Wednesday, March 15th, 2006
dan lalu akan kurindukan engkau dengan biasa saja,
sebagaimana pendosa yang merindukan syurga…

kutatap bintang dilangit,
kucari senyum manismu..
kuharapkan kau disini,
mengisi malam sepiku
++ bridge:
oh dinda dengarkan, lagu rindu untukmu..
kucari bintang dilangit,
tak kutemukan dirimu..
kuharapkan kau disini,
tuk peluk aku, redakan letihku..
++ bridge:
kukemasi sayapku, kuhentakkan kakiku
melayang terbang tinggi..
tunggulah kudatang, tuk berikan hatiku
inginku milikimu..
++ reffrain:
akulah cinta yang gelisahkan hatimu
kau rindukanlah aku…
(rindukanlah aku, luvme)
Posted in a story of... | 33 Comments »
Thursday, February 2nd, 2006
Baru sembuh sakit. Alhamdulillah badan udah sehat, tapi masih sering lemes sih, dan perut nih ga bisa diajak kompromi
OK, let’s talk about something.
Inspirasi. Saya yakin, semua orang punya sumber inspirasi. Nggak harus jadi seniman kok untuk bisa merasakan apa yang namanya inspirasi tadi.
Nah, belakangan ini, saya suka minder. Minder kenapa? Karena ternyata, saya ini nggak ada apa-apanya. Masih jelas dalam ingatan saya waktu saya masih SMA dulu, saya tergila-gila dengan Sheila on 7, sampai sekarang pun masih. Tentu saja, seorang Eross Chandra adalah orang yang cukup berpengaruh dalam hidup saya.
Lalu, waktu saya tinggal di jogja, band saya waktu itu satu manajemen dengan Jikustik. Jadi, latihannya pun satu studio dengan Jikustik. Setiap sabtu sore, kita sering kumpul-kumpul, biasanya ada Pongky, Icha, personel Es Nanas, dan tentunya, Eross him self. Tapi lucunya, saya malah baru sempat ngobrol sama dia waktu mereka main di Bandung, pas soundrenalin (waving to Dedeh, masih ingat deh? hehe)
Sebagai seorang (yang mencoba jadi) anak band yang baik, saya tau bagaimana susahnya bermain musik dengan bagus. Dan sebagai seorang penulis lagu (yang tentunya gak beken), saya juga tau bagaimana susahnya menulis lagu yang baik. Eross Chandra, bisa dibilang satu diantara lima orang yang bikin saya rendah diri. Penjualan album yang berjuta-juta, menulis lirik yang luar biasa, bermain musik dengan sound yang menakjubkan. Dan lain-lain, dan lain-lain..
Lalu, ada Adhitya Mulya. Adhit bagi saya sendiri, adalah seorang sosok yang menginspirasi. Saya tau betul bagaimana susahnya menulis novel, apalagi yang lucu, dan laku. Diangkat jadi film pula!
Ditambah lagi, semuanya dilakukan dengan kesibukan dan kerjaan yang menumpuk. Gila!
Jadi, resmilah Adhit sebagai orang yang bikin saya rendah diri taun ini (sebetulnya dari waktu pertama kita ketemuan di foodcourt BSM). And above all that, memiliki seorang istri yang cantik, pleus sama-sama menulis juga. Laris, dan bentar lagi diangkat jadi film juga. Ah, luar biasa.
Yang ketiga adalah Dewi Lestari, penulis Supernova; buku yang paling saya tunggu tahun ini. Pinter, smart, penyanyi, dan kecerdasan menulisnya, ahhh, luar biasa. Speechless dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Yang keempat adalah–yang paling luar biasa–ayah saya sendiri. Bukan karena sok manis atau sok jadi anak berbakti, tapi sumpah ayah saya adalah orang yang paling saya kagumi. Perjalanan hidupnya; dari kuli pasir (padahal kakek saya punya usaha ini), jualan es, lalu jadi karyawan upah di Telkom (dulu Perumtel), sampai akhirnya jadi karyawan tetap, dan meraih penghargaan sebagai Man of the year-nya Telkom Divre 1.
Ayah saya itu guru ngaji saya dari kecil, tanpa dia saya nggak mungkin bisa dapat juara Nasional 2 kali MTQ Telkom, ayah saya juga juara Nasional, dan karena dia saya terpacu. Ayah saya itu guru seni saya, dia sutradara teater waktu masih muda, dan dari buku-bukunya saya belajar Shakespear, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Dia juga yang mengenalkan saya pada Khairil Anwar, dan lalu bisa jadi juara pementasan puisi tingkat kotamadya.
