Putra Nasution

Archive for the ‘pemimpi subuh’ Category

Dan kita bermain api,

Thursday, July 24th, 2008

“Halo..”

Sunyi dan kosong merebak menyesakkan dada, hanya tercemari dengan sedikit desis blower Air Conditioner yang diset pada suhu 19 derajat celcius.

“Halo..” Sekali lagi suara itu terdengar, mencoba memecahkan badai di hatinya.

“Aku rindu sekali, ingin bertemu kamu..”

Aretha Franklin seolah mengiringi ucapan yang menggantung itu, mencoba mengkonfrontasi kebekuan yang menggetarkan perasaan. Lelaki itu pun berharap suara diseberang sana yang menyanyikan “I Say A Little Pray For You” untuknya.

The moment I wake up
Before I put on my makeup
I say a little pray for you
While combing my hair now,
And wondering what dress to wear now,
I say a little prayer for you

“Aku juga rindu sekali, dan sangat ingin bertemu.”

(more…)

 

Melambaikan Tangan Dan Melangkah Pergi

Monday, April 7th, 2008

Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya.

Sudah tiga hari pula ia tak berinteraksi dengan manusia nyata. Mungkin tidak sepenuhnya tiga hari, jika menjawab salam mbak Nani –asisten rumah tangganya– yang baru saja tiba, terhitung sebagai interaksi sosial langsung. Selebihnya, ia lebih banyak berdiam diri, dan menutup rapat-rapat telinganya sambil mendengarkan lagi-lagu yang menggambarkan perasaan hatinya.

Tepat ketika JA Verdianto menyanyikan “Hanya tinggal kita berdua”, sms tersebut masuk ke telepon genggamnya. Dilihatnya jam di dinding, sambil menghela nafas berat. Sms tersebut dikirim empat jam yang lalu, dan baru ia terima saat ini. Betapa operator telekomunikasi saat ini tidak mengenal lagi istilah customer satisfaction, hanya atas nama menyedot pelanggan sebanyak-banyaknya dengan tarif yang menyesatkan.

Namun seketika matanya terpaku kepada beberapa baris kalimat yang tertera di layar. Kekesalannya tidak lagi tertuju kepada operator, dan sejujurnya ia tak tahu harus kesal kepada siapa. Dibacanya lagi kata demi kata yang ditujukan kepadanya tersebut berulang kali, berharap ia salah membaca. Atau jika dibaca berkali-kali, mungkin kalimat tersebut akan berubah makna. Tapi tidak, kalimat itu tetap sama… (more…)

 

euphoria

Tuesday, July 4th, 2006

Gelisah dan menatapi langit-langit kamar dengan gamang. Selama satu jam dia telah mencoba untuk tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Jangankan tertidur, mengantukpun tidak. Ditekannya tombol power laptopnya yang sedari tadi malam aktif dalam mode suspend.

Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Tapi dia acuhkan, walaupun suara-suara yang terdengar mengalahkan suara yang mengalun sayup-sayup dari LCD TV 29 inch yang menggantung di pojok kamar tidurnya. Terdengar disana statement Steve Jobs yang sedang diwawancara di Bloomberg, yang kemudian disambut gelak tawa ketika dia ditanyakan soal kemiripan GUI Windows Vista dan Mac.

Tapi tetap, dia tak tertarik. Perhatiannya kembali tertuju ke layar laptop yang kini menunjukkan halaman hitam polos dengan beberapa baris teks. Tak sampai 2 detik, jari-jari itu mengetik, sudo alva, dan lalu password–yang urung diganti selama 2 tahun; deardea.

(more…)

 

Je t’aime, mon amour (part 1)…

Sunday, January 1st, 2006

HALAMAN PARKIR PLAZA MEDAN RAYA, tepat 5 menit setelah hitung mundur selesai tidak jauh berbeda dengan kebanyakan tempat lainnya di seluruh Indonesia dan mungkin di seluruh dunia, masih penuh sesak diisi oleh anak-anak muda yang sedang menikmati suasana pergantian tahun yang meriah.

