<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poetra Nasution - Pemimpi Yang Kurang Tidur &#187; Islam</title>
	<atom:link href="http://ipoet.net/category/islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ipoet.net</link>
	<description>Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh</description>
	<lastBuildDate>Tue, 15 May 2012 11:14:47 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Ramadhan ini&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/ramadhan-ini/</link>
		<comments>http://ipoet.net/ramadhan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 19:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan kali ini terasa sedikit lebih khusyuk, entah mengapa. Walaupun sesekali masih muncul godaan di malam harinya, tapi melewatkan malam tanpa berkumpul berjamaah di surau besar dekat rumah rasanya sungguh sayang. Sengaja pula dipilih surau yang agak jauh itu, karena disana setiap malamnya ada ceramah sebelum bertarawih. Tak setiap malam memang &#8211;seperti saya katakan, godaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan kali ini terasa sedikit lebih khusyuk, entah mengapa. Walaupun sesekali masih muncul godaan di malam harinya, tapi melewatkan malam tanpa berkumpul berjamaah di surau besar dekat rumah rasanya sungguh sayang.</p>
<p>Sengaja pula dipilih surau yang agak jauh itu, karena disana setiap malamnya ada ceramah sebelum bertarawih. Tak setiap malam memang &#8211;seperti saya katakan, godaan terkadang ada&#8211; namun sebisa mungkin saya usahakan bermakmum kesana.</p>
<p><span id="more-459"></span></p>
<p>Rasanya pula, baru kemarin sekali ibunda memasak sahur dan ayahanda membangunkan kami. Memang mungkin kealpaan bahwa betapa sungguh istimewanya bulan ini terkadang menyesatkan, sehingga masih sering terlarut dalam urusan duniawi, dan tak meresapi dengan penuh adanya tamu agung itu. <em>Insya Allah</em> masih diberi kesempatan untuk Ramadhan-ramadhan berikutnya, dan menempa iman lebih baik lagi.</p>
<p>Dan tak terasa kini bilangan hari telah menginjak angka 29 Ramadhan. <strong>Para Pencari Tuhan jilid 3</strong> (yang ini tontonan favorit keluarga) pun sudah memasuki episode terakhirnya hari ini. Dengan siapa Azzam akan menjadi; apakah Ayya atau Khalila, sedikit jadi bahan perbincangan juga. Hehehe.</p>
<p>Ramadhan kali ini memang sudah di penghujungnya, dan jika boleh (dan semoga tidak) tak menjadi <em>riya</em>, ada ruang kesedihan di hati yang ingin menitikkan air mata. Beberapa hal pun datang meminta perhatian, termasuk perihal <em>mamak (om) </em>dan <em>unde (tante) </em>kami; dua sejoli yang saling mencintai itu. Keduanya sedang sakit saat ini, mohon didoakan untuk kesembuhannya. Lain kali kalau teringat akan saya ceritakan kisah mereka <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Semoga, hadiah dan oleh-oleh dari Ramadhan ini dapat bertahan dan tak surut di hati ini. Dan semoga untuk kita semua, demikian pula adanya.</p>
<p>Selamat hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah, dua tangan sepuluh jari saya terhatur mohon dimaafkan kesalahan saya lahir dan batin.</p>
<p><em>Akhirul kalam, taqabbalallahu minnaa wa minkum ajma&#8217;in, wa Ja&#8217;alanallahu minal &#8216;aaidina wal faaidzin.. Amiin, amin yaa rabbal &#8216;aalamiin&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/ramadhan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ahmadiyah; Sebuah Tanggapan</title>
		<link>http://ipoet.net/ahmadiyah-sebuah-tanggapan/</link>