Ayah saya juga, yang memperdengarkan Queen dari kecil kepada saya. Dia juga yang mengajar saya irama nasyid, sehingga saya jadi pemukul beduk terbaik kotamadya waktu SMA. Dia juga yang mengajarkan teori manajemen dan ekonomi. Dia pula yang mengajarkan komputer waktu saya kelas 6 SD. Dia juga yang mengajarkan cara belajar yang baik, sehingga saya tidak pernah melewatkan juara umum setiap catur wulan saat SMP.
Walaupun, efeknya saya sangat susah membanggakan sesuatu kepada dia, karena semua pernah dilewatinya. Perbincangan antara saya dan dia ketika saya pulang, percaya atau tidak, bisa merangkum semua hal. Kami bisa duduk berjam-jam membahas tentang semua hal, politik, ekonomi, agama, pemerintahan, internet, teknologi, musik, film, buku, filosofi, semuanya. Ahh, saya rindu dengan ayah saya
Orang kelima. Ya, sudah tidak perlu diberi tahu lagi ya. Saya rasa semua teman dekat saya, dan semua orang yang membaca tulisan saya dari dulu, sudah tau siapa dia 
Dialah orang yang mengisi berpuluh-puluh lagu saya, mengisi setiap baris puisi yang saya buat, inspirasi awal dari Sang Pemimpi Subuh yang entah kapan selesai, semuanya tentang dia. Dan pernah suatu kali dia bertanya, kenapa saya begitu memuja dia, karena dia merasa tidak pantas dipuji. Waktu itu saya tidak bisa menjawabnya, tapi sekarang saya bisa; hanya laki-laki bodoh yang tidak bisa memuji dan menghargai wanita, dan saya tidak mau jadi laki-laki bodoh
Sudah kodratnya, wanita itu dipuja setinggi langit, apalagi jika dia yang kita cinta. Saya, tidak pernah merasakan perasaan yang sangat luar biasa, yang bisa merubah hidup dan cara berpikir saya, yang bisa menjadi vitamin paling luar biasa untuk keseharian saya. Nah, kalo kamu baca, untuk itulah saya memuja kamu dua tahun belakangan ini
Lima orang diatas, adalah orang paling berpengaruh yang pernah saya temui dalam kehidupan saya. Untuk dan karena mereka lah saya mengerjakan semua proyek-proyek saya saat ini. Menulis lagu untuk bisa setidaknya menyaingi seorang Eross Chandra, menulis novel untuk bisa setidaknya menyaingi Adhitya Mulya dan Dewi Lestari, bekerja dan bertanggung jawab untuk bisa mendapatkan pujian dari ayah saya, dan melakukan semuanya, untuk bisa mendapatkan hati orang yang kelima, karena tanpa dia, semua tidak ada artinya…
Yaah, begitulah, hehe. Siapa yang menginspirasi kalian?
Posted in a story of..., daily scratchs.. | 24 Comments »
Thursday, January 12th, 2006
Download Theme Song: starnine - teruntuk hatimu dari aku
“Tiada kesan tanpa kehadiranmu..” Begitu tagline kartu undangan dari ulang tahun teman ketika jaman saya masih TK/SD dulu. Pipi yang cemong oleh bedak yang tidak rata, rambut yang masih basah karena baru selesai mandi, pakaian andalan yang mungkin hanya dipakai untuk acara spesial, hadiah yang isinya kebanyakan buku dan alat tulis, dan lain-lain.
Ahh, masa kanak-kanak, masa dimana kita tidak perlu berpikir tentang rumitnya dunia. Masa dimana kita belum perlu berpikir tentang jodoh (ada yang sudah?), tentang mencari pekerjaan, tentang kesiapan menikah (oh, sekali lagi, ada yang sudah??), tentang bayar tagihan handphone dan internet (ya iyalah!), atau hal-hal kecil seperti menggaji karyawan anda supaya mereka bisa menghidupi diri. Such a wonderful time…
anyway, sejak kecil kita sudah diajarkan, bahwa tak ada kesan tanpa kehadiran teman-teman kita. Betapa pentingnya orang-orang yang ada di sekeliling kita, karena manusia itu kan makhluk sosial bukan?
