<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Poetra Nasution - Pemimpi Yang Kurang Tidur &#187; daily scratchs..</title>
	<atom:link href="http://ipoet.net/category/daily-scratchs/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ipoet.net</link>
	<description>Mimpi dan Cerita Sang Musafir Lusuh</description>
	<lastBuildDate>Wed, 18 Jan 2012 05:37:49 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3</generator>
		<item>
		<title>Budi Pekerti Luhur</title>
		<link>http://ipoet.net/budi-pekerti-luhur/</link>
		<comments>http://ipoet.net/budi-pekerti-luhur/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Dec 2009 08:55:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[just a thought...]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[budi pekerti]]></category>
		<category><![CDATA[hospitality]]></category>
		<category><![CDATA[luhur]]></category>
		<category><![CDATA[penting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=464</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu, salah seorang langganan di warungku membeli jajanan seperti biasanya. Dia juga berombongan dengan teman-temannya, masih seperti biasanya. Namun tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu yang membuat aku berpikir panjang, &#8220;brother, my friends said that brother are handsome&#8221;. Polos, sambil lihat kanan kiri lalu cekikikan. Bukan soal aku dibilang &#8211;ehm&#8211; ganteng itu yang membuat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Beberapa hari yang lalu, salah seorang langganan di warungku membeli jajanan seperti biasanya. Dia juga berombongan dengan teman-temannya, masih seperti biasanya. Namun tiba-tiba dia mengucapkan sesuatu yang membuat aku berpikir panjang, &#8220;brother, my friends said that brother are handsome&#8221;. Polos, sambil lihat kanan kiri lalu cekikikan.</p>
<p>Bukan soal aku dibilang &#8211;ehm&#8211; ganteng itu yang membuat aku berpikir panjang &#8211;toh mereka adalah anak-anak SMP, tapi soal kalimatnya itu. Sadar nggak, ada yang aneh dengan kalimat itu?</p>
<p><span id="more-464"></span>Dia bilang, &#8220;..brother are handsome&#8221;, bukan &#8220;..you are handsome&#8221;. Menjadi sesuatu hal yang bisa dipahami kalau dia mengucapkan kalimat itu dengan grammar atau pronounciation yang berantakan. Tapi tidak, dia mengucapkannya dengan grammar dan pronounciation yang sangat baik.</p>
<p>Lantas setelah mereka semua selesai cengar-cengir (termasuk aku sendiri) dan bubar, aku jadi menganalisa kejadian itu. Kenapa dia menggunakan kata &#8220;brother&#8221; alih-alih &#8220;you&#8221;?</p>
<p>Baru aku pahami kemudian, bahwa mungkin dia bukannya tidak fasih berbahasa Inggris, atau tidak sengaja karena grogi. Dia memang sengaja menggunakan kata itu. Karena, di negeri ini tidak wajar kalau kita memanggil orang yang lebih tua dengan panggilan &#8220;kamu&#8221;, walaupun hanya sebagai keterangan penunjuk.</p>
<p>&#8220;Bang, kata kawan-kawanku <strong>kamu</strong> ganteng&#8221;, adalah sebuah kalimat yang tidak sopan. Kalimat itu biasanya terucap dengan format seperti, &#8220;Bang, kata kawan-kawan <em>awak</em> <strong>abang</strong> ganteng&#8221;.</p>
<p>Oh iya, di kampung saya sini, sangat tidak sopan membahasakan diri dengan kata &#8220;aku&#8221; kepada yang lebih tua, apalagi kepada orang yang beneran sudah tua. Biasanya kita menggunakan kata &#8220;awak&#8221; ataupun membahasakan diri dengan nama.</p>
<p>Terkesan gak penting ya? Tapi setelah aku pikir-pikir lagi, nilai-nilai seperti ini yang sudah mulai hilang di Indonesia. Sebuah identitas budaya yang sangat penting.</p>
