Saturday, December 24th, 2005
Perkenalkan, nama panggilan saya Deo. Well, nama lengkap saya Deon Maxwell Plank, dan bagi kalian yang mengerti fisika, tentu akan tersenyum mendengar nama saya. Mungkin kalau ibu-ibu hamil biasanya ngidam mangga muda, ibu saya waktu sedang mengandung saya ngidam untuk ikut olimpiade Fisika.
Saya sebetulnya bukan Fisikawan, bahkan saya tidak kuliah di jurusan Fisika. Tapi saya suka dengan hal-hal baru, dan fisika kuantum menawarkan segalanya untuk saya.
Mungkin, beberapa dari anda sudah berkenalan dengan saya secara tidak langsung, bagi yang belum, mari kita berkenalan lagi. Nama saya Deo, kalau nama anda?
Baiklah, tidak usah basa-basi lagi ya. Saya ini sebetulnya orang yang sangat galau, mengalahkan galaunya seorang vokalis stereofoam yang terkenal sangat galau itu. Dan dari seluruh alasan kegalauan akan hidup ini, saya memilih yang paling sempurna; cinta.
Saya percaya bahwa tidak ada hal di dunia ini yang sempurna, dan tidak ada hal di dunia ini yang mutlak tunggal. Mencoba merujuk kepada konsep dualitas-nya Einstein walaupun dengan implementasi yang berbeda, semua hal memiliki lawannya masing-masing.
Begitu juga hati, begitu juga raga, begitu juga cahaya, begitu juga cinta.
Jika demikian, maka pilihan pun ada lawannya, jadi saya memilih untuk tidak memilih. Itu tidak salah kan? Karena tiba-tiba terkuak sebuah jawaban sederhana dari misteri yang begitu besar tentang alam semesta dan jagad raya ini.
Ternyata apa yang saya alami selama ini tidaklah mudah untuk dicerna, saya saja sulit mengerti, apalagi anda
Ternyata semua ini hanya fatamorgana, tak ada hal yang begitu nyata untuk bisa dipercaya, dan tak ada hal yang begitu mustahil untuk dapat dinafikan. Hidup ini harusnya dinikmati, bukan dijadikan benturan-benturan demi mengulangi teori big-bang yang tersohor itu.
Dan indahnya, teori big-bang itu sendiri dibentuk oleh 2 unsur. Materi, dan AntiMateri.
Begitu pula hidup ini, begitu banyak hal yang saya cintai. Tapi ada satu rutinitas yang saya paling tidak suka dalam hidup ini; tidur.
Memang, jumlah oksigen di otak akan menurun dengan drastis apabila kondisi tubuh sedang letih, lalu reflek mata akan terasa berat dan selanjutnya, menguap. Dan berbeda dengan hampir 99% seluruh ummat manusia yang menghuni bumi ini, ketika saya menguap saya tidak ingin untuk tidur, malah cenderung berusaha keras agar tetap terjaga, selama berhari-hari.
Sekedar informasi, rekor saya paling lama tidak tidur adalah 9 hari nonstop, tanpa tertidur sedetikpun. Rata-rata saya tidur 3 hari sekali, itupun kalau sudah terlalu banyak pikiran.
Saya benci tidur, karena di dalam mimpi saya memperoleh banyak jawaban. Jawaban yang selama ini saya cari, tentang dimana saya akan bisa berhenti berjalan, dan menikmati sisa hidup sambil sesekali menggubah beberapa bait puisi di pagi hari. Dan ternyata jawabannya terpampang jelas di dalam mimpi, bahwa tempat yang selama ini saya cari, ada di awal perjalanan.
Bukankah itu mengesalkan? Untuk apa berjalan jauh-jauh kalau akhirnya akan kembali lagi ke awalnya? Ataukah sebenarnya dari awal saya sudah tahu bahwa awal itulah yang akan menjadi akhir, tapi saya tidak mau mengakuinya? Itu bisa saja, karena toh saya sudah memilih untuk tidak memilih, bukan?
