“Halo..”
Sunyi dan kosong merebak menyesakkan dada, hanya tercemari dengan sedikit desis blower Air Conditioner yang diset pada suhu 19 derajat celcius.
“Halo..” Sekali lagi suara itu terdengar, mencoba memecahkan badai di hatinya.
“Aku rindu sekali, ingin bertemu kamu..”
Aretha Franklin seolah mengiringi ucapan yang menggantung itu, mencoba mengkonfrontasi kebekuan yang menggetarkan perasaan. Lelaki itu pun berharap suara diseberang sana yang menyanyikan “I Say A Little Pray For You” untuknya.
The moment I wake up
Before I put on my makeup
I say a little pray for you
While combing my hair now,
And wondering what dress to wear now,
I say a little prayer for you
“Aku juga rindu sekali, dan sangat ingin bertemu.”
Jeda waktu menyeruak, detik melambat mencoba membujuk jantung yang berdetak sangat cepat, tak seperti biasanya.
I run for the bus, dear,
While riding I think of us, dear,
I say a little prayer for you.
At work I just take time
And all through my coffee break-time,
I say a little prayer for you.
“Maaf ya, tidak banyak yang bisa aku tawarkan untuk kamu..”
“Aku mengerti, aku baru datang dalam hidup kamu.”
“Kenapa kamu tidak menemui aku tiga bulan yang lalu?”
I say a little prayer for you.. I say a little prayer for you..
“Karena tiga bulan yang lalu aku baru saja membakar tiket pulang.”
“Hehe..” Suara merdu itu tertawa kecil di ujung sana.
“Kamu.. terima kasih ya..” Dia mencoba menutupi kegelisahannya.
“Terima kasih untuk apa?”
“Karena telah menyadarkan aku, dan mematahkan teoriku.”
“Ha..?” Intonasi suaranya menggambarkan kebingungan.
“Iya, kamu sudah menyadarkan aku, bahwa aku masih punya hati.. Dan mematahkan teori bahwa aku tidak bisa jatuh cinta lagi..”
“…”
Diam berbahasa, dan dalam diam kedua hati itu berpelukan.
My darling believe me, ( believe me)
For me there is no one but you!
Please love me too (answer his pray)
And I’m in love with you (answer his pray)
Answer my prayer now babe (answer his pray)
“Kamu tidak seperti pacarku, kamu bisa memanjakan aku. Aku juga berterima kasih untuk itu.”
“…”
“Aku juga punya rasa yang sama untukmu. Separuh hatiku sudah aku berikan untuk lelaki lain, tapi aku pastikan, separuh lainnya aku berikan untukmu.”
Checkmate. Senyum itu menyimpul.
“Tapi kamu sadar kan, kita sedang menanam bom waktu?” Ujar wanita itu sedikit ragu sambil agak menahan ucapannya, sehingga hampir terdengar seperti berbisik.
“Iya, tapi kalaupun nanti bom itu meledak, aku akan mati bahagia,” jawabnya dengan rikuh namun tanpa keraguan.
Forever, and ever, you’ll stay in my heart
and I will love you
Forever, and ever we never will part
Oh, how I’ll love you
Together, forever, that’s how it must be
To live without you
Would only mean heartbreak for me (oooooooooh)
“Kamu…”
“…”
Tidak ada suara yang terdengar lagi. Kedua hati itu telah bertemu, walaupun dalam kondisi yang salah dan waktu yang salah.
“Emm, kalau nanti tiba-tiba aku menutup telepon, kamu jangan marah ya. Sebentar lagi pacarku mau datang.” Suara merdu itu masih rikuh, namun kali ini karena mengharapkan sebuah pengertian.
“Iya, nggak apa-apa kok. Aku mengerti kondisinya. Seperti ini saja aku sudah cukup senang,” pertama kalinya dalam pembicaraan ini dia berbohong. Sedetik kemudian dia berdehem untuk menutupi kecemburuannya.
“Ya sudah, kamu makan ya. Aku mau kerja lagi,” katanya masih berbohong. Dia hanya tidak suka jika telepon tiba-tiba terputus.
Suara di seberang sana terdiam sesaat.
“Iya deh. Kamu juga jangan lupa makan ya,” akhirnya suara itu menyahut.
“Oh iya, Va…”
“Ya…?” Lelaki itu mencoba menenangkan hatinya yang masih bergemuruh.
“I miss you..”
Final Checkmate. Ratu berhadapan dengan raja, dan tidak ada ruang bergerak lagi untuk raja. Hati yang tadi sudah agak tenang, kembali dilanda badai.
“I miss you too..”
‘more than you can ever imagine. So much that it hurts,’ lanjutnya lirih ketika telepon itu sudah ditutup.
Dan Frank Sinatra mendendangkan “Let’s fall in love”, mengantarkan lelaki itu ke dalam hayalannya.












July 24th, 2008 at 1:33 pm
*sigh* forbidden love ya pak?
I wish I still have a heart to feel the thrill
July 24th, 2008 at 1:48 pm
@anima:
Is it forbidden? I don’t know. Hehehe. Tapi bukannya ada pepatah, “sebelum janur kuning melambai, masih milik publik?”
July 24th, 2008 at 6:58 pm
aaahh, seems everybody is missing and wanting ‘kekasih orang’ :p
July 26th, 2008 at 8:02 pm
…


duh bingung mau ngomentari apa…
yg jelas, aku tau rasanya!
July 27th, 2008 at 6:48 am
curhat tingkat daleman nih eh dalam
July 28th, 2008 at 8:20 am
@putra…. sebelum janur kuning melambai? ah… gw lebih moderat… sebelum bendera kuning dikibarkan aja lah…
July 29th, 2008 at 12:42 pm
@venus:
Gak boleh protes.. hihihi..
@Juminten:
Itulah, La.. Gimana itu rasanya ya?
@L 34 H:
Pssssttt *kasi sogokan ke si mbak*
@ichanx:
Setuju.. eh, tapi, hmm.. Gitu lah chanx.. hehehe
July 29th, 2008 at 4:41 pm
pernah dengar g, dalam cinta dan perang tidak pernah ada peraturan.
July 29th, 2008 at 5:47 pm
mmhhh…. kalo belom ijab kobul seehhhh.. hajarr aja Bleehh
July 29th, 2008 at 11:48 pm
curcol.. curcol.. hallo, Bro!
July 31st, 2008 at 3:52 pm
Ini mksdnya apa nie… cinta yg terlarang ?
kata orang justru lebih nikmat, krn perjuangannya beda…
August 1st, 2008 at 3:23 pm
mungkin ada yg bisa saya bantu Put?
ngomong2 perbincangan seperti itu tidak sehat lho ………… karena dengan suhu 19C, bikin flu :D…
ah saya memang tidak kuat di bawah 23C .. lho ko jd ngomongin AC?
August 8th, 2008 at 7:37 pm
go for it….