Saya harus jujur, bahwa beberapa minggu ini hidup saya berjalan dengan plot maju-mundur, sambil mengalami percepatan dan perlambatan. Terlalu banyak hal yang harus dipikirkan, dan semua menuntut untuk menjadi prioritas; antara komunitas, kuliah, teman, rejeki dan –yang paling penting– keluarga.
Pelan-pelan saya juga mulai menyadari, bahwa fungsi blog ini tidak lagi sama ketika pertama kali saya membuat blog di akhir tahun 2001/awal tahun 2002 (saya lupa kapan tepatnya, karena memang banyak sekali archive yang tidak terselamatkan dari masa lalu). Gaya bahasa sudah berubah, pemikiran yang dulu meloncat-loncat dan berapi-api sekarang harus sedikit di-rem, pembahasan yang dulu nggak jauh-jauh dari cinta sekarang sudah mulai berkurang, dst. Klise mungkin, tapi kesibukan, sangat terbatasnya akses internet disini, ditambah lagi gempuran situs social networks agaknya telah mengurangi kemampuan menulis dan berpikir saya yang penuh keterbatasan ini.
Ketika menjelajah blogosphere, saya menemukan sebuah artikel bagus yang ditulis oleh Dan Benjamin mengenai Personal Web. Iya, istilah ini mungkin sangat sering dipergunakan para era 2001 ketika pertama kali saya berkenalan dengan HTML. Ben juga menulis tentang pengaruh social networks terhadap blog.
Membaca tulisan Ben saya jadi punya bahan posting, namun mungkin agak berbeda sudut pandangnya. Berhubung saya juga sedang “membangun” sebuah komunitas blog di kampung halaman ini, saya ingin bercerita mengenai uneg-uneg yang sudah lama mengendap di kepala, yaitu soal blogging.
Ketika saya akan bercerita mengenai blog, maka saya bisa berbicara semalam suntuk. Beberapa kali juga saya sudah pernah menulis nostalgia blogosphere di era itu. Kalimat ampuh yang biasa saya gunakan untuk menggambarkan keadaannya adalah, “waktu itu punya blog yang ada commenting system-nya saja sudah keren sekali!”
Mungkin kalimat itu terdengar berlebihan kalau dilihat dari sudut pandang jaman sekarang, tapi saya tidak bercanda. Kehadiran doneeh.com ( hai, mas Don!
) yang dapat menjembatani antara satu blog dengan blog lainnya itu seperti segelas air di tengah gurun pasir. Ide dari social networking ketika itu hanya sebatas berkomunikasi antar sesama blogger. Hatta, kopdar menjadi solusi untuk menjawab keterasingan dan anonimitas para blogger (selain mIRC, ICQ dan messenging services sejenis tentunya).
Dengan demikian, mungkin era itu dirasa terlalu “kuno”. Tentunya, tidak adil memang membandingkannya dengan kondisi jaman sekarang, tapi bukan berarti tidak relevan. Bagaimanapun tidak akan ada masa depan tanpa masa lalu kan?
Menyoal blog, bagi saya sudah bukan sekedar mainan saja. Blog boleh dikatakan sebagai salah satu hal yang menyebabkan perubahan paling prinsipil dalam hidup saya, sehingga dengan demikian terkadang ketika saya membahas soal blogging, seringnya terkesan sentimentil.
Mungkin saya sudah pernah bercerita soal orang-orang luar biasa yang saya temui karena blog. Selain luar biasa secara individual, juga luar biasa secara proses. Orang-orang yang awalnya hanya teman di dunia maya yang sekedar haha-hihi, kemudian bisa menjadi sahabat bahkan sudah seperti saudara sendiri. Kopdar bukan lagi menjadi pengisi waktu luang, tapi sudah menjadi kebutuhan bersilaturahmi.
Ambil saja contoh orang-orang awal angkringan; mbak Lala, mas Thomas, Mita ‘rapaelh’, mas Criss, kang Astho, mas Doneeh, Jalack, Viktor, dan masih banyak nama lainnya punya momen-momen penting dalam hidup saya. Tanpa bermaksud menjadi berlebihan, tapi tanpa mereka mungkin saya tidak bisa survive di Jogja. Saya pernah bilang ke Viktor beberapa tahun lalu, bahwa selalu menyenangkan bisa “pulang” ke Jogja. Adalah mereka –yang awalnya tak lebih dari sekedar nama di dunia maya– yang membuat saya merasa Jogja adalah kampung halaman kedua saya.
