<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poetra Nasution - Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh</title>
	<atom:link href="http://ipoet.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ipoet.net</link>
	<description>Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jun 2010 17:19:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Guinness World Series of Pool</title>
		<link>http://ipoet.net/a-story-of/guinness-world-series-of-pool/</link>
		<comments>http://ipoet.net/a-story-of/guinness-world-series-of-pool/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 15:36:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=511</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang menarik perhatian saya sejak sebulan yang lalu, yaitu waktu melihat iklan dan jadwal Guinness World Series of Pool. Sebagai seorang pencinta bilyar sejati, tentu saja saya tidak akan melewatkan event sebesar ini. Dan turnamen kelas internasional ini datang menyambangi Medan, pada tanggal 4 &#8211; 6 Juni 2010. Bertemakan &#8220;Rise To The Challenge&#8221;, kompetisi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada yang menarik perhatian saya sejak sebulan yang lalu, yaitu waktu melihat iklan dan jadwal Guinness World Series of Pool. Sebagai seorang pencinta bilyar sejati, tentu saja saya tidak akan melewatkan event sebesar ini. Dan turnamen kelas internasional ini datang menyambangi Medan, pada tanggal 4 &#8211; 6 Juni 2010.</p>
<p>Bertemakan &#8220;Rise To The Challenge&#8221;, kompetisi ini dimaksudkan untuk menyaring pebilyar-pebilyar di kota-kota besar Indonesia, untuk kemudian bertanding melawan para juara dunia. Johnny Archer (2004 Florida Predator Open Champion&#8211;USA), Thorsten Hohmann (peringkat #6 dunia&#8211;Jerman), Mika Immonen (peringkat #1 dunia&#8211;Finlandia), Shane Van Boening (peringkat #11 dunia&#8211;USA), Alex Pagulayan (2008 World Pool Masters Champion&#8211;Filipina) dan tentunya pebilyar kebanggaan Indonesia Ricky Yang (peringkat #5 dunia&#8211;Indonesia).</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/guinness_promo.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-512" title="guinness_promo" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/guinness_promo.jpg" alt="Guinness World Series of Pool" width="450" height="332" /></a></p>
<p><span id="more-511"></span>City Final World Series of Pool Medan sendiri berlokasi di atrium Grand Palladium, Medan. Berlangsung selama dua hari (Sabtu dan Minggu), city final Medan diikuti 32 pebilyar yang telah mengikuti seleksi sebelumnya.</p>
<p>Selain &#8220;diisi&#8221; oleh ke-32 pebilyar tadi, city final Medan juga dimeriahkan oleh game-game dengan meja-meja yang bentuknya mungkin tidak pernah kita&#8211;setidaknya saya&#8211;lihat sebelumnya; dari mulai bergelombang, berbentuk seperti bukit-bukit, menanjak, dan lain-lain. Saya nggak ingat istilah-istilah untuk meja-meja tersebut, hehehe.</p>
<p>Tak cuma itu, ada juga meja bilyar sepanjang 16 meter. ENAM, BELAS, METER! Meja ini dapat penghargaan dari MURI sebagai meja terpanjang di Indonesia, dan akan menyambut kalian begitu memasuki pintu atrium Grand Palladium.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/meja16m.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-516" title="meja16m" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/meja16m.jpg" alt="Meja yang dapat MURI itu, 16 meter loh!" width="450" height="638" /></a></p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/jumpshot.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-517" title="jumpshot" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/jumpshot.jpg" alt="Beautiful and perfect jump shot :)" width="450" height="281" /></a></p>
