<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poetra Nasution - Pemimpi Yang Kurang Tidur &#187; pemimpi subuh</title>
	<atom:link href="http://ipoet.net/category/sang-pemimpi-subuh/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ipoet.net</link>
	<description>Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 11:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Surat Untuk Cucu Anakku&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/surat-untuk-cucu-anakku/</link>
		<comments>http://ipoet.net/surat-untuk-cucu-anakku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2012 05:34:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=616</guid>
		<description><![CDATA[Ketika engkau membaca surat ini, berarti malam ini jantungmu sedang berdenyut tak menentu, karena besok kau akan menikahi orang yang engkau cintai setengah mati. Mungkin kakek tidak akan bisa secara langsung memberikan petuah pernikahan, atau nasehat tentang bagaimana kau dan pujaan hatimu sebaiknya menjalani kehidupan kalian. Untuk itulah kakek menuliskan surat ini, sebagai ucapan selamat, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ketika engkau membaca surat ini, berarti malam ini jantungmu sedang berdenyut tak menentu, karena besok kau akan menikahi orang yang engkau cintai setengah mati. Mungkin kakek tidak akan bisa secara langsung memberikan petuah pernikahan, atau nasehat tentang bagaimana kau dan pujaan hatimu sebaiknya menjalani kehidupan kalian. Untuk itulah kakek menuliskan surat ini, sebagai ucapan selamat, permintaan maaf sekaligus sebagai sebuah wasiat.</p>
<p><a href="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2012/01/old_letters.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-651" title="Surat Untuk Cucu Anakku (photo courtessy of: J Andersen via www.sxh.hu)" src="http://ipoet.net/wp-content/uploads/2012/01/old_letters.jpg" alt="" width="450" height="338" /></a></p>
<p><span id="more-616"></span></p>
<p>Cucuku tersayang, karena saat ini kau sedang bersiap untuk menempuh bahtera baru dalam hidupmu, maka aku ingin menceritakan tentang sesuatu, sebagai kenangan bagimu, juga sebagai nasehat sekaligus pengalaman agar kau bisa belajar dari sejarah.</p>
<p>Bahwa negaramu ini dulu adalah negara yang kaya raya, kau mungkin sudah pernah mendengar. Pernah ada masanya terkubur beratus juta barel minyak mentah, bermilyar gram emas, dan ratusan jenis sumber daya alam lainnya yang terpendam di dalam tanah yang sangat subur, yang membentang dari Sabang sampai Merauke. Masa itu telah lewat, dan generasimu tak lagi bisa merasakan manfaatnya ataupun membanggakannya.</p>
<p>Bahwa dulu negerimu ini pernah dikenal sebagai salah satu bangsa yang paling ramah, suka bergotong-royong dan tolong menolong, dan memiliki toleransi yang sangat tinggi, kau juga mungkin sudah mendengar. Para pendiri negara ini telah mentahbiskannya dalam sebuah semboyan yang kala itu mewakili doa dan semangat kemerdekaan: Bhinneka Tunggal Ika, walaupun berbeda-beda, tetap satu jua. Masa itu pun mungkin telah lewat, dan butuh puluhan tahun untuk membangkitkan kembali semangat itu.</p>
<p>Bahwa pernah ada kalanya tanah airmu ini pernah dikenal dengan kebudayaan dan kesantunannya, kau mungkin samar mengingat dongeng itu dalam pelajaranmu di sekolah dasar dulu. Beratus jenis bahasa daerah, beribu jenis tarian dan adat budaya pernah bersemayam di tanah ibu pertiwi ini, beratus ribu kekayaan yang tak ternilai dari mulai corak, syair lagu, gurindam, hingga resep makanan juga pernah dimiliki nenek moyangmu yang terkenal sangat santun. Warisan ini mungkin tak pernah sampai ke tangan generasimu, tak pula ada dokumentasi yang merekamnya untuk kau pelajari.</p>
<p>Cucuku tersayang, aku mungkin meninggalkan untuk ayahmu, saudaramu dan keluarga besar kita sebuah imperium bisnis yang besar, tapi itu bukanlah warisan yang sesungguhnya, yang sebenarnya. Karena apalah artinya hidup berlimpah harta jika tak bisa menikmatinya, apalah artinya memiliki banyak uang jika didapatkan dengan tidak memperdulikan alam dan kehidupan. Apalah artinya hidup yang senang, dikelilingi orang-orang yang menderita.</p>
<p>Maka di hari bahagiamu ini, izinkan aku meminta maaf atas nama generasiku, yang tidak menyadari bahwa akan ada konsekuensi sedemikian berat yang harus ditanggung karena ketamakan dan ketidakperdulian kami. Jika aku bisa memutar waktu dan mengulangnya kembali, sepenuh hati akan kuupayakan untuk mencegahnya, walau mungkin hampir sia-sia.</p>
