Ketika seorang blogger tidak menulis untuk waktu yang cukup lama, maka belum berarti dia kehilangan semangat untuk nge-blog. Saya pun tidak melulu sepakat bahwa seorang blogger setidaknya harus memiliki interval waktu tertentu yang konsisten untuk menulis.
Bagi saya, kembali lagi, blog adalah manifestasi kecintaan saya terhadap sesuatu yang kami bangun dan usahakan bersama. Blogbugs, Angkringan dan BBV memiliki tempat dan jasa yang terlalu penting untuk saya dalam hidup, yang sedemikian pentingnya sehingga kadang saya berpikir bahwa walaupun saya mendapatkan penghasilan karena nge-blog, saya (pribadi) kurang etis untuk mencari uang dari blog. Tapi itu saya pribadi saya loh ya
Blogger seharusnya menjadi sosok independen yang tidak terikat terhadap suatu hal, bahkan termasuk pengunjung setia blognya. Dia (seorang blogger) seharusnya menulis apa yang dia mau, apa yang dia pikirkan, tentang sesuatu yang menjadi perhatiannya. Setidaknya, demikian untuk saya pribadi.
Karena saya kebetulan blogger dari era pertengahan–yang disebut oleh bang Enda sebagai generasi kedua, sehingga dengan demikian etika blogging yang saya pegang teguh sampai saat ini adalah etika yang kami lahirkan saat gathering nasional Blogbugs kedua di Jogjakarta. Demikian pula dengan manifesto kami di kala itu, bahwa “blog ini adalah blog saya, jika Anda tidak suka tulisan saya, ya tidak perlu dibaca”.
Terkesan sombong dan kurang terbuka, mungkin ya? Tapi mungkin itu sebagai sebuah–sekali lagi–manifestasi terhadap indepedensi dan subyektifitas yang tulus terhadap komersialisasi. Terbukti bahwa kini blog memiliki tempat yang cukup laik untuk menjadi sumber referensi.
Banyak orang bertanya, kenapa saya agak anti mengenai monetisasi blog yang terlalu berlebihan. Berkali-kali juga saya mengungkapkan bahwa alasannya personal, dan saya tidak pernah membahasnya dalam kerangka konten nasional. Saya ini bukan pakar statistik apalagi pakar telematika, tapi saya termasuk orang yang meyakini bahwa indahnya dunia web 2.0 yang kita nikmati saat ini kurang lebih adalah akibat dari blogosphere di masa lalu.
Ah, idealisme itu memang berat untuk terus terjaga. Tapi setidaknya di bahu ini masih terpapah beban dari kenangan, bahwa blog itu bisa menghasilkan banyak sekali manfaat selain sekedar uang cepat; pernikahan, pertemanan, persahabatan, perusahaan dan masih banyak “per-” positif lainnya.
Besar pula harapan saya, bahwa AwakMedan akan bisa berevolusi dengan mengambil semangat Blogbugs, Angkringan dan BBV. Mungkin tidak bisa persis seperti dulu, tapi saya ingin menarik sebanyak-banyaknya teman-teman baru untuk masuk ke dalam lingkaran kami; lingkaran persahabatan dan tawa lebar yang (semoga) tanpa pretensi dan tulus saling berbagi.
Pesta Blogger 2009 Chapter Medan adalah sebuah inisiasi dalam menyambut tangan-tangan lain di ranah blog yang kian mengasing, semoga cepat menjadi pernikahan, persahabatan, persaudaraan, perusahaan dan masih banyak “per-” positif lainnya lagi. Tidak mudah, saya tahu, tapi bukan berarti harus menyerah sedari dini. Kalimat “tepak menyirih dongan sahuta” yang saya tuliskan itu semoga sejak sekarang bukan hanya sekedar filosofi.
Ketika saya terlalu lama tidak menulis di blog ini, mungkin karena dunia blog sudah tidak lagi menjadi dunia terpisah dari kehidupan nyata saya. A merging reality, mungkin, dimana dunia maya adalah dunia nyata saya, dan dunia nyata saya sekaligus adalah dunia maya pula. Tidak ada lagi hiper-reality yang memerangkap saya.
Dan saat saya lama terdiam dalam bahasa tulisan, mungkin saya sedang asyik-masyuk mengamati kalian. Namun demikian, inbox dan telepati masih saya buka selebar-lebarnya untuk segala macam topik untuk kita berkomunikasi
Tapi setidaknya mulai saat ini saya berjanji pada diri sendiri, untuk lebih konsisten lagi menulis. Bukan demi traffic atau pagerank atau apapun itu lah (karena saya kan bukan seleblog, hehe), tapi demi diri sendiri.
Semoga…
![[Billboard Di Lampu Merah] - Siapa yang baca?](http://farm8.staticflickr.com/7011/6503542363_4e837e5fba_s.jpg)



















September 8th, 2009 at 3:29 am
Huahaha, pantes tiba2 nongol, ternyata sedang bernostalgia toh. Ya kalo diriku si nulis blog kalo lagi dapet ide aja. Walau gak bisa nulis tiap hari, tapi aku tiap hari pasti terbesit di pikiran, kira2 ada yang bisa ditulis gak ya?
Kalo ga ada ya udah, lanjut aja
September 8th, 2009 at 5:42 am
suka dan sependapat dengan paragraf pertama, mengamini paragraf ke sembilan
semoga ..
September 8th, 2009 at 7:28 am
Menjaga idealisme itu gak gampang memang, harus diakui.
Beberapa kali saya tergoda untuk ikut ini ikut itu, tp pada akhirnya malah tidak ekspresif dalam menulis.
Jdnya buat blog baru lagi deh, dengan harapan itu bs lebih melepaskan jiwa2 sesatku.. hahahaa…. eh ga ding, diriku yg lainlah, bukan sesat..
September 9th, 2009 at 4:27 am
Artikel yang bagus! semoga sukses!
September 9th, 2009 at 12:07 pm
@kutaraja
Ikut mengamini
September 10th, 2009 at 1:06 am
wak… twitter di blog aku koq ilang timbul ya?
apa kisah tu?
September 10th, 2009 at 1:08 am
btw, jarang kali aku liat ko beredar (ol) lagi
jangan invis lah sama sodara ko ini…
kangen kali akau sama kau…
[serius]
*sambil ngorek idong dalam-dalam*
September 10th, 2009 at 5:24 pm
maaf bang., cuma pengen ngasi koment.,
biar blog awak keliatan exist., he2.,
September 11th, 2009 at 4:27 am
wah~
bahasamu udah bahasa dunia ketiga, mas… seru juga cara membahas blog sebagai perujudan tekstual dari apa yang ada dalam alam pikir kita… semoga persahabatan yang sejati bisa terlahir dari lingkaran jejaring sosial ini
September 11th, 2009 at 5:08 pm
entahlah, put. pening kali awak kalo udah baca blog engko.
rindu juga awak ama engko, bro.
memang blog ini bukan untuk manusia yang mencintai kesederhanaan kata2 dan maknanya.
awak katakan sekali lagi, peeeennnniiiinng…
huahahahaha…
(Momment ini dipersembahkan oleh Wakbe)
September 14th, 2009 at 8:02 am
Wah nostalgila!
Kalau aku blogger generasi ke berapa ya?
September 15th, 2009 at 5:56 pm
idealisme memang perlu, meski kadang keadaan memaksa jalan kita tidak lurus… justru idealisme mengembalikan kita ke track..