Putra Nasution

euphoria

Gelisah dan menatapi langit-langit kamar dengan gamang. Selama satu jam dia telah mencoba untuk tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Jangankan tertidur, mengantukpun tidak. Ditekannya tombol power laptopnya yang sedari tadi malam aktif dalam mode suspend.

Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Tapi dia acuhkan, walaupun suara-suara yang terdengar mengalahkan suara yang mengalun sayup-sayup dari LCD TV 29 inch yang menggantung di pojok kamar tidurnya. Terdengar disana statement Steve Jobs yang sedang diwawancara di Bloomberg, yang kemudian disambut gelak tawa ketika dia ditanyakan soal kemiripan GUI Windows Vista dan Mac.

Tapi tetap, dia tak tertarik. Perhatiannya kembali tertuju ke layar laptop yang kini menunjukkan halaman hitam polos dengan beberapa baris teks. Tak sampai 2 detik, jari-jari itu mengetik, sudo alva, dan lalu password–yang urung diganti selama 2 tahun; deardea.

Alva lalu mengambil PDA-nya, dan mengambil craddle dari tempatnya. Sepintas matanya melihat jam, tertera disana 20 Februari 2006 pukul 2 pagi. Setelah membaca jadwal meeting hari itu, diletakkannya lagi PDA tersebut di tempat semula.

30 detik kemudian, browser safarinya menampilkan halaman feedreader. Ada 34 email baru. Dibacanya dengan sepintas, tak ada yang menarik perhatian. Rata-rata berisi tentang report, milis, dan beberapa spam yang dengan saktinya melewati filter.

Tiba-tiba, matanya berhenti pada sebuah email. Jantungnya berdetak cepat, senyumnya mengembang. Dibacanya email terakhir berulang kali, dan senyum itu semakin terlihat. Email yang membawanya larut dalam lamunan, mengingat dan mereka-reka dengan seksama peristiwa 2 bulan yang lalu di sebuah kafe di daerah Kemang.

Diulangnya kalimat-kalimat itu di dalam hatinya. Diucapkannya berkali-kali. Persis seperti kalimat teman-temannya, “mungkin lo cuma terobsesi sama dia, pujaan hati bertahun-tahun lo itu..”

Banyak sekali kalimat yang terdengar silih berganti dikepalanya. “Untuk apa jatuh cinta mati-matian kalau setiap hari tak pernah bisa tersenyum..”, dan “kamu ingin dia bahagia kan? mungkin, dia tidak bisa bahagia denganmu.. mungkin, dia hanya bisa berbahagia dengan orang lain..”

Doktrin. Dia sedang mendoktrin otak dan hatinya sendiri. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba sebuah suara asing mempertanyakan sesuatu, “bagaimana jika perasaan galau dan sakit itulah yang membuatmu tetap hidup?,” suara hatinya.

Dicernanya pertanyaan itu, mungkin memang ada benarnya. Bukankah selama bertahun-tahun dia baik-baik saja dengan perasaan galau dan sakit yang dia miliki. Jari-jarinya berhenti mengetik, menanti suara kecil yang mungkin terdengar dari hatinya.

“Ayolah, aku hanya butuh suara kecil saja… bahkan berbisik pun tak mengapa,” katanya.

Dipejamkannya mata dan berkonsentrasi, dia ingin mendengar suara sekecil apapun yang memerintahkannya untuk terus berjalan. Yang mengatakan padanya, untuk melupakan gadis yang sudah bertahun-tahun dia puja. Tapi tidak, tidak ada suara lagi dikepalanya.

“Apakah kamu sudah siap untuk hidup tanpa perasaan itu? Bukankah dulu kau katakan kau akan menunggu dia walaupun harus sejuta tahun?,” masih suara di hatinya.

Alva terhenyak, lama dia terdiam. Dia memang pernah mengucapkan janji itu.

“Ayolah, aku hanya perlu satu alasan untuk berhenti mencintai dia. Tolonglah aku,” Alva menghela nafasnya dalam.

“Kau tidak pernah butuh alasan, Va. Mencintai seseorang itu tidak pernah butuh alasan,” pikirannya yang bersuara kali ini. Pelan, tapi cukup tegas.

Alva tersenyum, kepalanya mengangguk pelan. Sepintas ada cahaya terang terlihat di roman wajahnya. Tangannya pun kembali mengetik, dan kini matanya berhenti di satu baris kalimat di laptopnya.

‘Enter your new password: ‘, begitu tertulis disana. Cursor itu berkedip-kedip seolah sudah menanti jawaban itu selama bertahun-tahun. Diejanya satu persatu huruf itu sambil mengetik; e-u-p-h-o-r-i-a. Jari telunjuknya kini berada diatas tombol enter, dan sepuluh detik kemudian ia melaksanakan tugasnya.

Alva kembali tersenyum.



8 Dreams about “euphoria”

  1. GReTaN Says:

    hepi belated bday, dude..!

  2. kus Says:

    salam kenal,

    situ ada dimana yah, dan laptopnya biasanya kelupaan tertinggal dimana yah?

    kebetulan aye dah tahu passnya nih :)

    .. tapi pengecut , orang seperti itupun ada kalanya harus bangkit untuk berperang .. Yoshitshune , 20th Century boys vol 8 chapter: Bukit Gantung.

    SEMANGAT!

  3. ShOFa Says:

    hmm.. spt di novel test pack..

    “i love u because i want to..”

    thats powerful sentences :)

    jadii g butuh alasan kan memuja2 ampe bertaun2 gitu? heuheu

  4. goz Says:

    happy belated birthday poet =)

  5. Havis Says:

    Lama juga ga baca tulisan Putra
    Kayaknya lelah ya abis bantu2 Jogja
    Semangat ya..,

  6. dv Says:

    obsesiii! argggggghhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!

  7. LiLy Says:

    hmmm…
    nice
    =)

  8. puty Says:

    yaaahh, si poetra, eh si alva, baru 2 taun sih blom teruji…

    aku udah kira2 mo 10 taun (padahal idup baru 17 taun :D)
    iya, aku naksir orang dari aku kelas 3 sd (atau kurang dari itu), dan sekarang udah kelas 3 sma… dan tetep suka…

    itu baru “mungkin lo cuma terobsesi sama dia, pujaan hati bertahun-tahun lo itu..”


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia designer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Categories

Flickr

111098654312

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2008