Di langit malam Medan masih berpendar cahaya dari pecahan kembang api yang berwarna-warni yang bermacam bentuk. Suara terompet masih terdengar dimana-mana, seakan mengiringi hentakan musik rock dari panggung sebelah timur gerbang. Sedemikian bersatunya irama yang tercipta, sehingga dari jauh terdengar seakan-akan yang beraksi di atas panggung adalah band ska.

Semua orang merasakan semangat dan aura yang tersebar, aura tahun baru. Semuanya, kecuali dua orang yang terlihat sedang bertengkar.

“Lebih baik sekarang kamu jujur sama aku Roy,” gadis itu terisak sambil menyeka air matanya, “kamu memang pacaran sama dia kan?”

“Kenapa kamu lebih percaya sama orang sih dari pada pacar kamu sendiri? Aku nggak habis pi–”

“orang lain kata kamu?” Sorot mata gadis itu tiba-tiba menajam, “ORANG LAIN?? Aku mergokin kamu jalan sama dia di 21 Roy!!”

Sontak raut muka laki-laki yang dipanggil Roy itu berubah. Dia sama sekali tidak menyangka kalimat itulah yang akan keluar. “Tapi Fi … aku sama dia cuman temenan aja kok, kamu gak boleh berprasangka buruk begi–”

“Emang temen pelukan kalo lagi ngantri tiket Roy? Emang temen itu saling mencium satu sama lain? Emang temen..” Gadis itu tidak sanggup meneruskan kalimatnya, “..emang temen masuk ke hotel berdua??” Fia tenggelam dalam tangis. Walaupun rambutnya yang panjang menutupi wajah karena sedang menunduk, tapi isak tangisnya terdengar begitu jelas.

