<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poetra Nasution - Pemimpi Yang Kurang Tidur</title>
	<atom:link href="http://ipoet.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ipoet.net</link>
	<description>Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 05:37:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Surat Untuk Cucu Anakku&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/surat-untuk-cucu-anakku/</link>
		<comments>http://ipoet.net/surat-untuk-cucu-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 05:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Ketika engkau membaca surat ini, berarti malam ini jantungmu sedang berdenyut tak menentu, karena besok kau akan menikahi orang yang engkau cintai setengah mati. Mungkin kakek tidak akan bisa secara langsung memberikan petuah pernikahan, atau nasehat tentang bagaimana kau dan pujaan hatimu sebaiknya menjalani kehidupan kalian. Untuk itulah kakek menuliskan surat ini, sebagai ucapan selamat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika engkau membaca surat ini, berarti malam ini jantungmu sedang berdenyut tak menentu, karena besok kau akan menikahi orang yang engkau cintai setengah mati. Mungkin kakek tidak akan bisa secara langsung memberikan petuah pernikahan, atau nasehat tentang bagaimana kau dan pujaan hatimu sebaiknya menjalani kehidupan kalian. Untuk itulah kakek menuliskan surat ini, sebagai ucapan selamat, permintaan maaf sekaligus sebagai sebuah wasiat.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2012/01/old_letters.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-651" title="Surat Untuk Cucu Anakku (photo courtessy of: J Andersen via www.sxh.hu)" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2012/01/old_letters.jpg" alt="" width="450" height="338" /></a></p>
<p><span id="more-616"></span></p>
<p>Cucuku tersayang, karena saat ini kau sedang bersiap untuk menempuh bahtera baru dalam hidupmu, maka aku ingin menceritakan tentang sesuatu, sebagai kenangan bagimu, juga sebagai nasehat sekaligus pengalaman agar kau bisa belajar dari sejarah.</p>
<p>Bahwa negaramu ini dulu adalah negara yang kaya raya, kau mungkin sudah pernah mendengar. Pernah ada masanya terkubur beratus juta barel minyak mentah, bermilyar gram emas, dan ratusan jenis sumber daya alam lainnya yang terpendam di dalam tanah yang sangat subur, yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Masa itu telah lewat, dan generasimu tak lagi bisa merasakan manfaatnya ataupun membanggakannya.</p>
<p>Bahwa dulu negerimu ini pernah dikenal sebagai salah satu bangsa yang paling ramah, suka bergotong-royong dan tolong menolong, dan memiliki toleransi yang sangat tinggi, kau juga mungkin sudah mendengar. Para pendiri negara ini telah mentahbiskannya dalam sebuah semboyan yang kala itu mewakili doa dan semangat kemerdekaan: Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda, tetap satu jua. Masa itu pun mungkin telah lewat, dan butuh puluhan tahun untuk membangkitkan kembali semangat itu.</p>
<p>Bahwa pernah ada kalanya tanah airmu ini pernah dikenal dengan kebudayaan dan kesantunannya, kau mungkin samar mengingat dongeng itu dalam pelajaranmu di sekolah dasar dulu. Beratus jenis bahasa daerah, beribu jenis tarian dan adat budaya pernah bersemayam di tanah ibu pertiwi ini, beratus ribu kekayaan yang tak ternilai dari mulai corak, syair lagu, gurindam, hingga resep makanan juga pernah dimiliki nenek moyangmu yang terkenal sangat santun. Warisan ini mungkin tak pernah sampai ke tangan generasimu, tak pula ada dokumentasi yang merekamnya untuk kau pelajari.</p>
<p>Cucuku tersayang, aku mungkin meninggalkan untuk ayahmu, saudaramu dan keluarga besar kita sebuah imperium bisnis yang besar, tapi itu bukanlah warisan yang sesungguhnya, yang sebenarnya. Karena apalah artinya hidup berlimpah harta jika tak bisa menikmatinya, apalah artinya memiliki banyak uang jika didapatkan dengan tidak memperdulikan alam dan kehidupan. Apalah artinya hidup yang senang, dikelilingi orang-orang yang menderita.</p>