Ternyata, semua pertanyaan saya yang sangat kompleks tentang teori kosmik, paralelitas dimensi yang sebenarnya saling bersinggungan, dan –ini yang paling rumit dari semuanya– kemajemukan yang sebetulnya adalah tunggal, terangkum dalam sebuah jawaban sederhana..
Tepatnya, sebuah nama yang sangat sederhana.
Karena itulah saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya bermimpi tentang jawaban itu. Jawaban yang tidak pernah rasional jika dipikirkan bahkan jika dihitung dengan perkalian setingkat bilangan Quadrillion berkuadrat Quadrillion. Jawaban yang kelihatan sebesar alam semesta ini, tapi ternyata tak lebih besar dari unsur sub atomik paling kecil dengan satuan yocto. Jawaban yang batasnya tidak memiliki ambang, dan ambangnya tidak memiliki batas.
Sebegitu sulitnya kah untuk menerima cinta?
*** cukuplah sudah cinta ini dipaksakan,
*** nyatanya begitu nyata alurnya seperti ini..
*** betapa tidak adilnya mencoba untuk menafikan,
*** ketika kau begitu indah untuk dipahami…
***
*** tidak pernah sedetikpun aku tak mencoba,
*** mencoba memahami keindahan tanpa menjadi getir..
*** tapi ternyata apa yang ada tak pernah benar-benar ada,
*** sebagaimana butiran air di tengah gurun pasir…
***
*** sudah saatnya kita bisa mengerti,
*** bahwa cinta hanya bisa diterima dengan hati…
Maka lantas saya melatih otot-otot dan sistem saraf saya untuk melawan kodrat alam, seakan saya mengingkari bahwa raga ini milik Sang Maha Tunggal, yang ketetapanNya dituliskan dengan begitu anggun dengan penuh metafora –dan lagi-lagi dua hal yang berlawanan– matahari dan bulan.
Saya benci tidur, karena ketika saya tidur, saya memimpikan dia, dan saya menginginkannya untuk selamanya. Lalu dia akan selalu hadir di setiap depa dari seluruh jarak perjalanan saya.
Seumur hidup, percaya atau tidak, saya baru satu kali jatuh cinta. Dan celakanya, gadis ini tidak pernah mengerti kalau saya mencintainya. Saya memang tidak pernah bisa mengungkapkan kalau saya mencintainya, tidak pernah ada kesempatan, dan tidak pernah ada keberanian. Dan kini, sudah genap 8 tahun sejak pertama kali saya jatuh cinta dengannya, dan tetap, saya masih belum punya keberanian untuk menyatakan cinta saya kepadanya.
Bagi saya, cinta adalah sebuah konsep yang terlalu utopis untuk diwujudkan, karena tidak ada hal yang mutlak di dunia ini bukan? Begitu pula dengan cinta. Dan percayalah, dari semua kehilangan yang pernah dicatatkan dalam sejarah manusia, kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan.
Maka seumur hidup saya pula tak pernah berhenti belajar mengepakkan sayap, hanya untuk bisa terbang menembus awan dan melintasi jajaran bintang-bintang, lalu melesat secepat mungkin ke ujung semesta … hanya untuk melupakan cinta saya kepada seseorang yang nyaris sempurna, seorang Alifia Soraya.
Tapi jujur saja, bahkan di ujung semesta pun namanya masih terukir di jutaan bintang yang menghiasi angkasa raya. Lalu saya harus bagaimana?
Posted in pemimpi subuh | 18 Comments »
Thursday, September 22nd, 2005
Melambat dan terlihat blur di sekelilingnya..
dia ada di dalam dimensi itu.. dimensi dimana satu menit bukanlah 60 detik, dan dimana 1 detik bukanlah seper enampuluh milisekon.. dimensi orang-orang yang sedang jatuh cinta…
Gadis itu masih berdiri disana, dengan rambutnya yang berwarna burgundy gelap, memakai kaos biru muda polos dengan bawahan celana jins, terlihat begitu sesuai dengan kulitnya yang putih pucat.
