Putra Nasution

Doamu adalah nafasku…

Setelah 36 jam tak tertidur sepicing pun, tadi pagi akhirnya saya beranjak juga dari depan monitor komputer saya, untuk kemudian naik mobil ke kawasan kompleks Bank Indonesia di daerah manalah itu yang dekat senayan.

Belum sejam terbebas dari komputer, mata ini kembali harus berhadapan dengan powerbook yang sengaja dibawa untuk meeting dan presentasi. Setengah jam yang biasa saja, meeting dan branding dengan salah seorang officer di Lantai 10 gedung Bank Indonesia.

Ketika selesai meeting, waktu sudah menunjukkan pukul 11.45 AM, menandakan waktu dzuhur sudah hampir masuk, dan sudah waktunya untuk segera bergegas menuju masjid. Turun dari lift, mata ini terasa berat sekali, karena memang belum tidur. Akhirnya, ya sholat Jum’at disana.

Ketika rakaat kedua sholat Jumat, sang imam membaca ayat Qur’an yang–dengan bahasa arab tertatih saya mencoba mengerti–artinya bercerita tentang nabi Ibrahim. Setelah itu, ada beberapa kali pengulangan kata “waalidaiyn” yang artinya “kedua orang tua”. Tanpa sadar, mata ini terasa perih–entah karena bacaan sang imam yang begitu syahdunya, atau karena kerinduan pada orang tua saya.

Selepas berdoa, pelan-pelan saya berjalan beriringan dengan ratusan bahkan mungkin hampir seribu orang jamaah sholat Jumat tersebut. Setelah keluar dari barisan dan mengambil sepatu dari tempatnya, lalu saya duduk di teras mesjid.

Tapi lalu, pandangan ini tak bisa lepas menatap ke depan. Tepat di depan saya, ada seorang ibu yang sedang duduk bergelarkan tikar, sambil memangku anaknya. Ya, setelah saya perhatikan agak lama, barulah saya sadar bahwa anak kecil tersebut mengidap semacam tumor di otaknya.

Masya Allah… Tak sanggup mulut ini berucap lagi…

Lama saya duduk terdiam disana, menatap sang ibu yang memangku anaknya dengan tatapan sendu. Bukan tatapan sendu untuk meminta-minta, tapi tatapan sendu kesedihan seorang ibu melihat anaknya. Bahkan sang ibu tersebut tidak berpakaian lusuh, dan berjilbab dengan rapi, mengingatkan saya kepada sosok ibu saya yang dengan tatapannya bisa membuat semua duka saya menghilang dalam sekejab.

Tak terasa mata ini perih lagi. Perasaan yang bercampur aduk, antara rindu kepada ibu saya, kesenduan yang saya rasakan di sudut hati atas kondisi anak kecil tadi, suara-suara kecil sang ibu yang seperti sedang menyanyikan lagu untuk anak kesayangannya itu, dan segala macam perasaan yang tidak dapat saya gambarkan. Semua tercampur menjadi satu.
Beberapa detik berselang, orang-orang sudah mulai ramai melewati sang ibu dan anaknya tersebut, sambil meletakkan lembaran uang di bawah sejadah. Muka-muka itu seakan terasa sama berdukanya. Langit Jakarta pun saya rasakan mendadak menjadi mendung.

Tak terasa juga, saya sudah harus kembali untuk kemudian berangkat ke graha Niaga, meeting kedua. Sambil lewat, sungguh berat tangan ini ingin meletakkan uang disana. Inginnya bukan hanya sekedar memberikan sedikit yang saya punya, tapi saya juga ingin berbincang dengan ibu tadi, sekedar untuk memberikan sedikit kekuatan dan doa yang saya punya…

Tapi tidak, saya tidak sanggup. Air mata ini sudah menetes ketika saya menghampiri sang ibu tersebut, dan langsung mengucur ketika saya berjalan menjauhinya. Semoga Allah memberikan kekuatan dan rahmatNya untuk ibu, dan anak ibu tercinta, tentunya. Saya juga tidak sanggup mengucapkan kalimat apapun lagi. Yang keluar dari hati hanya doa, karena lidah saya terasa kelu…

Untuk bunda yang jauh disana, selamat hari ibu ya, Bun…
Abang sayaaaaang sama bunda…
Jangan menangis lagi ya, Bun..
Abang pasti baik-baik aja disini….

I love you mom…

PS: Postingan ini juga ditujukan untuk semua ibu di seluruh dunia.