<p>Maka di hari bahagiamu ini, izinkan aku meminta maaf atas nama generasiku, yang tidak menyadari bahwa akan ada konsekuensi sedemikian berat yang harus ditanggung karena ketamakan dan ketidakperdulian kami. Jika aku bisa memutar waktu dan mengulangnya kembali, sepenuh hati akan kuupayakan untuk mencegahnya, walau mungkin hampir sia-sia.</p>
<div class="bigquote">&#8220;Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain&#8221;</div>
<p>Melalui surat ini kuucapkan selamat berbahagia dan selamat menjalani babak baru dalam kehidupanmu. Dan kuwariskan satu petuah yang diwariskan juga turun-temurun kepadaku, bahwa, <strong>sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain</strong>. Jadikan itu pegangan hidupmu, dan aku yakin kau akan bahagia selama-lamanya.</p>
<p>Dengan segala kerinduan dan kasih sayang,</p>
<p>Kakek ayahmu.</p>
<p><em>PS: Dulu, manusia bisa bernafas dengan bebas tanpa harus menggunakan masker oksigen dan bisa berjalan-jalan dengan bebas tanpa khawatir radiasi sinar matahari. Tapi mungkin akan kakek ceritakan lain waktu <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/surat-untuk-cucu-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ASEAN BLOGGER CONFERENCE (Bagian 1)</title>
		<link>http://ipoet.net/asean-blogger-conference-bagian-1/</link>
		<comments>http://ipoet.net/asean-blogger-conference-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Dec 2011 11:15:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=628</guid>
		<description><![CDATA[Perhelatan Konferensi Blogger Asean di Bali sudah hampir satu bulan berlalu. Banyak tanda tanya yang menyeruak&#8211;tentang substansi maupun tindaklanjutnya, namun banyak pula ide baru yang berpijar dari nama-nama yang mungkin awalnya terasa asing untuk beberapa telinga. Banyak tanda keletihan di wajah para blogger yang telah singgah di pulau dewata tanpa menikmati keindahannya, namun tak sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Perhelatan Konferensi Blogger Asean di Bali sudah hampir satu bulan berlalu. Banyak tanda tanya yang menyeruak&#8211;tentang substansi maupun tindaklanjutnya, namun banyak pula ide baru yang berpijar dari nama-nama yang mungkin awalnya terasa asing untuk beberapa telinga. Banyak tanda keletihan di wajah para blogger yang telah singgah di pulau dewata tanpa menikmati keindahannya, namun tak sedikit pula senyum menghiasi wajah-wajah asing yang kemudian menjadi sahabat.</p>
<p>Inilah cerita tentang sebuah kawasan yang sedang naik daun di mata Internasional, yang para pejabatnya sedang berbincang mengenai isu terkini, dan para pemuda penerusnya duduk bersama serta berjabat tangan untuk masa depan yang lebih baik.</p>
<p><span id="more-628"></span></p>
<p>UNDANGAN<br />
Saya sedang bersiap diri untuk menghadapi salah satu peristiwa paling penting dalam hidup saya; menikah, ketika surat undangan itu sampai. Lae Nich bertanya apakah saya bisa berangkat, dan saya langsung menyanggupi. Setelah bertukar pikiran dengan <del>calon</del> istri, saya pun membulatkan niat untuk berangkat. Perhelatan ini sudah saya tunggu cukup lama, saya sangat bersyukur <del>calon</del> istri saya mau mengalah dan mengerti.</p>
<p>Maka berangkatlah saya tepat empat hari setelah saya menikahi gadis pujaan yang sudah saya tunggu 11 tahun lamanya. Saya tahu, takkan ada waktu untuk berwisata di pulau Dewata itu, tapi itu tak menjadi soal, karena tujuan saya datang memang untuk menyaksikan pembentukan sejarah, salah satu titik kebangkitan baru ASEAN.</p>
<p>Bersama <a href="http://fikryfatullah.com">FikryFatullah</a>, seorang sahabat dan kolega bisnis, saya pun bertolak dari Bandara Polonia pada hari Selasa pagi. Kesibukan Indonesia yang sedang menjadi tuan rumah dari beberapa perhelatan internasional terlihat jelas dari demikian ramainya penerbangan di tiga bandara yang kami singgahi.</p>
<p>RAHAJENG RAUH<br />
Setelah menempuh empat jam lebih perjalanan (ditambah beberapa jam transit di SOETTA), pesawat yang kami tumpangi pun mendarat di Bandara Internasional Ngurah Rai. Berlokasi di Kota Denpasar, salah satu bandara paling sibuk di Indonesia ini terlihat sedang berbenah. Ratusan&#8211;bahkan mungkin ribuan&#8211;tanda selamat datang terpampang disana-sini, menyambut para delegasi yang datang menghadiri KTT Asean 2011 di Nusa Dua.</p>
