Putra Nasution

Atas nama seni…

Lagi gak produktif sama sekali, bahkan untuk mikir pun males. Jadi, lebih baik mempublish tulisan-tulisan lama sekali (hehe) yang masih bertumpuk di meja redaksi. Memang, masih kasar gitu karena namanya juga masih draft. Tapi biarkanlah.

Oh iya, untuk yang comment soal postingan lalu, dan juga teman-teman saya yang menasehati saya untuk tetap sabar dan merelakan dia pergi, saya baik-baik saja kok, dan saya sudah merelakan dia sejak menit pertama. Sungguh.

Hanya saja, saya jadi ingin menguji teori, seandainya saja kondisinya berbalik; saya yang meninggalkan pacar saya demi seorang gadis yang lebih cantik dan lebih muda, apakah tindakan saya masih bisa dicap wajar dan disikapi dengan permisif –sebagaimana teman-teman menyikapinya– atau saya akan disebut sebagai buaya darat (seperti biasanya)?

Nevermind, gak usah dijawab juga. Saya sudah tau juga jawabannya :)

Well, postingan ini ditulis March 21, 2006 at 12:04 am. Mungkin masih berhubungan sama kasus yang lagi semarak saat ini :D

“Ingin kututupi tubuhmu yang telanjang dengan beberapa helai tenunan benang,
aku saja kedinginan mengapa engkau bisa tenang?
memang, ramai kearahmu mata yang memandang,
tapi sudikah engkau dihargai dengan jalang?”

Beginilah, ribut ga jelas. Yang ahli memberi usul, yang cari makan protes, yang pro maupun kontra makin ramai, yang nggak ngerti apa-apa teriak-teriak.

Kemaren saya nonton tivi, dan beritanya soal model-model yang protes, karena katanya RUU ini sangat mendiskreditkan wanita. Dan menurut mereka juga, telanjang ataupun pakaian minim belum tentu masuk ke dalam kategori pornografi.

Tanggapan saya? Ya, saya ketawa aja. Ketawa sebebas-bebasnya. Sejak kapan ya orang-orang mulai mencari pembenaran untuk defense-nya? Sejak dulu juga sih, mungkin. Tapi mbok ya-o, tolong gitu loch, belakangan ini udah parah banget.

Telanjang ya telanjang aja, gak pake acara dipandang dari sudut seni dan lain-lain. Sebagus apapun dipoles, yang namanya dosa ya tetap dosa. Terus terang saya bukan orang yang suci, tapi setidaknya, kalau saya bikin dosa ya tetap saya akui itu sebagai dosa.

“Emang sih, gue nggak sholat, tapi setidaknya kan gue nggak ngobat.”

Terus, defense-nya mulai meningkat..

“Yah, gue emang pemake, tukang dugem, tukang mabok. Tapi kan setidaknya gue nggak makan uang rakyat.”

Makin lama, makin parah..

“Yah, memang saya pejabat korup, tapi kan keluarga saya butuh harus hidup. Setidaknya saya nggak membunuh orang kan?”

Akhirnya, jadi begini…

“Yah, saya memang nyulik beberapa mahasiswa yang terlalu frontal. Tapi kan itu demi kebaikan bangsa ini juga.”

Terus aja cari alasan. Terus aja cari pembenaran. Akan seperti itukah kita?

Begini ya, saya suka ga habis pikir soal cewek-cewek yang suka pake pakean minim-minim, apalagi malam-malam. Bukannya sok suci atau gimana, tapi apa mereka gak kedinginan? Saya aja pake sweater masih menggigil… Sebegitu tergilanya kah mereka pada mode? Sebegitu tidak bisanya kah mereka mencari perhatian laki-laki dengan cara yang lain?

Lantas, nggak berlebihan rasanya kalau mereka saya sebut sebagai eksibisionis.

Oh, ya bener, kalo mereka pake pakean yang minim pasti diliatin sama cowok-cowok. Tapi, yang berbicara itu sudah bukan respect dari hati lagi, melainkan birahi. Come on, jangan cari alasan emang laki-lakinya yang brengsek. Emang situ aja yang (maaf) kegatelan, udah jelas malem-malem dingin-dingin kok ya dipaksain banget pake baju minim.

Let me ask you one thing, kalau kita gak mau rumah kemasukan maling, tindakan pertamanya apa? Kunci pintu dan jendela kan? Kalo pintu dan jendela gak dikunci, rumah kemasukan maling ya jangan cuma nyalain maling aja dong.

Tidak, saya sama sekali tidak membela maling-maling. Ngapain juga… Tapi, mind set-nya harus dirubah. Begitu. Ah, bingung mau ngomong gimana juga.