16 Dreams about “Doamu adalah nafasku…”

  1. k Says:

    koment dulu baru baca … hehehehe

  2. k Says:

    Hujan kau ingatkan
    Tentang satu rindu
    Di masa yang lalu
    Saat mimpi masih indah bersamamu

    Terbayang satu wajah penuh cinta penuh kasih
    Terbayang satu wajah penuh dengan kehangatan
    kau ibu Oh Ibu

    Allah Ijinkanlah aku bahagiakan dia
    Meski dia tak tau
    Biarkanlah aku berarti untuk dirinya
    Oh Ibu

  3. uli Says:

    happy mother’s day
    titip salam dari aku ya dek untuk mama mu

  4. Yunus Says:

    Ternyata elo jadi sentimentil tiap kali inget sama nyokap ya…? hehehe :)

  5. ale Says:

    ih nangis ih.. ngga malu tuh diliatin ama tukang becak ama supir ojek deket2 situ?

    ‘mengucur’ kok kayaknya deres banget yah.. xD

    duh terharu. hari ibu kapan sih? o.O;

  6. aban Says:

    Ya ya ya…dalam waktu yang hampir bersamaan, kita posting soal nyokap kita masing-masing poet… :D

  7. nopz Says:

    hm,,,
    hm,,,
    *speechles*
    hm,,,

  8. pol Says:

    amsori mamak

  9. aprian Says:

    …*terdiam*

    pa kabar put?

  10. Anita Says:

    terharu bacanya put….

    btw, sssttt.. di header pasang poto² sapa put? baru lagi? hehehehehe;)

  11. aline Says:

    poet…msh ingat aku?? teman dikala ngantuk di selokannet dulu.waktu tlah banyak mengubah seseorang..mgkn juga kita berdua banyak berubah oleh kadaan.tp aku msh ajah blm lupa sama sosokmu.masi ingat motormu..ingat semuanya.n aku juga msh sering chat.msh di yogya…bionic210678 ym ku.kalo ada wkt,ngobrollah dgnku.aku ingin tau kabarmu.btw…tulisanmu bagus poet.hanya itu yg bs aku sampaikan.see u again..

  12. emping Says:

    wew… sorry bro.. waktu ente bisa ke medan ternyata aku harus bergelut dengan lumpur lumpur nista disini…. skali lagi sorry…
    soal ibu yah.. wah.. ngingetin terhadap mendiang nih bro… memang kita ndak akan pernah bisa ngelupai satu sosok.. ibu.. begitu dekat.. penuh kasih.. perlindungan yang lembut.. usapan tangannya.. belaian beliau… ugh…..
    ini lah dunia kawan.. gak pernah adil.. tapi itulah seninya hidup didunia ini.. saat saudara saudara kita kelaparan… kita yang hina ini yang ingat.. mereka yang memiliki justru melupakan saudara saudaranya yang tak bisa lagi meneteskan air mata karna telah kering..
    dunia…. ibu…. ah.. dua hal begitu kontras.. namun inilah ilustrasi dari khidupan manusia yang sbenarnya.. kontras.. tragedic.. what ever lah… i love to life.. even in hell like this place..
    for my bro putra.. kept struggling man.. gw tetep dukung lo apapun keputusan lo.. hehehhehe…

  13. Meda Says:

    sedih amat put postingannya .. hehehe

  14. lika Says:

    btw, tau dari mana anaknya punya tumor di otak? emang keliatan ya otaknya dari luar?
    syerammm
    sedih ya kalo mikir suatu hari nanti mau ngga mau kita akan ditinggal mati ibu.. hiksssss
    T_T

  15. ytt Says:

    *terharu* akhir2 ini sy juga makin sayang sama nyokap, padahal ketemu tiap hari…

  16. suton Says:

    Poet… cerita ente buat ane terharu tentang seorang ibu yg nasibnya kurang beruntung dan mungkin itu adalah satu dari sekian banyaknya orang yg tidak beruntung hidup di Indonesia anehnya nggak ada kerja/langkah nyata dari pemerintah.
    Hikz… bener cerita yang menyentuh.
    Sungguh beruntung seorang ibu yg punya anak seperti kaw… :)
    Kalo abang sedih ntar ibu juga ikut2an sedih kalo kangen tinggal telpon saja.

    Untuk bunda yang jauh disana, selamat hari ibu ya, Bun…
    Abang sayaaaaang sama bunda…
    Jangan menangis lagi ya, Bun..
    Abang pasti baik-baik aja disini….

    I love you mamak…


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motionsightspretenderoldfashionedlovestation

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008