Putra Nasution

Ahmadiyah; Sebuah Tanggapan

Di dalam Islam, sebenarnya sejak jaman dahulu telah banyak terjadi perbedaan dalam golongan dan aliran yang ada. Dan hingga kini pun, ada bermacam golongan dan aliran yang biasanya memiliki beberapa perbedaan pendapat, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ada yang menyebut diri Sunni, ada pula yang Syi’ah. Kaum Sunni sendiri terbagi-bagi lagi pada pengikut Syafi’i, Hambali, Hanafi dan Hambali. Demikian juga kaum Syi’ah. (Untuk referensi lebih lengkap mengenai mazhab, silahkan membaca tautan ini).

Namun demikian, perbedaan yang ada biasanya (dan seharusnya) hanya perbedaan dalam tataran fiqih, karena jika perbedaannya ada dalam tataran tauhid, selayaknya dan sepantasnya golongan tersebut tidaklah merupakan bagian dari Islam lagi. Sebagai contoh adalah kasus Al Qiyadah yang terang-terangan mengakui Mosadeq sebagai nabi dan rasul.

Dan siaran berita beberapa hari ini kembali diramaikan dengan pemberitaan mengenai Ahmadiyah. Sejujurnya, saya sangat miris mengikuti pemberitaan yang ada, dengan adanya tindak kekerasan yang dialami oleh anggota jemaat Ahmadiyah. Apapun alasannya, negara kita adalah negara hukum, dan hukum jalanan bukanlah sesuatu yang diakui di negara ini.

Sebagai seorang Syafi’iyah, sedari kecil saya mendapat pendidikan agama dari Al-Washliyah. Dan sedari kecil pula saya terbiasa mempelajari perbedaan-perbedaan golongan dan aliran yang ada. Namun demikian, saya tahu saya tidak memiliki cukup kompetensi untuk mengukur mana yang paling benar, sehingga mengenai Ahmadiyah sendiri, saya akan berada di dalam zona abu-abu. Mengapa demikian?

Saya pertama sekali mendengar tentang Ahmadiyah adalah ketika saya masih di madrasah ibtida’i, kurang lebih ketika saya SMP. Seperti kebanyakan teman-teman lainnya, saya hanya membaca dan mendengar, namun tidak pernah “bersinggungan” secara langsung, berbeda dengan Muhammadiyah ataupun NU yang memang ada di sekitar lingkungan saya.

Ketika saya pindah ke Bandung, saya “bersinggungan” langsung dengan Ahmadiyah. Saya berkenalan, saya mempelajari, saya bahkan beberapa kali sholat di mesjid Ahmadiyah di Bandung. Beberapa kali pula saya berdiskusi langsung dengan ustadz-ustadznya, dan terakhir kali (sekitar tahun lalu) saya sempat berdiskusi dengan salah seorang ulamanya di daerah Cimahi (saya lupa nama daerahnya).

Namun sekali lagi, saya tidak ingin menyimpulkan salah atau benar disini. Saya hanya ingin mempublish tulisan saya yang sudah tertahan sejak lama, tertanggal 29 Juli 2005, yang masih menjadi draft karena belum cukup risetnya. Saya baru sempat mengambil poin dari buku terbitan JAI sendiri, yang berjudul “Bukan Sekedar Hitam Putih” –dulunya bisa didownload dari situs Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI), tapi sepertinya sudah dihapus.

Namun demikian, saya rasa ada baiknya juga saya mempublish masalah ini sebagai sumbangsih, selain juga sebagai dokumentasi pribadi saya. Beberapa poin penting dari “Bukan Sekedar Hitam Putih” Ahmadiyah –yang saya baca dipublish sebelum tahun 2005– yang rancu dan menjadi pertanyaan menurut pendapat saya adalah:

