Memahami Dua Puluh Enam
Wednesday, July 15th, 2009Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai –ehhmm– pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain.
Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati “memojokkan” pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, “kapan mau menikah?”
Kalau saja memaki itu bukan dosa, apalagi kepada orang yang lebih tua, sudah tentu akan kumaki mereka sepuas hati. Karena pertanyaan itu akan menempatkan aku diposisi bersalah, seakan-akan akulah yang memilih untuk tidak menikah secepatnya, dan seakan-akan menikah itu semudah membeli ikan di pasar. Padahal mereka lupa, membeli ikan saja harus dipilih-pilih dengan hati-hati, apalagi calon pasangan hidup.
Toh mereka juga tidak tahu bahwa aku baru saja patah hati lagi, tepat sehari sebelum berulang tahun. Mereka tidak tahu, sepantasnya tidak perlu tahu, dan aku pun tak mau bercengeng-cengeng lagi sambil mengeluarkan curahan hati yang diakhiri dengan pertanyaan –yang tak pernah terjawab, “kenapa…?”
Aku enggan bukan karena mati rasa, errr, sedikit mungkin iya, tapi aku juga tahu dunia sedang berduka. Seorang lelaki luar biasa yang bernama Michael Jackson telah wafat, meninggalkan sejuta –atau malah ratusan ribu juta– kenangan di masing-masing kepala dan hati penggemarnya, termasuk aku. Tapi membuat tulisan sebagai sebuah “tribute” untuk sang raja pun aku menjadi enggan, biarlah tersimpan di hati saja.
Lantas apalagi ya? Oh iya, pemilihan presiden negara tercinta ini. Walaupun aku terlibat sebagai salah satu panitianya, aku pun tak ingin menulis menyoalnya. Semoga saja hasilnya bisa membawa kebaikan untuk rakyat yang sudah terlalu lama menderita.
Memang, harus kuakui, koordinasi pikiran dan tanganku belakangan ini agak kurang baik. Kalau sedang melamun sambil menatapi lampu-lampu kendaraan saat kami sedang saling melintasi, imajinasiku berlari kencang seperti tak tertahan. Entah otak kanan atau otak kiri pun aku sudah tak bisa membedakan, karena semua terlebur menjadi satu kesatuan, tapi disaat yang sama ingin meloncat dan membelah diri berkali-kali. Tapi setiap kali aku berusaha menterjemahkannya menjadi bentuk yang terdokumentasi, ia –atau mereka– menghilang lagi.
Kemudian terlintas di kepalaku, apa mungkin memang ada waktunya aku harus berhenti mengoceh dan diam mendengar saja. Tak perlu terus menerus berusaha menularkan semangat dan energi untuk orang-orang yang kehilangan arah, karena aku sendiri sudah kehabisan energi dan mulai kehilangan arah.
Demikianlah, faktor ‘U’ itu hinggap juga dan melumat aku sedikit demi sedikit. Bukannya ingin berhenti, tapi ingin melambat sedikit untuk kemudian mencari jalan pintas yang sepi agar bisa tancap gas. Memudar sedikit untuk menyerap cahaya sekitar.
Dan sudah pasti aku bukannya tak mensyukuri kehidupan yang bagiku sudah menginjak angka dua puluh enam. Walau seberapa pahit, sulit dan menyebalkannya, setiap detik aku nikmati seperti anak kecil yang diajak bermain ke pasar malam. Selalu ada hal baru, selalu ada pemahaman baru, dan selalu ada cara pandang baru.
Jadi, maafkan saja kalau belakangan ini jarang ada cerita yang bisa dikisahkan. Termasuk untuk tulisan ini pun, aku meminta maaf karena tak bisa menutupnya dengan lamat-lamat dan penuh keanggunan. Ah, kalian pasti sudah mengerti maksudku, kan?
![]()











