Beberapa hari yang lalu, salah seorang langganan di warungku membeli jajanan seperti biasanya. Dia juga berombongan dengan teman-temannya, masih seperti biasanya. Namun tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu yang membuat aku berpikir panjang, “brother, my friends said that brother are handsome”. Polos, sambil lihat kanan kiri lalu cekikikan.
Bukan soal aku dibilang –ehm– ganteng itu yang membuat aku berpikir panjang –toh mereka adalah anak-anak SMP, tapi soal kalimatnya itu. Sadar nggak, ada yang aneh dengan kalimat itu?
Dia bilang, “..brother are handsome”, bukan “..you are handsome”. Menjadi sesuatu hal yang bisa dipahami kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan grammar atau pronounciation yang berantakan. Tapi tidak, dia mengucapkannya dengan grammar dan pronounciation yang sangat baik.
Lantas setelah mereka semua selesai cengar-cengir (termasuk aku sendiri) dan bubar, aku jadi menganalisa kejadian itu. Kenapa dia menggunakan kata “brother” alih-alih “you”?
Baru aku pahami kemudian, bahwa mungkin dia bukannya tidak fasih berbahasa Inggris, atau tidak sengaja karena grogi. Dia memang sengaja menggunakan kata itu. Karena, di negeri ini tidak wajar kalau kita memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan “kamu”, walaupun hanya sebagai keterangan penunjuk.
“Bang, kata kawan-kawanku kamu ganteng”, adalah sebuah kalimat yang tidak sopan. Kalimat itu biasanya terucap dengan format seperti, “Bang, kata kawan-kawan awak abang ganteng”.
Oh iya, di kampung saya sini, sangat tidak sopan membahasakan diri dengan kata “aku” kepada yang lebih tua, apalagi kepada orang yang beneran sudah tua. Biasanya kita menggunakan kata “awak” ataupun membahasakan diri dengan nama.
Terkesan gak penting ya? Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, nilai-nilai seperti ini yang sudah mulai hilang di Indonesia. Sebuah identitas budaya yang sangat penting.
Maka aku pun jadi mengingat dan akrab dengan anak itu dan teman-temannya. Bukan, bukan karena mereka bilang aku ganteng, tapi karena selain mereka ramah (banyak juga yang ceriwis sekali dan jutek), mereka juga sopan sekali. Dan karena itu juga aku jadi hapal nama mereka, dan melayani belanjaan mereka dengan lebih baik, dan dengan senang hati.
Aku ingat waktu kecil dulu, negara tercinta ini terkenal dengan hospitality-nya kepada orang lain. Senyum dan keramahan itu pula yang mengantarkan banyak orang asing jatuh cinta terhadap negeri yang gemah ripah loh jinawi ini. Tolong menolong dan gotong royong itu sih sudah jadi kewajiban. Dulu (?).
Mendadak aku menjadi rindu terhadap kata “budi pekerti luhur”. Kata itu bukan sekedar retorika, dan bukannya tidak ada maksudnya. Ketika kita bisa saling menghargai dan menyayangi, maka semua hal akan menjadi lebih mudah. Percaya atau tidak, silahkan dipraktekkan saja.
Kita rame-rame teriak anti neo-liberalisme dan neo-kapitalisme ada dimana-mana, tapi disaat yang bersamaan waktu ada seorang tua renta yang menengadahkan tangan, kita semua mencibir, menghakimi bahwa beliau adalah orang yang pemalas dan tidak mau bekerja. Karena, setelah dipikir-pikir dengan baik, menolak halus dengan senyum pun tak ada ruginya.
Ucapan anak-anak itu kemarin pun “menyentil” hatiku. Teguran mungkin, mengingatkan diri yang semakin tidak perduli terhadap lingkungan sekitar. Dan lantas aku pun membongkar-bongkar hati mencari rasa budi pekerti, tenggang rasa dan sayang menyayangi itu diantara penyakit-penyakit yang semakin menggerogoti hati ini.