<p>Maka aku pun jadi mengingat dan akrab dengan anak itu dan teman-temannya. Bukan, bukan karena mereka bilang aku ganteng, tapi karena selain mereka ramah (banyak juga yang ceriwis sekali dan jutek), mereka juga sopan sekali. Dan karena itu juga aku jadi hapal nama mereka, dan melayani belanjaan mereka dengan lebih baik, dan dengan senang hati.</p>
<p>Aku ingat waktu kecil dulu, negara tercinta ini terkenal dengan hospitality-nya kepada orang lain. Senyum dan keramahan itu pula yang mengantarkan banyak orang asing jatuh cinta terhadap negeri yang <em>gemah ripah loh jinawi</em> ini. Tolong menolong dan gotong royong itu sih sudah jadi kewajiban. <strong>Dulu</strong> (?).</p>
<p>Mendadak aku menjadi rindu terhadap kata &#8220;budi pekerti luhur&#8221;. Kata itu bukan sekedar retorika, dan bukannya tidak ada maksudnya. Ketika kita bisa saling menghargai dan menyayangi, maka semua hal akan menjadi lebih mudah. Percaya atau tidak, silahkan dipraktekkan saja.</p>
<p>Kita rame-rame teriak anti neo-liberalisme dan neo-kapitalisme ada dimana-mana, tapi disaat yang bersamaan waktu ada seorang tua renta yang menengadahkan tangan, kita semua mencibir, menghakimi bahwa beliau adalah orang yang pemalas dan tidak mau bekerja. Karena, setelah dipikir-pikir dengan baik, menolak halus dengan senyum pun tak ada ruginya.</p>
<p>Ucapan anak-anak itu kemarin pun &#8220;menyentil&#8221; hatiku. Teguran mungkin, mengingatkan diri yang semakin tidak perduli terhadap lingkungan sekitar. Dan lantas aku pun membongkar-bongkar hati mencari rasa budi pekerti, tenggang rasa dan sayang menyayangi itu diantara penyakit-penyakit yang semakin menggerogoti hati ini.</p>
<p>Semoga belum terlambat. Semoga&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/budi-pekerti-luhur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ramadhan ini&#8230;</title>
		<link>http://ipoet.net/ramadhan-ini/</link>
		<comments>http://ipoet.net/ramadhan-ini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 19:27:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=459</guid>
		<description><![CDATA[Ramadhan kali ini terasa sedikit lebih khusyuk, entah mengapa. Walaupun sesekali masih muncul godaan di malam harinya, tapi melewatkan malam tanpa berkumpul berjamaah di surau besar dekat rumah rasanya sungguh sayang. Sengaja pula dipilih surau yang agak jauh itu, karena disana setiap malamnya ada ceramah sebelum bertarawih. Tak setiap malam memang &#8211;seperti saya katakan, godaan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ramadhan kali ini terasa sedikit lebih khusyuk, entah mengapa. Walaupun sesekali masih muncul godaan di malam harinya, tapi melewatkan malam tanpa berkumpul berjamaah di surau besar dekat rumah rasanya sungguh sayang.</p>
<p>Sengaja pula dipilih surau yang agak jauh itu, karena disana setiap malamnya ada ceramah sebelum bertarawih. Tak setiap malam memang &#8211;seperti saya katakan, godaan terkadang ada&#8211; namun sebisa mungkin saya usahakan bermakmum kesana.</p>
<p><span id="more-459"></span></p>
<p>Rasanya pula, baru kemarin sekali ibunda memasak sahur dan ayahanda membangunkan kami. Memang mungkin kealpaan bahwa betapa sungguh istimewanya bulan ini terkadang menyesatkan, sehingga masih sering terlarut dalam urusan duniawi, dan tak meresapi dengan penuh adanya tamu agung itu. <em>Insya Allah</em> masih diberi kesempatan untuk Ramadhan-ramadhan berikutnya, dan menempa iman lebih baik lagi.</p>
