Pada awalnya saya ingin membahas masalah politik dan negara dalam kerangka yang lebih serius dan terstruktur, akan tetapi urung saya lakukan karena saya merasa ada pihak/perorangan yang lebih berkompeten membahasnya secara sedemikian rapi, dan saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk riset mendalam. Hehe.
Akan tetapi, sebagai warga negara yang merasakan kegelisahan melihat semakin parahnya kondisi negara kita tercinta saat ini, muncul keinginan untuk membahas masalah ini. Kita memang berada di dalam krisis multi-dimensional, tetapi kita juga pasti bisa mengurai masalah-masalah yang ada secara pelan-pelan. Bobroknya moral pejabat-pejabat kita, tidak lantas kemudian kita akan berpangku-tangan saja, bukan?
Masalah yang sangat mengganggu di kepala saya adalah, bahwa tingkat pengangguran kita sedemikian tingginya. Ini tentu saja bukan hal yang baik, karena tingkat pengangguran berbanding lurus dengan kemiskinan, dan kemiskinan mau tak mau berhubungan dekat dengan aspek bermasyarakat. Kriminalitas adalah salah satunya. Sehingga, sedemikian pentingnya masalah ini untuk kita perhatikan. Semakin banyaknya pengangguran di negara ini akan berakibat semakin banyak perut-perut lapar, dan dalam keadaan lapar orang tidak bisa berpikir jernih.
Begitulah kurang lebih yang saya tangkap dari cara berpikir para petinggi kita. Rakyat harus diberi pekerjaan, agar mereka tidak kelaparan. Dan cara yang paling gampang untuk menanggulanginya adalah, mengundang sebanyak-banyaknya investor asing untuk menanamkan uangnya di Indonesia. Benar begitu?
TIDAK.
Semakin banyak investor yang masuk dan menanamkan uangnya, berarti semakin banyak juga MNC –yang notabene pastilah kapitalis– ada di negara ini. Tanpa harus menjadi pakar ekonomi pun saya tahu, bahwa ada kompromi-kompromi tertentu yang dilakukan. Termasuk dulu ketika salah seorang petinggi kita yang juga pengusaha di negara ini, begitu mendukung untuk merevisi Undang-undang tenaga kerja (entah terealisasi atau tidak, saya tidak terlalu mengikuti perkembangannya).
Apakah mereka diatas sana sudah kehilangan hati? Sedemikian pentingnya kah investor asing sehingga harus mengorbankan rakyat kita sendiri? Bekerja menjadi buruh saja sudah cukup sulit, apakah masih perlu ditambah lagi dengan kenyataan mereka tidak akan mendapatkan jaminan kesehatan, uang pensiun, dan tidak bisa menghilangkan perasaan takut kehilangan lapangan pekerjaan? Bekerja kontrak selama lima tahun, kemudian dapat diperpanjang lagi sekeinginan petinggi perusahaan? Kalau dipecat dengan alasan perekonomian sulit, habislah sudah.
Sebegitu tidak punya nuraninya kah para pejabat di negara ini? Hanya untuk mempertebal kantong sendiri, dan atas nama track record politik?
Menurut hemat saya, cara untuk menyelamatkan perekonomian negara ini tanpa harus berbicara masalah neraca dan omong kosong ekonomi makro adalah dengan mengurangi ketergantungan masyarakat kepada negara. Mau suku bunga kita mencapai angka terbaik sepanjang masa, tetap tidak akan memiliki pengaruh besar kepada rakyat kecil. Menolong bagi perusahaan besar sih iya. Yang kaya makin kaya, yang susah makin tercekik.
Lalu caranya bagaimana? Alokasikan saja dana dengan benar untuk membenahi sektor UKM. Awasi dana kreditnya dengan baik. Tanamkan kesadaran enterpreneurship kepada rakyat, biayai, dan bantu mengembangkan usahanya. Dengan begitu, angka pengangguran bisa berkurang, dan roda ekonomi masyarakat kecil juga bisa berjalan dengan lancar. Jangan belum apa-apa, mau membuka usaha sudah ditanyai segala macam tetek-bengek masalah SIUP, TDP, NPWP, neraca perusahaan, dan lain-lain.
Saya sadar betul, bahwa sebagai negara demokrasi pajak adalah salah satu sumber penghasilan negara. Tapi juga bukan rahasia lagi, kalau di dirjen pajak sering ada istilah “alokasi akhir tahun”. Artinya apa? Bahwa target yang diberikan pemerintah kepada ditjen pajak sering melampaui target, dan uangnya harus “dialokasikan” untuk menghindari surplus yang berlebihan. Karena surplus yang berlebihan akan berakibat kepada naiknya target tahun berikutnya, dan itu tidak baik untuk kinerja dirjen pajak. Tolong koreksi dengan bukti yang kongkrit kalau saya salah.
