Putra Nasution

Misteri Bernama Masa Depan

Seolah terkungkung dalam pemikiran sendiri, belakangan ini saya merasa semakin autis saja. Hari-hari saya beberapa minggu terakhir lebih banyak diisi dengan merenung, mempola (tidak.. saya tidak belajar menyulam atau bordir payet), dan membangun sebuah dunia yang diisi dengan banyak kemungkinan, dan masing-masing kemungkinan berusaha menyelesaikan masalah sebaik mungkin.

In short, I’m playing god in my mind.

Dan tentu saja tidak, saya tidak menghayal yang macam-macam. Hanya saja, memiliki banyak waktu luang untuk menonton berita membuat saya terhenyak dan seolah terbangun dari mimpi. Kemana saja saya belakangan ini? Mengapa saya tidak menyadari negara ini sedang berada di krisis yang lebih hebat dan lebih dalam dari apa yang sudah saya bayangkan? Apa yang ada di bayangan saya saja sudah cukup mengerikan…

Masih terbayang dengan jelas oleh saya ketika para anggota DPR bersepakat untuk mengucurkan dana tambahan untuk menghadiahi diri mereka sendiri sebuah laptop. Kemudian masih terbayang juga dengan jelas liputan tentang halaman parkir di senayan sana. Betapa mewahnya mobil-mobil yang terparkir disana. Kemudian tentang lobby-lobby politik maupun rapat kerja dadakan yang dilaksanakan di hotel-hotel berbintang.

Dengan segala hormat, Anda semua adalah wakil rakyat. Anda dipilih oleh konstituen yang menggantungkan harapan dan masa depan mereka kepada Anda. Dengan demikian, seharusnya gaya hidup Anda mencerminkan kondisi masyarakat.

Ingatlah, ketika Anda sudah duduk di ruang sidang yang sejuk dan nyaman, Anda adalah representatif yang mewakili rakyat, bukan pion-pion partai yang mengutamakan kepentingan golongan. Dan bukan saatnya Anda semua saling tawar-menawar santai dan bermain catur di peta politik untuk menentukan kuota suara untuk pemilu.

Demikian juga keluh kesah saya ini ditujukan kepada seluruh pejabat publik yang dibiayai pajak; uang yang disisihkan rakyat dengan keringat dan darah. Dulu, ketika saya menyebutkan kata keringat dan darah, itu lebih sebagai ungkapan bagaimana susahnya hidup rakyat. Tapi kini tidak lagi, kata itu sudah benar-benar nyata: keringat dan darah.

Sadarkah Anda semua para pejabat yang dibiayai oleh pajak, bahwa kami menghemat semua pengeluaran kami untuk bertahan hidup? Bahwa kami mematikan alat elektronik bahkan walaupun itu akan mengurangi kenyamanan kami? Bahwa kami sudah hampir tidak ingat rasanya makan daging? Bahwa kami hampir lupa apa itu liburan? Bahwa banyak tetangga dan keponakan kami yang kekurangan gizi?

Dan bahwa masih banyak saudara kami di Sidoarjo tidak bisa hidup sederhana? Jangankan layak, hidup sederhana pun mereka hampir tak mampu. Bahkan untuk memasak mi instan yang sengaja dihemat satu bungkus untuk tiga orang pun, dimasak diatas bocoran gas yang keluar dari halaman depan rumah mereka yang sudah tak berbentuk.

Dan jika setelah kami semua menghemat dan berdarah-darah untuk hidup sederhana, Anda masih bisa bersantai dan tarik ulur porsi politik diatas mobil mewah dan dengan handphone yang dibiayai air mata kami, sungguh, Anda bukan lagi manusia.

Tapi apa yang saya bisa lakukan? Saya hanya orang keras kepala yang masih tertatih untuk hidup berkecukupan. Tapi saya yakin masih banyak orang-orang yang perduli dengan nasib bangsa ini, karena walaupun pesimis, para koruptor dan politisi oportunis yang menggerogoti kehidupan masih butuh perlawanan.

Kita harus perduli, dan bangsa ini masih bisa diselamatkan. Caranya bagaimana, nanti kita pikirkan bersama. Yang penting jangan kehilangan pegangan, dan jangan menyerah pada keadaan.

Ketika akhirnya saya sudah tidak sanggup lagi menonton berita yang membuat hati miris dan mata berair, entah kenapa menonton acara-acara lain yang tidak mendidik pun sudah cukup menenangkan hati. Sekedar mencari sedikit senyum dari tingkah norak para bintang televisi.

Lalu saya pun sadar kembali, bahwa saya harus kembali ke dunia nyata. Dunia dimana para kapitalis dan bos-bos perusahaan memerah tenaga para pekerjanya untuk rumah dan sedan mewah mereka. Saya lalu bersyukur, bahwa walaupun hidup saya sangat sulit beberapa bulan belakangan ini, saya sudah meninggalkan mereka jauh-jauh dan dengan bangga tidak perlu mengemis lagi untuk menjadi karyawan mereka.

Namun belum apa-apa, gempuran departemen pajak dan semua institusi keuangan yang berbunga-bunga sudah memenuhi telinga lagi. Hidup mandiri sebagai wiraswasta kecil yang menjunjung tinggi asas ekonomi kerakyatan sangat sulit. Tapi tidak mengapa, bukankah hidup harus optimis?

Walaupun… Tapi, sudahlah…

Dan kembali minggu lalu saya terpekur dalam airmata, ketika ibunda tercinta terbaring lemah di rumah sakit karena ditabrak lari orang tak bertanggung jawab. Dan tadi malam saya masih menangis mendengar suara beliau yang menguatkan saya tidak pernah berhenti berjuang melalui telepon.

