Putra Nasution

Anomali Dalam Orientasi Hati

Sekeluarnya dari ruang gelap yang biasa memutar berjuta frame dengan resolusi tinggi itu aku tercenung. “The Day the Earth Stood Still” judulnya, yang dengan sangat terlambatnya sampai ke bioskop kota kecil ini. Mau bilang apa, ya terima saja.

Film itu bagus, dengan sudut penceritaan yang agak outstanding walaupun temanya sudah agak mainstream; setidaknya bagi para pencinta sinema. Tapi kurasa tak perlu lah dibahas bagaimana jalan ceritanya, tinggal arahkan saja peramban situs favorit kalian ke situs pencari sejuta umat.

Masih di tempat yang sama, aku perhatikan film-film lain yang diputar di studio-studio lainnya. Soal hantu, soal cinta, soal komersialisasi tubuh yang dibungkus komedi; ah tak ada yang menarik. Tinggal tunggu waktu saja sampai cerita soal kisah cinta remaja hantu yang seksi dengan judul “Susahnya Jadi Hantu 9″.

Oh, tapi tunggu dulu, bukannya Kiki Fatmala sudah menjadi trend-setter topik sejenis di masanya ya?

Tapi tak seperti film dalam negeri, cita rasa film-film luar aku rasakan mulai berubah. Sudah banyak sekali disisipkan tema-tema tentang kepedulian terhadap bumi. Terakhir yang aku ingat adalah “Happening”. Tapi yang masih sangat membekas (walau tak tergolong komersil dan masuk ke bioskop besar) tentu saja “The Unconvenient Truth”-nya Al-Gore.

Ini tentu saja menarik, karena memang sudah saatnya kita mengesampingkan komersialisasi “cinta” untuk sesaat, dan mulai berpikir tentang kehidupan bumi, kan? Bumi kita butuh perhatian, dan tentunya ras manusia; sebagai penumpang sekaligus perusak mayoritas.

Di perjalanan pulang kusinggahi sebentar salah satu warung internet. Agak sepi memang, karena jam sudah lewat tengah malam. Otakku butuh menulis dan membaca, dan tidak bisa ditunda. Kupilih saja sembarang tempat, tak ada yang spesial karena semua terlihat sama saja.

Tapi tak lama ketika aku membuka peramban situs yang berlogo rubah api itu, ada seorang lelaki mendekatiku –lebih tepatnya berdiri di depan komputerku. Aku yang sedang asik tak memperhatikan, tapi lantas jadi risih juga karena dia terlalu lama berdiri disana untuk tak mempunyai maksud apa-apa.

Kudongakkan saja kepalaku, dan lantas dia tersenyum manis lalu menyapa. Sial, kupikir, aku paling benci diganggu kalau sudah malam begini, terutama kalau sedang asik dengan komputer.

Belum cukup mengganggu, dia tersenyum manis. Lebih sial lagi, pikirku. Kalau yang tersenyum itu berwujud wanita, ya tak apa-apa lah. Tapi kalau lelaki? Amit-amit jabang bayi.

Kuacuhkan saja, sambil merengut. Pertanyaannya kuanggap angin lalu, dan kupasang headset tanda aku tak mau diganggu. Beberapa menit (iya, menit, dia masih konsisten berdiri disitu dan memperhatikan aku) kemudian akhirnya dia menyerah dan berlalu. Kuperhatikan dengan ekor mataku dia melangkah keluar.

Aman, pikirku. Dan aku pun terus asyik masyuk dengan peramban situsku.

Kurang lebih satu jam berlalu, aku pikir sudah saatnya pulang. Dengan segera kuberikan uang “sewa” sejumlah yang diminta oleh kasir, kemudian kulangkahkan kaki ke pintu keluar. Diluar perkiraanku, si “lelaki” tadi ternyata masih ada dan bersandar di pintu mobilnya sambil merokok.

Begitu dilihatnya aku berjalan keluar, langsung dia berdiri tegak dan sepertinya akan menghampiri aku. Kupercepat saja langkah menuju sepeda motorku dan memakai helm, agak berkeringat dingin. Entah bagaimana caranya tau-tau dia sudah berada di dekatku.

“Mau langsung pulang? Gak jalan-jalan dulu kita?” katanya dengan gaya yang khas (kalau tak mau dibilang gemulai).