Tentunya yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pemerintah kita lebih memilih investor asing sebagai pemecahan masalah dibanding banting tulang memperbaiki sektor mikro? Analisa asal-asalan saya sampai pada salah satu kesimpulan yang masuk akal, bahwa ini adalah masalah grafik, masalah jangka pendek dan jangka panjang.
Jika ada banyak perusahaan yang bisa menyerap tenaga kerja, maka angka pengangguran akan turun dengan drastis, dan BPS bisa dengan tersenyum menyampaikan data bahwa angka kemiskinan menurun. Dengan begitu, track record pemerintah bisa bersih, dan mereka bisa berkoar-koar kampanye dengan omong kosong pada jaman mereka menjabat angka pengangguran menurun. Sebaliknya kalau perbaikan ekonomi dicapai dengan memperkuat segmen mikro, tentunya akan memakan waktu yang tidak sebentar, dan ketika rakyat Indonesia sudah bisa mandiri dengan usaha kecilnya, mereka sudah tidak menjabat.
Sekali lagi, mohon dikoreksi kalau logika dan analisa saya salah, tapi akan lebih baik jika dikoreksi dengan asas kenyataan, dan bukan teori ekonomi
Salah satu yang perlu diperbaiki juga adalah, bahwa kita tidak dibesarkan dalam iklim enterpreneurship yang cukup. Sedari kecil kita dididik dengan pemikiran bahwa masa depan yang terjamin adalah dengan bekerja di tempat yang kecil kemungkinannya bangkrut. Dengan demikian, pekerjaan sebagai PNS dan pegawai BUMN adalah pekerjaan yang diincar hampir semua sarjana yang baru lulus dari kampus.
Kemandirian yang sama juga kurang bisa diapresiasikan dengan baik oleh pemerintah. Salah satu contoh yang paling menonjol menurut saya adalah, anggaran belanja untuk LIPI (yang notabene isinya para peneliti yang diharapkan menghasilkan penemuan yang berguna untuk bangsa) tidak sampai angka satu trilun rupiah, berbeda jauh dengan anggaran ditjen pajak yang sebesar Rp. 4,73 trilyun untuk tahun 2008.
Kita juga melegalkan tindakan korupsi di kalangan kita sendiri. Menyogok sekian puluh juta untuk bisa menjadi pegawai negeri (walaupun tidak semuanya demikian) menjadi hal yang lumrah. Begitu juga untuk menjadi aparat negara. Dengan demikian juga, begitu yang bersangkutan berhasil diterima menjadi pegawai negeri ataupun aparat negara, akan ada pembenaran dari mencari “sampingan”, karena toh mereka tidak mengeluarkan uang yang sedikit. Entah berapa hektar sawah dan sapi yang tidak bersalah menjadi korban dalam proses ini.
Negara ini ada di tengah krisis multi-dimensional, akan tetapi kemajuan membutuhkan pengorbanan. Sudah saatnya kita memperjuangkan revolusi sosial, hingga suatu saat nanti anak cucu kita masih bisa bangga mengaku sebagai bangsa Indonesia, yang masih memiliki kekayaan alam yang melimpah ruah, dan disaat yang bersamaan juga bangga kepada kita kakek-neneknya yang tidak menggadaikan warisan ibu pertiwi kepada para kapitalis hanya demi lapangan kerja.
Apakah kita ingin terbangun di suatu hari nanti, dimana hutan kita sudah gundul karena pembalakan liar yang tak kunjung bisa ditanggulangi? Dimana kita tidak lagi memiliki cadangan minyak karena sudah disedot habis oleh oil company yang semakin banyak? Dimana kita hanya bisa bercerita bahwa dulu Tembagapura adalah bagian dari negara kita yang kemudian meminta merdeka karena rakyatnya ditembaki ketika mendulang emas di sungai limbah buangan freeport dan ditembaki aparat?
Sekarang saatnya kita memilih, kemana masa depan kita akan dibawa. Menjadi warga negara yang memiliki nasionalisme tidak diwujudkan dengan wajib militer yang tidak jelas manfaatnya, tetapi berkorban dengan mengikat perut dan bekerja sekuat tenaga dengan halal untuk memakmurkan diri sendiri dan bukannya kapitalis yang mempekerjakan kita. Sudah saatnya kita berjuang untuk membuka lapangan kerja, dan bukannya mengharapkan lapangan kerja.
Saya adalah pemimpi yang skeptis untuk masalah ini. Tapi bagaimanapun ini adalah mimpi saya, dan tentunya tidak akan terdengar realistis jika saya ungkapkan ketika saya sedang berkampanye sebagai calon presiden. Wahai kaum muda Indonesia, sudah siapkah kita ditulis sejarah sebagai pejuang-pejuang era modern?












