ob·se·si /obsési/ n Psi gangguan jiwa berupa pikiran yg selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan. [KBBI]
Selama empat tahun (mungkin lebih, saya lupa kapan dimulainya) terakhir saya terobsesi dengan seseorang. Sampai sekarang pun, saya tidak tahu mengapa saya bisa begitu terobsesi kepadanya. Mungkinkah berhubungan dengan fisik (cantik, putih, poni lurus, mata lucu, dlsb), inner beauty, ataukah kecerdasannya.
Bahkan ketika teman-teman dekat saya bertanya mengenai hal itu, saya pun tak punya jawaban pasti. Dalam dunia ilmiah, setiap hal yang terjadi harus bisa dicari penyebabnya, tentu ada komposisi awal pembentuknya. Kenyataannya, saya tak melulu hidup di dunia yang berjalan lurus dengan ilmiah, karena seringnya berbenturan dengan sesuatu hal yang tak dapat dijelaskan.
Namun mungkin saya tahu katalisatornya. Selain gadis ini memenuhi hampir semua kriteria saya, dia juga memenuhi persyaratan yang diminta oleh ibunda saya. Ditambah lagi, kisah pertemuan kami yang boleh dibilang tidak lazim, penuh misteri, tapi sekaligus penuh daya tarik.
Nah, saya tidak akan bercerita secara gamblang mengenai siapa gadis ini, dan bagaimana dia mempengaruhi hidup saya. Tapi mungkin, saya ingin menuliskan disini, bahwa–walaupun dia tidak menyadarinya–dia memberikan kontribusi yang besar dalam hidup saya. Adalah sebuah fakta yang tidak akan saya tidakkan, bahwa saya terus menerus berusaha menjadi orang yang lebih baik, mempelajari segala hal yang baru, bahkan mencoba mendewasakan diri terus menerus, hanya untuk membuat dia tertarik. I just wanna impress her.
Tapi sebesar keinginan hendak memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai, kan?
Setelah tiga tahun lebih saya jungkir-balik berusaha meyakinkannya, apa lacur tak satupun usaha itu berbuah. Sampailah kemudian kalimat pembunuh hati–kalau tak mau disebut penolakan–bahwa dia sudah menganggap saya seperti abangnya. Walaupun tidak saya dengar bukan dari dia sendiri, tapi sumbernya sangat valid dan dapat dipercaya. Saya pun tak berniat untuk mendengar kalimat itu keluar dari bibirnya…
Di titik itu saya menyerah, mengaku kalah dan menghilang. Dia pernah mempertanyakan ini lagi di kemudian hari, tapi saya tidak bisa menjawabnya. Nah, jadi seandainya kamu membaca tulisan ini (yes dear, you know who you are :)), itulah alasan sebenarnya.
Pada satu masa, saya pernah sangat bingung dengan seluruh misteri tentang dia. Saya melewatkan masa dia patah hati selama beberapa kali, dan cukup tau apa yang dia mau. Saya merasa bahwa saya bisa menjadi lelaki yang terbaik dalam hidupnya. Saya merasa bahwa saya bisa mencintai dia lebih baik dari orang lain.
Tapi mungkin saya lupa, bahwa mencintai itu bukan tentang satu orang. Mencintai itu tentang dua orang, tentang satu hati yang terpisah dan akan bersatu. Jadi mungkin lah memang, walaupun saya merasa saya yang terbaik untuk dia, kenyataannya masih banyak lelaki lain yang lebih baik lagi. Mungkin bukan saya saja lelaki yang rela pergi ke ujung dunia untuk menyusul dia, dan mungkin ada beberapa diantara mereka yang lebih cepat sampainya.
Demikianlah, beberapa bulan dan beratus cangkir kopi kemudian, saya akhirnya sadar. Sadar bahwa arti mencintai itu adalah melepaskan. Sadar bahwa dia berhak untuk hidup lebih bahagia dan lebih baik lagi.
Tidak, saya tidak lagi tersedu-sedu dan tersungkur untuk dia, apalagi meratapi hidup ini. Tapi saya menulis ini, karena dalam beberapa hari dia akan segera menikah dengan lelaki yang paling beruntung di dunia ini. Iya, bukan dalam hitungan minggu, bulan, apalagi tahun, tapi dalam hitungan hari.
Jadi, entri ini ditulis untuk memberikan ucapan selamat kepada dia, yang sudah begitu berjasa dalam memberikan warna untuk hidup saya yang hitam putih ini. Jika bukan karena dia mungkin saya tidak akan mengerti apa artinya kehidupan dan–yang paling penting–cinta.
Selamat menjalani hidup baru, YDRH ![]()
May you be happier and happier every single day, until someday you wake up as the happiest person in the universe.












December 25th, 2008 at 5:19 pm
hauwww.. kamu melankolis sekali.. sabar yaaah.. semoga nanti mendapat yang terbaik =D
December 25th, 2008 at 6:53 pm
wah..keren,bijaksana banget..
tenang aja insyaAllah kamu bakal dapetin yang terbaik buat kamu tentuny nanti, di saat yang tepat. dan suatu saat nanti pasti kamu bisa merasakan hikmah dari yang kamu alami sekarang, dan membuat kamu bersyukur bahwa pernah ada kenangan yang kamu tuliskan di sini.
percaya deh, aku pernah merasakan itu. dan alhamdulillah,sekarang akhirnya aku bersyukur dengan yang pernah ada di masa lalu.
December 25th, 2008 at 8:43 pm
Gue baru dapat telpon semalam dari salah seorang teman dekat gue yang baru saja cerai. Ternyata dalam kehidupannya selama ini datar. Tidak pernah sekalipun tertarik atau mencintai pasangannya. Bahkan worst tidak pernah jatuh cinta. Tidak pernah deg-degan atau cemburu bahkan sampai menikah sekalipun.
Gue setuju Put, yes indeed dari segala misfortune you are lucky to learn how can love can affect your life. Mulai dari kangen hingga cemburu atau menangis. I think reading all your writing here, I think you are a great guy. Don’t worry girls will surround you like flies. Rock n Roll.
December 26th, 2008 at 2:43 pm
poninya lurus tapi rambut belakangnya keriting ya poet? *berusaha nulis komen yang menghibur*
February 25th, 2009 at 10:16 am
gw pikir co gak ada yg pnya cinta yg tulus sampe gw baca tulisan ini