<p>Dan tak terasa kini bilangan hari telah menginjak angka 29 Ramadhan. <strong>Para Pencari Tuhan jilid 3</strong> (yang ini tontonan favorit keluarga) pun sudah memasuki episode terakhirnya hari ini. Dengan siapa Azzam akan menjadi; apakah Ayya atau Khalila, sedikit jadi bahan perbincangan juga. Hehehe.</p>
<p>Ramadhan kali ini memang sudah di penghujungnya, dan jika boleh (dan semoga tidak) tak menjadi <em>riya</em>, ada ruang kesedihan di hati yang ingin menitikkan air mata. Beberapa hal pun datang meminta perhatian, termasuk perihal <em>mamak (om) </em>dan <em>unde (tante) </em>kami; dua sejoli yang saling mencintai itu. Keduanya sedang sakit saat ini, mohon didoakan untuk kesembuhannya. Lain kali kalau teringat akan saya ceritakan kisah mereka <img src='http://ipoet.net/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Semoga, hadiah dan oleh-oleh dari Ramadhan ini dapat bertahan dan tak surut di hati ini. Dan semoga untuk kita semua, demikian pula adanya.</p>
<p>Selamat hari raya Idul Fitri 1430 Hijriah, dua tangan sepuluh jari saya terhatur mohon dimaafkan kesalahan saya lahir dan batin.</p>
<p><em>Akhirul kalam, taqabbalallahu minnaa wa minkum ajma&#8217;in, wa Ja&#8217;alanallahu minal &#8216;aaidina wal faaidzin.. Amiin, amin yaa rabbal &#8216;aalamiin&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/ramadhan-ini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Epidemi &#8220;Fast-Reading&#8221;</title>
		<link>http://ipoet.net/epidemi-fast-reading/</link>
		<comments>http://ipoet.net/epidemi-fast-reading/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 Aug 2009 19:29:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[just a thought...]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/?p=449</guid>
		<description><![CDATA[Hanya salah satu contoh kecil dari betapa kita malas mencari informasi. Dan ketika informasi itu sudah tersedia secara lengkap pun bahkan bertebaran dimana-mana, kita terlalu malas untuk membacanya secara detail. &#8220;Get to the point saja lah, put. Biar cepat..&#8221;, begitu dulu ucapan seorang kawan. Tidak masalah langsung mencari intisari kalau memang daya serapnya tinggi. Tapi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone" title="Kurang Perhatian" src="http://ipoet.net/i/kurangperhatian.gif" alt="" width="450" height="741" /></p>
<p>Hanya salah satu contoh kecil dari betapa kita malas mencari <a title="AwakMedan 2.0" href="http://siteo.us/vg">informasi</a>. Dan ketika informasi itu sudah <a title="Halaman resmi pestablogger 09 chapter medan" href="http://pestablogger.awakmedan.net/">tersedia secara lengkap pun</a> bahkan bertebaran dimana-mana, kita terlalu malas untuk membacanya secara detail.</p>
<p><span id="more-449"></span></p>
<p>&#8220;Get to the point saja lah, put. Biar cepat..&#8221;, begitu dulu ucapan seorang kawan. Tidak masalah langsung mencari intisari kalau memang daya serapnya tinggi. Tapi kalau cuma sekedar ingin cepat?</p>
<p>Tidak heran juga segala sesuatu yang instan di negara ini laris manis tanjung kimpul; mi instan, kopi instan, bubur instan, rejeki instan, bahkan sampai sarjana instan.</p>
<p>Dan kita masih bertanya, kenapa negara kita selalu kalah dengan negara lain?</p>
<p>Duh&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/epidemi-fast-reading/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dua Puluh Enam</title>
		<link>http://ipoet.net/dua-puluh-enam/</link>
		<comments>http://ipoet.net/dua-puluh-enam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Jun 2009 08:48:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[26]]></category>
