“….”
Wednesday, August 6th, 2008“kok ngomongnya pelan-pelan?”
“Iya, pacarku ada di ruangan sebelah, sama keluarganya.”
“Ha?”
“kok ngomongnya pelan-pelan?”
“Iya, pacarku ada di ruangan sebelah, sama keluarganya.”
“Ha?”
“Halo..”
Sunyi dan kosong merebak menyesakkan dada, hanya tercemari dengan sedikit desis blower Air Conditioner yang diset pada suhu 19 derajat celcius.
“Halo..” Sekali lagi suara itu terdengar, mencoba memecahkan badai di hatinya.
“Aku rindu sekali, ingin bertemu kamu..”
Aretha Franklin seolah mengiringi ucapan yang menggantung itu, mencoba mengkonfrontasi kebekuan yang menggetarkan perasaan. Lelaki itu pun berharap suara diseberang sana yang menyanyikan “I Say A Little Pray For You” untuknya.
The moment I wake up
Before I put on my makeup
I say a little pray for you
While combing my hair now,
And wondering what dress to wear now,
I say a little prayer for you
“Aku juga rindu sekali, dan sangat ingin bertemu.”
Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya.
Sudah tiga hari pula ia tak berinteraksi dengan manusia nyata. Mungkin tidak sepenuhnya tiga hari, jika menjawab salam mbak Nani –asisten rumah tangganya– yang baru saja tiba, terhitung sebagai interaksi sosial langsung. Selebihnya, ia lebih banyak berdiam diri, dan menutup rapat-rapat telinganya sambil mendengarkan lagi-lagu yang menggambarkan perasaan hatinya.
Tepat ketika JA Verdianto menyanyikan “Hanya tinggal kita berdua”, sms tersebut masuk ke telepon genggamnya. Dilihatnya jam di dinding, sambil menghela nafas berat. Sms tersebut dikirim empat jam yang lalu, dan baru ia terima saat ini. Betapa operator telekomunikasi saat ini tidak mengenal lagi istilah customer satisfaction, hanya atas nama menyedot pelanggan sebanyak-banyaknya dengan tarif yang menyesatkan.
Namun seketika matanya terpaku kepada beberapa baris kalimat yang tertera di layar. Kekesalannya tidak lagi tertuju kepada operator, dan sejujurnya ia tak tahu harus kesal kepada siapa. Dibacanya lagi kata demi kata yang ditujukan kepadanya tersebut berulang kali, berharap ia salah membaca. Atau jika dibaca berkali-kali, mungkin kalimat tersebut akan berubah makna. Tapi tidak, kalimat itu tetap sama… (more…)
My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.
Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)