Roy terlihat serba salah. Dia merangkul gadis disampingnya perlahan –seolah-olah yang disebelahnya adalah granat yang siap meledak begitu salah sentuh, tapi gadis itu terlihat tak perduli.

~~~~~~~~

Deo mengajak Fia makan siang di Kafe Air Mancur yang terletak di lantai 5 Plaza Cahaya. Sebetulnya, ada satu lagi cabang kafe ini, masih di dalam kompleks plaza yang sama. Hanya saja, tempatnya terlalu kecil, dan sekelilingnya hanya ditutupi oleh kaca yang tembus pandang. Kurang privasi, begitu Deo menganggapnya.

Sayap timur kafe itu terlihat sepi, hanya ada Deo dan Fia yang duduk di pinggir jendela. Deo selalu menyukai kafe ini –khususnya meja yang sedang ia duduki, karena dari jendela dia bisa melihat jalan Gatot Subroto dari atas. Dan tentunya yang paling utama, karena Fia tergila-gila pada es krim kafe ini.

“Kenapa sih Deo masih nunggu Fia? padahal kan Fia udah nyakitin Deo?”

Nyakitin? Emangnya Fia nyakitin Deo?” Yang ditanya memandang bingung.

“Maksudnya Fia, kan Fia nggak pernah bisa ngebalas cintanya Deo. Terus, ya … yang dulu-dulu itu deh Yo…” Fia memainkan ujung rambutnya.

Deo mengerti apa yang dimaksudkan gadis itu. Sesaat, dia terbawa dalam lamunannya.

Ketika itu Jakarta sedang macet, maklumlah, jam pulang kantor. Deo terjebak macet di daerah Sarinah. Sembari menunggu, dia membaca materi presentasi untuk persiapan R U P S minggu depan. Bahkan disaat office boy pun libur, aku masih harus tetap bekerja di kantor besok, Deo memaki dalam hati. Betapa awal tahun yang sempurna.

Saat dia sedang mengoreksi materi presentasinya itu, tiba-tiba sebuah S M S masuk, dan wajahnya langsung berubah.

Deo lagi ngapain? Fia lagi sedih. Ken selingkuh ama cewek lain.
Yo, Fia gak tau harus ngapain.. Fia……
sender:
Dream (+6281120021984)

Refleks setelah membaca S M S dari tersebut, dia langsung berusaha menelpon Fia. Sial, mailbox! Deo mengumpat.

Konsentrasinya buyar. Dari belakang mobilnya terdengar suara klakson dan orang yang memaki. Perlu 3 detik sampai Deo akhirnya mengambil keputusan dan akhirnya menginjak pedal gasnya. Hanya ada satu tempat yang ada di pikirannya. Bandara.

Sesampainya di bandara, Deo langsung bergegas membeli tiket pesawat. Tak dihiraukannya lagi suasana yang sangat ramai di sekelilingnya, pikirannya hanya tertuju pada satu hal. Biasanya Deo selalu menikmati saat-saat setelah check-in, sambil melepas lelah. Tapi tidak kali ini, seluruh proses yang harus dilewatinya terasa begitu menyiksa.

Sesampainya di Bandara Polonia, waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Deo langsung menghubungi rumah Fia, dan ternyata persis seperti dugaannya, yang menjawab telepon adalah mamanya Fia. Setelah menutup flip handphone-nya, tanpa banyak berpikir Deo langsung masuk ke dalam taksi.

“Plaza Medan Raya, pak! Tolong cepat ya!”

Sepanjang jalan Gatot Subroto macet total, taksi yang ditumpangi Deo terhenti di sebuah menara jam besar di depan Yumi Plaza, tepat di simpang lima Glugur. Deo akhirnya memutuskan untuk turun dan berlari menerobos kerumunan orang.

Begitu tiba di halaman Plaza Medan Raya, Deo melihat lautan manusia. Dia tak tahu harus melangkah kemana untuk mencari Fia. Dalam kebingungannya, Deo memejamkan matanya. Dan entah bagaimana, ada semacam kekuatan yang mengarahkannya.

Hatinya bergetar, tak jauh di depannya dia bisa melihat Fia. Dia berjalan untuk mendekati Fia, tapi tiba-tiba, persendian lututnya terasa lemas, kakinya tak dapat bergerak. Seorang laki-laki memeluk gadis pujaannya, di depan matanya.

“Yo! Deo!” Suara Fia menyadarkan Deo dari lamunannya. “Aah, tu kaan, Fia ngomong gak didengerin … BT ah,” Fia merungut, “lagi ngelamunin apa sih?”

“Hehehe, nggak kok … Fia nanya apa tadi?” Deo mendehem.

“Duuuh, Fia nanya, setelah apa yang Fia lakukan ama Deo,” gadis itu menunduk, “kenapa Deo masih nungguin Fia?” Suaranya terdengar lirih.

“Deo nggak tau Fi … mungkin,” Deo menarik nafas dalam, “karena Deo nggak pernah bisa ngelupain Fia.”

Sunyi.

“Tapi Yo, apa Fia memang bener-bener … pantas untuk ditunggu?” Fia menyeruput ice cappucino-nya. “Gimana kalo ternyata Fia nggak pantas untuk ditunggu?”

“Berarti, gak ada wanita lain juga yang pantas untuk Deo perjuangkan. Dan mungkin, udah sepatutnya Deo hidup selibat aja.” Deo menatap wajah Fia dalam-dalam. Fia menunduk malu.