Tidak bunda, abang tidak akan pernah berhenti berjuang. Cobaan hidup ini belum apa-apa, dan Alhamdulillah airmatamu yang membesarkanku telah menjadikanku manusia yang tahan banting. Hanya saja riuh teriak kota metropolitan ini membuat hati semakin kaku, telinga semakin tuli, dan mata semakin mengabur.

Kembali panggilan itu datang. Panggilan yang telah lama saya abaikan, karena terlalu egois dan mementingkan diri sendiri. Panggilan dari kota kelahiran yang membutuhkan pemikiran yang sudah tergilas sekian banyak jalan. Kota yang seolah terabaikan karena kerlip lampu kota besar yang sangat memukau mata, dan membuat raja-raja kecil disana semakin berkuasa karena para kritisme rakyatnya hilang ditelan masalah finansial, atau tergiur dengan mewahnya kota besar yang menyesatkan.

Di tengah segala ketidakpastian dan tipu muslihat orang-orang berada, setelah beribu kilometer kaki ini menjauh dari rumah, untuk pertama kalinya hati ini tak sanggup menolak lagi. Mengejar mimpi menaklukkan kota besar tidak lagi lebih berarti dibanding menjadi anak yang berbakti.

Bunda, tunggu anakmu ini mengucap salam di pintu rumah yang telah lama ditinggalkan…



16 Dreams about “Misteri Bernama Masa Depan”

  1. devishanty Says:

    sigh.. sedih banget put..
    aku ikut doain dari jauh mudah2an bundamu cepet sembuh ya..

  2. Adham Somantrie Says:

    welcome home…

  3. Pink Says:

    cuma bisa berdoa aja deh… moga bundanya cepet sembuh.
    btw, trims udah mampir ke blogku.

  4. sireum Says:

    selamat jalan, selamat memenuhi panggilan itu. aku di sini, berdoa untukmu dan ibunda yang terbaring di sana. seorang lelaki dia harus pergi, tapi suatu saat, dia harus kembali.

    ini saatmu kembali. mungkin esok, ada kepergian-kepergian selanjutnya, tapi sambutlah kepulanganmu ini dengan dada yang lapang. biarkan semesta yang bicara, padamu, adikku…

  5. Lily Says:

    semoga segera baik kembali…

  6. nien Says:

    terbawa mellow membacanya
    semoga segera baik kembali

    dan soal wakil rakyat, sungguh sangat tidak bersimpati pada mereka…
    rasanya belum pernah mendengar hal baik dari mereka di periode ini, hobinya bikin repot aja
    *maap bapak2, ibu2 :p*

    lebih bersimpati pada mereka yang ada di pemerintah…
    at least terlihat lebih berusaha
    walau juga sering sekali bikin kecewa

    hehehe, mensyukuri hal sederhana :)

  7. d3ptzz Says:

    aku pulang…..

  8. Aal Says:

    Hmmm…turut bersimpati Poet buat segala cobaannya, tapi ingat dalam agama kita ada petuah “Tuhan tidak mencoba umat diluar batas kemampuannya” terdengar klise namun kadang bisa dibuktikan setelah kita keluar dari cobaan itu.

    Keep contact..salam buat Ibunda tercinta..dia bangga punya anak seperti kamu…

  9. nopz Says:

    turut sedih denger kabar bundanya poetpoet…
    semoga lekas sembuh ya….
    poetra pasti bisa lah bertahan dari cobaan…
    manusia paling optimis dan positif thinking yang pernah aku kenal…
    gudlak ajah di medan ya…
    sampai jumpa di sby tahun depan…
    semoga…
    :)

  10. aldi Says:

    walah.. dateng2 kok ngomongin politik Poet?…
    ngidam bikin partai ni jangan.. pendaftaran PEMILU 2009 dah tutup Poet, tar aja 2014 kita bikin PPB … Partai Pria Bahagia :B

    anyway.. best regards for ur mom Poet, smoga beliau lekas mendapatkan kesembuhan, amin

  11. deRegen Says:

    liburan panjang, saatnya pulkam!!

  12. ray Says:

    Teriring salam dan doa buat sekeluarga nun jauh disana, semoga selalu di berkahi dengan kesehatan, panjang umur dan kekuatan lahir bathin dalam melalui segala aral rintangan di kehidupan ini.

  13. nasgorkam Says:

    lu tau kan gw gak bisa serius2, tapi lu tau doa orang2 teraniaya dan mukanya sok kaya, kayak gw banyakan diterima, tabah put, semoga emak cepat sembuh.

    semoga yang sudah diketuk, akan tetap bunyi,..
    gak usah nunggu diketuk lagi
    *sok dewasa*

  14. ikez Says:

    di setiap sodokan main bilyar itu juga gue merasa bersalah put, di luar ada adik2 kita yang ga beruntung bisa maen ke tempet bilyar… setiap sodokan itu juga berarti 1 suap nasi yang bisa menyelamatkan hidup mereka…

    jadi kapan ke Barcode lagi? *halagh*

    kemarin, emak nelfon gue karena uda jarang ngabarin, tadinya gue uda senyum2 aja baca2 di paragraf2 awal

    :((

    semoga your mom, you en famili diberi kekuatan dan kemudahan.

    *calling my Mom*

  15. snydez Says:

    semoga cepet sehat lagi..

  16. puty Says:

    semoga mamahmu cepat sembuh :’(


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motionsightspretenderoldfashionedlovestation

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008