Mata itu masih memandang kagum, bukan baru kali ini dia melihat gadis cantik.. tapi yang ini berbeda. Ada daya tarik tersendiri, seperti magnet yang menarik remah-remah besi..
Setiap jum’at sore dia selalu menghabiskan waktunya duduk di tempat yang sama, mengamati gadis yang sama, mendengarkan gadis itu bersenandung kecil menyanyikan lagu kesukaannya.. hari ini, adalah hari jum’at ke delapan.
‘aku pernah bermimpi tentang seorang bidadari.. rambutnya panjang bergelombang, suaranya indah, kulitnya halus.. aku tak dapat melihat wajahnya, tapi aku tahu dia cantik sekali..’ Dia menggumam pelan, sambil kembali menggoreskan penanya dibuku yang selalu dia bawa kemana-mana.
Dia memejamkan matanya, menundukkan kepalanya, ‘berbaliklah.. berbaliklah.. agar aku tahu kau memang indah..’ Dan seketika, gadis itu berpaling.
***
Dua bulan terakhir ini, setiap hari Jum’at sore agenda Cimi selalu sama; menemani Deo pergi ke Sabuga –sebuah arena olah raga yang paling lengkap di kota mereka. Setiap hari Jum’at juga, Cimi selalu mengeluh..
“Lo tu apa-apaan sih? ini udah minggu ke tujuh lo merhatiin cewek itu mulu.. cewek yang bahkan, untuk nanya namanya aja lo gak berani.. dah gitu mending kalo cake..”
“cim..” Deo menepuk bahu temannya itu, “ada saatnya nanti gue bakal ngajak dia kenalan.. nanti Cim..” lirih, dan hampir berbisik, “nanti..”
***
aku tahu, aku akan jatuh cinta kepadamu, sebelum aku berbincang denganmu, bahkan sebelum aku melihat cantik wajahmu..
aku tahu itu, karena setiap kali aku memandangmu, tubuh ini terasa bergetar.. mungkin, kau memang belahan rusuk ini..
mungkin..
lalu biarlah jika hati ini harus menunggu, seperti biasanya nasib jarang berpihak kepadaku.. walaupun harus mengambil masa delapan purnama..
biarlah, biarlah begitu…
Deo menutup bukunya, lalu melangkah pergi.
Posted in pemimpi subuh | 25 Comments »
Wednesday, January 12th, 2005
Deo uring-uringan, sudah 2 hari ini dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, otaknya penuh pertanyaan dan pernyataan. Permasalahan hubungan cinta dengan pacarnya saat ini jadi
issue paling besar dalam hidupnya..
Oh tidak, cinta lagi.. selalu cinta.
Ada apa sih sebetulnya dengan Deo? Apa yang jadi masalah sebenarnya?
Deo adalah tipikal orang yang punya kesibukan luar biasa, orang yang punya banyak sekali waktu untuk bekerja, sedikit waktu untuk beristirahat, dan hampir tidak ada waktu untuk yang lainnya. Inilah sebenarnya awal mula mengapa dia menjadi orang yang dingin dan sedikit anti-sosial dalam bergaul, bukan karena dia tidak memiliki keinginan untuk jadi “pengusaha gaul”, tapi sering kali, jika Deo sudah kurang istirahat, dia jadi gampang marah tanpa sebab yang pasti, maka dari itu, dia tidak ingin diganggu siapapun..
semua teman-teman dekatnya tau kebiasaan itu, maka jika instensitas Deo tersenyum hanyalah dua atau tiga kali dalam sehari, atau jika Deo hanya menjawab pertanyaan dengan singkat dan padat, maka tidak akan ada yang berani mengganggunya..
bad habit, yang berpengaruh buruk pula terhadap kehidupan cintanya..