December 6th, 2007 at 4:44 am
saya teringat sajak Chairil Anwar yang berjudul KRAWANG-BEKASI:
“Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai,
belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian…”
Sajak itu bukanlah sajak putus asa. Dan memang sebaiknya begitu jiwa seorang pemuda. Apa pun yang dilakukan oleh penguasa di atas sana, kita tak sekadar berpangku tangan. Kita yang harus memberi arti bagi hidup kita sendiri. Dan Chairil sudah melakukan itu di masa lalu. Tongkat estafet itu telah diserahkan pada generasi muda saat ini. Jadi, teruskan perjuanganmu, Dek! Semangat!
December 6th, 2007 at 4:55 am
MERDEKA…
wah mau nulis panjang nanti dikira pindah blog, sebaiknya ku tulis sedikit opiniku.
Memang kalo menurut pendanganku (pribadi) pemerintah saat ini sangat kebangetan, seolah olah hanya memikirkan kepentingan pribadi (perut sendiri) tanpa peduli dengan penderitaan masyarakat kecil. Lihat saja di Jakarta sebagai contoh nyata, banjir yg tak kunjung henti, kemacetan yg tak pernah usai dan masalah kriminalitas serta kemiskinan (di pinggiran) yg selalu menganggu kehidupan sosial penduduk jakarta, kalo di tilik dari pengalaman banjir, bukankah jakarta sudah sangat berpengalaman dalam bidang ini (pakar kaleee) harusnya pemerintah tanggap, bagaimana menanggulanginya, bagaimana mengatasi banjir ini, bukannya bertambah lama banjir bertambah besar. Jikalau mereka berfikir lebih, mungkin bogor terutama Puncak *bener gak sih* (yg disebut sebagai pengirim air) harusnya di benahi, bukannya asal kantong tebal lalu diberi ijin untuk mendirikan Villa.
Pembalakan liar begitu juga, di propinsi jambi paling parah, bagaimana tidak, disisi lain pemerintah menggembar gemborkan ilegal loging, seolah olah pemerintah benar benar serius menanganinya, bukti nya “Tokoh” ilegal loging dengan leluasanya bebas dari semua dakwaan. Nah di tempat lain pembalakan liar didukung oleh aparat, bahkan aparat dengan terang terangan mengusir dengan senjata mereka yang mencoba menghalangi atau memproses kasus ini.
Masalah tenaga kerja, Sepertinya Indonesia SANGAT BANGGA (sori kapital) dengan predikat sebagai negara penghasil TKI, export Babu mungkin tepatnya. Mereka di eluk elukkan dengan sebutan Pahlawan DEVISA, Orang lain (negara lain) menyiksa dan memperlakukan TKI dengan kejam, pemerintah diam, menagnggap itu sebuah musibah. Woii bangun.. semua yang kalian anggap musibah itu sebenernya bisa di atasi, kalo kalian bisa berfikir lebih jauh. Kenapa tidak di berdayakan saja mereka yg membangun negara lain (kebanyakan sebagai kuli) yg mengasihani dan mencurahkan rasa kasih sayang mereka ke anak orang lain (jadi baby sister perawat bayi) untuk membangun negeri sendiri, Didik saja mereka dengan ketrampilan yg memadai, sediakan kredit bagi UKM dll etc dsb lah, pokoknya dukung mereka. beri modal beri pengarahan, penataran (masih ada ndak sih) dan ketrampilan, yakin deh Indonesia akan lebih baik, dan gak perlu jadi TKI
LIPI? apa gunanya sih, sepertinya mandul saja, kalopun ada juga sedikit sekali manfaatnya bagi kepentingan masyrakat banyak *CMIIW* lha wong punya pabrik pesawat, malah kepalane (Pak Habibi) di tutuk, yg pemimpin gak boleh punya usaha sampingan lah, ya keluarganya gak boleh ini lah itulah, akhirnya mana Nurtanio? mana IPTN? mana N-250 mana gatutkaca?
yah kalo mau di jelaskan banyak juga sih masalah masalah yg seharusnya bisa pemerintah benahi untuk membuat Negara ini jadi lebih baik, terlalu banyak sumber daya dalam negeri yg pergi keluar negeri, ya salah satunya TKI dan tenaga tenaga ahli itu sendiri, tapi apa daya, pemerintah lebih suka menikmati uang dari itu, lebih suka Investor asing menanamkan modal, mereka (investor) sangat sedikit sekali mempekerjakan rakyat indonesia, bagaimana jika misalkan saja pemerintah berusaha untuk mengolah sumber daya alammnya sendiri dengan tenaga ahli sendiri? bisa kan?
