Aneh memang, udah nyoba supaya nggak melihat foto-foto dia yang dulu rajin sekali saya save, dan kemudian di-edit untuk jadi wallpaper. Bukannya apa-apa, tapi memang saya jadi semangat kalau ngeliat dia lagi senyum. Rasanya bisa begadang seminggu nonstop.
Terus, beberapa minggu yang lalu, saya sedikit tergoda. Yah, barangkali perasaan dan hati saya sudah berubah. Tapi belum apa-apa, teman saya duduk di sebelah dan seperti bisa membaca pikiran saya, dia bertanya, “xxx (nama dia, red.) itu anak mana sih put?” dan hati saya langsung nyesss.
Ternyata saya salah. Saya masih begitu rindu sama dia.
Gak ada hubungannya sama sekali juga dengan lagu dan tulisan belakangan ini. Sengaja saya nggak ngeblog, karena takut terbawa perasaan mellow, hanya karena melihat wajah dia yang ada dimana-mana (secara harfiah maupun ungkapan), bahkan di”header” blog.
Tapi sekali lagi, saya salah. Ternyata yang paling mematikan itu adalah memori dia di otak saya. Entah otak kiri, otak kanan atau otak kecil. Rasanya pengen upgrade otak saja, lalu kemudian diformat ulang.
Yah, biarkan lah dia bahagia. Saya betul-betul tidak mengerti apa yang dia pikirkan, dan apa yang dia mau. Saya benar-benar ingin satu hal yang konkret, antara betul-betul melupakan dia, atau betul-betul mendapatkan dia. Yang pertama, artinya saya harus membuang semua file yang berhubungan dengan dia, yang artinya juga itu semua stock lagu dan draft novel. Jujur saja, agak susah. Sedangkan yang kedua, sangat hampir tidak mungkin, melihat situasi, kondisi, dan pola berpikirnya dia yang bahkan mungkin Mama Lauren berkolaborasi dengan Ki Joko Bodo pun tak bisa menebaknya.
Jadi, rasanya, masih lebih mungkin menikmati saja rasa ini.
Yah, begitu. Ffhhhhhhh….






