		<category><![CDATA[facebook]]></category>
		<category><![CDATA[putra]]></category>
		<category><![CDATA[teman]]></category>
		<category><![CDATA[ultah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=249</guid>
		<description><![CDATA[Terima kasih semuanya, I love you all! =)]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://ipoet.net/i/poet_haulfb.jpg" alt="I love you all, you guys rocks!!" /></p>
<p>Terima kasih semuanya, I love you all! =)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/dua-puluh-enam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilu dan &#8220;Setidaknya&#8221;</title>
		<link>http://ipoet.net/pemilu-dan-setidaknya/</link>
		<comments>http://ipoet.net/pemilu-dan-setidaknya/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Apr 2009 08:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=244</guid>
		<description><![CDATA[Pemilu 2009 sudah diambang mata. Terhitung 7 hari dari sekarang, rakyat Indonesia akan berpesta demokrasi. Selama beberapa minggu lewat, panggung politik nasional sudah lebih dahulu &#8220;panas&#8221; dengan manuver-manuver para petingginya. Ada satu hal menarik yang sudah saya dengar beberapa kali mengenai pemilu. Salah satunya adalah menguraikan kata &#8220;pemilu&#8221; seperti halnya kata &#8220;pemukul&#8221;atau kata &#8220;pengantar&#8221;. Kata [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pemilu 2009 sudah diambang mata. Terhitung 7 hari dari sekarang, rakyat Indonesia akan berpesta demokrasi. Selama beberapa minggu lewat, panggung politik nasional sudah lebih dahulu &#8220;panas&#8221; dengan manuver-manuver para petingginya.</p>
<p>Ada satu hal menarik yang sudah saya dengar beberapa kali mengenai pemilu. Salah satunya adalah menguraikan kata &#8220;pemilu&#8221; seperti halnya kata &#8220;pemukul&#8221;atau kata &#8220;pengantar&#8221;.</p>
<p>Kata &#8220;pemukul&#8221; sendiri dapat diartikan sebagai suatu alat untuk memukul, sebagaimana kata &#8220;pengantar&#8221; dapat berarti sebagai sebuah permulaan / media untuk mengantarkan sesuatu. Menjadi sedikit lucu karena kata &#8220;pemilu&#8221; sendiri adalah sebuah singkatan dari &#8220;Pemilihan Umum&#8221;, namun karena result-nya seringkali malah mengecewakan, kata itu dipelesetkan dan diartikan sebagai &#8220;alat / permulaan / media untuk memberikan rasa pilu&#8221;.</p>
<p>Memang, sejarah bangsa ini dalam hal keterwakilan rakyat sebagai salah satu ciri negara demokrasi lebih banyak menghasilkan kegagalan. Skandal suap, tindakan asusila, arogansi, sifat kekanak-kanakan yang berujung kepada baku hantam, dan masih banyak hal negatif lainnya sering mewakili pencitraan lembaga legislatif kita itu.</p>
<p>Namun yang menjadi pertanyaan, apakah hal itu sepenuhnya kesalahan para anggota dewan yang terhormat itu?<span id="more-244"></span></p>
<p>Mari kita lihat saja fakta dan kenyataan di lapangan. Di masa kampanye, kita banyak menemukan slogan-slogan yang dipergunakan sebagai alat untuk membujuk dan mempengaruhi. Kata-kata yang paling sering ditemukan seperti &#8220;bukti bukan janji&#8221;, &#8220;berjuang&#8221;, &#8220;mengemban amanah&#8221;, dan &#8220;untuk rakyat&#8221; kerap kita temui bertebaran dan tak jarang malah mengotori pemandangan.</p>
<p>Seringnya, kata-kata tersebut tak lebih dari slogan. Jarang sekali ada caleg / partai yang bisa menjelaskan visi dan misinya agar dapat mudah dicerna, karena umumnya mengandung kalimat-kalimat multi-tafsir seperti halnya ramalan dari REG WETON atau REG RAMAL atau REG lainnya.</p>