<div class="bigquote">&#8220;Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain&#8221;</div>
<p>Melalui surat ini kuucapkan selamat berbahagia dan selamat menjalani babak baru dalam kehidupanmu. Dan kuwariskan satu petuah yang diwariskan juga turun-temurun kepadaku, bahwa, <strong>sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain</strong>. Jadikan itu pegangan hidupmu, dan aku yakin kau akan bahagia selama-lamanya.</p>
<p>Dengan segala kerinduan dan kasih sayang,</p>
<p>Kakek ayahmu.</p>
<p><em>PS: Dulu, manusia bisa bernafas dengan bebas tanpa harus menggunakan masker oksigen dan bisa berjalan-jalan dengan bebas tanpa khawatir radiasi sinar matahari. Tapi mungkin akan kakek ceritakan lain waktu <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/surat-untuk-cucu-anakku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dear, September..</title>
		<link>http://ipoet.net/dear-september/</link>
		<comments>http://ipoet.net/dear-september/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Mar 2010 16:34:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>
		<category><![CDATA[curhat sepihak]]></category>
		<category><![CDATA[imajiner]]></category>
		<category><![CDATA[kamuflase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=472</guid>
		<description><![CDATA[Aku rindu sekali ingin menulis lagi, bercerita tentang apapun seperti dulu, mendeskripsikan dunia melalui mata seorang pendosa yang merindukan surga seperti aku ini. Tapi kau tentu tahu, semenjak aku kehilangan dia, aku juga kehilangan satu-satunya sumber inspirasiku. September, terlalu berlebihan kalau aku katakan kau bisa menggantikan dia sebagai sumber inspirasiku. Tapi aku harus mengakui bahwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku rindu sekali ingin menulis lagi, bercerita tentang apapun seperti dulu, mendeskripsikan dunia melalui mata seorang pendosa yang merindukan surga seperti aku ini. Tapi kau tentu tahu, semenjak aku kehilangan dia, aku juga kehilangan satu-satunya sumber inspirasiku.</p>
<p>September, terlalu berlebihan kalau aku katakan kau bisa menggantikan dia sebagai sumber inspirasiku. Tapi aku harus mengakui bahwa ketika aku bertemu dengan kamu, aku seperti mendapatkan cahaya baru dalam kegelapan yang mengelilingiku. Tak perlu terang benderang seperti dia dahulu, hanya sekedar cahaya temaram untuk dapat membaca situasi pun aku sudah bersyukur. Aku bersyukur bisa berkenalan dengan kamu.</p>
<p><span id="more-472"></span> Tapi, September, mengapa aku harus berbagi cahaya temaram itu lagi dengan orang lain? Yah, aku tahu, lelakimu itu memang telah mengikatmu dengan ketulusan cukup lama, membanjirimu dengan jutaan senyuman dan bahagia. Aku tahu itu penting, dan karenanya pun aku sekarang hanya akan menunggu.</p>
<p>September, setibanya di bandara waktu itu aku pernah menulis, bahwa dua tahun lagi aku akan merebut hatimu di kotamu &#8211;yang aku benci itu; baik dengan mudah atau harus berdarah-darah. Kau tentu tak tahu, kalau aku sedang berencana menaklukkan kota itu hanya untuk mencuri perhatianmu. Tapi memang tak perlu lah kau tahu itu&#8230;</p>
<p>September, aku ini lelaki yang diburu waktu, tapi tak cukup berani untuk berterus-terang mengatakan bahwa kau sudah menyita sedikit waktuku, sesekali hadir dan memberi warna dalam bunga tidurku yang biasanya hitam putih. Seandainya saja ada alat yang bisa mencetak bayangan-bayangan kenangan, ilusi dan mimpiku, tentu aku akan paketkan ke rumahmu agar kau mengerti dan tak menganggap aku hanya membual.</p>
<p>Aku tahu, September, kau pasti akan tertawa terbahak-bahak sambil tersedak jika aku katakan aku punya hati untukmu, dan kau pasti akan bertanya bagaimana bisa? Variabel-variabel jatuh cinta belum terpenuhi semua, dan kau pasti akan melakukan analisis komparatif dengan kebiasaan-kebiasaan umum. Tapi aku yakin analisismu takkan komprehensif, dan kau pun mungkin tak sadar bahwa jatuh cinta itu kasuistik. Dan sejak kapan jatuh cinta butuh variabel?</p>
<p>Ah, tapi aku jadi melantur, September. Jadi untuk sementara, aku takkan mengganggumu dulu. Semoga dua tahun tak terlalu lama dan membuat kau terburu-buru mengakhiri masa lajangmu.</p>
<p>Semoga <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/dear-september/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memahami Dua Puluh Enam</title>
		<link>http://ipoet.net/memahami-dua-puluh-enam/</link>
		<comments>http://ipoet.net/memahami-dua-puluh-enam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 17:06:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=250</guid>