<p>Pada babak penyisihan hari pertama, delapan dari 32 pebilyar telah lolos memasuki per-delapan besar, dan akan bertanding besok (5 Juni 2010) untuk memperebutkan tiket ke Jakarta, dan melawan enam orang pebilyar terbaik dunia itu.</p>
<p>Terus terang saja, bahkan saya sempat &#8220;terbodoh&#8221; sesaat tadi siang, waktu Thorsten &#8216;The Hitman&#8217; Hohmann berdiri di depan saya. Maklum, biasanya cuma nonton di ESPN atau Star Sports (dan turnamen ini juga akan disiarkan nanti di stasiun-stasiun tersebut). Perlu waktu 30 menit sebelum akhirnya saya berani bicara dan minta foto bersama, hahaha. Iya, saya memang norak kalau ketemu idola saya.</p>
<p>Ah, kualitas event ini sudah berbicara untuk dirinya sendiri, tak perlu lah saya berpanjang-panjang menjelaskan. <a title="Guinness Indonesia" href="http://www.facebook.com/guinnessindonesia">Silahkan langsung membaca informasi lebih lanjutnya disini</a>, dan tentu saja, hadiri city final di kota Anda. Untuk yang ada di Medan, jangan lupa datang hari minggu ini ya! <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/a-story-of/guinness-world-series-of-pool/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Karena Kau Manusia&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/a-story-of/karena-kau-manusia/</link>
		<comments>http://ipoet.net/a-story-of/karena-kau-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 02:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=504</guid>
		<description><![CDATA[Seluruh dunia terhenyak melihat tindakan brutal dan tidak berpri-kemanusiaan yang didemonstrasikan Israel dengan pongah, menembaki para aktivis dan relawan dari Freedom Flotilla di zona internasional. Seluruh dunia mengutuk, tapi mereka tak perduli. Seakan bisa dimengerti, mereka katakan bahwa prajurit mereka diancam dan diserang. Ya, pisau lipat (entah benar atau tidak) yang ditunjukkan dalam rilis video berita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seluruh dunia terhenyak melihat tindakan brutal dan tidak berpri-kemanusiaan yang didemonstrasikan Israel dengan pongah, menembaki para aktivis dan relawan dari Freedom Flotilla di zona internasional. Seluruh dunia mengutuk, tapi mereka tak perduli.</p>
<p>Seakan bisa dimengerti, mereka katakan bahwa prajurit mereka diancam dan diserang. Ya, pisau lipat (entah benar atau tidak) yang ditunjukkan dalam rilis video berita sepihak mereka untuk dunia, dijadikan justifikasi untuk menembaki para aktivis sipil itu. Belasan wafat, dan puluhan luka-luka, demikian rilis berita sekunder yang juga tak yakin akan kebenarannya. Mungkin lebih, semoga saja salah.</p>
<p>Banyak yang mengutuk aksi biadab ini, ada yang mendukung, dan tak sedikit pula yang diam saja; entah karena skeptis, atau memang sudah tak perduli lagi. Yang jelas, ini tidak lagi melulu soal agama dan dogma. Ini sudah soal kemanusiaan; sebagaimana juga harusnya kita menyikapi aksi pembantaian yang sudah berlangsung di Gaza cukup lama.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/gaza.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-506" title="break-the-siege-on-gaza" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/06/gaza.jpg" alt="Break the siege on Gaza!!!" width="450" height="283" /></a></p>
<p>Aku tahu; mengutuk, menulis dan memberikan protes&#8211;baik frontal maupun pasif&#8211;mungkin belum bisa memberikan hasil yang signifikan untuk menyelesaikan konflik di daerah ini. Tapi aku pasti, <strong>berdiam diri dan membiarkan semuanya terjadi begitu saja, tidaklah lebih baik</strong>.</p>