Sudah beberapa hari ini, Deo sengaja menghindari Ayya.. dia terjebak dalam paradigma putusin-jangan-putusin-jangan walaupun kali ini tanpa menghitung kancing..
Di satu sisi, Ayya adalah gadis yang sangat baik, Ayya tidak pernah mengecewakannya, Ayya selalu ada jika dia butuhkan. Disisi lain, Deo tidak pernah bisa benar-benar jatuh cinta lagi kepada orang lain, karena sebenarnya, Deo masih belum bisa melupakan mimpi-mimpi masa lalunya..
Deo mengenal Ayya pada sebuah acara di Australia 6 bulan yang lalu, 2 bulan setelah terakhir kali dia bertemu dengan Fia. Saat itu Deo sedang menjajaki kemungkinan untuk melebarkan perusahaannya kesana, sementara Ayya sedang liburan. Saat itu Deo sedang mencoba melupakan Fia, sementara Ayya sudah lama single.
Deo sendiri sebetulnya waktu itu sedang tidak berusaha untuk mencari pengganti Fia di hatinya.. saat pertama kali bertemu dengan Ayya pun, Deo tidak merasakan sesuatu hal yang istimewa. Dan tiba-tiba waktu berjalan dengan sangat cepat, tanpa disadarinya, dia sudah berstatuskan “MILIK AYYA”.
Sebetulnya, 2 bulan pertama semuanya berjalan lancar, Deo mulai mencoba untuk menyayangi Ayya.. sampai akhirnya, Deo menyadari bahwa Ayya punya sifat keibuan yang sangat besar, sifat ngemong, Ayya harus tahu bagaimana kabar Deo setiap hari, Ayya yang over-protective kepada Deo.. dan hal itu agak sedikit mengusik Deo. Sampai akhirnya, Deo menyadari bahwa selama ini, dia suka kepada Ayya, dia menaruh hati kepada Ayya, dan Deo terlalu memaksakan untuk mencoba jatuh cinta kepada Ayya..
Dan hari ini dia sadar, dia gagal..
Deo mengambil organizernya, mencoba menulis sesuatu untuk Ayya..
Maafkan aku, kekasih hatiku..
Telah duakan cintamu dalam hatiku..
Meski tak didalam hariku..Sesungguhnya aku, masih belum bisa lupakan dia,
Yang telah lama kuharapkan kan jadi milikku..
Mungkin kau pun tahu..
Apalagi yang akan kukatakan,
Saat cinta tak mungkin kan bertahan,
Tak sanggup kusakiti kau lebih lama lagi..
Mencintaimu, tak lagi indah…
“Deo lagi nulis apa sih, sayang? aku ke toilet bentar yah..”
“ya udah, jangan lama-lama ya..” Deo dengan nada datar.
Deo terlarut lagi dalam lamunannya di sudut sebuah kafe di seputaran Kemang, ketika sayup-sayup Deo mendengarkan homeband kafe itu membawakan lagu milik The-Cure, lagu lama yang dia hafal benar,
Oh Elise, it doesn’t matter what you do,
I know I’ll never really get inside of you..
To make your eyes catch fire the way they should,
The way the blue could pull me in,
If they only would.. If they only would..At least I’d lose this sense of sensing something else
That hides away from me and you..
dulu Deo tidak pernah mengerti apa inti lagu itu, namun kini dia mengalaminya sendiri..
“Deo..? jalan yuk.. kemana yah enaknya? Nonton aja yuk, ‘TIGA JAKA CINTA’ kayaknya bagus deh..”
“duh sori, aku gak bisa.. Aku harus nyiapin presentasi, ntar malem aku harus meeting..”
“tuh kaaaan, Deo sih sekarang gitu, sombong ih..”