		<description><![CDATA[Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai &#8211;ehhmm&#8211; pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain. Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati &#8220;memojokkan&#8221; pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Meninggalkan jumlah seperempat abad membuat banyak pemikiran timbul di kepala. Pemikiran mengenai &#8211;ehhmm&#8211; pernikahan, kehidupan di masa depan, kebahagiaan, dan seterusnya, dan lain-lain.</p>
<p>Aku mengerti lazim bahwa orang akan dengan sangat senang hati &#8220;memojokkan&#8221; pada bujang lapuk di usia sebegini, dengan tanpa perasaan berdosa dan mengalir selepas tiupan angin yang menusuk tulang di malam hari, &#8220;kapan mau menikah?&#8221;</p>
<p>Kalau saja memaki itu bukan dosa, apalagi kepada orang yang lebih tua, sudah tentu akan kumaki mereka sepuas hati. Karena pertanyaan itu akan menempatkan aku diposisi bersalah, seakan-akan akulah yang memilih untuk tidak menikah secepatnya, dan seakan-akan menikah itu semudah membeli ikan di pasar. Padahal mereka lupa, membeli ikan saja harus dipilih-pilih dengan hati-hati, apalagi calon pasangan hidup.</p>
<p>Toh mereka juga tidak tahu bahwa aku baru saja patah hati lagi, tepat sehari sebelum berulang tahun. Mereka tidak tahu, sepantasnya tidak perlu tahu, dan aku pun tak mau bercengeng-cengeng lagi sambil mengeluarkan curahan hati yang diakhiri dengan pertanyaan &#8211;yang tak pernah terjawab, &#8220;kenapa&#8230;?&#8221;</p>
<p><span id="more-250"></span></p>
<p>Aku enggan bukan karena mati rasa, errr, sedikit mungkin iya, tapi aku juga tahu dunia sedang berduka. Seorang lelaki luar biasa yang bernama Michael Jackson telah wafat, meninggalkan sejuta &#8211;atau malah ratusan ribu juta&#8211; kenangan di masing-masing kepala dan hati penggemarnya, termasuk aku. Tapi membuat tulisan sebagai sebuah &#8220;tribute&#8221; untuk sang raja pun aku menjadi enggan, biarlah tersimpan di hati saja.</p>
<p>Lantas apalagi ya? Oh iya, pemilihan presiden negara tercinta ini. Walaupun aku terlibat sebagai salah satu panitianya, aku pun tak ingin menulis menyoalnya. Semoga saja hasilnya bisa membawa kebaikan untuk rakyat yang sudah terlalu lama menderita.</p>
<p>Memang, harus kuakui, koordinasi pikiran dan tanganku belakangan ini agak kurang baik. Kalau sedang melamun sambil menatapi lampu-lampu kendaraan saat kami sedang saling melintasi, imajinasiku berlari kencang seperti tak tertahan. Entah otak kanan atau otak kiri pun aku sudah tak bisa membedakan, karena semua terlebur menjadi satu kesatuan, tapi disaat yang sama ingin meloncat dan membelah diri berkali-kali. Tapi setiap kali aku berusaha menterjemahkannya menjadi bentuk yang terdokumentasi, ia &#8211;atau mereka&#8211; menghilang lagi.</p>
<p>Kemudian terlintas di kepalaku, apa mungkin memang ada waktunya aku harus berhenti mengoceh dan diam mendengar saja. Tak perlu terus menerus berusaha menularkan semangat dan energi untuk orang-orang yang kehilangan arah, karena aku sendiri sudah kehabisan energi dan mulai kehilangan arah.</p>
<p>Demikianlah, faktor &#8216;U&#8217; itu hinggap juga dan melumat aku sedikit demi sedikit. Bukannya ingin berhenti, tapi ingin melambat sedikit untuk kemudian mencari jalan pintas yang sepi agar bisa tancap gas. Memudar sedikit untuk menyerap cahaya sekitar.</p>
<p>Dan sudah pasti aku bukannya tak mensyukuri kehidupan yang bagiku sudah menginjak angka dua puluh enam. Walau seberapa pahit, sulit dan menyebalkannya, setiap detik aku nikmati seperti anak kecil yang diajak bermain ke pasar malam. Selalu ada hal baru, selalu ada pemahaman baru, dan selalu ada cara pandang baru.</p>
<p>Jadi, maafkan saja kalau belakangan ini jarang ada cerita yang bisa dikisahkan. Termasuk untuk tulisan ini pun, aku meminta maaf karena tak bisa menutupnya dengan lamat-lamat dan penuh keanggunan. Ah, kalian pasti sudah mengerti maksudku, kan?</p>
<p> <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/memahami-dua-puluh-enam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;&#8230;.&#8221;</title>
		<link>http://ipoet.net/210/</link>