Atau orang-orang yang ada di BBV (yang adalah komunitas blog regional pertama di Indonesia); Ikez, Mamatz, Diki, Apri, abangda Aan, Jowie, Itha, Irza, ayah Bisri, Kuda, kak Wida, dan tentunya juga masih banyak nama lainnya juga punya momen-momen spesial dalam timeline hidup saya. Tanpa mereka pun, saya rasa saya tidak akan survive di Bandung.
Selain mereka masih banyak nama-nama lain yang berjasa dalam hidup saya, termasuk anggota Blogbugs dari angkatan gathnas pertama, tapi mungkin lain kali saja diceritakan secara detail
Nah, pernah suatu ketika saya ditanya, mengapa saya tidak bisa blend dengan komunitas-komunitas blog dan anak-anak blog “baru” yang tumbuh bak jamur di musim hujan. Saya rasa kebanyakan teman-teman dari angkatan dan era saya pun mungkin begitu. Apakah memang ada eksklusifitas, ataukah senioritas, atau malah rivalitas?
Saya pikir sih tidak. Bukan sekedar “sih” malah, tapi “tentu tidak”. Hanya saja mungkin spirit dan tujuannya sudah berbeda. Kalau sekedar kopdar dan haha-hihi mungkin saya bisa dapat dimana-mana, sehingga kadang kalau tak bermanfaat dan tak ada yang kenal, entah kenapa rasanya terasing.
Lalu ketika saya berkesempatan untuk berbicara ataupun hadir di beberapa seminar yang membahas mengenai blog, pembahasannya tidak jauh-jauh dari adsense dan internet marketing kebanyakan, entah itu paid review, affiliation, dan sejenisnya. Sampai di titik ini saya merasa jengah, entah karena merasa itu sudah menyimpang jauh dari makna nge-blog untuk saya, atau karena saya merasa hal-hal tersebut bagaikan virus yang akan memperburuk citra blog di mata orang awam.
Maafkan penilaian subjektif saya, tapi menurut saya statistik pengguna itu tidak ada gunanya. Saya termasuk orang konservatif yang masih beranggapan bahwa kualitas jauh lebih penting dari kuantitas. Tidak ada gunanya pengguna situs-situs penyedia layanan blog bertambah jutaan orang setiap hari, kalau hanya tertarik ingin mencari uang dengan cara-cara di atas.
Bayangkan apa yang terjadi pada orang yang baru mengenal internet, ketika mencari suatu hal di search engine mengenai suatu topik, lalu “tertipu” oleh konten-konten yang memang sengaja dibuat untuk mencari uang. Apa yang akan dia sampaikan kepada teman-temannya? Setahu saya, viral marketing bukan hanya berjalan di dunia maya.
Pemikiran bahwa tidak sebaiknya pelatihan-pelatihan atau seminar-seminar blog diiming-imingi sebagai “mesin penghasil uang” juga diamini oleh teman-teman lainnya yang mempunyai kepedulian mengenai masalah blogosphere. Hal inilah yang mendasari saya untuk membentuk sebuah komunitas di Medan yang memang mempunyai kepedulian terhadap konten dan information sharing untuk bangsa. Mengutip kata-kata Ndoro Kakung, blogger itu ada baiknya ikut memikirkan lingkungan sekitarnya, dan bermanfaat untuk orang lain.
Usai berbicara di beberapa seminar dan forum pun, timbul banyak pertanyaan mengapa saya terkesan begitu antipati terhadap eksploitasi blog sebagai mesin pencari uang. Yah, boleh juga dikatakan seperti itu. Hal ini juga pernah saya sampaikan kepada bang Enda, yang ditanggapi dengan kalimat, “Yah nanti kan lama-lama juga mati sendiri blog-blog semacam itu”. Haha.