Dan yg lebih mengherakan adalah di TV TV, di beritakan di sebuah kota ini, dikota itu belalang, siput, tokek, kadal, ulat bahkan tikus dijadikan makanan, dibuat kerajinan, sedang di sisi lain diberitakan negara itu berhasil menciptakan robot yg bisa persis seperti manusia, diberitakan negara sana membuat pesawat super cepat.
Mereka melihat capung lalu timbu ide membuat helikopter, melihat undur undur *opo bhs indonesiane* lalu mereka buat Tank nah kita melihat keduanya akhirnya dijadikan rempeyek dan dimakan dah
ironis kan? perbedaan besar yg satu memikirkan perut yg satu memikirkan tekhnologi
wes ah gak usah panjang panjang, aku dulu juga menuliskan kenapa Pemerintah kita harus instropeksi diri atas semua masalah belakangan ini, mungkin sedikit berhubungan, silahkan melawat *melayu* ke http://www.rayofshadow.com/blog/indonesia-malaysia-dari-sisi-lain/ hehe numpang link
December 6th, 2007 at 8:32 am
ga semua sarjana pengen jadi PNS, kalo akhirnya terjerumus masuk jadi PNS apa mau dikata, tinggal berusaha untuk memperbaiki citra yang sudah agak buruk
*uhuk*
untuk pemda tertentu (ga nyebutin nama) ada yang menitikberatkan ke UKM, memang proporsi antara yang menitikberatkan masalah UKM dibandingkan dengan yang lain masih sangat jauh, tapi bukankah perjalanan jauh dimulai dari selangkah, mungkin bagi kita semua hanya bisa bekerja dan berkarya dengan baik dengan harapan bangsa kita akan semakin cepat menuju masa yang baik, kalo masalah yang sudah terjadi kita berharap pemerintah dalam hal ini pusat (karena untuk beberapa pemda sudah cukup bagus dalam hal penanganan suatu masalah) untuk tidak hanya berkoordinasi terus menerus tetapi langsung bekerja
CMIIW
December 6th, 2007 at 7:55 pm
maap saya makin pusing bacanya …
maklum buruh partikelir … sering diinjak2 ama inlander.
December 7th, 2007 at 8:16 pm
Bah, sok paten kali postingan abang ini
heiheiehiehiehe
Ah, pusing aku bacanya.
Pokoknya yg penting aku ga buang sampah sembarangan, kalo ga pake listrik dimatiin, kalo habis cuci tangan keran dimatiin
hihihihihi
*teu nyambung pisan*
December 8th, 2007 at 9:39 am
makanya Put..
gimana klo kita bikin warung baso aja .. siapa tau bisa memajukan bangsa ini lewat warung baso .. =D
hehehe syukurlah .. di akhir postingan ga ada kata2 .. “ayo rame2 bikin Green Card”
December 9th, 2007 at 10:17 am
ogah bgt ah, kalo ada wamil, hihihi
uhm… grafik…
seperti mie instan yg jadi favorit org banyak,
yg dipilih pun solusi instan?
December 10th, 2007 at 4:48 am
klo ada pertanyaan:
yg sudah kamu buat apa, putra?
maksudku, selain protes?
just, a question.
salam kenal juga.
December 10th, 2007 at 2:51 pm
Dasar Sby kampreeetttt….
ngomongnya minyak tanah turun, pengangguran berkurang tapi nyatanya ?
naik krn popularitas kampanye dan nyanyian 30 menit disini milik Jamrud saya pikir waktu jadi presiden si vokalnya Jamrud bakal jadi menteri eh ngga taunya tetep aja jadi penyanyi.. >_
December 11th, 2007 at 3:50 pm
Put, sebenarnya akupun mikir yang sama kayak ko. Tapiy setelah kupikir-pikir lebih panjang, capek kali utakku mikirin nasib bangsa kita yang luluh lantak ini.
Jadi sekarang ini, lebih baik kita buat yang terbaiklah, pertama yang pasti buat diri kita sendiri, and then buat keluarga baru buat lingkungan tempat kita tinggal.
tak pande pulak awak berkata-kata kek yang ko sampein, tapiy yang pasti aku pengen kali kalo kita semua nich bisa berbuat sesuatu untuk membantu kawan-kawan kita yang kurang beruntung tuch, dan juga buat lingkungan kita. Tau ko khan sekarang isu global warming tuch.
Jadi, kekmana kalo ko ku ajak ber bike to work ( B2W ) ke tempat kerja.
Ga usah tiap hari, seminggu 2 ato 3x aja… cem mana…???
December 14th, 2007 at 2:29 pm
glek… serius amat isinya om.. baru maen ke kantor ikez ya… glek
March 11th, 2008 at 6:30 pm
tulisan yang serius. memuaskan dahaga di tengah bangsa yang sedang gemar hal remeh temeh.
salam dari medan
nirwan