Semoga belum terlambat. Semoga…






















December 1st, 2009 at 4:53 pm
iya benar sekali, kita ribut sana-sini tapi sepertinya kita melupakan budaya sopan santun yang telah ditanamkan dari sejak dahulu
December 1st, 2009 at 5:37 pm
ihiiiiy ganteng ya kang
)
agree on the subject though, not only hospitality, it’s seems these days we also lack of manners an consideration. try to look at our social media timeline, this issue is reflected there too. Even simple politeness is a rare thing to find anymore (doh)
The solution, I got none, still have no practical ideas for this issue …
December 1st, 2009 at 5:45 pm
masih aneh.
December 1st, 2009 at 7:22 pm
alah intinya sih kesenengan aja dipuji ganteng.. heuheuheuheuheuhe
December 1st, 2009 at 9:18 pm
hahahahah, ciyeee gebbbb, dibilang ganteng.. B-)
December 14th, 2009 at 10:30 am
the point is … si abang ganteng …
December 16th, 2009 at 5:10 pm
ganteng buj .. gantengggggg
December 17th, 2009 at 1:09 pm
Abang Emang Ganteng……
Tapi Hati yang tergerogoti oleh penyakit2 tu…
Cepat la….di obati……
December 18th, 2009 at 4:18 pm
@all:
Ah kalian, penggunaan kalimat itu kan hanya pelengkap situasi, supaya tergambar dengan jelas gitu loh suasananya ketika itu
@nova @galeshka:
True. Aren’t we, Indonesians, well knowned for our hospitality and sincerity? I feel less, lately. Or have that so-called-democracy of ours turns us into selfish prigs?
January 7th, 2010 at 5:19 pm
tapi memang iya Am. kau itu orang ganteng nomor 2 di Binje.
ya… aku lah nomor 1 nya. cak ko tanyak selva
January 20th, 2010 at 2:50 pm
Halo Put apakabarnya?
Semoga kabar baik saja…
January 25th, 2010 at 12:34 am
bsama di tempat saya juga gitu bang
dan syukurnya masih jalan tuh,
panggilan aku bagi yg lebih tua adalah kasar konotasinya
ah ya, salam kenal
January 25th, 2010 at 1:10 am
@zee:
Halo juga kakak. Alhamdulillah kabarku baek-baek aja, cuma agak hectic sekali belakangan ini, dan jadi jarang update.
Kakak apa kabarnya?
@warm:
Disini sudah mulai banyak yang melupakan soal itu, dan tertular sinetron-sinetron gak mutu itu, bang. Yaa, mudah-mudahan gak keterusan lah..
Salam kenal juga dariku
January 25th, 2010 at 6:29 am
Kemarin sy datang tp krn buru2 g sempat baca bener2. Sorry ya brother, skrg pas balik lg, ternyata ini postingan yg menarik.
Saya sndr emg sering sebel dgn anak2 gaul skrg, gayanya itu loh sok tua bgt. Kagak liat2 dulu di About, main asal komen aja. Yg “mas” lah ato dgn gaya sok tuanya pake “lo” pulak. Si bodat itu memang hahahah.. Bukan gila hormat, tp spt katamu jg soal sopan santun, saya jg sdh terbiasa dgn hal itu. Jd aga ga terima dgn tingkah polah anak skrg. Syukurlah adik2 dan ponakan sy baik yg di Medan or Jkt budi pekertinya msh terjaga sama yg lebih tua. Memang depend on bgmn mereka dididik oleh orang tuanya.
January 25th, 2010 at 6:35 pm
first visit..
salam kenal dulu
*salaman*
horas bah!
March 1st, 2010 at 3:15 pm
ini yang ingin ditekankan kata GANTENG ya?
)
) *lempari @poetra pakai tulang sumsum, siram pakai es teh mandi*
March 1st, 2010 at 3:15 pm
eh, teh mandi maksudnya (ga pake es)
March 12th, 2010 at 11:33 pm
Ah, sama sekali tidak bermaksud begitu, nyonyah. Itu kan hanya pelengkap, bunga-bunga cerita agar lebih mudah dicerna (?)