<p>Selain tidak mungkin untuk menuliskan program kerja dalam sebuah spanduk ataupun baliho, mungkin juga karena sebetulnya para caleg itu tidak memiliki kemampuan untuk memberikan sebuah revolusi &#8211;perubahan secara cepat&#8211; setidaknya apabila berdiri sendiri. Disinilah mungkin diperlukannya sebuah tulisan kecil bertanda bintang (*) yang menyebutkan &#8220;syarat dan ketentuan berlaku&#8221;.</p>
<p>Kenyataannya, seorang anggota DPR tidak akan pernah bisa merubah hidup seluruh konstituennya dalam masa tugasnya, apalagi jika yang bersangkutan hanya terpilih sendiri, ataupun jika fraksinya adalah fraksi minoritas. Reality bites; demokrasi ditentukan oleh suara terbanyak. Pun jika fungsi mereka yang kemudian diharapkan adalah sebagai penyambung lidah rakyat &#8211;dalam hal ini konstituennya, tetap saja sulit untuk memenuhi ekspektasi rakyat.</p>
<p>Untuk lebih gampangnya, mari kita ilustrasikan saja jumlah pemilih (DPT) nasional adalah 150 juta. Jika jumlah kursi DPR yang diperebutkan untuk masa bakti 2009-2014 adalah 560 kursi, maka dengan pembagian rata-rata (tanpa menghiraukan angka <acronym title="Bilangan Pembagi Pemilih">BPP</acronym>, sistem <acronym title="Parliamentary Threshold">PT</acronym> dan lain sebagainya) 77 <acronym title="Daerah Pemilihan">Dapil</acronym>, masing-masing dapil mendapat jatah 7 kursi, dengan masing-masing menjadi &#8220;representasi&#8221; 278.000-an konstituen (Ilustrasi ini bukan sistem yang sebenarnya)</p>
<p>Nah, seorang anggota legislatif terpilih harus masuk ke dalam sebuah komisi, yang masing-masing komisi memiliki fungsi yang berbeda pula (<a title="Daftar Komisi DPR" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Dewan_Perwakilan_Rakyat#Komisi">lihat disini untuk lebih lengkapnya</a>). Sedangkan banyak caleg yang masih belum memiliki bayangan tentang cara kerja ini, dan sudah menjanjikan kesejahteraan rakyat.</p>
<p>Menurut hasil perbincangan saya politik warung kopi saya, yang termasuk kriteria sejahtera untuk rakyat pada umumnya adalah harga-harga kebutuhan pokok yang terjangkau, tersedianya pekerjaan, biaya sekolah dan kesehatan gratis, dan sejenisnya. Tidak mungkin, saya ulangi dengan cetak tebal, <strong>tidak mungkin seorang caleg bisa menyediakan ini untuk konstituennya apabila berdiri sendiri</strong>. Hal-hal di atas dapat dihasilkan dari kerjasama bukan hanya seluruh anggota DPR, tapi juga kerjasama dengan DPD, dan presiden beserta jajaran kabinetnya.</p>
<p>Melihat iklim politik saat ini yang masih mementingkan keterpilihan secara mayoritas (dengan kata lain sebagai penguasa) untuk dapat memperjuangkan hal-hal diatas, dan dengan sistem negara kita yang multi-partai, akan sangat sulit mewujudkan &#8220;kesejahteraan&#8221; untuk masyarakat kecil.</p>
<p>Saya sedari dulu tidak pernah setuju dengan konsep ekonomi yang mengundang investor asing sebanyak-banyaknya ke negara ini untuk menanamkan modal, dengan tujuan akhir membuka lapangan kerja secara masif. Kita sudah belajar dari sejarah, bahwa masuknya perusahaan-perusahaan asing ke negara ini malah mencederai kaum marjinal. Melalui kasus Freeport kita sudah melihat bagaimana penduduk asli malah disingkirkan setelah dikeruk kekayaan tanah nenek moyangnya secara luar biasa, melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 juga kita telah melihat bagaimana para buruh di negara ini hanya menjadi objek pelengkap penderita.</p>
