Seorang teman dulu pernah berkata, bahwa hal paling berat saat pindah ke luar negeri selain jet lag adalah culture shock. Ada beberapa –bahkan mungkin banyak– perbedaan budaya yang tidak cocok dengan kebiasaan sehari-hari.
Namun yang mungkin dia belum tahu adalah, culture shock tidak hanya dialami ketika berpindah negara. Culture shock menurut saya justru lebih berat dialami ketika berpindah kota di Indonesia. Dan sebagai seorang yang tidak bisa dikatakan amatir dalam urusan ini, saya punya banyak cerita.
Tapi mungkin karena akan menghabiskan 2 novel dan bergelas kopi untuk merangkum seluruh pengalaman berpindah daerah, saya akan bercerita tentang culture shock yang baru ini saya hadapi saja. Antara pulau jawa dan Sumatera Utara.
Sebagai orang daerah yang lama merantau, saya tentunya terbiasa dengan suasana yang boleh dikatakan cuek. Terlebih lagi, hampir seluruh komunitas dan lingkungan saya selama merantau –baik Jogja, Bandung, Cirebon, maupun Jakarta– adalah orang yang setidaknya sadar IT.
Nah, ini menimbulkan masalah; setidaknya untuk saya. Adat budaya orang Indonesia kebanyakan –khususnya di daerah– adalah suka berbasa-basi. Seringkali ketika orang bertemu dengan saya, akan timbul pertanyaan-pertanyaan yang susah untuk saya jawab, seperti tercermin dalam dialog berikut ini..
Tanya 1 (T): Sekarang kerja dimana?
Saya (S): Ohhh, bikin usaha sendiri.
T1: Oh, usaha apa?
S: Bergerak di bidang IT.
T1: HA? *dengan muka rumit*
Setelah berpengalaman menjelaskan susah payah kepada orang pertama, akhirnya saya belajar untuk mempermudah istilahnya. Saya jelaskan saja bahwa usaha saya adalah computer related. Namun ini pun menimbulkan pertanyaan lain yang membuat hati dongkol..
T2: Ooh, bidang komputer ya. Kayak reparasi komputer gitu kan? Kebetulan komputer di rumah lagi kena virus *bla bla bla dst dst…*
S: HA? *dengan muka lebih rumit*
Inilah permasalahannya. Kebanyakan orang akan berpikir bahwa saya mengerti masalah seperti itu. Belum lagi pertanyaan tentang VGA Card apa yang paling bagus, apa RAM yang paling murah, dst dst. The fact is, I do know a little bit about such things, but no, I will NOT fix your computer (for free) :p
Oke, mungkin saya harus mempersempit lagi bidangnya dengan istilah yang lebih mudah dicerna. Dan saya menemukan satu kata sakti; internet. Sehingga akan menghemat waktu untuk menjelaskan… or not…
T3: Oooh, bidang internet ya. Jadi operator warnet ya? ato malah bikin warnet?
S: *berbusa*
Maksud hati ingin terlihat smart, tapi apa lacur ada banyak gap yang membatasi. Sehingga saya akan dengan pasrah dianggap sebagai pengangguran yang kerjanya hanya di rumah saja, yang baru 2-3 hari sekali keluar untuk jalan-jalan.
Di kebanyakan daerah dan kota kecil, pekerjaan yang lazim, recognizable dan eligible hanya ada 3: pegawai negeri / PNS, pegawai BUMN, dan orang kaya; entah dari warisan, saudagar / pengusaha, atau sejenisnya. Bahkan seorang sepupu saya yang bekerja sebagai wartawan olahraga di sebuah majalah juga terkena nasihat untuk mencari pekerjaan yang “lebih bisa menghidupi”. Apalagi mereka mendengar profesi salah satu kakak kelas saya yang adalah seorang konsultan transportasi –yang sampai saat ini saya sendiri masih bingung, haha.
Sekali lagi, sekarang saya berusaha lebih nrimo jika ada banyak pihak yang menganggap rendah pekerjaan saya, termasuk jika mereka sama sekali tidak mengerti. Disinilah saya mengerti arti pepatah lama, bahwa diam itu emas *manggut-manggut*.
Dan oh iya, hal diatas belum termasuk susahnya dalam berhubungan ya, terlebih jika menjelaskan kepada gebetan yang tidak berasal dunia IT, dan terlebih lagi kepada orangtua mereka *mengelus dada*.
“Demi kau apa pun abang rela, dek. Ke ujung dunia pun kau akan abang susul, dan apapun yang kau minta akan abang usahakan … asal jangan kau suruh abang jadi PNS.












July 3rd, 2008 at 9:37 pm
mesti ditambah tag em-nya itu “asal jangan kau suruh abang jadi PNS”
July 4th, 2008 at 12:30 am
@anima: Sudah ditambahkan, haha. Thank you dude
July 4th, 2008 at 2:29 am
hah! jangan nyindir lah, poet..
eh, ini bukan aku yg tanya2 soal kerjaanmu, kan? ini ngomongin orang lain, kan? qiqiqiqi…
July 4th, 2008 at 3:08 am
waaaahaahahaaaaaa,…
emang seh lebih baik diem aja dari pada ampe harus begadang dan habis 3 gelas kopi plus 2 bungkus gorengan untuk menjelaskan so called it,..
ngg,.. pns? heuheauah… yang penting halal kan? heuheuehu,..
July 4th, 2008 at 3:31 pm
hahaha… itulah tantangannya kerja di daerah, put!
aku malah lebih pengen kerja kembali ke daerah ku…
tertantang membuat kota kelahiranku semakin lebih “pintar”.
eh, dgn segala kerendahan hati loh, ya… hihihi…
July 4th, 2008 at 5:21 pm
Jadi inget waktu lulus kuliah dulu, Saya di minta Bapak buat kerja jadi PNS ato di BUMN ato Bank, alesannya sih, Supaya klo di tanya gampang jawab … heheheh
Sukses yah Bro
July 5th, 2008 at 5:55 pm
gyahahahahahahahahaha… kalimat di ujung sekali itu gw banget………
July 5th, 2008 at 6:53 pm
hahahaha…bapak masiy berharap anaknya ini mau jadi PNS…
July 7th, 2008 at 1:17 pm
sama put, ketika aku balek ke dumai ditanya kerja apa dan menjawab di bidang IT, prespektif si penanya adalah aku tukang reparasi komputer, operator dll..
July 8th, 2008 at 5:36 am
tetap semangat
July 8th, 2008 at 4:28 pm
sudah hampir setahun tp aku msih blum betah tinggal di tlatah sunda ini dan dan soal PNS ah saya juga nda berminat
July 8th, 2008 at 4:59 pm
bujang ini kembali ke peraduannya..
*masih nyari DVD hasil burn*
July 11th, 2008 at 3:55 pm
pindah put? ko ga pamit abang?!! hue uda lama pula.
July 15th, 2008 at 3:00 pm
P egawai
N yaman &
S antai
no way man..hehe..
lebih baik hidup di dengan cara hidup yang bisa menghidupkan……
July 31st, 2008 at 5:13 pm
ngak gitu-gitu kali lah put. Kau ini-lah. Tapi, ya emang gitu disini. hahahaha