Kuacuhkan saja pertanyaannya sambil memasukkan kunci dan menghidupkan sepeda motor.

“Ih kok diam aja? Dimana rumah? Yuk nongkrong dulu lah sebentar..” ujarnya lagi dengan gaya manja yang dibuat-buat.

“Nggak makasih. Buru-buru.” kujawab saja sekenanya, berharap dia sadar bahwa aku berbeda orientasi hidup dengan dia.

Ternyata jawaban tadi bukannya membuat niatnya surut tapi malah membuat dia makin berani. SIAL! Langsung kutancap gas keluar dari parkiran. Dengan ekor mataku kutangkap dia memasuki mobil dan menghidupkannya.

Oh, mimpi apa kemarin? Kuarahkan saja si kuda besi masuk ke gang-gang kecil bermaksud untuk menghilangkan jejak. Setelah melihat mobil itu menghilang dari pandangan baru kemudian aku bisa bernafas sedikit lega.

Sepanjang jalan aku masih tak habis pikir, apa dunia ini sudah menjadi gila. Tanpa bermaksud mengalienasi maupun tak menghargai “hak azasi”, tapi hal-hal seperti ini menakutkan.

Aku merasa, betapa pengaruh televisi memberikan suatu perubahan drastis. Dulu orang menabukan hal ini, tapi perkembangan toleransi atas dasar hak azasi telah membuat tanggapan kebanyakan orang bergeser. Dulu tersembunyi, kini ada dimana-mana.

Tanpa bermaksud masuk ke ranah psikologis –karena memang aku tak berkompeten untuk membahasnya dalam kerangka itu– tapi mungkin benar adanya keterusterangan dan komersialisasi gaya hidup sejenis di televisi oleh para pelakon seni memberikan sebuah inspirasi. Anomali itu telah mendapat tempat –walau tidak terlalu luas.

Bukannya aku ini homophobia, apalagi mendiskriminasikan mereka. Toh aku sempat punya beberapa teman yang bergaya hidup serupa. Sekedar teman sih oke saja, tapi kalau lebih? Aduh maaf, aku masih 101% pengagum makhluk kompleks yang bernama wanita.

Otak gilaku berpikir, bukannya tidak mungkin ini adalah salah satu cara kehidupan menghambat laju pertumbuhannya yang tak terbendung itu; entah dari “pihak” mana ya tak perlu dibahas. Ditambah lagi kalau statistik yang beredar di masyarakat bahwa perbandingan pria dan wanita di dunia ini sudah 1:4 itu benar.

Hey hey, ada yang senyum-senyum di pojok sana. Aku tidak sedang membahas poligami ya! Tidak ada intensi maupun tendensi ke arah sana. Haha.

Ah, sudahlah. Aku jadi melantur kemana-mana. :D



7 Dreams about “Anomali Dalam Orientasi Hati”

  1. devishanty Says:

    hahahahahahahaa.. pacar aku tuh suka digodain sama gay :P

  2. Arsy Rakhmanissazly Says:

    makhluk kompleks??? hmm aku suka disebut begtu,,
    tatanan kata - kata indah dalam nuansa kompleksitas keadaan penulis,,

  3. karina Says:

    hua??masa?ngebet x ya tu orang? yang prnh saya liat, golongan mereka tu, paling nekat cuma “kedipin mata” aja.. serem ih sampe ditungguin gitu..
    anyway, kata-katanya bagus.. walaupun panjang tapi gak bosen untuk baca sampe akhir.. :D

  4. masoglek Says:

    hahahaha…. saya juga pernah mas dulu dikejar-kejar bencong

  5. puty Says:

    aduh gebbbbbb….. nanti aku bikinin pin : “I’m STRAIGHT”, terus nanti fotonya foto aku… hahahahahahahah….

  6. Adham Somantrie Says:

    hahahaha… tuh ada arsy… gas put!! gaspolremdol…

  7. aldi Says:

    huahahahahahaha

    Put… segala sesuatu itu harus disyukuri …
    bersyukurlah ternyata masih ada yg mau Put … hahahahaha

    mimpi apa kamu tuh Put?
    sedekah mungkin harus dibanyakin biar terhindar dari jin dan kawan2nya hahahaha


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

111098654312

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008