<p>Kami disambut langsung oleh salah satu official yang paling baik hati, Mbak Indah Juli, yang walaupun terlihat luar biasa capek tetap bisa tersenyum menyambut kami; sebuah senyuman bersahabat yang menyambut kedatangan kawan lama. Sebuah karangan bunga dikalungkannya ke leher saya dan Fikry, melengkapi teman-teman blogger lain yang sudah lebih dulu tiba. Sahutan senang dan jabat tangan pun langsung berangsur, melihat wajah-wajah familiar yang telah beberapa waktu tak bersua.</p>
<p>ULANG TAHUN BBC<br />
Segera setelah check-in di POP! Hotel, saya pun bergegas menyimpan tas dan bawaan lainnya (yes, I am an over-prepared traveller, hehe) di kamar, dan langsung turun ke lobi untuk <em>mingle</em> bersama puluhan kawan-kawan blogger lainnya. Tak lama berselang, kakak-kakak panitia sudah memberi aba-aba untuk segera berangkat menuju acara pertama. APA? Harus segera naik bis? Saya kan belum man&#8230; Ah, untung saja masih punya modal <em>inner handsomeness</em> *plaakkk*.</p>
<p>Ternyata tempat yang dituju adalah Danes Art Veranda di bilangan Hayam Wuruk, Denpasar. Di gedung yang super keren ini ternyata sedang berlangsung acara ulang tahun ke Empat Bali Blogger Community. Tak kurang dari 200 orang blogger tumpah ruah meramaikan acara ini, termasuk kawan-kawan blogger delegasi dari negara lain. Dijamu dengan beragam makanan ringan, kopi dan teh, serta nasi Jenggo dan dikelilingi oleh teman-teman seperjuangan sungguh merupakan malam pembuka yang manis di Pulau Dewata.</p>
<p>Sekembalinya dari jamuan makan malam oleh BBC, malam sudah sangat larut dan mata pun sudah tak dapat diajak berkompromi. Setelah beberapa saat melepas rindu di udara bersama istri tercinta *uhuk*, saya pun segera mendarat di peraduan, sambil menganiaya remote TV dengan mata yang semakin meredup. Tak bisa tidur terlalu lelap, karena teman sekamar saya&#8211;seorang blogger dari Vietnam&#8211;belum juga sampai di Bali. Salah satu <em>gesture</em> yang cukup baik menurut saya dari kawan-kawan panitia, dengan menyusun roommate secara random, agar lebih mengenal dan akrab dengan kawan-kawan blogger lainnya.</p>
<p>Benar saja, kurang lebih pukul 02.00 WITA, <a href="http://defickry.wordpress.com">Fickry</a> mengetuk kamar. Disampingnya berdiri rekan sekamar saya yang sedang nyengir sambil meminta maaf karena sudah mengganggu kekhusyukan tidur. <a href="http://anirudhbhati.com">Anirudh</a>, demikian dia memperkenalkan diri. Seorang advocate kelahiran India yang sedang bermukim di Vietnam. Saya yang awalnya sudah terlelap, akhirnya urung menarik selimut lagi, dan memutuskan untuk mencari oksigen tambahan [:merokok] di selasar lantai tiga, lantai kamar saya.</p>
<p>Saking asiknya <em>ngobrol</em>, saya lupa bahwa saya harus bangun pagi-pagi sekali, dan memimpin salah satu sesi diskusi. Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 4 waktu setempat, berarti tinggal dua jam jatah tidur saya yang tersisa. Ah, cukuplah untuk orang paling ganteng (menurut istri) seperti saya ini&#8230; #eaaa</p>
<p>Bersambung&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/asean-blogger-conference-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari Blogger Nasional</title>
		<link>http://ipoet.net/hari-blogger-nasional/</link>
		<comments>http://ipoet.net/hari-blogger-nasional/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Oct 2011 02:41:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=621</guid>
		<description><![CDATA[Orang bijak dari belahan bumi seberang pernah berkata, &#8220;It&#8217;s the thought that count&#8230;&#8221; Maka, demikianlah, walaupun (tanpa saya sadari) sudah lebih dari enam bulan blog ini dalam mode hiatus, bukan berarti saya sudah tidak menaruh hati dalam urusan blog ini, pun demikian saya tak ada maksud berhenti jadi blogger. Saya&#8211;dengan ataupun tanpa update tulisan&#8211;tetaplah seorang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Orang bijak dari belahan bumi seberang pernah berkata, &#8220;It&#8217;s the thought that count&#8230;&#8221;</p>
