HALAMAN PARKIR PLAZA MEDAN RAYA, tepat 5 menit setelah hitung mundur selesai tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tempat lainnya di seluruh Indonesia dan mungkin di seluruh dunia, masih penuh sesak diisi oleh anak-anak muda yang sedang menikmati suasana pergantian tahun yang meriah.
Di langit malam Medan masih berpendar cahaya dari pecahan kembang api yang berwarna-warni yang bermacam bentuk. Suara terompet masih terdengar dimana-mana, seakan mengiringi hentakan musik rock dari panggung sebelah timur gerbang. Sedemikian bersatunya irama yang tercipta, sehingga dari jauh terdengar seakan-akan yang beraksi di atas panggung adalah band ska.
Semua orang merasakan semangat dan aura yang tersebar, aura tahun baru. Semuanya, kecuali dua orang yang terlihat sedang bertengkar.
“Lebih baik sekarang kamu jujur sama aku Roy,” gadis itu terisak sambil menyeka air matanya, “kamu memang pacaran sama dia kan?”
“Kenapa kamu lebih percaya sama orang sih dari pada pacar kamu sendiri? Aku nggak habis pi–”
“orang lain kata kamu?” Sorot mata gadis itu tiba-tiba menajam, “ORANG LAIN?? Aku mergokin kamu jalan sama dia di 21 Roy!!”
Sontak raut muka laki-laki yang dipanggil Roy itu berubah. Dia sama sekali tidak menyangka kalimat itulah yang akan keluar. “Tapi Fi … aku sama dia cuman temenan aja kok, kamu gak boleh berprasangka buruk begi–”
“Emang temen pelukan kalo lagi ngantri tiket Roy? Emang temen itu saling mencium satu sama lain? Emang temen..” Gadis itu tidak sanggup meneruskan kalimatnya, “..emang temen masuk ke hotel berdua??” Fia tenggelam dalam tangis. Walaupun rambutnya yang panjang menutupi wajah karena sedang menunduk, tapi isak tangisnya terdengar begitu jelas.
Roy terlihat serba salah. Dia merangkul gadis disampingnya perlahan –seolah-olah yang disebelahnya adalah granat yang siap meledak begitu salah sentuh, tapi gadis itu terlihat tak perduli.
~~~~~~~~
Deo mengajak Fia makan siang di Kafe Air Mancur yang terletak di lantai 5 Plaza Cahaya. Sebetulnya, ada satu lagi cabang kafe ini, masih di dalam kompleks plaza yang sama. Hanya saja, tempatnya terlalu kecil, dan sekelilingnya hanya ditutupi oleh kaca yang tembus pandang. Kurang privasi, begitu Deo menganggapnya.
Sayap timur kafe itu terlihat sepi, hanya ada Deo dan Fia yang duduk di pinggir jendela. Deo selalu menyukai kafe ini –khususnya meja yang sedang ia duduki, karena dari jendela dia bisa melihat jalan Gatot Subroto dari atas. Dan tentunya yang paling utama, karena Fia tergila-gila pada es krim kafe ini.
“Kenapa sih Deo masih nunggu Fia? padahal kan Fia udah nyakitin Deo?”
“Nyakitin? Emangnya Fia nyakitin Deo?” Yang ditanya memandang bingung.
“Maksudnya Fia, kan Fia nggak pernah bisa ngebalas cintanya Deo. Terus, ya … yang dulu-dulu itu deh Yo…” Fia memainkan ujung rambutnya.
Deo mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu. Sesaat, dia terbawa dalam lamunannya.
Ketika itu Jakarta sedang macet, maklumlah, jam pulang kantor. Deo terjebak macet di daerah Sarinah. Sembari menunggu, dia membaca materi presentasi untuk persiapan R U P S minggu depan. Bahkan disaat office boy pun libur, aku masih harus tetap bekerja di kantor besok, Deo memaki dalam hati. Betapa awal tahun yang sempurna.
Saat dia sedang mengoreksi materi presentasinya itu, tiba-tiba sebuah S M S masuk, dan wajahnya langsung berubah.
Deo lagi ngapain? Fia lagi sedih. Ken selingkuh ama cewek lain.
Yo, Fia gak tau harus ngapain.. Fia……
sender:
Dream (+6281120021984)
Refleks setelah membaca S M S dari tersebut, dia langsung berusaha menelpon Fia. Sial, mailbox! Deo mengumpat.
Konsentrasinya buyar. Dari belakang mobilnya terdengar suara klakson dan orang yang memaki. Perlu 3 detik sampai Deo akhirnya mengambil keputusan dan akhirnya menginjak pedal gasnya. Hanya ada satu tempat yang ada di pikirannya. Bandara.
Sesampainya di bandara, Deo langsung bergegas membeli tiket pesawat. Tak dihiraukannya lagi suasana yang sangat ramai di sekelilingnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Biasanya Deo selalu menikmati saat-saat setelah check-in, sambil melepas lelah. Tapi tidak kali ini, seluruh proses yang harus dilewatinya terasa begitu menyiksa.
Sesampainya di Bandara Polonia, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Deo langsung menghubungi rumah Fia, dan ternyata persis seperti dugaannya, yang menjawab telepon adalah mamanya Fia. Setelah menutup flip handphone-nya, tanpa banyak berpikir Deo langsung masuk ke dalam taksi.
“Plaza Medan Raya, pak! Tolong cepat ya!”
Sepanjang jalan Gatot Subroto macet total, taksi yang ditumpangi Deo terhenti di sebuah menara jam besar di depan Yumi Plaza, tepat di simpang lima Glugur. Deo akhirnya memutuskan untuk turun dan berlari menerobos kerumunan orang.