Mungkin ada benarnya juga ucapan bang Enda, tapi entah kenapa saya merasa bahwa persepsi ‘dapat uang dari blog’ itu sebaiknya di-counter. Saya sendiri bukannya tidak mendapat manfaat finansial dari blog, malah kebanyakan karena nge-blog, tapi ya itu, frasanya adalah ‘dapat uang karena blog’. ‘Dari’ dan ‘karena’ itu kan dua hal yang berbeda
Saya sendiri bukannya mengharamkan monetizing kepada diri sendiri, tapi hukumnya lebih kepada makruh. Sebetulnya yang saya alergi itu adalah monetizing yang terlalu dipaksakan. Kalau memang toh bisa membuat sebuah blog niche yang memang punya bobot dan orang tertarik, tidak salah sama sekali, malah bagus. Tapi kalau sampai “membohongi” orang lain? Menempatkan dan memanipulasi sedemikian rupa supaya orang tidak sengaja meng-klik? Atau menyediakan konten ilegal seperti mp3 bajakan dan file 3gp? Bahkan ada yang sangat ekstrem mencomot tulisan orang lain lalu diterjemahkan berulangkali dengan berbagai bahasa hanya atas nama uang? Oh come on..
Hal ini juga saya sampaikan ketika saya menjadi keynote speaker di Technopreneurship 101. Saya pikir blog itu lebih bermanfaat jika digunakan sebagai salah satu media untuk personal branding, dan media untuk mencari teman simbiosis mutualisme yang tidak terjangkau di dunia nyata. Kalau memang terdengar naif sekali, setidaknya bagilah porsinya 50-50. Seimbangkanlah antara “mengambil” dan “memberi”. Bersosialisasilah dan buat sesuatu yang berguna untuk masyarakat di sekeliling kita.
Entahlah kalau banyak orang yang merasa idealisme saya ini sulit dipertahankan, tapi saya masih percaya bahwa masih banyak orang yang perduli dengan masa depan blog yang lebih cerah. Walaupun sangat sulit untuk membuat etika blogger dan menuangkan blogging dalam visi dan misi yang terorganisir (FYI, hal ini sudah pernah dibahas dan dirumuskan di Gathering Nasional Blogger ke 2 tahun 2004 di Jogjakarta namun akhirnya dimentahkan lagi), tapi saya manfaat blogging itu jauh lebih besar dari sekedar mencari uang receh, baik secara harfiah, metafor maupun kontekstual.
Blogging itu soal melatih diri untuk berpikir dan berpendapat, dan komunitas blog itu idealnya bisa menjadi inkubator bisnis sekaligus juga kawah candradimuka pemikir-pemikir ulung negeri ini. Jika dirasa terlalu berat, maka setidaknya bisa berguna secara sosial dan bermanfaat secara intelektual.
Sekali lagi, ini hanya sebuah uneg-uneg yang bisa jadi sangat subjektif, tapi tidak berarti salah juga kan? Just my two cents ![]()












May 3rd, 2009 at 3:24 am
Jadi, kapan kita gathering? heheheh
May 3rd, 2009 at 7:14 am
Setuju mengenai pendapatnya, dan sejujurnya saya juga baru menyadari hal ini belakangan, ditambah lagi setelah melakukan komunikasi2 -politik (haha)- dengan blogger2 lain dan ketika ikut terlibat dalam penyelenggaraan event BBV desember-januari kemarin (yg itu semua adalah pengalaman yg amat berharga).
Pernah mengalamai dilema mengenai blogging sebenarnya (di akhir2 tahun 2005). Karena belum menemukan referensi sebenarnya apa si blogging itu, apa sih… dan apa sih… lalu kenapa sih… dan hal2 penasaran lainnya (karena mulai bermunculan adsense dkk waktu itu, yang menjadikan saya hunting dan mencari secara malu-malu komunitas blogger waktu itu (di Bandung).