Kembali mengenai para artis kita. Semakin kencang mereka (model-model itu. red) teriak, kok saya jadi makin yakin ya, bahwa sebetulnya memang mereka nggak bisa cari uang selain dari foto-foto –the so called– hot dan sexy?

Kemana perginya inner beauty? Sudah hilangkah ditelan uang (atas nama seni)?



22 Dreams about “Atas nama seni…”

  1. Adham Somantrie™ Says:

    walaupun saya menolak keras pornografi di indonesia, tetapi memang, terkadang ada foto2 seni yang tidak berbau pornografi sih…

    jadi gimana ya?

    Foto seni yang tidak berbau pornografi? Jelas banyak.
    Foto “seni” mungkin maksudnya, dam? Bias ni pendapatnya.

  2. e8ayz Says:

    money is everything, makanya banyak org rela berbuat anythings. Aniwai moral juga udh pada mbablas..

    Moral? Ah, tabu ah membicarakan moral wak.. Hehe

  3. leah Says:

    wes ngerti bajune minim2 mbok dibeliin to yoh, sakno duite ga cukup nggo tuku baju sek panjang2 :P

    Nek dijaluk, tak tukokno wes mbak. Tenan.. Hehehe. Opo tak tukokno balsem wae, nggo kerokan yo, hihihi.

  4. Dino Says:

    kulite kulit badak kali … mo dingin kek apa juga kagak berasa hwhehehehe

    Emberrrrr, bun.. Hehe.. Demi mode..

  5. killy Says:

    semoga saja ‘mereka’ suatu saat mengatahui bahwa ‘wanita’ adalah pondasi agama. jika hancur moral wanita maka agama ini akan ikut hancur. dan hancur pula negara ini.
    Maka jangan mengeluh dan heran ketika bencana terus datang karena mereka memilih untuk terus ‘telanjang’ atas nama seni.

    Semoga saja bang. Semoga. Amiiiiiinn.

  6. rani! Says:

    waah..gw baru pertama kali baca pendapat dari desainer, yang notabene ber-kesenian, ttg hal ini..
    bagus put! stuju! :D

    Iya Ran, tapi apalah saya ini :)

  7. pudakonline Says:

    ini baru ngomongin yang minim-minim, imajinasi saya dah kemana-mana, duh…ngeres nggak ya!

    Nah loh.. Jangan mikir kemana-mana kalo gitu mas :D

  8. marsini Says:

    keindahan tubuh adalah cobaan. Bisakah menutupinya agar tidak menjadi dosa? atau malah mengumbarnya demi pujian atau uang, yang itu adalah tidak pantas.

    Idem mbak. Itu cobaan. Apa akan jadi semakin tidak manusiawi, atau semakin rendah hati.

  9. ichanx Says:

    tambahan… bukan sekedar seni sih… atas nama HAM. Nah loh… defence yang makin sulit… hehe

    Betuuul, chang. Segala HAM dibawa-bawa. Seakan-akan moralitas itu bukan salah satu tiangnya HAM. Gak tau pada sekolah dimana, kepinteran sih.

  10. Juminten Says:

    Pandangan yg bagus dr mata seorang pria, apalagi yg jg seniman.
    salut! ;)
    Mestinya kalo itu barang mahal, ya dibungkus rapi2. Dilindungi…
    Bukannya malah diobral kayak barang murahan!
    *eh, itu kata temen saya, loh! :P*

    btw, salam kenal jg Put!
    pake mac jg, yah?
    makasih udh mampir… :)

    Setuju sama analoginya, barang mahal harusnya dibungkus rapi-rapi. Jadi kalo gak dibungkus rapi-rapi, silahkan terjemahkan sendiri :)

    Salam kenal juga nila :)

  11. v1rzh4 Says:

    pembenaran yang salah kaprah.. :p

    Sangat, zha. Dan sangat ngawur juga

  12. Putra Nasution - The Dreamer and the Poet » Blog Archive » Masih Berbudayakah Kita? Says:

    […] introspeksi diri, maka kita akan sadar bahwa itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka. Seperti yang saya tulis sebelumnya, jika tak ingin dimasuki maling, maka kuncilah pintu dan jendela […]

  13. ika Says:

    waduh malaem2 ujan2 malah pake tank top dan katok pendek? duh kalo begitu kesalahan bukan pada cowoknya,tapi pada ceweknya kalo sampe ada apa2,, :(

    Nah itu, kok menghargai diri sendiri aja gak mau sih :(

  14. rika Says:

    cantik itu memang menyakitkan. wanita, rela sengsara demi cantik… hi-heels, kedinginan karna baju kecil, facial (hemm klo ini cowo juga kali ya!)… akuilah cewe terlihat lebih cantik dengan baju ga-kegedean :D tapi terlalu minim juga ga cantik sih gw bilang uehehehehe

    Oke deh, cewek memang lebih cantik dengan baju yang gak kegedean. Baju dan celana saya juga sempit-sempit loh. Mostly masih S-Size, celana juga gitu, walaupun gak size 0. Kebanyakan orang rela sengsara supaya representatif. Oke, saya setuju.

