Menghambar,
indera pengecap tidak lagi berfungsi
mulut kering terlalu banyak berdoa
namamu berputaran tak menentu di udara
Berdebar,
jantung ini berdetak tak tentu irama
waktu memaksa darah berdesir
bayanganmu bertebaran dimana-mana
Melayang,
gravitasi menjadi alfa membunuh massa
tulang kulit daging hanyalah benda
untuk jiwa yang kini terbelah menjadi dua
Mengabur,
setiap pandangan mata adalah ilusi
tak ada yang nyata ketika kau tak ada
saraf optik tidak lagi bisa mencerna
Melambat,
detik berganti semaunya saja
berharap waktu memuai ketika berdua
mengusangkan semua teorema yang ada
Tersiksa,
tidur menjadi hal yang langka
tak berkutik sampai subuh menyapa
terlelap atau tidak sungguh tak berbeda
Menggila,
tak tentu jam ingin menyapa
seucap kata mengobati dahaga
nestapa diri yang ingin berjumpa
Membuta,
salah benar tak ada lagi bedanya
nalar terbunuh terlalap apinya
bahkan dusta pun baik adanya
Selamat datang lagi, wahai asmara
adakah tuan mendengarkan hamba?
Inginnya hati ini mencinta dengan biasa,
seperti pendosa yang merindu syorga
(untuk si adik dan para perindu lainnya)