<p><span id="more-504"></span></p>
<p>Aku teringat akan bait puisi yang ditulis Gus Mus, yang kemudian diserahkan untuk dinyanyikan oleh Iwan Fals. Begini bunyinya,</p>
<blockquote><p><em>Aku menyayangimu karena kau manusia<br />
Tapi kalau kau sewenang wenang kepada manusia<br />
Aku akan menentangmu<br />
Karena aku manusia</em></p>
<p><em>Aku menyayangimu karena kau manusia<br />
Tapi kalau kau memerangi manusia<br />
Aku akan mengutukmu<br />
Karena aku manusia</em></p>
<p><em>Aku menyayangimu karena kau manusia<br />
Tapi kalau kau menghancurkan kemanusiaan<br />
Aku akan melawanmu<br />
Karena aku manusia</em></p>
<p><em>Aku akan tetap menyayangimu<br />
Karena kau tetap manusia<br />
Karena aku manusia</em></p></blockquote>
<p>Iya. Aku tidak membabi-buta membenci siapapun, karena aku percaya pada dasarnya semua manusia itu mirip; punya empati dan kasih sayang dalam hatinya. Tapi, kalau ada yang memerangi manusia, aku berdiri di sisi yang jelas, tanpa rasa ragu sedikitpun; siap melawan dan memerangi mereka dengan apapun yang tersisa dan ada.</p>
<p>Karena aku, kau, dan mereka yang ada di Gaza, juga manusia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/a-story-of/karena-kau-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jaman Dulu&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/a-story-of/jaman-dulu/</link>
		<comments>http://ipoet.net/a-story-of/jaman-dulu/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 21:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[ngawur]]></category>
		<category><![CDATA[nyindir]]></category>
		<category><![CDATA[pelupa]]></category>
		<category><![CDATA[pikun]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=496</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Dulu, kakek mau sekolah itu susah. Harus jalan 10 Kilometer setiap hari. Mau belajar malam susah, karena cuma ada lampu teplok. Makanan pun cuma ada beras catu.&#8221; Cukup familiar dengan kalimat di atas? Saya yakin, hampir semua orang lebih muda yang berbicara kepada orang lebih tua pernah mendengar kalimat ini, dengan berbagai macam variasi. Intinya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>&#8220;Dulu, kakek mau sekolah itu susah. Harus jalan 10 Kilometer setiap hari. Mau belajar malam susah, karena cuma ada lampu teplok. Makanan pun cuma ada beras catu.&#8221;</em></strong></p>
<p>Cukup familiar dengan kalimat di atas? Saya yakin, hampir semua orang  lebih muda yang berbicara kepada orang lebih tua pernah mendengar kalimat ini, dengan berbagai macam variasi. Intinya, hidup jaman dulu itu susah.</p>
<p>Saya sering mendengus sebal kalau sudah berjumpa dengan situasi seperti ini. Jaman dulu ya dulu, sekarang kan hidup sudah berbeda?</p>
<p><span id="more-496"></span></p>
<p>Sejak sering mendengar kalimat itu, saya pun sering mewanti-wanti diri sendiri agar saya tidak akan melakukan hal yang sama nanti ketika saya sudah tua. Saya ingin menjadi cukup arif dan bijaksana untuk bisa mengerti situasi jaman. Saya tidak ingin menjadi orang yang terperangkap dalam nostalgia masa lalu dan memperbandingnya dengan masa kini. Saya ingin tetap memiliki jiwa muda, saat nanti raga sudah menua.</p>
<p>Mereka (orang-orang tua itu) tidak tahu saja, bahwa saya pun pernah mengalami masa-masa sulit; walaupun tanpa todongan senjata penjajah, ataupun kekhawatiran akan dibom pesawat musuh saat menyalakan api di luar rumah.</p>
<p>Ketika pertama kuliah di Jojga dulu, saya tidak punya komputer, namun keinginan belajar tentang web tak terbendung lagi. Alhasil, jadilah saya sering memanfaatkan komputer teman-teman (jamak) ketika mereka sedang tidak menggunakannya; waktu mereka sedang tidur. Dan bermulalah cerita sang musafir lusuh yang sering terjaga sampai subuh, hehe.</p>
