Thursday, April 2nd, 2009
Pemilu 2009 sudah diambang mata. Terhitung 7 hari dari sekarang, rakyat Indonesia akan berpesta demokrasi. Selama beberapa minggu lewat, panggung politik nasional sudah lebih dahulu “panas” dengan manuver-manuver para petingginya.
Ada satu hal menarik yang sudah saya dengar beberapa kali mengenai pemilu. Salah satunya adalah menguraikan kata “pemilu” seperti halnya kata “pemukul”atau kata “pengantar”.
Kata “pemukul” sendiri dapat diartikan sebagai suatu alat untuk memukul, sebagaimana kata “pengantar” dapat berarti sebagai sebuah permulaan / media untuk mengantarkan sesuatu. Menjadi sedikit lucu karena kata “pemilu” sendiri adalah sebuah singkatan dari “Pemilihan Umum”, namun karena result-nya seringkali malah mengecewakan, kata itu dipelesetkan dan diartikan sebagai “alat / permulaan / media untuk memberikan rasa pilu”.
Memang, sejarah bangsa ini dalam hal keterwakilan rakyat sebagai salah satu ciri negara demokrasi lebih banyak menghasilkan kegagalan. Skandal suap, tindakan asusila, arogansi, sifat kekanak-kanakan yang berujung kepada baku hantam, dan masih banyak hal negatif lainnya sering mewakili pencitraan lembaga legislatif kita itu.
Namun yang menjadi pertanyaan, apakah hal itu sepenuhnya kesalahan para anggota dewan yang terhormat itu? (more…)
Posted in Uncategorized | 6 Comments »
Friday, January 2nd, 2009
Banyak orang terperangkap dalam masa lalu, disadari atau tidak. Hal-hal dari masa lalu ini seringnya masih terbawa-bawa dan terus diungkit-ungkit.
Paling tidak, hal ini berlaku untuk Israel dan bangsa Yahudi. Peristiwa Holocaust dan 6 juta orang yang meninggal dalam genosida yang dipimpin oleh Hitler selalu menjadi tameng mereka. Saya bukan seorang yang anti-semit, tapi terus terang, saya tidak percaya dengan peristiwa Holocaust yang mereka gadang-gadangkan.
(more…)
Posted in Uncategorized | 7 Comments »
Monday, December 22nd, 2008
Tak ada kata lain yang bisa terucap selain: “Selamat hari ibu, mak…”
I love you…
Posted in Uncategorized | 4 Comments »
Tuesday, October 7th, 2008
Ini keluh kesah lama yang terpendam di kepala tapi belum bisa dituliskan dengan baik, bahwa kata pembajakan seolah sudah mengalami ameliorasi kata. Pembajakan sudah menjadi hal yang “bisa dimengerti”.
Bagaimana tidak. Lapak-lapak jualan barang tidak resmi ini hampir bisa kita temukan di setiap tempat. Mulai dari taman, tempat berbelanja (baik kelas tradisional, menengah maupun mewah), di pinggiran jalan, dan seterusnya. Ironisnya, malah tak jarang kita bisa melihat lapak-lapak tersebut berdampingan dengan “damai” dengan kantor penegak hukum. Tanya kenapa?
Dan sebelumnya, mari kita jujur terhadap diri sendiri. Berapa banyak album dari ber-giga bita lagu yang tersimpan dalam media penyimpanan milik kita yang benar-benar kita beli? Apakah sampai seper-sepuluhnya?
(more…)
Posted in Uncategorized | 9 Comments »