		<comments>http://ipoet.net/210/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Aug 2008 10:57:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=210</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;kok ngomongnya pelan-pelan?&#8221; &#8220;Iya, pacarku ada di ruangan sebelah, sama keluarganya.&#8221; &#8220;Ha?&#8221; &#8220;Kenapa? Terlalu nekat ya?&#8221; &#8220;Gak apa-apa deh. Nekatnya kamu bikin aku gak jadi gila..&#8221; &#8220;Loh? Gila kenapa?&#8221; &#8220;Nungguin kamu nelpon..&#8221; &#8220;&#8230;&#8221; Ah, sudahlah. Kujungkir balikkan saja dunia ini. Supaya tak ada lagi salah dan benar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>&#8220;kok ngomongnya pelan-pelan?&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Iya, pacarku ada di ruangan sebelah, sama keluarganya.&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Ha?&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong><span id="more-210"></span></strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Kenapa? Terlalu nekat ya?&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Gak apa-apa deh. Nekatnya kamu bikin aku gak jadi gila..&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Loh? Gila kenapa?&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;Nungguin kamu nelpon..&#8221;</strong></em></p>
<p><em><strong>&#8220;&#8230;&#8221;</strong></em></p>
<p>Ah, sudahlah. Kujungkir balikkan saja dunia ini. Supaya tak ada lagi salah dan benar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/210/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan kita bermain api,</title>
		<link>http://ipoet.net/dan-kita-bermain-api/</link>
		<comments>http://ipoet.net/dan-kita-bermain-api/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 06:28:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=206</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Halo..&#8221; Sunyi dan kosong merebak menyesakkan dada, hanya tercemari dengan sedikit desis blower Air Conditioner yang diset pada suhu 19 derajat celcius. &#8220;Halo..&#8221; Sekali lagi suara itu terdengar, mencoba memecahkan badai di hatinya. &#8220;Aku rindu sekali, ingin bertemu kamu..&#8221; Aretha Franklin seolah mengiringi ucapan yang menggantung itu, mencoba mengkonfrontasi kebekuan yang menggetarkan perasaan. Lelaki itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Halo..&#8221;</p>
<p>Sunyi dan kosong merebak menyesakkan dada, hanya tercemari dengan sedikit desis blower <em>Air Conditioner </em>yang diset pada suhu 19 derajat celcius.</p>
<p>&#8220;Halo..&#8221; Sekali lagi suara itu terdengar, mencoba memecahkan badai di hatinya.</p>
<p>&#8220;Aku rindu sekali, ingin bertemu kamu..&#8221;</p>
<p>Aretha Franklin seolah mengiringi ucapan yang menggantung itu, mencoba mengkonfrontasi kebekuan yang menggetarkan perasaan. Lelaki itu pun berharap suara diseberang sana yang menyanyikan &#8220;I Say A Little Pray For You&#8221; untuknya.</p>
<p><strong><em>The moment I wake up<br />
Before I put on my makeup<br />
I say a little pray for you<br />
While combing my hair now,<br />
And wondering what dress to wear now,<br />
I say a little prayer for you</em></strong></p>
<p>&#8220;Aku juga rindu sekali, dan sangat ingin bertemu.&#8221;</p>
<p><span id="more-206"></span></p>
<p>Jeda waktu menyeruak, detik melambat mencoba membujuk jantung yang berdetak sangat cepat, tak seperti biasanya.</p>
<p><strong><em>I run for the bus, dear,<br />
While riding I think of us, dear,<br />
I say a little prayer for you.<br />
At work I just take time<br />
And all through my coffee break-time,<br />
I say a little prayer for you.</em></strong></p>
<p>&#8220;Maaf ya, tidak banyak yang bisa aku tawarkan untuk kamu..&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mengerti, aku baru datang dalam hidup kamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kamu tidak menemui aku tiga bulan yang lalu?&#8221;</p>
<p><em><strong>I say a little prayer for you.. I say a little prayer for you..</strong></em></p>
<p>&#8220;Karena tiga bulan yang lalu aku baru saja membakar tiket pulang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehe..&#8221; Suara merdu itu tertawa kecil di ujung sana.</p>
<p>&#8220;Kamu.. terima kasih ya..&#8221; Dia mencoba menutupi kegelisahannya.</p>
<p>&#8220;Terima kasih untuk apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena telah menyadarkan aku, dan mematahkan teoriku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ha..?&#8221; Intonasi suaranya menggambarkan kebingungan.</p>
<p>&#8220;Iya, kamu sudah menyadarkan aku, bahwa aku masih punya hati.. Dan mematahkan teori bahwa aku tidak bisa jatuh cinta lagi..&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>Diam berbahasa, dan dalam diam kedua hati itu berpelukan.</p>
<p><em><strong>My darling believe me, ( believe me)<br />
For me there is no one but you!<br />
Please love me too (answer his pray)<br />