Terima kasih sudah memberi pencerahan lebih lanjut, hehe…
Izin mengutip beberapa kata di artikel ini yak, *berencana akan melakukan share mengenai topik ini*
Oh iya sukses untuk komunitas blogger yg sedang dibangun di sana
(rock on)
May 3rd, 2009 at 9:52 am
bagi saya, BLoG itu muncul ketika media yang ada tidak dapat menampung uneg-uneg kita yang bersifat sangat pribadi. Terlepas bagaimana kelanjutannya setelah itu. Entah mau mengarah ke afiliasi, pencari uang, atau kearah lingkungan sekitar bahkan tetap pada jalur hobby pun saya rasa sah-sah saja. Toh sependapat dengan kata Mas Enda, yang nyeleneh pelan-pelan bakalan mati juga.
Saya sendiri menyadari bahwa BLoG bukan hanya sekedar penumpahan uneg-uneg lagi. Tapi lebih berkembang pada pertemanan yang tidak bisa kita dapatkan secara begitu saja di dunia nyata. Walaupun saya akui, bahwa saya tidak pernah atau jarang ikut kopdar bareng komunitas yang saya ikuti. Namun hubungan pertemanan tetap jalan, bukan lewat BLoG saja kan ?
…dan lewat BLoG pula, saya bisa mengenal satu dua blogger yang memang konsisten untuk menulis sesuai bidangnya. entah kapan saya bisa seperti itu…
May 3rd, 2009 at 11:28 am
hahahaha iyaaaaaaaaa… buat gue blog adalah tetep ajang curhat2an dan juga baca curhatan orang laen, meskipun udah lama ga ketemu orangnya di real life tapi tetep kerasa deket karna slalu tau update idupnya hahaha.. that’s why I love multiply.. semuanya murni curhatan
tapi skarang pun multiply udah sepi.. blogpun udah ga kaya dulu.. huhuuu.. paling plurk sama fesbuk aja dehh
May 3rd, 2009 at 1:48 pm
begitulah. blog pun bisa jadi pisau bermata dua, tergantung pada siapa yang menggunakannya. cuma ada kecenderungn bahwa orang yang berharap kaya raya secara instan lewat internet justru mencemari dunia ini.
blog lalu terseret pada arus menuju kedangkalan. copy paste. pokoke asal dapat uang. sedih..
May 3rd, 2009 at 2:55 pm
sekarang gw udah gak bikin dosa lewat blog lagi kok put… sueeeerrrrrrr….. hihi
May 3rd, 2009 at 3:07 pm
Well said, dear
May 3rd, 2009 at 3:11 pm
setuju 100%. saya pun jengah kalo ditanyain gimana cara dapet duitnya dari blog. Yg selalu saya jawab, “saya dapet duit dari blog itu kecil kok, bahkan skrg malah ndak dapat duit sama sekali. Yg besar justru adalah akibat dari saya ngeblog.”
kembali lagi kepada tujuan ngeblog itu sendiri. Saat niat awal ngeblog itu adalah utk cari uang, saya pun tidak setuju. Jengah juga ngeliat banyak buku ttg blog yg berfokus pada pencarian uangnya. Rasanya awal dasar konsep blog adalah utk information sharing, dan bukan utk cari duit. Yg nulis2 buku spt ini memang mesti dicuci ulang otaknya
:D
May 3rd, 2009 at 4:31 pm
setuju! saya ngeblog buat belajar. belajar menulis serta belajar berbagi. lalu, saya mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai dari yang namanya ‘Uang’. teman, kenalan, jejaring bisnis dan mungkin cinta atau kebahagian.
so… tetap ngeblog jadinya:D
May 4th, 2009 at 6:18 am
betul banget kamu poet! skarang yg menjamur itu ya blog2 yg cari duit, gak suka ah sama blog yg seperti itu
May 4th, 2009 at 1:05 pm
@Thomas Arie:
Ya kita liat perkembangan dan rikues-nya deh mas
@Ihwan:
Iya wan, saya sebagai salah satu proud member BBV yang sudah jarang sekali aktif berterima kasih atas peran serta sodara Ihwan dalam membangkitkan BBV kembali. BBV dan dunia blogosphere membutuhkan Ihwan-Ihwan lainnya
Silahkan dikutip dan dipergunakan sebisa mungkin, wan. Lisensinya GNU kok
@PanDe Baik:
Saya setuju, ketika dimulai memang dengan rasa ketidakpuasan atas media yang ada, dan memanfaatkan blog sebagai media alternatif saya rasa itu sudah cukup. Lalu kemana arahnya berjalan itu tinggal niat dan keinginan saja.