		<comments>http://ipoet.net/ahmadiyah-sebuah-tanggapan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Apr 2008 23:58:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[a story of...]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[just a thought...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://musuhnya.diki.or.id/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Di dalam Islam, sebenarnya sejak jaman dahulu telah banyak terjadi perbedaan dalam golongan dan aliran yang ada. Dan hingga kini pun, ada bermacam golongan dan aliran yang biasanya memiliki beberapa perbedaan pendapat, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ada yang menyebut diri Sunni, ada pula yang Syi&#8217;ah. Kaum Sunni sendiri terbagi-bagi lagi pada pengikut Syafi&#8217;i, Hambali, Hanafi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di dalam Islam, sebenarnya sejak jaman dahulu telah banyak terjadi perbedaan dalam golongan dan aliran yang ada. Dan hingga kini pun, ada bermacam golongan dan aliran yang biasanya memiliki beberapa perbedaan pendapat, sesuai dengan keyakinan masing-masing. Ada yang menyebut diri Sunni, ada pula yang Syi&#8217;ah. Kaum Sunni sendiri terbagi-bagi lagi pada pengikut Syafi&#8217;i, Hambali, Hanafi dan Hambali. Demikian juga kaum Syi&#8217;ah. (Untuk referensi lebih lengkap mengenai mazhab, silahkan membaca <a title="mazhab dalam islam" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab">tautan ini</a>).</p>
<p>Namun demikian, perbedaan yang ada biasanya (dan seharusnya) hanya perbedaan dalam tataran fiqih, karena jika perbedaannya ada dalam tataran tauhid, selayaknya dan sepantasnya golongan tersebut tidaklah merupakan bagian dari Islam lagi. Sebagai contoh adalah kasus Al Qiyadah yang terang-terangan mengakui Mosadeq sebagai nabi dan rasul.</p>
<p>Dan siaran berita beberapa hari ini kembali diramaikan dengan pemberitaan mengenai Ahmadiyah. Sejujurnya, saya sangat miris mengikuti pemberitaan yang ada, dengan adanya tindak kekerasan yang dialami oleh anggota jemaat Ahmadiyah. Apapun alasannya, negara kita adalah negara hukum, dan hukum jalanan bukanlah sesuatu yang diakui di negara ini.</p>
<p>Sebagai seorang <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mazhab_Syafi%27i">Syafi&#8217;iyah</a>, sedari kecil saya mendapat pendidikan agama dari Al-Washliyah. Dan sedari kecil pula saya terbiasa mempelajari perbedaan-perbedaan golongan dan aliran yang ada. Namun demikian, saya tahu saya tidak memiliki cukup kompetensi untuk mengukur mana yang paling benar, sehingga mengenai Ahmadiyah sendiri, saya akan berada di dalam zona abu-abu. Mengapa demikian?</p>
<p><span id="more-21"></span>Saya pertama sekali mendengar tentang Ahmadiyah adalah ketika saya masih di madrasah ibtida&#8217;i, kurang lebih ketika saya SMP. Seperti kebanyakan teman-teman lainnya, saya hanya membaca dan mendengar, namun tidak pernah &#8220;bersinggungan&#8221; secara langsung, berbeda dengan Muhammadiyah ataupun NU yang memang ada di sekitar lingkungan saya.</p>
<p>Ketika saya pindah ke Bandung, saya &#8220;bersinggungan&#8221; langsung dengan Ahmadiyah. Saya berkenalan, saya mempelajari, saya bahkan beberapa kali sholat di mesjid Ahmadiyah di Bandung. Beberapa kali pula saya berdiskusi langsung dengan ustadz-ustadznya, dan terakhir kali (sekitar tahun lalu) saya sempat berdiskusi dengan salah seorang ulamanya di daerah Cimahi (saya lupa nama daerahnya).</p>
<p>Namun sekali lagi, saya tidak ingin menyimpulkan salah atau benar disini. Saya hanya ingin mempublish tulisan saya yang sudah tertahan sejak lama, tertanggal 29 Juli 2005, yang masih menjadi draft karena belum cukup risetnya. Saya baru sempat mengambil poin dari buku terbitan JAI sendiri, yang berjudul &#8220;Bukan Sekedar Hitam Putih&#8221; &#8211;dulunya bisa di<em>download</em> dari situs <a title="Jemaat Ahmadiyah Indonesia" href="http://www.ahmadiyya.or.id/">Jemaat Ahmadiyah Indonesia</a> (JAI), tapi sepertinya sudah dihapus.</p>
<p>Namun demikian, saya rasa ada baiknya juga saya mem<em>publish</em> masalah ini sebagai sumbangsih, selain juga sebagai dokumentasi pribadi saya. Beberapa poin penting dari &#8220;Bukan Sekedar Hitam Putih&#8221; Ahmadiyah &#8211;yang saya baca di<em>publish</em> sebelum tahun 2005&#8211; yang rancu dan menjadi pertanyaan menurut pendapat saya adalah:</p>
<ul>
<li>Kutipan dari halaman 31, pencantuman dalil-dalil mengenai kenabian setelah nabi Muhammad SAW: QS 44: 6-7.</li>
</ul>
<ul>
<li>Pengakuan kenabian Mirza Ghulam Ahmad di halaman 47.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sikap &#8220;masih mau&#8217;ud&#8221; tentang sholat halaman 119-120.</li>