And I&#8217;m in love with you (answer his pray)<br />
Answer my prayer now babe (answer his pray)</strong></em></p>
<p>&#8220;Kamu tidak seperti pacarku, kamu bisa memanjakan aku. Aku juga berterima kasih untuk itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku juga punya rasa yang sama untukmu. Separuh hatiku sudah aku berikan untuk lelaki lain, tapi aku pastikan, separuh lainnya aku berikan untukmu.&#8221;</p>
<p><em>Checkmate</em>. Senyum itu menyimpul.</p>
<p>&#8220;Tapi kamu sadar kan, kita sedang menanam bom waktu?&#8221; Ujar wanita itu sedikit ragu sambil agak menahan ucapannya, sehingga hampir terdengar seperti berbisik.</p>
<p>&#8220;Iya, tapi kalaupun nanti bom itu meledak, aku akan mati bahagia,&#8221; jawabnya dengan rikuh namun tanpa keraguan.</p>
<p><em><strong>Forever, and ever, you&#8217;ll stay in my heart<br />
and I will love you<br />
Forever, and ever we never will part<br />
Oh, how I&#8217;ll love you<br />
Together, forever, that&#8217;s how it must be<br />
To live without you<br />
Would only mean heartbreak for me (oooooooooh)</strong></em></p>
<p>&#8220;Kamu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8221;</p>
<p>Tidak ada suara yang terdengar lagi. Kedua hati itu telah bertemu, walaupun dalam kondisi yang salah dan waktu yang salah.</p>
<p>&#8220;Emm, kalau nanti tiba-tiba aku menutup telepon, kamu jangan marah ya. Sebentar lagi pacarku mau datang.&#8221; Suara merdu itu masih rikuh, namun kali ini karena mengharapkan sebuah pengertian.</p>
<p>&#8220;Iya, nggak apa-apa kok. Aku mengerti kondisinya. Seperti ini saja aku sudah cukup senang,&#8221; pertama kalinya dalam pembicaraan ini dia berbohong. Sedetik kemudian dia berdehem untuk menutupi kecemburuannya.</p>
<p>&#8220;Ya sudah, kamu makan ya. Aku mau kerja lagi,&#8221; katanya masih berbohong. Dia hanya tidak suka jika telepon tiba-tiba terputus.</p>
<p>Suara di seberang sana terdiam sesaat.</p>
<p>&#8220;Iya deh. Kamu juga jangan lupa makan ya,&#8221; akhirnya suara itu menyahut.<br />
&#8220;Oh iya, Va&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;?&#8221; Lelaki itu mencoba menenangkan hatinya yang masih bergemuruh.</p>
<p>&#8220;I miss you..&#8221;</p>
<p><em>Final Checkmate</em>. Ratu berhadapan dengan raja, dan tidak ada ruang bergerak lagi untuk raja. Hati yang tadi sudah agak tenang, kembali dilanda badai.</p>
<p>&#8220;I miss you too..&#8221;</p>
<p><em>&#8216;more than you can ever imagine. S</em><em>o much that it hurts,&#8217; </em>lanjutnya lirih ketika telepon itu sudah ditutup.</p>
<p>Dan Frank Sinatra mendendangkan <a title="Lets fall in love" href="http://www.metrolyrics.com/lets-fall-in-love-lyrics-frank-sinatra.html">&#8220;Let&#8217;s fall in love&#8221;</a>, mengantarkan lelaki itu ke dalam hayalannya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/dan-kita-bermain-api/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Melambaikan Tangan Dan  Melangkah Pergi</title>
		<link>http://ipoet.net/melambaikan-tangan-dan-pergi/</link>
		<comments>http://ipoet.net/melambaikan-tangan-dan-pergi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Apr 2008 19:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=189</guid>
		<description><![CDATA[Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya. Sudah tiga hari pula [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Cuaca Jakarta sedang tidak ramah beberapa hari belakangan ini, bahkan cenderung muram seperti sedang menyimpan sebuah kesedihan yang tak terungkapkan. Ditatapnya lagi langit sore Jakarta yang sedang mendung, dan dia seperti dapat merasakan bahwa mereka sedang berkomunikasi. Awan hitam yang menggelayut di langit magrib keemasan itu seperti sedang mencoba berbicara kepadanya.</p>
<p>Sudah tiga hari pula ia tak berinteraksi dengan manusia nyata. Mungkin tidak sepenuhnya tiga hari, jika menjawab salam mbak Nani &#8211;asisten rumah tangganya&#8211; yang baru saja tiba, terhitung sebagai interaksi sosial langsung. Selebihnya, ia lebih banyak berdiam diri, dan menutup rapat-rapat telinganya sambil mendengarkan lagi-lagu yang menggambarkan perasaan hatinya.</p>
<p>Tepat ketika JA Verdianto menyanyikan <a title="Hanya tinggal kita berdua" href="http://koesuma.multiply.com/journal/item/178">&#8220;Hanya tinggal kita berdua&#8221;</a>, sms tersebut masuk ke telepon genggamnya. Dilihatnya jam di dinding, sambil menghela nafas berat. Sms tersebut dikirim empat jam yang lalu, dan baru ia terima saat ini. Betapa operator telekomunikasi saat ini tidak mengenal lagi istilah <em>customer satisfaction</em>, hanya atas nama menyedot pelanggan sebanyak-banyaknya dengan tarif yang menyesatkan.</p>