Tapi kalau “belum-belum sudah-sudah”, saya rasa itu kurang “pantas”. Orientasinya berbeda.
But who am I to judge? Hehehe.
Memang tidak semua benih bisa tumbuh menjadi pohon yang diinginkan, mas. Yah, semoga kita bisa menjadi bagian dari “gelombang positif” untuk bangsa ini
@devishanty:
Temanku pernah mengistilahkan jaman ini sebagai narsis 2.0; dimana masih bisa narsis-narsisan, sekaligus memberikan manfaat bagi yang membaca. Hehehe.
Yah mudah-mudahan walaupun kadang topik kita (plus plurker-plurker jamaah tengah malam lainnya) kurang kerjaan, kita bisa terus “bersilaturahmi” ya dev
@a!:
Pendangkalan itu satu kata yang bagus untuk menggambarkan arahnya. Jangan sampai orang yang selama ini menganggap negatif kita (he-whose-name-should-not-be-mentioned) malah mendulang keuntungan untuk terus berkoar-koar karena ini.
Maka dengan itu kita harus bisa memberikan re-viral di media yang sama, mas. Sekaligus memberikan perspektif lain untuk orang-orang yang baru tiba di “dunia” ini
@Ichanx:
Well, kudos to you, brother
welcome back to the brightside, hihihi
@venus:
Thank you, mbok.. Expecting to share millions of topics and laughs while enjoying cups of coffee with you
@Pitra:
“Dapat duit karena ngeblog” itu adalah kata yang harus kita sebarkan berulang kali mas.
Mungkin kapan-kapan kita bisa berkolaborasi membuat sebuah movement ditambah buku-buku untuk mengimbangi “gelombang negatif” yang merusak itu
@echa:
Mari kita kampanyekan kembali semangat blogosphere seperti ketika kita masih muda dulu, cha..
Hehehe…
May 4th, 2009 at 6:20 pm
Lha tadi malem aku nonton di Metro, ada sekolah Blogger juga. Tujuannya mencetak blogger2 yang mampu menghasilkan duit lewat blog Ckckckck..
May 5th, 2009 at 7:43 am
Hei,
), rasanya seperti habis nge-Gym (capek tp segarr..). Yup, bcoz I like to read a real personal blog.
Bener banged. Dulu sekali ngeblog kayaknya bener-bener jadi luapan emosi diri, tp sekarang saya sadari bahwa gaya tulisan saya mulai berubah, mulai sedikit ngerem kalo mo nulis, akibatnya ide-2 orisinil yg tdnya ada di kepala, jd mandek. Dan memang iya, sekarang dimana-mana moneytize blog. Saya gak munafik, saya juga ikutan, tp kalo boleh membela diri, saya gak terlalu kemaruk. Saya hanya ikut yg memang saya bisa kuasai, dan tentu saja tidak lagi pakai “personal blog” utk moneytize.
Jadi setiap saya ketemu personal blog yg segar & beda (beda buat saya artinya kembali ke definisi personal blog jaman dulu
Thx for this post. Kayaknya saya jd sedikit dapat pencerahan bahwa tdk cuma saya yg merasa terzolimi oleh blog.
Wish me luck biar bisa tetap mempertahankan kemurnian tehsusu 
May 5th, 2009 at 7:45 am
Eniwei Put,
Saya buat personal blog baru…. susucoklat
May 5th, 2009 at 2:38 pm
kayaknya gak jaman sekarang aja deh bos, dulu jamannya blog blom bs komen seperti yang ada di post ini juga sudah ada mlm bullshit. say what ? kalau gw bilang ini lah yang namanya distorsi.. pergerakan.. Setuju kalau hal2 seperti ini musti di counter… biar orang gak cuman bikin blogspot copas article sana sini terus pasang kumpulkancut.com and sejenisnya.
makasih buat articlenya… dalem banget artinya buat saya.