<p>Maka, demikianlah, walaupun (tanpa saya sadari) sudah lebih dari enam bulan blog ini dalam mode hiatus, bukan berarti saya sudah tidak menaruh hati dalam urusan blog ini, pun demikian saya tak ada maksud berhenti jadi blogger. Saya&#8211;dengan ataupun tanpa update tulisan&#8211;tetaplah seorang blogger. <em>I&#8217;m a proud blogger!</em> <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>It&#8217;s the thought that count</em>, kata orang bijak, namun saya sudah memutuskan untuk tidak hanya berniat, dan sengaja lah saya pilih satu hari setelah yang dikenal para aktivis dunia maya sebagai Hari Blogger Nasional. Ini penting, agar tak melulu dianggap tren sesa(a)t, tapi juga mengambil sedikit semangat dari hari besar tersebut.</p>
<p>Maka, selamat merayakan Hari Blogger Nasional, wahai kawan-kawan narablog seperjuangan.</p>
<p>Sampai berjumpa di tulisan berikutnya <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/hari-blogger-nasional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>This Is My Story : The Sleepless Dreamer</title>
		<link>http://ipoet.net/this-is-my-story-the-sleepless-dreamer/</link>
		<comments>http://ipoet.net/this-is-my-story-the-sleepless-dreamer/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Mar 2011 18:48:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[EF]]></category>
		<category><![CDATA[forbes]]></category>
		<category><![CDATA[kontes]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=575</guid>
		<description><![CDATA[Waktu masih SD, guru saya bercerita tentang Amerika. Diperlihatkan petanya, lengkap dengan fotonya. The dreamland, begitulah juluknya. Someday, saya akan kesana, ujar saya. Boleh saja bermimpi, tapi harus realistis, kata beliau. Kala itu saya masih tujuh tahun, kata &#8216;realistis&#8217; belum ditulis di kamus saya. Tepat tujuh tahun lalu, saya memutuskan drop out dari kampus. Saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Waktu masih SD, guru saya bercerita tentang Amerika. Diperlihatkan petanya, lengkap dengan fotonya. <em>The dreamland</em>, begitulah juluknya.</p>
<p><em>Someday</em>, saya akan kesana, ujar saya. Boleh saja bermimpi, tapi harus realistis, kata beliau. Kala itu saya masih tujuh tahun, kata &#8216;realistis&#8217; belum ditulis di kamus saya.</p>
<p>Tepat tujuh tahun lalu, saya memutuskan<em> drop out</em> dari kampus. Saya ingin membangun perusahaan sendiri. Modalnya cuma tekad; tanpa uang, apalagi gelar MBA.</p>
<p>Banyak orang yang tertawa sinis menanggapinya. Jangankan mendirikan perusahaan, dapat kerja yang layak saja sudah bagus. Mimpi di siang bolong, demikian vonis mereka.</p>
<div class="bigquote">&#8220;To those who can dream, there&#8217;s no such place as faraway.&#8221;</div>
<p><span id="more-575"></span></p>
<p>Tak banyak yang percaya, 20 tahun sejak pertama kali melihat peta Amerika, saya bisa sampai kesana. Juli lalu saya <a title="Mengunjungi Paman Sam" href="http://ipoet.net/a-story-of/mengunjungi-paman-sam/">diundang ke Amerika</a>. Ditandatangani oleh dubes Amerika untuk Indonesia, di undangan itu tertera nama dan <em>title </em>saya sebagai <a title="CEO" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Chief_executive_officer">Managing Director</a>. <em>Dreams come true</em>.</p>
<p>20 tahun lagi (tahun 2030), saya akan berusia 47, dan masuk di Forbes List. Saya tidak perduli urutan ke berapa, apalagi berapa jumlah kekayaan saya.</p>
<p>Lalu apa? Saya ingin mendirikan universitas, sekolah, serta rumah sakit terbaik dan GRATIS, tanpa harus mengkhawatirkan masalah uang dan <em>cashflow</em>. Sesederhana itu.</p>
<p>Tentunya mimpi itu takkan mudah diwujudkan. <a title="English First" href="http://www.englishfirst.co.id/">Belajar Bahasa Inggris di EF</a> untuk menyempurnakan kemampuan linguistik, mendapatkan <em><a title="Philisophy" href="http://en.wikipedia.org/wiki/Doctor_of_Philosophy">Master&#8217;s Degree</a></em> dari Stanford, berkarir di Silicon Valley, tak lupa doa dan usaha tanpa henti, adalah prasyarat mutlak yang saya aminkan.</p>