<p>Singkat kata, saya bekerja menjadi operator warnet. Bukan demi uang (karena gajinya kecil), tapi demi komputer dan internet gratis. Walaupun seringkali mendapat <em>shift</em> malam, saya tak pernah keberatan, karena umumnya para pelanggan akan mengambil paket hemat; 10 ribu Rupiah untuk akses internet dari pukul 00.00 sampai 06.00, dan para pelanggan tercinta itu takkan beranjak untuk merusuhi saya yang sedang belajar sampai saat saya memberikan pesan peringatan bahwa jam paket mereka akan segera berakhir.</p>
<p>Dari warnet dan komputer teman-teman itulah saya mulai belajar tentang pengembangan web sekaligus belajar desain. Referensi ketika itu belum banyak, google masih belum secanggih dan seterkenal sekarang ini. Ilmu yang di dapat pun masih dari trial and error; untuk mengetahui perusahaan webhosting mana yang bagus dan mana yang tidak didapatkan dari pahit manisnya tagihan. Pelajaran tentang manajemen proyek pun saya dapatkan dari klien-klien secara langsung, baik yang berhati setengah malaikat maupun jenis yang menyebabkan Adam dan Hawa terusir dari surga. Komplit.</p>
<p>Tak seperti saat ini, dulu saya masih seorang spesialis. Hanya mencintai dunia web. Jauh ketika desktop application masih menjadi primadona, saya sudah memiliki keyakinan bahwa suatu saat industri web akan berkembang pesat. Karakteristik web yang bisa berjalan di atas platform dan sistem operasi apapun, skalabilitasnya yang mudah untuk dikembangkan, dan teknologinya yang <em>rapid</em> memang sangat menjanjikan. Saya bahkan dalam salah satu seminar sempat menyebut bahwa Web adalah<em> THE future platform</em>.</p>
<p>Disamping itu keterlibatan saya dalam masa-masa awal berkembangnya blog di Indonesia dengan komunitas-komunitasnya kala itu (Blogbugs Indonesia, Angkringan Jogjakarta, BBV Bandung) membawa saya &#8220;terjerumus&#8221; makin  dalam di dunia web.</p>
<p>Saya bukannya sedang bernostalgia ya, tapi masa-masa itu memang indah. Siapa bilang dunia maya itu penuh dengan penipu? Saya punya banyak sekali sahabat, klien, teman bisnis (bahkan, ehm, pacar) yang kenal dari dunia maya dan berakhir di dunia nyata.</p>
<p>Namun memang, pahit getirnya kehidupan tersebut memang harus meminta pengorbanan. Kuliah saya yang tak kunjung selesai (karena saya sering berdebat dan beradu pandang dengan dosen) akhirnya saya tinggalkan; drop-out, 2 kali. Darah muda, kalau kata bang Haji Rhoma <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Nah, pengalaman-pengalaman ini ingin saya bagi kepada adik-adik mahasiswa yang sedang kuliah dan belum tahu apa tujuan hidupnya, terutama yang mengambil bidang komputer. Saya jadi sering mengisi seminar, kuliah umum, membentuk forum-forum diskusi sampai ke kelas-kelas kecil di berbagai kampus.</p>
<p>Sampai suatu ketika, industri web mulai berkembang pesat. Google mulai menunjukkan kekuatannya bersaing ketat dengan Microsoft dan Yahoo, perusahaan-perusahaan besar mulai berinvestasi di dunia web, dan istilah <em>Cloud Computing</em> pun mulai menjadi pembicaraan disana-sini. Berprofesi di dunia web mulai diperhitungkan, baik sebagai <em>developer</em>, <em>designer</em>, <em>consultant</em>, <em>publisher</em> dan seterusnya. Jenis-jenis profesi baru pun lahir.</p>
<p>Dan sejak saat itu pula, banyak anak-anak muda yang ingin mencari uang di industri web. Tak mengapa lah, walau mereka banting-bantingan harga dan mengesampingkan kualitas, saya cukup senang. Seperti kata para musisi senior tentang kelahiran band-band baru, saya tak pernah menganggap mereka sebagai kompetitor. Disamping itu, saya juga sudah merambah ke industri lain, hehe.</p>