    Tapi tampil cantik gak perlu buka-bukaan. Pakai celana super pendek untuk apa? Seluruh dunia tau kalo betisnya bagus. So what? Perlu dipamer-pamerin gitu?

    Saya senang melihat wanita cantik; wanita yang bisa menghargai diri sendiri.

    Oh iya, saya gak facial-facialan ya, hihihi :)

  15. sybond Says:

    IMHO, sebenernya gampang memisahkan seni dan pornografi.
    Lihat saja mana yang bikin terangsang, itulah porno.

    Ya gak bisa segampang itu juga mas. Walaupun memang mungkin benar juga. Panjang sekali ini pembahasannya kalau mau saya tulis disini, hehehe.

    Tapi yang jelas, yang berpakaian baik-baik, tentunya lebih bagus dimata. Itu aja :)

  16. Chic Says:

    setuju dengan quote “dosa ma dosa aja”… jangan ada pembenaran disana.. hihihihi

    Betul. Dosa mau dipoles segimana juga tetap dosa.
    Eh, ada anak id-mac, hehe :)

  17. cempluk Says:

    jadi gak salah bila banyak tindakan asusila oleh para ABG , karena banyak sekali wanita yang maaf, terlalu mengumbar badannya utk dipertontonkan…

    satu kata deh, tobat…

    Pastinya ada sebab-menyebabkan di fenomena alam sekarang ini. Saya tidak mau judgemental dengan mereka, mas. Hanya ingin membuka sudut pandang yang lain.

    Mudah-mudahan saja mindset-nya bisa dirubah.

  18. Leonardo Situmorang Says:

    Dari sisi penulisan, asli, aku nyembah bang. Te-o-pe Be-ge-te.

    Komentar ku untuk isi tulisannya: bebas lah bang. Semua hal kan relatif.

    Dosa ya teteup dosa. Bener banget. Tapi setahu gw, dosa teteup dilakukan karena enak. Hehe.

    Hidup penuh pilihan toh bang.

    Nggak semua hal di dunia ini relatif, Lae. Hal-hal tertentu sudah ditentukan hukumnya –yang kebanyakan merupakan intisari dari trial dan error– walaupun aku tidak berbicara dalam tataran agama.

    Betul hidup penuh pilihan. Tapi kita hidup kan nggak sendiri? Ketika kita berbuat, ada orang lain di sekeliling kita. Kalau mau pakai baju model gimana atau malah telanjang sekalian atau ngapain aja di kamar sendiri, silahkan saja, itu sudah lain lagi urusannya :)

  19. ethie Says:

    Cewek2 yg suka pake baju mini mesti dan kudu baca blog inih.. hehehe..
    Salam kenal, thanks 4 visit my blog.. saya link yaa.. :)

    Hehe, tapi saya jadi takut di demo, nanti katanya sok bermoral. Padahal ini kan pendapat pribadi saya, hehehe.

    Salam kenal juga mbak. Silahkan silahkan :)

  20. Leonardo Situmorang Says:

    ” satu-satu-nya yang pasti adalah ketidakpastian”

    klo ga salah sih ini quote dari Einsten. CMIIW.

    *keukeuh mode on* hahahaha.

    tapi aku setuju bagian ‘yang kebanyakan merupakan intisari dari trial dan error‘.

    hep a nais dei bang.

    Oh, yo ih dong lae. Teori relativitas einstein itu masih berlaku kok. Tapi, jangan dijadikan pembenaran, apalagi maksa. Kan itu doang. Hehehe. Sah-sah aja :)

  21. natazya Says:

    inner beauty konon kabarnya cuma defense buat yang susah diliat beauty dari luar…

    hemmm

    iya ga ya?

    siyal sekali yang bilang begitu!

    Kurang mengerti juga aku cerita awalnya. Tapi menurut aku, yang bilang begitu itu cuma defense aja untuk menutupi kekurangannya dan menjustifikasi perbuatannya, hehehe.

  22. venus Says:

    beuh, bongkar2 archive, nemu entry yg keren ini. tapi poet, kalo soal beginian, aku ngeliatnya lebih ke soal pilihan. mau pake jilbab rapet, mau jilbab nanggung kecimpringan, mau yg bikin kedinginan kyk yg kamu sebutin, yah…gimana ya? terserah mereka kalo aku bilang sih. ah, tau dah ah, puyeng, hihihi….


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motionsightspretenderoldfashionedlovestation

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008