<p>Semua orang adalah pemimpi. Yang membedakannya cuma berapa banyak jam tidur yang rela dikorbankan untuk mewujudkan mimpi-mimpi itu. Dan saya, adalah seorang pemimpi besar yang kurang tidur.</p>
<p style="text-align: center;">*******</p>
<p><em>I&#8217;m not writing a fantasy; I&#8217;m writing my future story. Nothing&#8217;s impossible, and I&#8217;ve proved that theory. So here I am, inspiring other people to dream like me, and asking you to believe, that this is not just yet another story; by God&#8217;s will, it will be my destiny <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/this-is-my-story-the-sleepless-dreamer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kita&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/kita/</link>
		<comments>http://ipoet.net/kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 03:18:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=558</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Mereka bilang kita ini orang yang diburu waktu, tapi kita itu cuma aku dan kamu&#8230;&#8221; ~Putra Nasution]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/11/us.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-559" title="Kita..." src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/11/us.jpg" alt="" width="450" height="450" /></a></p>
<div class="bigquote">&#8220;Mereka bilang kita ini orang yang diburu waktu, tapi kita itu cuma aku dan kamu&#8230;&#8221;</div>
<div style="text-align: right;">~Putra Nasution</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>The Way You Look Tonight</title>
		<link>http://ipoet.net/the-way-you-look-tonight/</link>
		<comments>http://ipoet.net/the-way-you-look-tonight/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Oct 2010 09:48:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[bandara]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[jepang]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[pramugari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=541</guid>
		<description><![CDATA[(postingan sebelumnya: Mengunjungi Paman sam) Berhubung saya adalah peserta &#8220;sisipan&#8221; yang bergabung di menit-menit terakhir, maka itinerary saya pun berbeda dengan Bang Enda, Dita, dan Mbak Rita. Saya mengambil rute yang berbeda dengan ketiga kolekha saya tersebut; saya tidak melewati Seoul. Pesawat dengan nomor JL-726 yang saya tumpangi langsung menuju Tokyo Narita International Airport. Ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>(postingan sebelumnya: <strong><a title="Mengunjungi Paman Sam" href="http://ipoet.net/a-story-of/mengunjungi-paman-sam/">Mengunjungi Paman sam</a></strong>)</em></p>
<p>Berhubung saya adalah peserta &#8220;sisipan&#8221; yang bergabung di menit-menit terakhir, maka <em>itinerary </em>saya pun berbeda dengan <a title="Bang Enda" href="http://enda.goblogmedia.com">Bang Enda</a>, <a title="Nona Dita" href="http://nonadita.com">Dita</a>, dan Mbak Rita. Saya mengambil rute yang berbeda dengan ketiga <em>kolekha</em> saya tersebut; saya tidak melewati Seoul. Pesawat dengan nomor JL-726 yang saya tumpangi langsung menuju Tokyo Narita International Airport. Ini juga artinya, sepanjang kurang lebih delapan jam perjalanan, saya akan sendirian, mengarungi gelapnya langit malam di luar, di pesawat yang dipenuhi dengan orang-orang yang bahasanya tak saya pahami. Delapan jam, menjadi orang asing, sendirian. Menyeramkan, jenderal!</p>
<p>Betul saja firasat saya, bahwa pilot dan awak kabin di pesawat itu akan berbahasa Jepang. Jika pun mereka berbahasa Inggris, maka saya sudah menyangka <em>pronounciation</em>-nya takkan jauh berbeda dengan rekan-rekan waktu saya masih kerja di sebuah perusahaan Jepang dulu; butuh kesabaran dan konsentrasi agak tinggi untuk memahaminya dalam sekali ucap.</p>
<p>Tapi mungkin, Tuhan tahu saya sedang gugup. Sampai saat pak pilot yang duduk di depan untuk memimpin pesawat agar baik jalannya mengisyaratkan bahwa pintu pesawat telah ditutup, dua bangku di sebelah saya masih kosong. Artinya, saya bisa selonjoran sampai Jepang. Ahoy!</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/10/langit.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-543" title="Langit Subuh" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/10/langit.jpg" alt="" width="450" height="338" /></a></p>