<p>Anak-anak muda yang bersemangat ini, mengingatkan kepada saya waktu masih muda dulu. Hanya saja, banyak dari mereka seringkali ingin instan; ingin cepatnya saja. Belum tahu tentang prinsip desain sudah ingin terjun langsung. Belum paham soal web usability, tapi sudah ingin bikin portal. Intinya, seperti Nobita bilang, &#8220;ingin ini, ingin itu, banyak sekali&#8221;, tapi gak mau menjalani prosesnya.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/04/instantcreative.jpg"><img class="size-full wp-image-497 alignnone" title="creativo: Jamu canggih untuk menjadi kreatif" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/04/instantcreative.jpg" alt="" width="450" height="529" /></a></p>
<p>Anak-anak muda seperti ini juga yang kadang bikin naik darah. Apa mereka tidak tahu penemuan terhebat abad 21 yang bernama GOOGLE? Mereka mau belajar apa saja, tinggal ketik, dan hidangan ilmu pengetahuan pun tersaji di depan mata. Segampang itu.</p>
<p>Tapi herannya, kalau saya menyarankan mereka untuk mencari sendiri, mereka pasti menggerutu. Kalau saya bilang, &#8220;dulu, saya ini belajar bikin web itu harus bergadang sampai pagi. Mau pakai komputer siang-siang pasti gak <em>kebagian</em>, karena teman-teman saya pasti <em>makai</em>. Masih untung kalian sekarang, ada banyak tempat bertanya, ada google. Jaman saya dulu belajar? Boro-boro. Kalau di mIRC kebetulan ada orang yang jago sedang online, pasti bahasannya tingkat tinggi. Kalau saya minta ulang, mereka suruh cari sendiri dulu. Nah ini, kalian jaman sekarang mau beli laptop saja harganya sudah murah. Tinggal minta orang tua lagi. Jaman saya dulu? Harus banting tulang begadang berbulan-bulan nabung baru sanggup beli PC.&#8221;</p>
<p>Kalau sudah begini, biasanya mereka <em>nyengir</em> sambil <em>ngacir</em>. Tapi yang sudah-sudah sih, besoknya pasti kembali lagi, nanya yang instan-instan lagi. Duh. Apa mereka nggak pernah tahu teknologi masa kini, penemuan terhebat abad 21 yang namanya GOOGLE?</p>
<p>Mereka nggak tahu aja, jaman saya dulu belajar, jangankan beli laptop, beli PC butut aja nggak sanggup. Harus begadang sampai pagi nunggu teman-teman yang punya komputer tidur dulu.</p>
<p>Dasar anak muda jaman sekarang. Huh.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/a-story-of/jaman-dulu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sweet Misery</title>
		<link>http://ipoet.net/a-story-of/sweet-misery/</link>
		<comments>http://ipoet.net/a-story-of/sweet-misery/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 02:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[oyoh]]></category>
		<category><![CDATA[tersiksa]]></category>
		<category><![CDATA[tumblr]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=483</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Expectation is the most bitter happiness&#8230;&#8221; ~ Putra Nasution.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/04/silence.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-487" title="about meeting someone new.." src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/04/silence.jpg" alt="" width="450" height="338" /></a></p>
<div class="bigquote">&#8220;Expectation is the most bitter happiness&#8230;&#8221;</div>
<p style="text-align: right;">~ Putra Nasution.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/a-story-of/sweet-misery/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Romantika Subuh</title>
		<link>http://ipoet.net/a-story-of/romantika-subuh-2/</link>
