Putra Nasution

Bajakan..

Ini keluh kesah lama yang terpendam di kepala tapi belum bisa dituliskan dengan baik, bahwa kata pembajakan seolah sudah mengalami ameliorasi kata. Pembajakan sudah menjadi hal yang “bisa dimengerti”.

Bagaimana tidak. Lapak-lapak jualan barang tidak resmi ini hampir bisa kita temukan di setiap tempat. Mulai dari taman, tempat berbelanja (baik kelas tradisional, menengah maupun mewah), di pinggiran jalan, dan seterusnya. Ironisnya, malah tak jarang kita bisa melihat lapak-lapak tersebut berdampingan dengan “damai” dengan kantor penegak hukum. Tanya kenapa?

Dan sebelumnya, mari kita jujur terhadap diri sendiri. Berapa banyak album dari ber-giga bita lagu yang tersimpan dalam media penyimpanan milik kita yang benar-benar kita beli? Apakah sampai seper-sepuluhnya?

MUSIK BAJAKAN

Untuk saya sendiri, saya akan mengaku dosa. Masih banyak dari koleksi album saya yang tidak saya dapatkan dengan membeli. Namun kebanyakan adalah download dari internet, karena album yang saya inginkan belum tersedia di toko musik. Sebagian lainnya adalah edisi “beta”, sebagai preview untuk album yang saya ingin beli.

Oke, itupun bukan hal yang baik. Masih pembenaran diri, dan saya sedang mencoba “berbenah”.

Namun, makin hari saya makin sadar, bahwa sudah sepatutnya saya menghargai hasil karya yang dihasilkan dengan keringat dan air mata itu. Dan percayalah, itu bukan sekedar pengandaian. Karena saya pernah dan sedang merasakannya, saya sendiri adalah bagian kecil di dalamnya.

Dengan kondisi industri musik yang tidak menentu seperti sekarang, adalah hal yang luar biasa jika ada musisi yang bisa menjual albumnya sampai 200.000 kopi. Tak perlu lah berbicara jutaan keping album seperti jamannya Sheila on 7, Dewa 19, Jamrud, Padi, Peterpan dan lain-lain.

Tapi bukankah mereka –band yang sudah mengecap industri rekaman skala nasional– adalah orang-orang yang bergelimangan harta dan kehidupan jet-set? Bukankah mereka selalu berseliweran dengan mobil mewah di pesta-pesta mewah dengan pakaian yang berganti-ganti setiap kali muncul di TV?

Tunggu dulu, itu artis sinetron atau musisi? Artis, atau selebritis? (Dua kata yang terakhir saya sebut adalah dua hal yang sangat jauh berbeda)

Sadarkah, bahwa untuk membuat sebuah lagu itu tidak segampang membalikkan telapak tangan? Bahkan kadang harus sampai tidak tidur semalaman hanya untuk memikirkan satu bait reffrain yang baik. Itu belum termasuk mencari interlude yang baik, mencari melodi yang terkonsep, memoles tangga nada agar tidak terdengar cheesy dan garing, berantem di studio latihan karena berbeda pendapat soal aransemen lagu, dan seterusnya, dan seterusnya.

Belum lagi begadang di studio untuk mencari sound gitar yang enak di telinga, sound drum yang bisa melengkapi dan saling mengisi dengan pemain bas, dan vokalis yang minum bergelas-gelas air untuk menghindari tenggorokan kering dan suara serak karena mengulang satu part lagu sampai puluhan kali. Percaya deh, itu adalah hal yang harus dilewati saat proses rekaman. Tak jarang malah satu shift rekaman (antara enam sampai delapan jam) terlewatkan hanya untuk menggarap satu lagu mentah yang harus dimixing dan dimastering lagi.

Dan tentunya, itu belum termasuk proses kerja sampingan agar dapur tetap ngebul karena royalti penjualan album belum bisa dirasakan. Juga belum termasuk sindiran orang tua dan calon mertua karena dianggap tidak punya masa depan. Apalagi harus meninggalkan bangku kuliah karena jadwal manggung dan latihan yang semakin padat.

Lalu, setelah materi album selesai, harus patungan atau mencari proyek sampingan lainnya untuk mendanai mini album ataupun album penuh yang diedarkan secara independen sembari menunggu panggilan label. Jika nasib baik datang, materi album tersebut diterima oleh label, dan perjalanan panjang akan dimulai lagi.

Lagi? Iya lagi. Kecuali band-band besar yang sudah punya die hard fans, proses yang diatas itu belum ada apa-apanya.

Masih harus kompromi dengan producer dan executive producer, pitching foto dan cover, promo radio, promo offline lainnya, bikin video klip, dan seterusnya, dan seterusnya, dengan royalti yang nggak sampe seper-sepuluh harga jual kaset/cd, dan lisensi-nya dipegang oleh label selama puluhan tahun.

Kemudian, setelah semua proses melelahkan itu terlewati, satu album yang dikerjakan dengan air mata dan darah itu dicompress sedemikian rupa dan digabungkan dengan band-band lain dalam satu CD Rp 1500-an dan dijual dengan harga Rp 5000-an?

Kok ya, aduhhh. Saya tidak punya kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana perasaannya :(

Saya terus terang tidak tahu bagaimana jalan keluarnya, tapi saya teringat salah satu teori dasar ekonomi, bahwa adanya supply karena ada demand. Banyaknya barang bajakan yang beredar karena memang permintaannya terus ada.

Jadi, demi Indonesia yang lebih baik, marilah kita berhenti membeli barang bajakan. Jika kita tidak sanggup membeli CD asli-nya, setidaknya belilah kasetnya (lebih murah). Dengan begitu, setidaknya dapur para musisi akan tetap ngebul. Dan dengan begitu, kita bisa belajar untuk menghargai hasil kerja keras orang lain.