May 5th, 2009 at 7:13 pm
huehehe, apa yang mau saya tuangkan udah ditulis kak zee
Dengan tulisan diatas, saya suka ide personal-branding tersebut..
Beberapa kesempatan dalam workshop yang membahas blogging, point ini memang kurang diangkat.
Tapi, sekali lagi..tetapi, kenapa yang digembar-gemborkan masalah duit? Karena animonya disitu. Saya justru punya teman yang awalnya ngeblog karena terpancing iming-iming duit, eh.. taunya sekarang dia malah lupa dengan duitnya itu, tapi memang jadi benar-benar ngeblog untuk kepuasan diri
May 6th, 2009 at 1:37 am
cadas bah..
sepp.. entaqi krina :))
May 6th, 2009 at 8:12 am
Matt Mullenweg jg menegaskan, boleh menghasilkan uang karena blog, tapi bukan dari blog (wordpress.com), sehingga wordpress dot com tetap non-iklan.
IMO, blog for money silakan saja. Tapi pengikut baru juga mesti tau susahnya. Bukan seperti membalik telapak tangan. Mana penjual janji yang kalap, mana yang realistis. Apa sih yang dijual..ebook, kit anggota, review, link…
Yang paling repot mungkin para mesin pencari Internet. Bagaimana menyajikan hasil pencarian berkualitas, bukan sekadar “blog for money tanpa kualitas”, yang targetnya hanya trafik dan pagerank untuk konversi, sehingga copy-paste membabi-buta, kadang terkesan menipu pengunjung…
counter positif dari semacam freshyourmind dot com menarik.
May 6th, 2009 at 11:41 am
saya pertama kali ngeblog gak pernah kepikiran untuk mencari uang dari blog, itu tujuan awal, namun ternyata ada penawaran yang menarik ya saya terima, namun tidak menghilangkan landasan saya sesuai dengan tujuan awal ngeblog..
tapi sih menurut saya, selama orang itu tidak merugikan orang lain, sah-sah aja sih.. terlebih dalam keadaan krisis global sekarang ini, PHK dan pengangguran merajalela, mungkin blog dimanfaatkan oleh mereka sebagai salahsatu penopang hidup mereka
siapa tau kan dengan mereka dapet penghasilan dari situ mereka bisa berwirausaha denganmelibatkan masyarakat sekitar sehingga ujung-ujungnya bermanfaat bagi lingkungan sekitar..
ya intinya sih selama gak merugikan orang lain menurut saya sah-sah aja
May 7th, 2009 at 3:57 pm
tul…
dari luapan emosi diri, pengalaman pribadi dll.. kok bisa sih jadi ajang cari duit? yaaah walo akhirnya balik lagi sih ke blog gw ya gimana gw
klo ajang cari jodoh boleh kan Poet?
May 9th, 2009 at 6:49 pm
gw jg pertama ngeblog karena pgen belajar nulis dan sharing ,
tapi makin kesini , gw tergiur ama paid review !
argh , tidak !!
May 11th, 2009 at 4:33 pm
Kalau blog pribadi sama blog nyari duit dipisahkan boleh kan Put ?
Ya maklum saya juga mengais rejeki dari blogging
May 16th, 2009 at 9:09 pm
iyah blog bisa jadi kebutuhan, uang tiap hari adalah juga kebutuhan, tapi memang perlu pembedaan antara keduanya
May 18th, 2009 at 11:18 pm
yup…karena bagiku lebih fair kayaknya ngeblog untuk bercerita macam2 ketimbang untuk ngumpulin duit…walaupun aku gak anti sama orang2 yg membuat blog sebagai ajang untuk cari duit.
May 23rd, 2009 at 12:27 am
hahaay….berkungjung t4 senior :p
May 23rd, 2009 at 1:13 pm
@GoenRock:
Begitulah, jadi kesalahan ada pada produsernya, atau pasarnya om?
@zee:

Kalimatnya pas betul, kak. Seperti habis nge-gym
Setuju aku, setuju
Good luck sama susucoklat-nya ya kaaak, ntar aku usahain sering-sering main deh
@Kafe Blogger:
Betul memang, dari dulu sudah ada yang semacam itu. Tapi tidak pernah di”bantu” dengan buku-buku yang membuat orang salah kaprah. HYIP, Scam, online MLM itu dulu sekedar remah-remah, dan hampir tidak ada seminar yang mengagung-agungkannya..