		<comments>http://ipoet.net/a-story-of/romantika-subuh-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Mar 2010 00:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[dia]]></category>
		<category><![CDATA[dulu]]></category>
		<category><![CDATA[hujan]]></category>
		<category><![CDATA[mi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=475</guid>
		<description><![CDATA[Menghambar, indera pengecap tidak lagi berfungsi mulut kering terlalu banyak berdoa namamu berputaran tak menentu di udara Berdebar, jantung ini berdetak tak tentu irama waktu memaksa darah berdesir bayanganmu bertebaran dimana-mana Melayang, gravitasi menjadi alfa membunuh massa tulang kulit daging hanyalah benda untuk jiwa yang kini terbelah menjadi dua Mengabur, setiap pandangan mata adalah ilusi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/03/ketikadulu.png"><img class="alignnone size-full wp-image-476" title="hujan dan kita dulu..." src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/03/ketikadulu.png" alt="" width="450" height="338" /></a></p>
<p>Menghambar,<br />
indera pengecap tidak lagi berfungsi<br />
mulut kering terlalu banyak berdoa<br />
namamu berputaran tak menentu di udara</p>
<p><span id="more-475"></span></p>
<p>Berdebar,<br />
jantung ini berdetak tak tentu irama<br />
waktu memaksa darah berdesir<br />
bayanganmu bertebaran dimana-mana</p>
<p>Melayang,<br />
gravitasi menjadi alfa membunuh massa<br />
tulang kulit daging hanyalah benda<br />
untuk jiwa yang kini terbelah menjadi dua</p>
<p>Mengabur,<br />
setiap pandangan mata adalah ilusi<br />
tak ada yang nyata ketika kau tak ada<br />
saraf optik tidak lagi bisa mencerna</p>
<p>Melambat,<br />
detik berganti semaunya saja<br />
berharap waktu memuai ketika berdua<br />
mengusangkan semua teorema yang ada</p>
<p>Tersiksa,<br />
tidur menjadi hal yang langka<br />
tak berkutik sampai subuh menyapa<br />
terlelap atau tidak sungguh tak berbeda</p>
<p>Menggila,<br />
tak tentu jam ingin menyapa<br />
seucap kata mengobati dahaga<br />
nestapa diri yang ingin berjumpa</p>
<p>Membuta,<br />
salah benar tak ada lagi bedanya<br />
nalar terbunuh terlalap apinya<br />
bahkan dusta pun baik adanya</p>
<p>Selamat datang lagi dan lagi, wahai asmara<br />
adakah tuan mendengarkan hamba?<br />
Inginnya hati ini merindu dengan biasa,<br />
seperti pendosa yang mengharap surga</p>
<p style="text-align: right;">Putra Nasution<br />
Medan, 2008/09/29 &#8211; 2:59 am</p>
<p><em><strong>PS: Ini cuma berbicara tentang masa lalu. Jadi jangan tanya itu foto siapa ya <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/a-story-of/romantika-subuh-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dear, September..</title>
		<link>http://ipoet.net/sang-pemimpi-subuh/dear-september/</link>
		<comments>http://ipoet.net/sang-pemimpi-subuh/dear-september/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 16:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>
		<category><![CDATA[curhat sepihak]]></category>
		<category><![CDATA[imajiner]]></category>
		<category><![CDATA[kamuflase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Aku rindu sekali ingin menulis lagi, bercerita tentang apapun seperti dulu, mendeskripsikan dunia melalui mata seorang pendosa yang merindukan surga seperti aku ini. Tapi kau tentu tahu, semenjak aku kehilangan dia, aku juga kehilangan satu-satunya sumber inspirasiku. September, terlalu berlebihan kalau aku katakan kau bisa menggantikan dia sebagai sumber inspirasiku. Tapi aku harus mengakui bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku rindu sekali ingin menulis lagi, bercerita tentang apapun seperti dulu, mendeskripsikan dunia melalui mata seorang pendosa yang merindukan surga seperti aku ini. Tapi kau tentu tahu, semenjak aku kehilangan dia, aku juga kehilangan satu-satunya sumber inspirasiku.</p>