“bukannya sombong, tapi aku beneran harus meeting ntar malam.. lain kali aja ya?”
“tapi ntar mau kan jalan ama Ery lagi..?”
“yaaa, kita liat ntar aja yah..”
Deo memanggil waiters, meminta bill.
Baru sesaat mereka beranjak dari mejanya, seorang pria berbadan kekar datang mendekati mereka berdua..
“Ery??”
“umm, siapa ya?”
“Hendry kan? Duuuuh, kemandang ajijah neeek, sombong deh yey sekarang yah.. mentang-mentang ada lekong cucok baru, lupita deh ama eike… kita pernah ketemu di salon JUWITA 2 minggu yang lalu, inget nggak?”
“Yaaa ampuuun.. Desi? Duuuuh, maap yah weitjeh, akika lupita bendera nek.. apa kabar sekarang? Makin cucok aja deh yey.. mwah.. mwah.” Ery menyalaminya dan mencium pipi kanan-kiri dengan gaya yang khas.
“uwwww, sapipa nih neeek lekongnya, cucok bambang siiih..”
Deo tersenyum simpul, “Ry, aku duluan yah..”
“iya deh, ntar tele-tele Ery yah..”
“daaah ganteeeeng..” Desi dengan tatapan nakal.
GLOSSARY:
- kemandang ajijah = kemana aja
- yey = kamu / eike-akika = aku
- lekong cucok = cowok ganteng
- lupita = lupa
- akika lupita bendera = aku lupa beneran
- sapipa = siapa
- cucok bambang = ganteng banget
- tele-tele = telepon-telepon
CATATAN PENULIS:
bener kata temen-temen yang laen, part 1 kemaren masih kosong banget, emang susah ternyata untuk motong-motong isi dari chapter yang sebetulnya satu cerita.. I’m working on it, guys 
actually, I’ve been working a lot untuk nulis buku kumpulan puisi, nah, ga tau kenapa sekarang banting setir mo nulis cerita, I know it’s difficult, tapi doain mudah2an bisa yah
catatan si Syeo (alter ke 3 di dalam badan si poetra)
let me tell you something, kadang2 si poetra tuh khayalannya terlalu banyak, mimpinya juga terlalu banyak, dia bahkan gak pernah bisa nulis cerpen, sekarang mau nulis novel?? hehehe..
Posted in i-learning, pemimpi subuh | No Comments »
Monday, January 10th, 2005
Ada kalanya, dia bahkan tidak bisa mengerti kenapa dia terlahir di dunia ini.. ada terlalu banyak pertanyaan dalam otaknya; tentang Tuhan, tentang hidup, tentang kematian, tentang dimensi paralel ketiga, tentang teori kosmik, tapi kebanyakan, tentang cinta..
Besar di keluarga yang broken home, membuat seorang Deo banyak mencicipi pengetahuan dari jalanan.. yah, dia pernah menjadi pengamen, pernah tidur di emperan toko, pernah jualan makanan kecil.. bukan karena dia tidak memiliki uang, tapi karena dia muak dengan hedonisme..
Sekarang, Deo sudah banyak berubah.. umur yang sudah masuk ke 25 tahun, pengusaha sukses, orang yang lumayan dipandang di dunia per-enterpreneur-an.. tetap single karena tidak percaya dengan hubungan serius.. trauma berat masa lalu, hampir memasukkan Deo ke kalangan apatis cinta, masih untung dia tidak memvonis dirinya frigid.
hari ini, 29 januari 2008, jam 16:47 WIB, Deo bertemu lagi dengan cinta masa lalunya.. wanita yang selama 4 tahun belakangan dia jadikan sumber inspirasinya.. and so the story begin…
(di sebuah gedung milik salah satu operator GSM…)
Deo sedang berbicara dengan salah seorang costumer service, saat ketika secara tiba-tiba Deo terlepar ke dimensi paralel ke 4, dimensi dimana satu kali rotasi bumi mengelilingi matahari bukanlah 365 hari, tapi 1000 tahun. Dimensi tersendiri untuk orang-orang yang jatuh cinta.. dimensi slow-motion..