<p>Namun seketika matanya terpaku kepada beberapa baris kalimat yang tertera di layar. Kekesalannya tidak lagi tertuju kepada operator, dan sejujurnya ia tak tahu harus kesal kepada siapa. Dibacanya lagi kata demi kata yang ditujukan kepadanya tersebut berulang kali, berharap ia salah membaca. Atau jika dibaca berkali-kali, mungkin kalimat tersebut akan berubah makna. Tapi tidak, kalimat itu tetap sama&#8230;<span id="more-189"></span></p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Mas, aku dilamar orang. Selesai lebaran mungkin. Dan aku menerimanya..&#8221;</strong><br />
<em>Sender: ..baby (06/04/2008 10:17 PM)</em></p></blockquote>
<p>Seketika pula jantungnya seperti berhenti berdetak. Ia seperti linglung, tapi segenap tenaga ia berusaha untuk tetap sadar dan berpikir jernih. &#8216;Tarik nafas, dan mencerna!&#8217;</p>
<p>Demikian batinnya berbicara.  &#8220;Tidak, jangan kali ini. Jangan kali ini.. Tidak lagi..&#8221; Ia terbata berbicara, entah kepada siapa, mungkin berharap sekonyong-konyong masuk pesan berikutnya yang mengatakan itu hanya lelucon april mop yang terlambat lima hari.</p>
<p>Dan lima detik kemudian, masuk pesan lainnya. Dia menekan tombol VIEW.</p>
<blockquote><p><strong>&#8220;Maafin aku ya mas&#8230;&#8221;<br />
</strong><em>Sender: ..baby (06/04/2008 10:19PM)</em></p></blockquote>
<p>Tidak membantu. Pesan tersebut tidak membantu keadaan, malah memperburuknya. Ia pun terduduk lesu, tanpa perasaan yang jelas. Ditekannya tombol NEXT di pemutar musiknya yang di-set random, karena mendadak ia merasa sendiri di dunia ini. &#8220;Berdua saja sudah tak cukup baik, apalagi tinggal sendiri..&#8221; Lagi-lagi ia menggumam sendiri.</p>
<p>Ketika lagu berikutnya mengalun, ia mencoba bernostalgia. Amy Winehouse seolah menyambut kalimatnya, dengan berujar,</p>
<blockquote><p><em> For you I was a flame<br />
Love is a losing game<br />
Five story fire as you came<br />
Love is a losing game</em></p>
<p><em>One I wish I never played<br />
Oh what a mess we made<br />
And now the final frame<br />
Love is a losing game</em></p>
<p><em>Played out by the band<br />
Love is a losing hand<br />
More than I could stand<br />
Love is a losing hand</em></p>
<p><em></em></p>
<p><em>Self professed&#8230; profound</em><em><br />
Till the chips were down<br />
&#8230;know you&#8217;re a gambling man<br />
Love is a losing hand</em></p>
<p><em>Though I&#8217;m rather blind<br />
Love is a fate resigned<br />
Memories mar my mind</em><em><br />
Love is a fate resigned</em></p>
<p><em>Over futile odds<br />
And laughed at by the gods<br />
And now the final frame<br />
Love is a losing game</em></p>
<p><strong><em>(Amy Winehouse &#8211; Love Is A Losing Game)</em></strong></p></blockquote>
<p>Ia ingin sekali membantah, tapi lalu ia terdiam. Mungkin Amy memang benar, love indeed is a losing game. Dan dia sama sekali bukan penjudi yang baik.  Dengan parau ia berujar pada dirinya sendiri, &#8220;shit does happens, Yo. You have chosen your way, and you love that game. You know you will loose, but still, you put all your money on the table.&#8221; Ia tahu, ini adalah uang terakhirnya, dan jika ia kalah ia mungkin tak akan pernah bisa berjudi lagi.</p>
<p>Maka atas nama kepedihan pun, ia mengenang lagi apa yang terjadi sejak enam bulan terakhir dalam hidupnya. Betapa semua hal ia lakukan untuk tidak kalah kali ini, dan betapa ia berusaha untuk menjadi penjudi yang baik. Tapi keberuntungan tidak selalu datang &#8211;malah sangat jarang&#8211; kepada orang baik.</p>
<p>Dan sang kekasih pun kini ingin melangkah pergi. Dia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan untuk mencegah gadis yang &#8211;mungkin masih&#8211; dicintainya itu untuk melambaikan tangan dan pergi. Logikanya memaksa ia untuk melawan dan berjuang mati-matian untuk memenangkan lagi pertarungan cintanya kali ini. Tetapi hatinya menolak dan melawan. &#8216;Tidak ada gunanya memperjuangkan apa yang tidak ingin dimenangkan,&#8217; begitu kata hatinya.</p>
<p>Ia tahu, seluruh dunia mungkin mencemoohnya karena menyerah begitu saja. Tapi bukankah sang gadis telah membuat pilihannya? Dan bukankah itu adalah keputusan yang harus ia hormati? Bukankah itu berarti sang gadis hanya mengabarkan, dan tidak meminta pendapatnya? Tanpa ingin mengetahui alasan yang mendasari keputusan tersebut &#8211;karena seminggu yang lalu kata &#8216;i love you&#8217; masih merupakan penutup pembicaraan di telepon&#8211; ia menyerah dan menunduk kalah.</p>