<p><span id="more-541"></span><strong>Bidadari Cantik di Langit Malam.</strong></p>
<p>Sebelumnya, coba saya ingat-ingat dulu keadaan sekeliling saya pada malam itu. Ada layar besar di langit-langit pesawat yang menampilkan peta digital untuk rute yang akan ditempuh; lengkap dengan temperatur, kecepatan, ketinggian, dst. Adapun jenis pesawat ini adalah Boeing 777, yang artinya ada sembilan kursi penumpang sejajar ke samping, masing-masing tiga <em>seat</em> dalam satu deret.</p>
<p>Setelah memperhatikan keadaan sekeliling, baru saya <em>ngeh</em> kalau ada seorang ibu muda beserta dua orang anaknya duduk di deret kedua (tengah); tepat di sebelah kanan saya. Yang paling besar adalah anak lelaki sekitar enam tahunan, dan adiknya, gadis kecil berkepang dua, taksiran saya masih di bawah dua tahun. Ini hanya perkiraan, karena si gadis kecil ini duduk berpangku dengan ibunya. Kursi satunya lagi diisi oleh seorang lelaki berperawakan agak “lebih”, yang saya ragukan adalah suaminya, karena dia tampak tak acuh dan lebih asik dengan <em>headset</em>-nya sendiri.</p>
<p>Saya tadinya ingin menawarkan bertukar tempat dengan ibu muda dan dua anaknya tadi ini. Bukannya sok atau <em>gimana</em>, tapi rasanya kurang pantas lah duduk berlapang-lapang, sementara mereka bertiga duduk berdempetan di dua kursi. Tapi ada sedikit masalah, mereka bertiga sudah tertidur, saya tidak bisa berbahasa Jepang, dan pesawat sudah akan berangkat. Duh.</p>
<p>Namun rupanya para pramugari yang ada di pesawat itu paham betul konsep <em>customer service excellence</em>. Mereka sepertinya mengutus perwakilannya yang paling (ehm) cantik untuk berbicara kepada saya. Dihampirinya saya dengan penuh keanggunan, lalu berhenti dan “semi” berlutut (iya, bukan membungkuk) tepat di sebelah saya. Bagai seorang bidadari dari surga dengan senyuman termanis dan suara lembut dia berujar, “Sir, if you don’t mind, would you please kindly exchange your seat with the three of them,” katanya sambil setengah menunjuk ke ibu muda dan anak-anaknya tadi.</p>
<p>Seketika itu juga saya merasa terintimidasi. Bukan, bukan karena keberatan untuk tukar kursi, apalagi karena diancam akan diturunkan di tengah jalan jika saya menolak, tapi karena dia mengingatkan saya pada idola masa kecil yang menjumpai saya setiap minggu seusai mandi sore. Dia, mirip dengan Oshin, minus baju kimono, tentu saja. “I’d love to,” kata saya dengan senyuman termanis yang saya punya, sedikit sesak nafas.</p>
<p>“Thank you, it’s very generous of you,” katanya sambil beberapa kali mengangguk berterima kasih khas orang Jepang. “I’ll come back to you as soon as we finish our take off,” katanya sambil menyentuh bahu saya pelan. Entah kenapa tiba-tiba rasanya kabin semakin sempit, dan oksigen yang ada di kabin seperti semakin menipis.</p>
<p>Begitu pesawat sudah stabil di udara, sang pramugari cantik pun datang dan kembali meminta kesediaan saya untuk pindah. Lalu dia kembali mengulangi <em>gesture </em>terima kasihnya sambil beberapa kali mengucapkan ‘arigato ghozaimasta’, demikian juga dengan si ibu muda tersebut. Ah, orang-orang ini terlalu sopan, pikir saya. Dengan tersenyum saya pun menjawab, &#8220;kokorono to mo watashiwa Indomi gasuki omaha wa ana uhibbuka&#8221; <em>(terjemahan bebas yang terlalu bebas: &#8220;Tak perlu lah berterima kasih untuk sebuah kewajiban&#8221;)</em> #ngawur</p>
<p>Saya pikir perasaan terintimidasi oleh si pramugari cantik tadi sudah usai, namun saya salah. Setengah jam berselang dia kembali datang dan berlulut di samping kanan saya. “I, personally, and the rest of the Japan Airlines crew would like to thank you for your kindness,” katanya, sambil menyerahkan sebuah <em>goodie bag</em> untuk saya. “Is there anything else that you need, sir?,”  masih dengan senyuman termanis yang semakin mengintimidasi. Saya menggeleng grogi.</p>
<p>Tadinya <em>sih</em> saya ingin menanyakan namanya dan minta nomor handphone, tapi berhubung biaya SLI Indonesia – Jepang pasti lah mahal, saya mengurungkan niat. Wahai bidadari Japan Airlines, jika kita memang berjodoh, kita pasti akan berjumpa lagi suatu saat di masa depan… #menatapgalaukelangit</p>