</ul>
<ul>
<li>Fatwa &#8220;masih mau&#8217;ud&#8221; halaman 121: Allah ta&#8217;ala ingin membentuk sebuah jemaat yang tersendiri.</li>
</ul>
<ul>
<li>Sabda &#8220;nabi mirza&#8221; tentang &#8220;nabi Krisna&#8221; dalam &#8220;Tamma Haqiqatul Wahyi, hlm 95&#8243;.</li>
</ul>
<ul>
<li>Pengakuan mirza sebagai mahdi yang dijanjikan, tidak sesuai dengan kutipan pada halaman 138 bahwasanya Mahdi adalah Isa Al-Masih.</li>
</ul>
<ul>
<li>Disatu sisi, mirza mengaku dirinya adalah mujaddid (pembaharu) saat menghadapi tudingan bahwasanya dia dituduhkan sebagai nabi palsu. Akan tetapi pada kesempatan lainnya, dia mengakui bahwasanya dirinya adalah juru selamat, nabi dan rasul pada akhir jaman (paragraf akhir).</li>
</ul>
<ul>
<li>Dicantumkan juga sabdanya dalam &#8220;Tadzkira-tush-shahadatain&#8221; pada halaman 155 yang dengan jelas menyatakan bahwa Isa anak Maryam telah wafat, yang tentu saja bertolak belakang dengan hadist yang pada buku ini dikutip sebagai landasan penugasannya sebagai mahdi dari kumpulan hadist Shahih muslim 2 (halaman 192 &#8211;yang diriwayatkan oleh Sa&#8217;id ibnul Musayyad dari Abu Hurairah r.a). Jika dibaca secara teliti, pada hadist tersebut Rasulullah SAW bersabda, &#8220;Demi Allah yang hidup saya berada pada tangan-Nya, sesungguhnya Isa bin Maryam benar-benar akan turun diantara kalian sebagai hakim penguasa yang adil, &#8230;.&#8221;</li>
</ul>
<ul>
<li>Pada halaman 154 pula diberikan footnote yang mencantumkan ayat Al-Qur&#8217;an yang dijadikan referensi dan bukti atas wafatnya nabi Isa A.S yang sebenarnya sama sekali tidak menyebutkan tentang perihal wafatnya nabi Isa A.S (pada buku ini dicantumkan ayat tersebut adalah Al-Maidah 76, 118 dan Ali &#8216;Imran 56,145).</li>
</ul>
<ul>
<li>Demikian juga footnote bernomor 256 pada halaman yang sama yang dijadikan landasan tentang mengapa ummat muslim tidak perlu lagi menunggu mahdi (nabi Isa A.S) yang dijanjikan karena orang yang telah wafat tidak akan kembali lagi ke bumi, selain surat Al Jaatsiyah ayat 26-27 yang menceritakan tentang orang-orang yang mendustakan ayat Allah yang meminta nenek moyangnya dihidupkan kembali sebagai bukti nyata kekuasaan Allah.</li>
</ul>
<p>Sekali lagi, sayangnya format digital dari buku tersebut sepertinya telah dihapus dari situs JAI, dan saya pun kekurangan bahan untuk meneruskan riset. Sengaja saya menjadikan buku terbitan JAI sendiri sebagai referensi, untuk menghindari adanya kesan fitnah. Dan sudah cukup banyak juga buku-buku dan pihak lain yang membahas tentang Ahmadiyah yang ditolak pula isinya oleh jemaat Ahmadiyah sendiri.</p>
<p>Adapun menyikapi masalah pelarangan Ahmadiyah di Indonesia, saya merasa sebaiknya pihak MUI dan Ahmadiyah (baik <a title="Jemaat Ahmadiyah Indonesia" href="http://www.ahmadiyya.or.id/">Qadian</a> maupun <a title="Gerakan Ahmadiyah Indonesia" href="http://www.ahmadiyah.org/">Lahore</a>) mengadakan forum diskusi demi tercapainya kemaslahatan ummat. Forum diskusi yang saya maksud adalah forum diskusi yang membahas akar permasalahan dan mencari solusi, bukan debat kusir dan saling menyalahkan seperti yang terjadi sudah-sudah.</p>
<p>Dan sekali lagi saya menghimbau dan mengajak kepada teman-teman lainnya, untuk jangan terpancing emosi menyikapi masalah ini. Kita adalah manusia yang diberikan akal pikiran, maka pergunakanlah untuk memecahkan masalah dengan bijak. <strong></strong></p>
<p><strong>Hindarilah kekerasan, karena Islam adalah agama yang <em>rahmatan lil &#8216;alamin</em></strong>.</p>
<p>Insya Allah akan tercapai sebuah kesepahaman yang baik, <strong>sekali lagi demi kemaslahatan ummat</strong>. Dan pernyataan sikap pribadi saya pun masih sama, saya akan tetap berada di area abu-abu, sementara waktu saya ingin mengumpulkan data dan riset dari kedua sisi, sehingga tidak dianggap menjadi fitnah.</p>
<p><em>Barakallah lii walakum ajma&#8217;iin&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/ahmadiyah-sebuah-tanggapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