<p>Dan tepat ketika ia menyerah kalah, Adam Lazzara seolah bernyanyi untuknya. <a title="New American Classic" href="http://www.azlyrics.com/lyrics/takingbacksunday/newamericanclassic.html">New American Classic</a> mengalun dari speakernya, dan petikan gitar itu perlahan-lahan menenggelamkannya dalam penyesalan yang tak terjelaskan &#8211;antara menyesali sebuah keputusan, atau berharap bisa memutar balik waktu dan berharap sekalian saja tak usah mengirimkan email yang mengawali ini semua. Namun sekali lagi Adam Lazzara bernyanyi dengan parau diiringi biola yang makin lama makin menyayat hati.</p>
<blockquote><p><em>Retrace the steps (retrace the steps) as if we forgot<br />
Say you won&#8217;t care, say you won&#8217;t care<br />
Try to avoid it (try to avoid it) but there&#8217;s not a doubt<br />
And there&#8217;s one thing I can do nothing</em></p></blockquote>
<p>Cahaya matanya meredup, dan diraihnya jaket yang tergantung di kursi kerjanya. Ia lalu melangkah keluar dari rumahnya, tanpa memperdulikan hujan yang turun dengan deras membasahinya. Seolah ikut berduka, langit Jakarta malam itu mencurahkan hujannya, menggantikan air mata Deo yang tak menetes sedikitpun.</p>
<p>Bagaikan dalam film cinta dengan ending menyedihkan, episode malam itu ditutup dengan suara Akhdiyat Duta Modjo yang menyanyikan lagu &#8220;Saat Yang Tepat Untuk Berpisah&#8221; sebagai soundtrack penutup.</p>
<blockquote><p><em>Dan bila kau harus pergi<br />
Jauh dan takkan kembali<br />
Ku akan merelakanmu bila kau bahagia<br />
Selamanya di sana walaupun tanpaku</em></p>
<p><em>Ku akan mengerti cinta dengan semua yang terjadi<br />
Pastikan saja langkahmu tetap berarti<br />
Bisakah aku tanpamu<br />
Sanggupkah aku tanpamu</em></p>
<p><em>Sehangat pelukan hujan saat kau lambaikan tangan<br />
Tenang wajahmu berbisik<br />
Inilah waktu yang tepat â€˜tuk berpisah<br />
Selembut belaian badai saat kau palingkan arah<br />
Jejak langkahmu terbaca<br />
Inilah waktu yang tepat â€˜tuk berpisah </em></p>
<p><em>Ku akan pahami cinta<br />
Dengan apa yang terjadi<br />
Pastikan saja mimpimu tetap berarti</em></p>
<p><em>Aku tak pernah mengharap untuk kau kembali<br />
Saat kau temukan duniamu<br />
Aku tak pernah menunggu tuk kau kembali<br />
Saat bahagia mahkotamu bila kedamaian selimutimu<br />
Jangan kau kembaliâ€¦</em></p>
<p><em><strong>(Sheila on 7 &#8211; Saat Yang Tepat Untuk Berpisah)</strong></em></p></blockquote>
<p>Kemudian kini ia bisa mengerti, seolah terkuak rahasia semesta yang paling besar. Ia akan membunuh hatinya, beranjak dari meja judi, dan meninggalkannya selama-lamanya. Walaupun itu berarti ia tak akan pernah bisa merasakan hatinya lagi. Dalam derasnya hujan, ia berbisik kepada semesta dan berharap bisa menggaung sampai ke hati yang meninggalkannya. &#8220;Selamat tinggal, kekasih hati. Selamat menemukan hidup yang kau inginkan&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">****</p>
<p style="text-align: center;"><img title="lovestation.." src="http://ipoet.net/log/wp-content/uploads/2008/04/lovestation2.jpg" alt=" " /></p>
<p><span style="color: #333333;">Iya, abang gak akan mencegah. Be sudah mengambil keputusan, dan abang gak akan berusaha mencegahnya. Selamat berbahagia, semoga Be menemukan apa yang Be mau.</span></p>
<p><span style="color: #333333;">I don&#8217;t want to be dramatic, and I can&#8217;t be. But it&#8217;s a goodbye, then. </span></p>
<p><span style="color: #333333;">Good bye, dear lover&#8230;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/melambaikan-tangan-dan-pergi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>34</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>euphoria</title>
		<link>http://ipoet.net/euphoria/</link>
		<comments>http://ipoet.net/euphoria/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 Jul 2006 23:19:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[pemimpi subuh]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.ipoet.net/log/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Gelisah dan menatapi langit-langit kamar dengan gamang. Selama satu jam dia telah mencoba untuk tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Jangankan tertidur, mengantukpun tidak. Ditekannya tombol power laptopnya yang sedari tadi malam aktif dalam mode suspend. Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Tapi dia acuhkan, walaupun suara-suara yang terdengar mengalahkan suara yang mengalun sayup-sayup dari LCD TV [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Gelisah dan menatapi langit-langit kamar dengan gamang. Selama satu jam dia telah mencoba untuk tidur, tapi tidak membuahkan hasil. Jangankan tertidur, mengantukpun tidak. Ditekannya tombol power laptopnya yang sedari tadi malam aktif dalam mode suspend.</p>