  • Kutipan dari halaman 31, pencantuman dalil-dalil mengenai kenabian setelah nabi Muhammad SAW: QS 44: 6-7.
  • Pengakuan kenabian Mirza Ghulam Ahmad di halaman 47.
  • Sikap “masih mau’ud” tentang sholat halaman 119-120.
  • Fatwa “masih mau’ud” halaman 121: Allah ta’ala ingin membentuk sebuah jemaat yang tersendiri.
  • Sabda “nabi mirza” tentang “nabi Krisna” dalam “Tamma Haqiqatul Wahyi, hlm 95″.
  • Pengakuan mirza sebagai mahdi yang dijanjikan, tidak sesuai dengan kutipan pada halaman 138 bahwasanya Mahdi adalah Isa Al-Masih.
  • Disatu sisi, mirza mengaku dirinya adalah mujaddid (pembaharu) saat menghadapi tudingan bahwasanya dia dituduhkan sebagai nabi palsu. Akan tetapi pada kesempatan lainnya, dia mengakui bahwasanya dirinya adalah juru selamat, nabi dan rasul pada akhir jaman (paragraf akhir).
  • Dicantumkan juga sabdanya dalam “Tadzkira-tush-shahadatain” pada halaman 155 yang dengan jelas menyatakan bahwa Isa anak Maryam telah wafat, yang tentu saja bertolak belakang dengan hadist yang pada buku ini dikutip sebagai landasan penugasannya sebagai mahdi dari kumpulan hadist Shahih muslim 2 (halaman 192 –yang diriwayatkan oleh Sa’id ibnul Musayyad dari Abu Hurairah r.a). Jika dibaca secara teliti, pada hadist tersebut Rasulullah SAW bersabda, “Demi Allah yang hidup saya berada pada tangan-Nya, sesungguhnya Isa bin Maryam benar-benar akan turun diantara kalian sebagai hakim penguasa yang adil, ….”
  • Pada halaman 154 pula diberikan footnote yang mencantumkan ayat Al-Qur’an yang dijadikan referensi dan bukti atas wafatnya nabi Isa A.S yang sebenarnya sama sekali tidak menyebutkan tentang perihal wafatnya nabi Isa A.S (pada buku ini dicantumkan ayat tersebut adalah Al-Maidah 76, 118 dan Ali ‘Imran 56,145).
  • Demikian juga footnote bernomor 256 pada halaman yang sama yang dijadikan landasan tentang mengapa ummat muslim tidak perlu lagi menunggu mahdi (nabi Isa A.S) yang dijanjikan karena orang yang telah wafat tidak akan kembali lagi ke bumi, selain surat Al Jaatsiyah ayat 26-27 yang menceritakan tentang orang-orang yang mendustakan ayat Allah yang meminta nenek moyangnya dihidupkan kembali sebagai bukti nyata kekuasaan Allah.

Sekali lagi, sayangnya format digital dari buku tersebut sepertinya telah dihapus dari situs JAI, dan saya pun kekurangan bahan untuk meneruskan riset. Sengaja saya menjadikan buku terbitan JAI sendiri sebagai referensi, untuk menghindari adanya kesan fitnah. Dan sudah cukup banyak juga buku-buku dan pihak lain yang membahas tentang Ahmadiyah yang ditolak pula isinya oleh jemaat Ahmadiyah sendiri.

Adapun menyikapi masalah pelarangan Ahmadiyah di Indonesia, saya merasa sebaiknya pihak MUI dan Ahmadiyah (baik Qadian maupun Lahore) mengadakan forum diskusi demi tercapainya kemaslahatan ummat. Forum diskusi yang saya maksud adalah forum diskusi yang membahas akar permasalahan dan mencari solusi, bukan debat kusir dan saling menyalahkan seperti yang terjadi sudah-sudah.

Dan sekali lagi saya menghimbau dan mengajak kepada teman-teman lainnya, untuk jangan terpancing emosi menyikapi masalah ini. Kita adalah manusia yang diberikan akal pikiran, maka pergunakanlah untuk memecahkan masalah dengan bijak.

Hindarilah kekerasan, karena Islam adalah agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Insya Allah akan tercapai sebuah kesepahaman yang baik, sekali lagi demi kemaslahatan ummat. Dan pernyataan sikap pribadi saya pun masih sama, saya akan tetap berada di area abu-abu, sementara waktu saya ingin mengumpulkan data dan riset dari kedua sisi, sehingga tidak dianggap menjadi fitnah.

Barakallah lii walakum ajma’iin…



13 Dreams about “Ahmadiyah; Sebuah Tanggapan”

  1. killy Says:

    wah keduluan put, aku juga udah nge-draft blog untuk ngebahas Ahmadiyah. Masih do more research.
    Aku rasa pemberitaan di media kurang proporsional, yang ada hanya anarkisme pada masa ahmadiyah tapi tidak ada media yang betul-betul mengungkap siapa sebenarnya ahmadiyah dan sisi hitam mereka serta pimpinan mereka sampai terkena fatwa sesat.
    Fatwa sesat itu dikeluarkan tentunya bukan dengan serampangan.
    Insya Allah nanti aku muat juga di-blog tulisan tentang ahmadiyah yg semoga saja bisa membuka mata kita siapa sebenarnya mereka dan pimpinannya.