Deo mengeluarkan selembar kertas, dan meletakkannya di atas meja. Wajah Fia terlihat bingung, tapi dengan penasaran dibukanya juga lipatan kertas tadi. Sebuah puisi! Fia terkesiap. Dia membacanya perlahan.

suatu malam yang kuingat jelas,
aku sedang memandangi langit malam
menunggu bintang jatuh,
mencuri-curi saat untuk membuat sebuah permintaan

lalu aku melihatmu……

bayanganmu berpendar sejuta warna.
kau melesat secepat mahacahaya..

berliuk indah dengan penuh keanggunan,
menukik dengan sempurna..
lalu pecah menjadi jutaan titik kecil,
melukis langit dalam waktu beberapa detik.
dan seisi jagad raya terpana…

saat itu, aku melihatmu dimana-mana.

malam itu, aku jatuh cinta….

“Tuhan, aku ingin hidup dengannya..” hatiku yang berkata.

malam itu, 329 hari yang lalu.
dan hingga kini, tak ada yang berubah dalam setiap doa malamku…

Je t’aime, mon amour… toujours….

Deo terlihat seperti menunggu sebuah jawaban. Namun Fia diam saja, lama sekali. Sesaat kemudian, bibirnya tersenyum. Pipinya memerah.

Sunyi lagi. Diam berbahasa.

(to be continued………)

 

At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia developer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

 

Twittered

  • This one is interesting, hmm :) - "Kolusi Mafia Minyak & Penguasa" by @TrioMacan2000 - http://t.co/WvlzeONR 2 days ago
  • @nuniek ya kan, mbak, lebih kena gitu "feeling" lagunya, hehe. Iya sih, tapi dulu kita juga bertebaran kok, hihi. Masiiih, masih di Medan :) 3 days ago
  • @nuniek waktu itu aku nyanyi versi TBK-nya di gathnas @blogbugs. Ah kan jadi kangen lagi. Ayo dong gathnas lagi :( 3 days ago
  • @venustweets sebagai direktris salah satu ahensi simbok pastinya banyak proyek dooong ;)) 3 days ago
  • *melirik dengan sayu kepada simbok @venustweets sambil nyeruput kopi* Mbok, bagi proyek dong, Mbok <(^_^)> 3 days ago
  • @aprian @supercluster kalau VPS sih gue, kasusnya misalnya ada web yang sering kena "tendang" krn makan resource shared hosting. Kasian :D 3 days ago
  • @aprian @supercluster kalau kasusnya hosting web, maka kadang kebutuhan bandwidth gak berbanding lurus dgn space, jadi cloud lebih untung :) 3 days ago
  • @aprian @supercluster IMHO sih tergantung kebutuhan untuk aksesibilitas, konsumsi resource dan kebutuhan deployment :) 3 days ago
  • Setelah baca2 di http://t.co/nvOHLooM ternyata layanan #XCloud lengkap banget; mulai IaaS, PaaS, dan SaaS, untuk korporat / personal. Wow! 3 days ago
  • Baru saja posting di http://t.co/K2HUHArL: http://t.co/eKDFzZnQ 3 days ago
  • @aprian @supercluster iya sih, kembali lagi ke kebutuhan kita. Kalau VPS dirasa cukup, dan maintain sendiri semuanya, enakan gitu juga :) 3 days ago
  • @supercluster @aprian pernah kejadian gitu, niatnya mau hemat pake remote host database, malah biaya aksesnya yang melunjak :)) 3 days ago
  • @supercluster @aprian heuheu, iya, jadi makanya kalau custom setup harus bener-bener maksimal dan optimal kan, kang? :) 3 days ago
  • @aprian eh subyektif nggak sih itu namanya? Hahaha #jadigayakingini 3 days ago
  • @aprian maksud gue, kalau kita bandingkan kualitas conventional hosting dengan cloud hosting, parameternya kan banyak, sesuai kebutuhan :) 3 days ago
  • @aprian nah itu dia, jawabannya gak mutlak jadinya kan? Kalau yang hobi ngoprek, opensource pasti menang. Proprietary "fans" juga gitu :D 3 days ago
  • @venustweets c i h. #ngunyahjahe 3 days ago
  • @supercluster @aprian lah kok jadi layanan pers, kang? Hihihi 3 days ago
  • @aprian maksudnya, subyektif seperti halnya kita lagi ngomongin soal OS mana yang paling bagus, pri :P 3 days ago
  • Dan bicara soal Cloud, XL sepertinya paling siap dengan #XCloud bekerjasama dgn top vendor seperti IBM, Huawei, Microsoft, Fujitsu. Wuih. 3 days ago
  • More updates...

 

Blog ini terverifikasi di Salingsilang

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Flickr

[Billboard Di Lampu Merah] - Siapa yang baca?Raja-Ratu Mandailing Godang :D20112011I've seen him and this sign twice. Maybe someday I'll stop him and ask for the background story :)111098654312matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motion

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

All content and design by Ilham Syahputra Nst - Copyright © 2001 - 2012