<p>LCD TV 7” yang ada di depan saya lengkap beserta remote-nya pun jadi tak terlalu <em>sophisticated</em> lagi. Suara Frank Sinatra pun mengalun dari headphone saya, menyanyikan <a title="Frank Sinatra - The Way You Look Tonight" href="http://www.youtube.com/watch?v=kpfdnIx_1PM">The Way You Look Tonight</a>, mengantarkan saya tidur dengan senyum terlebar dan hati yang ketar-ketir.</p>
<p><em>(to be continued&#8230;)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/the-way-you-look-tonight/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengunjungi Paman Sam</title>
		<link>http://ipoet.net/mengunjungi-paman-sam/</link>
		<comments>http://ipoet.net/mengunjungi-paman-sam/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Aug 2010 19:53:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[amerika]]></category>
		<category><![CDATA[jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[mimpi]]></category>
		<category><![CDATA[pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=520</guid>
		<description><![CDATA[Semua hal konon harus ada awalnya. Tak ubahnya sebuah skripsi yang pasti diawali dengan landasan teori, dan sebuah novel yang diawali dengan prolog, maka cerita pun ini diawali dengan sebuah telepon di malam hari. &#8220;Mbak Dian USE&#8221;, demikian nama sang penelepon muncul di layar telepon genggam pintar &#8211;tapi sering lemot&#8211; milik saya. Mbak Dian yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua hal konon harus ada awalnya. Tak ubahnya sebuah skripsi yang pasti diawali dengan landasan teori, dan sebuah novel yang diawali dengan prolog, maka cerita pun ini diawali dengan sebuah telepon di malam hari.</p>
<p>&#8220;Mbak Dian USE&#8221;, demikian nama sang penelepon muncul di layar telepon genggam pintar &#8211;tapi sering lemot&#8211; milik saya. Mbak Dian yang cantik, baik hati, ramah dan murah senyum ini adalah salah seorang <em>kolekha</em> saya, yang bekerja di USE. Bukan, bukan Universitas Sumatera Eaaa, apalagi Uganda Security Exchange, melainkan United States Embassy.</p>
<p>Setelah mengobrol ngalor &#8211; ngidul &#8211; ngulon &#8211; ngetan, Mbak Dian mengundang saya untuk datang ke Pizza Mar**no malam itu. Loh, saya pun mulai bingung. Mbak Dian bertanya, apakah saya tidak mendapatkan undangan darinya yang dititipkan melalui seorang teman, dan saya katakan tidak. Saya katakan bahwa saya sedang di rumah, dan hampir tak mungkin saya bisa sampai kesana dalam waktu singkat, kecuali restoran itu telah membuka cabang di Medan.</p>
<p>Mbak Dian terheran-heran kenapa saya bisa ada di Medan, saya pun ikut heran kenapa tiba-tiba Mbak Dian mengganti marga saya. &#8220;Ini &#8230; Putra Nababan, kan?&#8221;, katanya penuh selidik, dan tawa saya pun meledak. Ternyata beliau salah <em>dial</em>, dan bermaksud menelpon <em>news anchor</em> yang terkenal itu.</p>
<p>Tak lama berselang &#8211;masih di minggu yang sama, Mbak Dian menelpon lagi. Kali ini dia bertanya apakah saya punya paspor, dan apakah saya punya waktu luang selama tiga minggu. Saya bilang jadwal saya selalu <em>tentative;</em> tergantung prioritasnya. Lantas saya tanya, kenapa Mbak Dian bertanya soal itu. &#8220;Putra mau ke Amerika, nggak?&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Karena punya firasat bahwa Mbak Dian salah sambung lagi, dengan ringan langsung saya iyakan. Dia pun lantas meminta saya untuk meng-update <acronym title="Curriculum Vitae">CV</acronym> saya dengan versi yang lebih baru, dan meminta saya untuk menunggu kabar darinya dalam beberapa hari. Saya yang masih ketawa-ketiwi mengikuti saja alur percakapannya, dengan sedikit perasaan geli, bagaimana mungkin <em>ujug-ujug</em> saya ditawari berangkat ke Amerika.</p>
<p>Tapi lantas, sebelum menutup telepon dan sebelum saya sempat berkomentar untuk mengingatkan soal salah sambung, dia bilang, &#8220;ini &#8230; Putra Nasution, kan?&#8221;.</p>