Begitu tiba di halaman Plaza Medan Raya, Deo melihat lautan manusia. Dia tak tahu harus melangkah kemana untuk mencari Fia. Dalam kebingungannya, Deo memejamkan matanya. Dan entah bagaimana, ada semacam kekuatan yang mengarahkannya.
Hatinya bergetar, tak jauh di depannya dia bisa melihat Fia. Dia berjalan untuk mendekati Fia, tapi tiba-tiba, persendian lututnya terasa lemas, kakinya tak dapat bergerak. Seorang laki-laki memeluk gadis pujaannya, di depan matanya.
“Yo! Deo!” Suara Fia menyadarkan Deo dari lamunannya. “Aah, tu kaan, Fia ngomong gak didengerin … BT ah,” Fia merungut, “lagi ngelamunin apa sih?”
“Hehehe, nggak kok … Fia nanya apa tadi?” Deo mendehem.
“Duuuh, Fia nanya, setelah apa yang Fia lakukan ama Deo,” gadis itu menunduk, “kenapa Deo masih nungguin Fia?” Suaranya terdengar lirih.
“Deo nggak tau Fi … mungkin,” Deo menarik nafas dalam, “karena Deo nggak pernah bisa ngelupain Fia.”
Sunyi.
“Tapi Yo, apa Fia memang bener-bener … pantas untuk ditunggu?” Fia menyeruput ice cappucino-nya. “Gimana kalo ternyata Fia nggak pantas untuk ditunggu?”
“Berarti, gak ada wanita lain juga yang pantas untuk Deo perjuangkan. Dan mungkin, udah sepatutnya Deo hidup selibat aja.” Deo menatap wajah Fia dalam-dalam. Fia menunduk malu.
Deo mengeluarkan selembar kertas, dan meletakkannya di atas meja. Wajah Fia terlihat bingung, tapi dengan penasaran dibukanya juga lipatan kertas tadi. Sebuah puisi! Fia terkesiap. Dia membacanya perlahan.
suatu malam yang kuingat jelas,
aku sedang memandangi langit malam
menunggu bintang jatuh,
mencuri-curi saat untuk membuat sebuah permintaan
lalu aku melihatmu……
bayanganmu berpendar sejuta warna.
kau melesat secepat mahacahaya..
berliuk indah dengan penuh keanggunan,
menukik dengan sempurna..
lalu pecah menjadi jutaan titik kecil,
melukis langit dalam waktu beberapa detik.
dan seisi jagad raya terpana…
saat itu, aku melihatmu dimana-mana.
malam itu, aku jatuh cinta….
“Tuhan, aku ingin hidup dengannya..” hatiku yang berkata.
malam itu, 329 hari yang lalu.
dan hingga kini, tak ada yang berubah dalam setiap doa malamku…
Je t’aime, mon amour… toujours….
Deo terlihat seperti menunggu sebuah jawaban. Namun Fia diam saja, lama sekali. Sesaat kemudian, bibirnya tersenyum. Pipinya memerah.
Sunyi lagi. Diam berbahasa.
(to be continued………)












January 1st, 2006 at 3:19 am
ceritanya keren lho put! ditunggu lanjutannya!
ato jgn2 ini kisah nyata ya? hehehe… Happy new year yah!! God bless!
January 1st, 2006 at 1:36 pm
whoa… curhat pribadi…
eh put, lo dimana? temenin gueh nyari hempun yok di bec. senin gimana? bisa tak? eh iya, i’m not waving him i’m back because i never leave.but now, the thought of leaving did crossed my mind.
January 1st, 2006 at 1:41 pm
nice story indeed..
ini combine antara refleksi diri dan alur cerita telenovela!
intinyah sangat cucok dibuat novel..
January 1st, 2006 at 10:36 pm
ini kisah nyata atau fiksi atau kisah nyata diadaptasi menjadi fiksi? hihi
btw.. tulisannya kecil bgt boss.. abis baca postingan ini aku minusnya nambah. huhu
January 2nd, 2006 at 3:36 am
Seperti yg gue bilang di YM kemaren put, Roy memang brengsek! Wekekeke
January 2nd, 2006 at 12:10 pm
Haiyahhhhh….
Taon baruan make mudiik toh?!!!!
*Tos agh
January 2nd, 2006 at 5:04 pm
ini cuma cerita apa beneran kejadian? hehe..
*nunggu lanjutannya*
January 3rd, 2006 at 9:24 am
*_* I wonder how da end gonna be… Hepiending kah?…. apa mesti kirim pulling sms u/ ini??… Very entertertaining ko’… sukses ya, Put…
January 3rd, 2006 at 10:03 am
mmhmmm..dramatiiss sekaliih…
walopun agak sedikit sinetroon
:->
January 6th, 2006 at 8:28 pm
“Tapi Yo, apa Fia memang bener-bener … pantas untuk ditunggu?” Fia menyeruput ice cappucino-nya. “Gimana kalo ternyata Fia nggak pantas untuk ditunggu?”
“Berarti, gak ada wanita lain juga yang pantas untuk Deo perjuangkan. Dan mungkin, udah sepatutnya Deo hidup selibat aja.” Deo menatap wajah Fia dalam-dalam. Fia menunduk malu.
—> it seems that hdp selibat adalah satu2nya jalan kluar ya, put..
hikz..hikz..
postingan ngkau menyesakkan hati skali, put…
hikz..hikz..
January 11th, 2006 at 12:43 pm
aku baru menyadari kalo adikku ini pandai juga bikin cerpen. hemm.. kapan-kapan kamu harus membuat novel, put. nyusulin itsy.