  2. bukrie Says:

    halo put, makasih dah mampir ke blog “cupu” gue yah… :-) bicara soal posting loe ini, gue juga sempet gatel dengan fenomena yang ada, gue cuma semet bikin page-header khusus buat hal tadi di blog gue… silahkan mampir lagi! :-)

  3. ichanx Says:

    Dikirain gw doang orang non-ahmadie yang suka iseng ke jalan pahlawan, ikut sholat, dan ngobrol-ngobrol ama orang2 disana… (tapi gw mah ngobrolnya ama g muda2 kali, males ama yg bergaya ustadz soalnya kurang funky, hihihi).

    Dikirain gw doang orang non-ahmadie yang menyadari adanya “penghapusan” beberapa download-an di ahmadiyya.or.id terutama artikel/tulisan yang berhubungan dengan “masalah panas tentang keyakinan dasar ahmadiyah” belakangan ini.

    Ternyata ada juga orang iseng kayak gw ya? hihihi….

  4. Ray Says:

    waduh ini begitu disubmit error.. ilang deh tulisanku yg indah dan bersahaja *kaburrrr*

    Aku tidak merasa diwakili, aku juga tidak merasa dibela.. bahkan aku merasa kalian telah mencorengkan jelaga di mukaku.

    itulah ungkapan kekesalanku terhadap mereka yang selalu membawa nama Allah dengan dalih keagamaan dan kebenaran, tetapi selalu berbuat anarkis.. kalian tidak mencerminkan sifat yang islami, rahmatan lil`alamin

    Semoga kita selalu dilindungi dan dijauhkan dari jalan yang buruk lagi sesat. Aminn

  5. Ray Says:

    oh ya ada sedikit cerita sejarah ahmadiah di blognya ndoro kakung http://ndorokakung.com/2008/04/17/ahmadiyah-pecas-ndahe/

  6. killy Says:

    selesai juga put tulisan ttg ahmadiyah dan udah publish :)

  7. aldi Says:

    eniwei, infonya sangat bermanfaat dan postingan yg keren nih sampe mesti riset ….

  8. ikez Says:

    finally luh posting juga ya bujang, tertahan sejak kapan itu kita membahas soal ini? :D

  9. sireum Says:

    pagi-pagi sempet lihat di tipi, wawancara dengan Adnan Buyung Nasution via telp. Adnan bilang, “apa yang ngotot bilang Ahmadiyah sesat itu tahu kalau Ahmadiyah sudah ada sejak dia belum lahir ke dunia,”

    Ya, Ahmadiyah masuk ke Indonesia pada tahun 1920-an.
    Adnan melanjutkan via telpon, Ahmadiyah itu dia ikut membangun apa yang dinamakan “Indonesia”. Dia ada bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan Syahrir.

    Jadi bagi saya, Ahmadiyah adalah satu hal yang tak bisa dipisahkan dari sejarah bangsa ini. Sesat? Hanya orang yang pikirannya sesat yang mengatakan Ahmadiyah sesat.

  10. sireum Says:

    ini bukan bermaksud membela Ahmadiyah lho. Intinya, Indonesia kan negara demokrasi, segala perbedaan bisa hidup seharusnya. Komunis sekali pun menurut saya, sah hidup di negara ini. Ahmadiyah sesat? Ahmadiyah di Indonesia jangan-jangan lain? Karena bagi saya, agama itu adalah hasil dari kebudayaan, sama halnya seperti ideologi.

    Njiss.. makin rieut cara menjelaskan saya. Ya, intinya saya gak suka yang suka sewenang-wenang maen hajar, maen bakar, maen timpuk, tanpa mau bicara dari hati ke hati. capee dehhhh…. :P

  11. devishanty Says:

    ah ga ikutan ah.
    hayu ah kapan kopdar

  12. sedemir Says:

    Risetnya masih kurang banget tuh hehehehehe. Saya maklum masih pada muda-muda ya. Terus membaca dan merenung.

  13. Anwar a Says:

    Saya tidak terima apapun alasan GULLAM tentang kelebihannya. Kelebihan agama yang benar adalah tetap benar dan up to date sepanjang masa. AL QURAN DAN HADITH sudah nampak sebagai pertanda bahwa ISLAM yang lebih benar. Kalau soal cerita GULLAM bahwa dia bermimpi, saya tidak percaya. Tak ubahnya itu sebuah cerita yang bisa saja dibuat atau ditukar tukar. Saya juga penulis buku, sebab itu saya tak percaya ajaran ajaran yang dibuat buat. Tapi siapun orangnya terserah padanya mbna ajaran yang diyakininya. Saya menulis ini karena blog ini membutuhkan komentar. kunjungi juga saya di halaman http://www.mandailingnatal.page.tl/


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

111098654312

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008