“Fff.. Fia..?” Deo, memberanikan diri.
“ummm…” yang dipanggil menyipitkan mata, mencoba mengenali. “Deo…?”
Tatapan mata itu, membawa Deo kembali terlempar ke masa lalu.. tepatnya pertengahan tahun 2004..
adalah seorang Alifia Najwa Azzahra; seorang gadis cantik berkulit putih, berambut panjang, bersuara merdu, yang membuat Deo meng-capture kembali semua gadis-gadis paling cantik-baik-manis yang pernah dia kenal, membandingkan satu persatu, dan kemudian men-delete semuanya kembali.. tak ada yang sanggup menandingi yang ini.
“Yo..? Deo..?” Fia, sambil bengong di hadapannya.
“eh sori, sampe dimana kita tadi?” Deo, sambil salah tingkah.
“sampe di bagian kamu manggil Fia.. kamu baek-baek aja kan Yo?” Fia, makin bingung.
“oh iya, sampe disitu ya? sori … udah makan belom, Fi?” Deo, makin salah tingkah, dan mencoba mengalihkan topik.
24 menit, 2 cangkir kopi, dan 2 piring nasi goreng kemudian…
“so, setelah jadi pengusaha sukses, jadi ikon dunia enterpreneur, kapan mo married Yo..?” Fia, tampang ceria.
“eh..? married? pacar aja ga punya..” Deo, tampang datar.
“jadi gay?” Fia, tampang curiga.
“heee? ya nggak lah…” Deo, tampang defensif.
“hampir Fi.. hampir saja..” Deo membatin.
“terus kenapa donk? emang nggak ada lagi cewek tipe kamu di dunia ini?” Fia, masih tampang curiga.
“sibuk kerja Fi, gak sempat mikirin cinta..” Deo, tampang datar.
“kalo aja ada yang lebih sempurna dari kamu, mungkin aku mau Fi..”
“pulang yuk.. kamu mau nganterin Fia nggak?” Fia, tampang memelas-manja.
“apa sih yang nggak untuk kamu…” Deo, dengan kalimat paling gombal sedunia.
“good job, Deo! mari kita lagi luka hati yang dulu”
Deo dan Fia, di dalam mobil, di depan rumah Fia…
“makasih ya mo nganterin Fia.. makasih juga untuk traktiran dan ngobrolnya di kafe tadi..”
“as I’ve told you, apa sih yang nggak kalo untuk kamu, Fi…” diam sebentar.
“Fi, besok ada acara nggak? nonton yuk..” dengan tatapan penuh harap sambil membatin,
“nice, expectation of a date is the perfect sweet suicide for you, deo!”
“apa sih yang nggak untuk Deo…”
Deo mulai merasakan sesak di dada, mulai mengharapkan cinta Fia lagi. Deo membuka organizernya, menuliskan beberapa kalimat disana,
kau adalah tetap yang terbaik selamanya,
dari dulu hingga sekarang..
tak pernah ada yang berubah..aku tuliskan untukmu satu kisah setiap hari,
kisah bagaimana aku merindukanmu,
kisah bagaimana aku mencintaimu,
kisah bagaimana aku mengharapkanmu…
untukmu,
akan kupetik 1000 bintang,
akan kujadikan penghias rambutmu..
akan kubawakan kau rembulan,
untuk penerang tidur malammu…
DEO
Beberapa minggu dan beberapa film kemudian, Fia tiba-tiba menghilang.. Telepon Deo tidak pernah diangkat, sms tidak pernah berbalas, dan Deo cukup sadar diri untuk tidak datang ke kantor Fia. Sadar akan kapasitasnya yang bukan siapa-siapa di dalam hidup Fia.