<p>September, terlalu berlebihan kalau aku katakan kau bisa menggantikan dia sebagai sumber inspirasiku. Tapi aku harus mengakui bahwa ketika aku bertemu dengan kamu, aku seperti mendapatkan cahaya baru dalam kegelapan yang mengelilingiku. Tak perlu terang benderang seperti dia dahulu, hanya sekedar cahaya temaram untuk dapat membaca situasi pun aku sudah bersyukur. Aku bersyukur bisa berkenalan dengan kamu.</p>
<p><span id="more-472"></span><br />
Tapi, September, mengapa aku harus berbagi cahaya temaram itu lagi dengan orang lain? Yah, aku tahu, lelakimu itu memang telah mengikatmu dengan ketulusan cukup lama, membanjirimu dengan jutaan senyuman dan bahagia. Aku tahu itu penting, dan karenanya pun aku sekarang hanya akan menunggu.</p>
<p>September, setibanya di bandara waktu itu aku pernah menulis, bahwa dua tahun lagi aku akan merebut hatimu di kota yang aku benci itu; baik dengan mudah atau harus berdarah-darah. Kau tentu tak tahu, kalau aku sedang berencana menaklukkan kota itu hanya untuk mencuri perhatianmu. Tapi memang tak perlu lah kau tahu itu&#8230;</p>
<p>September, aku ini lelaki yang diburu waktu, tapi tak cukup berani untuk berterus-terang mengatakan bahwa kau sudah menyita sedikit waktuku, sesekali hadir dan memberi warna dalam bunga tidurku yang biasanya hitam putih. Seandainya saja ada alat yang bisa mencetak bayangan-bayangan kenangan, ilusi dan mimpiku, tentu aku akan paketkan ke rumahmu agar kau mengerti dan tak menganggap aku hanya membual.</p>
<p>Aku tahu, September, kau pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil tersedak jika aku katakan aku punya hati untukmu, dan kau pasti akan bertanya bagaimana bisa? Variabel-variabel jatuh cinta belum terpenuhi semua, dan kau pasti akan melakukan analisis komparatif dengan kebiasaan-kebiasaan umum. Tapi aku yakin analisismu takkan komprehensif, dan kau pun mungkin tak sadar bahwa jatuh cinta itu kasuistik. Dan sejak kapan jatuh cinta butuh variabel?</p>
<p>Ah, tapi aku jadi melantur, September. Jadi untuk sementara, aku takkan mengganggumu dulu. Semoga dua tahun tak terlalu lama dan membuat kau terburu-buru mengakhiri masa lajangmu.</p>
<p>Semoga <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/sang-pemimpi-subuh/dear-september/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Budi Pekerti Luhur</title>
		<link>http://ipoet.net/daily-scratchs/budi-pekerti-luhur/</link>
		<comments>http://ipoet.net/daily-scratchs/budi-pekerti-luhur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[just a thought...]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[hospitality]]></category>
		<category><![CDATA[luhur]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, salah seorang langganan di warungku membeli jajanan seperti biasanya. Dia juga berombongan dengan teman-temannya, masih seperti biasanya. Namun tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu yang membuat aku berpikir panjang, &#8220;brother, my friends said that brother are handsome&#8221;. Polos, sambil lihat kanan kiri lalu cekikikan. Bukan soal aku dibilang &#8211;ehm&#8211; ganteng itu yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, salah seorang langganan di warungku membeli jajanan seperti biasanya. Dia juga berombongan dengan teman-temannya, masih seperti biasanya. Namun tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu yang membuat aku berpikir panjang, &#8220;brother, my friends said that brother are handsome&#8221;. Polos, sambil lihat kanan kiri lalu cekikikan.</p>
