :) Ternyata semua ini hanya fatamorgana, tak ada hal yang begitu nyata untuk bisa dipercaya, dan tak ada hal yang begitu mustahil untuk dapat dinafikan. Hidup ini harusnya dinikmati, bukan dijadikan benturan-benturan demi mengulangi teori big-bang yang tersohor itu.

Dan indahnya, teori big-bang itu sendiri dibentuk oleh 2 unsur. Materi, dan AntiMateri.

Begitu pula hidup ini, begitu banyak hal yang saya cintai. Tapi ada satu rutinitas yang saya paling tidak suka dalam hidup ini; tidur.
Memang, jumlah oksigen di otak akan menurun dengan drastis apabila kondisi tubuh sedang letih, lalu reflek mata akan terasa berat dan selanjutnya, menguap. Dan berbeda dengan hampir 99% seluruh ummat manusia yang menghuni bumi ini, ketika saya menguap saya tidak ingin untuk tidur, malah cenderung berusaha keras agar tetap terjaga, selama berhari-hari.

Sekedar informasi, rekor saya paling lama tidak tidur adalah 9 hari nonstop, tanpa tertidur sedetikpun. Rata-rata saya tidur 3 hari sekali, itupun kalau sudah terlalu banyak pikiran.

Saya benci tidur, karena di dalam mimpi saya memperoleh banyak jawaban. Jawaban yang selama ini saya cari, tentang dimana saya akan bisa berhenti berjalan, dan menikmati sisa hidup sambil sesekali menggubah beberapa bait puisi di pagi hari. Dan ternyata jawabannya terpampang jelas di dalam mimpi, bahwa tempat yang selama ini saya cari, ada di awal perjalanan.

Bukankah itu mengesalkan? Untuk apa berjalan jauh-jauh kalau akhirnya akan kembali lagi ke awalnya? Ataukah sebenarnya dari awal saya sudah tahu bahwa awal itulah yang akan menjadi akhir, tapi saya tidak mau mengakuinya? Itu bisa saja, karena toh saya sudah memilih untuk tidak memilih, bukan?

Ternyata, semua pertanyaan saya yang sangat kompleks tentang teori kosmik, paralelitas dimensi yang sebenarnya saling bersinggungan, dan –ini yang paling rumit dari semuanya– kemajemukan yang sebetulnya adalah tunggal, terangkum dalam sebuah jawaban sederhana..

Tepatnya, sebuah nama yang sangat sederhana.

Karena itulah saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya bermimpi tentang jawaban itu. Jawaban yang tidak pernah rasional jika dipikirkan bahkan jika dihitung dengan perkalian setingkat bilangan Quadrillion berkuadrat Quadrillion. Jawaban yang kelihatan sebesar alam semesta ini, tapi ternyata tak lebih besar dari unsur sub atomik paling kecil dengan satuan yocto. Jawaban yang batasnya tidak memiliki ambang, dan ambangnya tidak memiliki batas.

Sebegitu sulitnya kah untuk menerima cinta?

*** cukuplah sudah cinta ini dipaksakan,
*** nyatanya begitu nyata alurnya seperti ini..
*** betapa tidak adilnya mencoba untuk menafikan,
*** ketika kau begitu indah untuk dipahami…
***
*** tidak pernah sedetikpun aku tak mencoba,
*** mencoba memahami keindahan tanpa menjadi getir..
*** tapi ternyata apa yang ada tak pernah benar-benar ada,
*** sebagaimana butiran air di tengah gurun pasir…
***
*** sudah saatnya kita bisa mengerti,
*** bahwa cinta hanya bisa diterima dengan hati…

Maka lantas saya melatih otot-otot dan sistem saraf saya untuk melawan kodrat alam, seakan saya mengingkari bahwa raga ini milik Sang Maha Tunggal, yang ketetapanNya dituliskan dengan begitu anggun dengan penuh metafora –dan lagi-lagi dua hal yang berlawanan– matahari dan bulan.

Saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya memimpikan dia, dan saya menginginkannya untuk selamanya. Lalu dia akan selalu hadir di setiap depa dari seluruh jarak perjalanan saya.

Seumur hidup, percaya atau tidak, saya baru satu kali jatuh cinta. Dan celakanya, gadis ini tidak pernah mengerti kalau saya mencintainya. Saya memang tidak pernah bisa mengungkapkan kalau saya mencintainya, tidak pernah ada kesempatan, dan tidak pernah ada keberanian. Dan kini, sudah genap 8 tahun sejak pertama kali saya jatuh cinta dengannya, dan tetap, saya masih belum punya keberanian untuk menyatakan cinta saya kepadanya.

Bagi saya, cinta adalah sebuah konsep yang terlalu utopis untuk diwujudkan, karena tidak ada hal yang mutlak di dunia ini bukan? Begitu pula dengan cinta. Dan percayalah, dari semua kehilangan yang pernah dicatatkan dalam sejarah manusia, kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.

Maka seumur hidup saya pula tak pernah berhenti belajar mengepakkan sayap, hanya untuk bisa terbang menembus awan dan melintasi jajaran bintang-bintang, lalu melesat secepat mungkin ke ujung semesta … hanya untuk melupakan cinta saya kepada seseorang yang nyaris sempurna, seorang Alifia Soraya.

Tapi jujur saja, bahkan di ujung semesta pun namanya masih terukir di jutaan bintang yang menghiasi angkasa raya. Lalu saya harus bagaimana?

 

At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

a story of… daily scratchs.. i-learning Islam just a thought… pemimpi subuh poetry Uncategorized

Flickr

matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motionsightspretenderoldfashionedlovestation

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008