Deo hidup dalam kebingungan, tak tahu harus bagaimana lagi.. dia sudah terlanjur jatuh cinta lagi kepada Fia.. dan kini, haruskah dia mulai membuang rasa itu lagi? dan kalau sudah dalam keadaan penuh pertanyaan begini, Deo pasti akan berjalan kaki sendirian, tak ingin diganggu, HP di silent mode.
dan tanpa dia sadari, HP itu terjatuh.. Deo masih dalam lamunan.
FIA
Sehari setelah bertemu Deo, Fia merasa takut; takut akan jatuh cinta lagi, takut akan disakiti lagi, takut untuk percaya kepada makhluk yang bernama laki-laki..
sehari setelah bertemu Deo, Fia menyadari dia banyak berubah.
Fia yang biasanya rockband-groupies sejati, secara tiba-tiba berubah menjadi pencinta lagu-lagu mellow..
Fia tiba-tiba menjadi peduli jika berat badannya naik 2Kg.
Fia yang biasanya lincah, tiba-tiba sering melamun..
if ever you wonder,
if you touch my soul, yes you do..
since i met you im not the same,
you bring life in everything i do..just the way you say hello,
with one touch, i can’t let go..
never thought i have fallen in love with you..
….
the magic in your eyes, true love I can’t deny..
when you hold me, I just loose control..
I want you to know that i’m never letting go..
you mean so much to me, I want the world to see..
it’s because of you…..
Fia tersentak dari lamunan, matanya menerawang jauh, mencoba mengingat apa alasannya dia tidak pernah membalas sms dan telepon Deo.. Fia tidak bisa menemukan alasan yang jelas.
“mungkin aja Deo berbeda dari cowok-cowok laen.. mungkin aja Deo itu setia.. mungkin aja Deo bisa nyayangin Fia sepenuh hati.. Deo dari dulu baek banget, tapi, apa Deo gak pernah suka ama Fia yah?”
Fia menyadari Deo kini berarti untuknya..
Fia mengambil HPnya, mengetik pesan singkat:
‘Deo lagi sibuk nggak hari ini? kita jalan yuk..’
1 menit.. 2 menit.. 5 menit.. 20 menit.. 1 jam..
Fia membuat prejudice sendiri untuk menenangkan dirinya,
“mungkin aja dia lagi meeting..”
2 jam.. 2 jam 15 menit.. 3 jam 10 menit..
Fia tertunduk lesu, mematikan HPnya.. Fia membuat prejudice kedua,
“mungkin aja, Deo memang nggak pernah suka ama Fia..”
satu hari kemudian…
Deo baru sadar HPnya hilang, tapi apalah artinya, dia bahkan bisa membeli seisi toko HP dengan gampang..
apalah artinya, jika dibandingkan dengan Fia yang tiba-tiba menghilang..
Kosong, hampa, tidak ada semangat.. Deo tidak akan masuk kantor hari ini.. dia lebih memilih diam di kamarnya, melamun dengan satu-satunya lagu yang mengalun terus menerus dari komputernya,
I never asked for this feeling
I never thought I would fall..
I never knew how I felt,
till the day you were gone, I was lost…..
Oh I miss you so much,
I long for your love..
It’s scares me, Coz my heart gets so weak,
that I can’t even breathe..
How can you take things so easily,
baby why aren’t you missing me?
TLC – I miss you
TO BE CONTINUED…..
NB: (Note Book a.k.a Naporlu Botohon)
cerita ini adalah part dari salah satu chapter draft Novel yang lagi coba-coba aku tulis.. jadi kepengen nulis novel (kepengennya)
tapi masih belajar, maklum, bukan penulis cerita yang baik
akhirnya, satu pantun dari penulis..
“bunga anggrek bunga melati, cerita jelek jgn dicaci” ^_^
Posted in i-learning, pemimpi subuh | No Comments »