<p>NAH LOH! Berarti&#8230;?</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/08/cengkarengjpg.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-530" title="cengkareng" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/08/cengkarengjpg.jpg" alt="Beberapa jam sebelum boarding menuju jepang" width="450" height="338" /></a></p>
<p><span id="more-520"></span>Setelah telepon yang terakhir itu, semuanya rasanya seperti mimpi. Beberapa hari kemudian, Mbak Prima (juga salah seorang staf USE Jakarta) menginformasikan saya agar datang ke kedutaan Amerika untuk wawancara VISA. Dan hari itu juga saya tahu secara resmi bahwa nama saya sudah dinominasikan ke Washington DC, dan apabila tak ada aral melintang &#8211;dan kalau VISA saya disetujui, maka saya akan berangkat ke Amerika minggu depannya.</p>
<p>Tepat satu hari sebelum ulang tahun saya yang ke 27, VISA saya pun disetujui. Maka berangkatlah saya ke Jakarta pada tanggal 30 Juni untuk <em>pre-departure briefing</em>, sebelum akhirnya terbang ke Amerika pada tanggal 1 Juli 2010. Demikianlah kado ulang tahun paling berkesan dalam hidup saya: diundang untuk berkunjung ke Amerika.</p>
<div class="bigquote">&#8220;Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu&#8221;</div>
<p>Semua proses keberangkatan saya ke Amerika sangat cepat, dan (sekali lagi) terasa seperti mimpi. Hanya perlu waktu dua minggu untuk mengurus semuanya &#8211;dari mulai nominasi sampai keberangkatan, bahkan saya baru tahu nama program dan detailnya H-1.</p>
<p><a title="International Visitor Leadership Program" href="http://exchanges.state.gov/ivlp/ivlp.html">IVPL on NewMedia</a>, demikianlah kurang lebih judulnya. Bersama dengan bang <a title="Iya, Enda yang itu, yang bapak blogger Indonesia" href="http://enda.goblogmedia.com">Enda Nasution</a>, <a title="salah seorang seleb blog lainnya" href="http://nonadita.com">Nona Dita</a> dan Mbak Rita Uli Hutapea (jurnalis Detik, <em>foreign affair</em>) kami menyambangi negeri Paman Sam itu selama tiga minggu. Tiga blogger dan satu jurnalis, belasan international airport (ada 10 untuk saya), delapan negara bagian, belasan koper dan tas, serta belasan kota, ditemani dengan salah seorang <acronym title="English Language Officer">ELO</acronym> yang kemudian menjadi sahabat baik kami, Serge namanya.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/08/sf1.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-532" title="koper-koper itu..." src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/08/sf1.jpg" alt="koper-koper itu..." width="450" height="338" /></a></p>
<p>Begitulah, tiga dari kami (saya, bang Enda dan Dita) juga berulang tahun secara berturut, dan seolah mendapat kado ulang tahun yang sangat spesial tahun ini. Ada banyak pengalaman berharga; perjumpaan dan perkenalan dengan orang-orang yang jenius; puluhan (mungkin malah seratus lebih) kawan baru, pola pandang baru, ide-ide baru, dan masih banyak hal lain yang kami dapatkan melalui program ini.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/08/sf2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-533" title="Ki - Ka: Enda - Dita - Rita - Putra" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2010/08/sf2.jpg" alt="Enda - Dita - Rita - Putra" width="450" height="338" /></a></p>
<p>Kunjungan ke negeri Paman Sam ini akan saya tulis di postingan-postingan berikutnya, di frekwensi dan gelombang yang sama. Dan secara personal, saya sangat berterima kasih atas kerja keras dan waktu dari orang-orang yang terlibat dan mewujudkan program ini: Mbak Dian (you&#8217;re the best, mbak! <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ), Mbak Prima, Mbak Sita, para staf USE Jakarta lainnya, para staf Meridien International, tak lupa pula Charless Kellet (we won&#8217;t make it with out your help, Charlie <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  ),  dan tentu saja Serge.</p>
<p>&#8220;Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu&#8221;, demikian tulis seorang Andrea Hirata. Dan tidak pernah saya tak mengamininya, terlebih lagi sekarang&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/mengunjungi-paman-sam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