<p>Dibutuhkan sebuah komitmen kuat untuk tidak hanya memperhatikan ekonomi makro, tapi juga ekonomi mikro negara ini. Mungkin hal itu masih lama lagi baru akan terwujud untuk Indonesia. Tapi terlepas dari semua sikap skeptis dan sinikal terhadap jalannya sistem politik di negara ini, sudah menjadi tugas kita para kaum terpelajar untuk pro-aktif mencari figur-figur yang benar-benar peduli terhadap negara, dan memberikan sumbangsih kita dengan turut serta memilih pada saat pemilu 2009.</p>
<p>Jika memang tidak ada figur yang tepat untuk memajukan dan memakmurkan negara ini, setidaknya berikanlah suara untuk orang-orang yang berkomitmen untuk tidak menghancurkan negara ini. Tugas mereka hanya menjaga agar uang yang kita bayarkan melalui pajak kita tidak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Setidaknya, jangan lagi para wakil rakyat yang &#8220;terhormat&#8221; itu membuat pilu.</p>
<p>Mungkin untuk saat ini, kata &#8220;setidaknya&#8221; sudah cukup.</p>
<p>Bagaimana dengan sisanya? Alfred Simanjuntak sudah menjawabnya lewat &#8220;Bangun Pemudi Pemuda&#8221;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/pemilu-dan-setidaknya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dan dia bilang,</title>
		<link>http://ipoet.net/dan-dia-bilang/</link>
		<comments>http://ipoet.net/dan-dia-bilang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 18:00:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[daily scratchs..]]></category>
		<category><![CDATA[bodoh]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kampus]]></category>
		<category><![CDATA[virginia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=239</guid>
		<description><![CDATA[Di suatu malam yang ramai bersama teman-teman dan bergelas-gelas es teh manis, masuklah telepon itu. Ragu hati ingin menjawab, tetapi tak sampai hati juga setelah berbelas-kali teleponnya tak saya acuhkan. Terjadilah percakapan itu, dimana dia bertanya, dan saya menjelaskan. Menjelaskan bahwa saya tidak suka jika ia bersikap seperti yang sudah-sudah, dan walaupun saya sangat-sangat suka [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Di suatu malam yang ramai bersama teman-teman dan bergelas-gelas es teh manis, masuklah telepon itu. Ragu hati ingin menjawab, tetapi tak sampai hati juga setelah berbelas-kali teleponnya tak saya acuhkan.</p>
<p>Terjadilah percakapan itu, dimana <a title="Virginia Moon" href="http://ipoet.net/log/2008/09/virginia-moon/">dia</a> bertanya, dan saya menjelaskan. Menjelaskan bahwa saya tidak suka jika ia bersikap seperti yang sudah-sudah, dan walaupun saya sangat-sangat suka kepadanya, saya tidak akan melanggar prinsip saya (kalimat terakhir tentu hanya tertahan di tenggorokan dan tak terucap).</p>
<p>Lalu ia berkata, &#8220;kok rambutnya dipotong pendek, sih? Bagusan kalau gondrong&#8230;&#8221;</p>
<p>Satu kalimat, dan saya pun kembali terjerembab. Tersungkur, dan kembali curi-curi pandang melihat dia dari kejauhan. Terkesima, dan tergagap ketika dia datang mendekat di keesokan hari dan setelahnya.</p>
<p>Mungkin benar kata orang bijak, <em>when it comes to love, everybody is an idiot&#8230;</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/dan-dia-bilang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masa Lalu dan Tahun Baru</title>
		<link>http://ipoet.net/masa-lalu-dan-tahun-baru/</link>