Begitulah juga dengan saat kita tumbuh dewasa, mulai mengenal yang namanya cinta. “Tak ada kesan tanpa kehadiranmu, sayang..” mungkin adalah tagline yang tepat untuk kekasih hati. Tanpa dia, hidup terasa sepi, tak bermutu, tak ada artinya, hampa, hina dina cuih cuih… hehehe…
Saya jadi kepikiran, kalau saya mencintai seorang wanita, mungkin bukanlah karena saya membutuhkan dia untuk berbagi. Saya rasa tidak, karena saya punya banyak teman untuk sekedar ber-haha-hihi. Bukan pula untuk menyiapkan makanan ketika saya pulang kantor, karena bisa saja saya menggaji seseorang. Bukan pula unsur seks-nya, karena bisa saja saya mencari teman untuk berdiri semalam (duh, jangan sampe deh). Bukan pula karena saya butuh keturunan, karena bisa saja saya membayar seseorang untuk itu (ingat chandler dan monica dalam friends?)
Lalu untuk apa?
Saya baru menemukan jawabannya. Ternyata, saya butuh dia, karena apa yang saya lewati, terasa tidak ada artinya tanpa dia. Saya butuh dia, karena dia selalu mengisi pikiran saya, baik ketika bekerja, melamun, sedang baca buku, bahkan ketika mengetik postingan ini. Saya butuh dia, karena saya tidak pernah bisa berhenti memikirkan dia, ketika dia tidak ada di samping saya. Bahkan mungkin, ketika dia ada disamping saya juga.
Sesimpel itu.
Pernahkah kalian, merasa benar-benar jatuh cinta–deeply falling inlove–dimana ketika kalian mendengar namanya, hati kalian bergetar? Pernahkah kalian sangat tergila-gila dengan seseorang, sehingga wanita/lelaki manapun yang kalian lihat, mengingatkan kalian kepada dia?
someone: Liat deh itu cewek, cantik banget!! Rambutnya panjang lurus, kulitnya putih, ketawanya lucu, naik odysey pula!! Hampir sempurna deh..
kita: iya, persis xxx (nama si jantung hati.red) *sambil menghayal*
Pernahkah kalian, begitu jatuh cinta, sehingga ketika seorang Dian Sastro, Mariana Renata ataupun Ladya Cherryl sedang kencan dengan anda, tapi kalian malah asik melamunkan dia dan salah sebut nama?
Mariana: Besok kita nonton yuk…
Kita: Hayuk.. apa sih yang nggak buat xxx (nama si jantung hati.red)
Pernahkah kalian, mempersiapkan materi rekaman untuk album, dan ternyata semuanya berbau cinta? Semuanya, mengingatkan kalian kepada dia? Dan ketika, ditolak pihak produser karena temanya terlalu datar, lalu kalian mengulang membuat semua materinya, dan setelah terkumpul lengkap, ternyata semua lagunya masih tentang dia?
Ketika kalian menuliskan lagu tentang orang tua dan anak, yang terbayang adalah kalian menikah dengan dia, dan lalu punya anak? Ketika kalian menuliskan lagu tentang perasaan seseorang yang jatuh cinta kepada temannya, mengingatkan kisah cinta kalian yang ditolak karena dia hanya menganggap kalian teman?
Pernahkah kalian, tiba-tiba merasa bahwa harta, kekuasaan, kehormatan, kebanggaan, prestasi dan semua hal lainnya tidak berarti tanpa dia?
Jika sudah, selamat mencicipinya.
Tapi yang paling penting, pernahkah kalian berhasil mendapatkan cinta sejati kalian? Bahagiakah?
Jika sudah, doakan saya juga bisa merasakan kebahagiaan kalian
“Tiada kesan tanpa kehadiranmu..” kalimat itu membawa saya ke dalam hayalan. Benar-benar tidak ada kesan tanpa kehadiran si pujaan hati tadi dalam kehidupan saya. Tidak ada artinya memiliki sebuah mobil odysey tanpa dia yang duduk di sebelah saya. Tidak ada artinya memiliki rumah mewah jika bukan dia yang menjadi nyonya rumahnya. Tidak ada artinya memiliki uang sekian milyar jika bukan untuk menemani dia sekedar berbelanja mango atau treatment di salon favoritnya.
Ah, jadi ngelantur. Jadi curhat juga. Payah. Tapi ya, sekali lagi, tidak ada artinya menulis postingan sepanjang ini, jika dia tidak membacanya. He he he.
Tidak ada kesan juga, tanpa kalian semua dalam kehidupan saya.
Posted in a story of..., daily scratchs.. | 20 Comments »