<p>Bukan soal aku dibilang &#8211;ehm&#8211; ganteng itu yang membuat aku berpikir panjang &#8211;toh mereka adalah anak-anak SMP, tapi soal kalimatnya itu. Sadar nggak, ada yang aneh dengan kalimat itu?</p>
<p><span id="more-464"></span>Dia bilang, &#8220;..brother are handsome&#8221;, bukan &#8220;..you are handsome&#8221;. Menjadi sesuatu hal yang bisa dipahami kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan grammar atau pronounciation yang berantakan. Tapi tidak, dia mengucapkannya dengan grammar dan pronounciation yang sangat baik.</p>
<p>Lantas setelah mereka semua selesai cengar-cengir (termasuk aku sendiri) dan bubar, aku jadi menganalisa kejadian itu. Kenapa dia menggunakan kata &#8220;brother&#8221; alih-alih &#8220;you&#8221;?</p>
<p>Baru aku pahami kemudian, bahwa mungkin dia bukannya tidak fasih berbahasa Inggris, atau tidak sengaja karena grogi. Dia memang sengaja menggunakan kata itu. Karena, di negeri ini tidak wajar kalau kita memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan &#8220;kamu&#8221;, walaupun hanya sebagai keterangan penunjuk.</p>
<p>&#8220;Bang, kata kawan-kawanku <strong>kamu</strong> ganteng&#8221;, adalah sebuah kalimat yang tidak sopan. Kalimat itu biasanya terucap dengan format seperti, &#8220;Bang, kata kawan-kawan <em>awak</em> <strong>abang</strong> ganteng&#8221;.</p>
<p>Oh iya, di kampung saya sini, sangat tidak sopan membahasakan diri dengan kata &#8220;aku&#8221; kepada yang lebih tua, apalagi kepada orang yang beneran sudah tua. Biasanya kita menggunakan kata &#8220;awak&#8221; ataupun membahasakan diri dengan nama.</p>
<p>Terkesan gak penting ya? Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, nilai-nilai seperti ini yang sudah mulai hilang di Indonesia. Sebuah identitas budaya yang sangat penting.</p>
<p>Maka aku pun jadi mengingat dan akrab dengan anak itu dan teman-temannya. Bukan, bukan karena mereka bilang aku ganteng, tapi karena selain mereka ramah (banyak juga yang ceriwis sekali dan jutek), mereka juga sopan sekali. Dan karena itu juga aku jadi hapal nama mereka, dan melayani belanjaan mereka dengan lebih baik, dan dengan senang hati.</p>
<p>Aku ingat waktu kecil dulu, negara tercinta ini terkenal dengan hospitality-nya kepada orang lain. Senyum dan keramahan itu pula yang mengantarkan banyak orang asing jatuh cinta terhadap negeri yang <em>gemah ripah loh jinawi</em> ini. Tolong menolong dan gotong royong itu sih sudah jadi kewajiban. <strong>Dulu</strong> (?).</p>
<p>Mendadak aku menjadi rindu terhadap kata &#8220;budi pekerti luhur&#8221;. Kata itu bukan sekedar retorika, dan bukannya tidak ada maksudnya. Ketika kita bisa saling menghargai dan menyayangi, maka semua hal akan menjadi lebih mudah. Percaya atau tidak, silahkan dipraktekkan saja.</p>
<p>Kita rame-rame teriak anti neo-liberalisme dan neo-kapitalisme ada dimana-mana, tapi disaat yang bersamaan waktu ada seorang tua renta yang menengadahkan tangan, kita semua mencibir, menghakimi bahwa beliau adalah orang yang pemalas dan tidak mau bekerja. Karena, setelah dipikir-pikir dengan baik, menolak halus dengan senyum pun tak ada ruginya.</p>
<p>Ucapan anak-anak itu kemarin pun &#8220;menyentil&#8221; hatiku. Teguran mungkin, mengingatkan diri yang semakin tidak perduli terhadap lingkungan sekitar. Dan lantas aku pun membongkar-bongkar hati mencari rasa budi pekerti, tenggang rasa dan sayang menyayangi itu diantara penyakit-penyakit yang semakin menggerogoti hati ini.</p>
<p>Semoga belum terlambat. Semoga&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/daily-scratchs/budi-pekerti-luhur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