		<comments>http://ipoet.net/masa-lalu-dan-tahun-baru/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Jan 2009 09:01:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>poetra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ipoet.net/log/?p=238</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang terperangkap dalam masa lalu, disadari atau tidak. Hal-hal dari masa lalu ini seringnya masih terbawa-bawa dan terus diungkit-ungkit. Paling tidak, hal ini berlaku untuk Israel dan bangsa Yahudi. Peristiwa Holocaust dan 6 juta orang yang meninggal dalam genosida yang dipimpin oleh Hitler selalu menjadi tameng mereka. Saya bukan seorang yang anti-semit, tapi terus [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak orang terperangkap dalam masa lalu, disadari atau tidak. Hal-hal dari masa lalu ini seringnya masih terbawa-bawa dan terus diungkit-ungkit.</p>
<p>Paling tidak, hal ini berlaku untuk Israel dan bangsa Yahudi. Peristiwa Holocaust dan 6 juta orang yang meninggal dalam genosida yang dipimpin oleh Hitler selalu menjadi tameng mereka. Saya bukan seorang yang anti-semit, tapi terus terang, saya tidak percaya dengan peristiwa Holocaust yang mereka gadang-gadangkan.<br />
<span id="more-238"></span><br />
Membahas masalah ini sendiri sama seperti mengurai benang kusut yang tak jelas ujung pangkalnya. Tapi satu hal yang dapat menjadi pemahaman, bahwa sebagian kaum Yahudi masih menunggu janji Tuhan atas Tanah Yang Dijanjikan untuk mereka, ketika mereka memutuskan untuk keluar dari Mesir dan mengikuti Musa AS. Sedangkan sebagian lainnya, memanfaatkan dogma turun-temurun tersebut sebagai pendukung dari pergerakan politiknya; yang kemudian kita kenal dengan Zionisme.</p>
<p>Zionisme sendiri tidak berkembang dan dijadikan bahan tertawaan ketika dicetuskan pertama kali oleh Theodor Herzl, namun setelah ditulis secara resmi dalam bukunya &#8220;Der Judenstaat&#8221;pada tahun 1896, dan dikongkritkan pada tahun 1897 dalam kongres di Bassel tahun 1897, paham ini terus berkembang. Hal ini dikarenakan, poin-poin Zionisme menggunakan dogma agama Yahudi, sehingga selain sebagai pergerakan politis, gerakan ini dapat diterima secara teologis.</p>
<p>Adalah sebuah hal yang harus dimengerti mengapa pergolakan politik di Palestina mencapai titik seperti saat ini. Setelah sejarah yang beribu tahun (semenjak pertama kali Nabi Musa memimpin kaum ini bereksodus dari Mesir), telah terjadi banyak sekali permasalahan.</p>
<p>Namun satu hal yang pasti, upaya mereka untuk mengambil alih Masjid Al-Aqsa dan upaya mereka mengambil alih seluruh wilayah Palestina sudah terlihat ngotot dan tidak perduli terhadap gunjingan dunia internasional lagi. Meskipun PBB sudah mengeluarkan berbagai macam resolusi untuk melindungi kota Yerussalem dan terutama Masjid Al-Aqsa, tampaknya resolusi semacam ini cuma dianggap angin lalu oleh Israel, sama seperti pengendara motor yang menganggap ringan peraturan di jalan raya kalau tidak ada polisi.</p>
<p>Tahun baru 1430 Hijriah dan 2009 Masehi diwarnai dengan brutalnya tindakan Israel dalam menggempur Palestina, terutama jalur Gaza. Dunia internasional bukannya tidak merespon, tapi lagi-lagi Israel tidak perduli. Mungkin memang hanya laskar FPI yang bisa menghadapi keras kepalanya mereka itu.</p>
<p>Harapan saya di tahun baru ini tidak terlalu muluk-muluk, selain permintaan dan resolusi untuk diri sendiri, saya&#8211;dan pastinya puluhan juta ummat manusia di muka bumi ini&#8211;hanya berharap bahwa Palestina dilindungi dari kezaliman semacamnya, bahwa Obama tidak akan mengulangi kebodohan Bush (walaupun di depan kongres Yahudi dia mengakui keberadaan Israel), dan tentunya perang di Palestina akan berakhir.</p>
<p>Harapan yang terlalu muluk-muluk? Mungkin saja&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ipoet.net/masa-lalu-dan-tahun-baru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