<p>Ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Tapi dia acuhkan, walaupun suara-suara yang terdengar mengalahkan suara yang mengalun sayup-sayup dari LCD TV 29 inch yang menggantung di pojok kamar tidurnya. Terdengar disana statement Steve Jobs yang sedang diwawancara di Bloomberg, yang kemudian disambut gelak tawa ketika dia ditanyakan soal kemiripan GUI Windows Vista dan Mac.</p>
<p>Tapi tetap, dia tak tertarik. Perhatiannya kembali tertuju ke layar laptop yang kini menunjukkan halaman hitam polos dengan beberapa baris teks. Tak sampai 2 detik, jari-jari itu mengetik, <strong>sudo alva</strong>, dan lalu password&#8211;yang urung diganti selama 2 tahun; deardea.</p>
<p><span id="more-85"></span></p>
<p>Alva lalu mengambil PDA-nya, dan mengambil craddle dari tempatnya. Sepintas matanya melihat jam, tertera disana 20 Februari 2006 pukul 2 pagi. Setelah membaca jadwal meeting hari itu, diletakkannya lagi PDA tersebut di tempat semula.</p>
<p>30 detik kemudian, browser safarinya menampilkan halaman feedreader. Ada 34 email baru. Dibacanya dengan sepintas, tak ada yang menarik perhatian. Rata-rata berisi tentang report, milis, dan beberapa spam yang dengan saktinya melewati filter.</p>
<p>Tiba-tiba, matanya berhenti pada sebuah email. Jantungnya berdetak cepat, senyumnya mengembang. Dibacanya email terakhir berulang kali, dan senyum itu semakin terlihat. Email yang membawanya larut dalam lamunan, mengingat dan mereka-reka dengan seksama peristiwa 2 bulan yang lalu di sebuah kafe di daerah Kemang.</p>
<p>Diulangnya kalimat-kalimat itu di dalam hatinya. Diucapkannya berkali-kali. Persis seperti kalimat teman-temannya, &#8220;mungkin lo cuma terobsesi sama dia, pujaan hati bertahun-tahun lo itu..&#8221;</p>
<p>Banyak sekali kalimat yang terdengar silih berganti dikepalanya. &#8220;Untuk apa jatuh cinta mati-matian kalau setiap hari tak pernah bisa tersenyum..&#8221;, dan &#8220;kamu ingin dia bahagia kan? mungkin, dia tidak bisa bahagia denganmu.. mungkin, dia hanya bisa berbahagia dengan orang lain..&#8221;</p>
<p>Doktrin. Dia sedang mendoktrin otak dan hatinya sendiri. Tapi entah bagaimana, tiba-tiba sebuah suara asing mempertanyakan sesuatu, &#8220;bagaimana jika perasaan galau dan sakit itulah yang membuatmu tetap hidup?,&#8221; suara hatinya.</p>
<p>Dicernanya pertanyaan itu, mungkin memang ada benarnya. Bukankah selama bertahun-tahun dia baik-baik saja dengan perasaan galau dan sakit yang dia miliki. Jari-jarinya berhenti mengetik, menanti suara kecil yang mungkin terdengar dari hatinya.</p>
<p>&#8220;Ayolah, aku hanya butuh suara kecil saja&#8230; bahkan berbisik pun tak mengapa,&#8221; katanya.</p>
<p>Dipejamkannya mata dan berkonsentrasi, dia ingin mendengar suara sekecil apapun yang memerintahkannya untuk terus berjalan. Yang mengatakan padanya, untuk melupakan gadis yang sudah bertahun-tahun dia puja. Tapi tidak, tidak ada suara lagi dikepalanya.</p>
<p>&#8220;Apakah kamu sudah siap untuk hidup tanpa perasaan itu? Bukankah dulu kau katakan kau akan menunggu dia walaupun harus sejuta tahun?,&#8221; masih suara di hatinya.</p>
<p>Alva terhenyak, lama dia terdiam. Dia memang pernah mengucapkan janji itu.</p>
<p>&#8220;Ayolah, aku hanya perlu satu alasan untuk berhenti mencintai dia. Tolonglah aku,&#8221; Alva menghela nafasnya dalam.</p>
<p>&#8220;Kau tidak pernah butuh alasan, Va. Mencintai seseorang itu tidak pernah butuh alasan,&#8221; pikirannya yang bersuara kali ini. Pelan, tapi cukup tegas.</p>
<p>Alva tersenyum, kepalanya mengangguk pelan. Sepintas ada cahaya terang terlihat di roman wajahnya. Tangannya pun kembali mengetik, dan kini matanya berhenti di satu baris kalimat di laptopnya.</p>
<p>&#8216;Enter your new password: &#8216;, begitu tertulis disana. Cursor itu berkedip-kedip seolah sudah menanti jawaban itu selama bertahun-tahun. Diejanya satu persatu huruf itu sambil mengetik; e-u-p-h-o-r-i-a. Jari telunjuknya kini berada diatas tombol enter, dan sepuluh detik kemudian ia melaksanakan tugasnya.</p>
<p>Alva kembali tersenyum.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/euphoria/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