I don’t reject monetization, tapi mungkin caranya jangan menghalalkan segala cara, dan mungkin jangan melupakan tujuan awal ngeblog itu untuk apa
@nich:
Animo itu ada kan karena dibentuk, bro. Orang tidak akan pernah berpikir soal itu kalau tidak digembar-gemborkan lebih dulu kan?
Bagus memang kalau bisa seperti itu, awalnya karena tertarik monetisasi-nya, lalu kemudian ngeblog untuk kepuasan diri. Tapi pertanyaannya, berapa banyak yang bisa seperti itu?
Kalau memang banyak, ya berarti ketakutan saya tidak terbukti, hehe. Mudah-mudahan memang begitu =)
@kutaraja:
bungkus? :p
@dani:
Setuju. Tapi itulah, pemanfaatan SEO, link baiting, page rank, dst itu kan akhirnya “dimanipulasi” sedemikian rupa untuk mencari celah dari sistemnya.
Saya setuju, fresh memang bagus sekali, dan memang harus lebih banyak lagi forum-forum sejenis
May 23rd, 2009 at 1:13 pm
@ridu:
Sah-sah saja, betul itu ridu. Tapi jangan sampai pemikiran semacam itu membuat kita gelap mata dan tidak berpikir tentang “sustainable development”, seperti halnya kita menjual tambang-tambang dan natural resources lainnya untuk menutupi kas negara yang kosong.
Saya percaya media baru seperti internet bisa memberikan sumber pemasukan baru di tengah krisis seperti ini, dan menjadi alternatif dari format konvensional dalam mencari uang seperti sudah ada lebih dulu.
Toh, era teknologi informasi sudah membuka banyak sekali profesi dan lahan bisnis baru, kan? Tapi ya itu, frasanya dapat uang karena ngeblog, bukan dari ngeblog
@aldi:
Ajang cari jodoh? Ya boleh lah, di. Bahkan boleh sekali :))
@rizal:
=)
@bisri:
Wah mas, gak berani lah aku mengomentari mas Bisri, takut kualat
Orang sekaliber mas bisri sih gak masuk dalam konteks postingan ini mas
@Zam.web.id:
Setuju, zam
@Ria:
Aku juga gak anti, kok. Hanya mencoba memberi sudut pandang baru
@ekowanz:
hallo juga junior *sambit @ekowanz* :))
Welcome to the blogosphere, hahaha
May 24th, 2009 at 11:05 pm
well walau arx blom semahir kalian semua dlam mebuat posting di blog,, honestly arx baru aja punya blog tahun ini,,
arx ju=ga setuju dengan pendappat bang putra blog is not a place to create some money but the place to having some fun with it,,
May 25th, 2009 at 3:23 am
May 26th, 2009 at 11:14 am
Waaah mantap bang tulisannya… awak terkagum-kagum membacanya

Kalau awak tujuannya ngebog biar bisa sharing dengan blogger yang ada dimanapun berada sehingga bisa nambah ilmu dan ikatan silaturahmi.
Awak Medan siap mendukung ide-ide dari bang Putra
May 28th, 2009 at 12:12 am
lupa sayah, gabungs dong di kafeblogger.com tempat ngumpul para blogger
May 29th, 2009 at 8:24 pm
salam kenal ya..
June 7th, 2009 at 8:27 pm
ahhhh… jadi kangen kumpul-kumpul lagi, poet. kapan ke bandung?
June 20th, 2009 at 3:19 pm
Pertama x saya ngeblog emang karena diajarin temen untuk dpt uang dari adsense.. Namun pada akhirnya kalau niatnya emang cari duit aja, gak bakalan tahan lama, bahkan bosen. Dan pada akhirnya saya lebih senang menulis untuk sharing informasi, dan uneg2.. walopun, teteeep, berharap juga bisa dpt manfaat finansial karena ngeblog..
“karena” kan?bukan “dari”? 

Asalkan tidak dengan cara “menipu”, rasanya sah2 saja kan?