Bukan begitu, saudara-saudara? :)



9 Dreams about “Bajakan..”

  1. venus Says:

    Ugh, ga bisa komen soal ini. Gmn ya put ya? Ngomongin ini gak akan ada abisnya. Soal bajak2an udah terlanjur kusut, sepertinya akan susah banget diurai sampe lurus dan bener lagi.

  2. Nike Says:

    Saya ngaku juga deh. Saya masih sering download mp3 :D

    *ampuni saya ya Allah*

  3. poetra Says:

    @venus:
    Iya sih mbok. Gak perlu semua pembeli bajakan harus sadar lah, karena gak mungkin juga. Tapi seper-sepuluh dari mereka insaf aja itu udah cukup kok kayaknya, dengan begitu angka jualan akan meningkat lagi. Statistically speaking, barang asli yang laku di pasar itu kan jumlahnya cuma 4-5% dari Total Gross Sales.

    Walaupun susah diurainya, tapi kan kalo gak dimulai ya gak akan berubah juga, hehehe. Mari kita rubah pelan-pelan, setidaknya dari awareness dulu :)

    @Nike:
    Kalo begitu, trik-nya coba biasakan delete lagunya seminggu setelah didengarkan, dan jadiin itu komitmen terhadap diri sendiri. Ato kalo nggak ya seperti yang aku bilang diatas, beli aja kasetnya :)

  4. echa Says:

    kalo lagu2 indo ada di toko2 disini sih udah kubeli poet…

    dan seringkali aku mau beli hanya 1 lagu sedangkan ada 19 lagu didalam 1 album itu aku gak suka sama lagu2nya, berasa rugi kalo harus bayar sekitar 24 euro.

    aku beli cd kalo memang suka banget sama band nya, atau dj nya. selebihnya? ngabur ke limewire hihihi…

  5. echa Says:

    tp herannya kalo di indo aku gak pernah beli cd lagu bajakan loh..! rugi man, rugi! kenapa? covernya jelek, kualitasnya belum tentu bagus, sedangkan yg asli gak mahal2 amat tuh..

  6. Pembajak berhati nyaman Says:

    i hope so… mari mari kita hargai hasil karya orang lain.

  7. bagus Says:

    buat masalah ini gw ga bisa bilang ngga :D
    kl gw di paksa beli barang ngga bajakan (kl cd lagu sih masi bisa) bisa2 gw ga dapet ilmu apa2 selama kuliah…
    buku terbitan original $200-$500/buku
    software minimal $1500 untuk yang dipake buat analisis harian
    so? duit darimana gw kl musti beli yang original? mau bayarin?

    untuk cd lagu bajakan itu sendiri kan sebenernya bisa aja pihak rekaman juga ngeluarin CD MP3 dengan kualitas yang lebih baik dari yang bajakan untuk kalangan menengah ke bawah..selama tingkat ekonomi masyarakat masih rendah kayanya ga bisa di paksakan idealisme “beli barang original dong” tapi tolonglah kepada pelaku industri yang mengakali supaya produk mereka bisa masuk jangkauan kantongnya rakyat kecil…untung dikit gpplah..pangsa pasarnya kan puluhan bahkan ratusan juta orang ini..orang luar aja ngiler mau masuk ke sini ko orang sendiri ga bisa memanfaakan pasar yang besar ini

    just my 2 cents..sorry kl “idealisme” kita agak berbeda

  8. poetra Says:

    @echa:
    Idem cha :)

    @Pembajak berhati nyaman:
    Idem juga kang :)

    @bagus:
    Begini mas bagus, saya nggak mengalienasi loh ya. Saya hanya menyampaikan pendapat dari sisi pandang pekerja seni; seorang musisi. Bukan dari sisi label ya..

    Nah, kalau yang mas bagus bilang soal software dan buku, saya memilih untuk ada di area abu-abu. Bukan berarti sebagai justifikasi, melainkan sebagai bentuk keterpaksaan. Saya sendiri pun masih menggunakan beberapa software bajakan (yang memang tidak terbeli)..

    Tapii, kalau sudah sanggup beli namun masih beli yang bajakan, itu kan terlalu namanya. Kita nggak bisa beli cd, tapi nonton di bioskop sanggup. Kita ngerasa gak bisa beli cd, tapi kalo urusan ringbacktone gak kira-kira..

    Untuk cd kelas menengah, kan sudah diusahakan label dengan mengeluarkan softpack cd, ya kan? :)

    Yang jadi permasalahan menurut saya bukan soal harganya, tapi soal kebiasaan kita untuk mencari pembenaran. Saya rasa masih worth it kita menyisihkan uang seribu rupiah sehari untuk beli cd. Bisa dong?
    Karena albumnya itu dikerjain dengan kesabaran dan air mata darah juga. Kita harus lebih bisa menghargai jerih payah orang lain. That’s all..

    Tapii, kalau yang jadi alasan adalah ekonomi, saya tidak berani “nyentil”. Gak lah, makan tentu lebih penting daripada beli cd.

    Yang saya komentarin itu adalah orang yang memang pencinta musik, dan yang punya budget untuk hiburan.

    Saya rasa, “idealisme” kita gak jauh2 amat bedanya kok.. hehehe

  9. Kuyax Says:

    Jadi, demi Indonesia yang lebih baik, marilah kita berhenti membeli barang bajakan. Jika kita tidak sanggup membeli CD asli-nya, setidaknya belilah kasetnya (lebih murah). GERINDRA


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motionsightspretenderoldfashionedlovestation

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008