Menghambar,
indera pengecap tidak lagi berfungsi
mulut kering terlalu banyak berdoa
namamu berputaran tak menentu di udara
Berdebar,
jantung ini berdetak tak tentu irama
waktu memaksa darah berdesir
bayanganmu bertebaran dimana-mana
Melayang,
gravitasi menjadi alfa membunuh massa
tulang kulit daging hanyalah benda
untuk jiwa yang kini terbelah menjadi dua
Mengabur,
setiap pandangan mata adalah ilusi
tak ada yang nyata ketika kau tak ada
saraf optik tidak lagi bisa mencerna
Melambat,
detik berganti semaunya saja
berharap waktu memuai ketika berdua
mengusangkan semua teorema yang ada
Tersiksa,
tidur menjadi hal yang langka
tak berkutik sampai subuh menyapa
terlelap atau tidak sungguh tak berbeda
Menggila,
tak tentu jam ingin menyapa
seucap kata mengobati dahaga
nestapa diri yang ingin berjumpa
Membuta,
salah benar tak ada lagi bedanya
nalar terbunuh terlalap apinya
bahkan dusta pun baik adanya
Selamat datang lagi dan lagi, wahai asmara
adakah tuan mendengarkan hamba?
Inginnya hati ini merindu dengan biasa,
seperti pendosa yang mengharap surga
Putra Nasution
Medan, 2008/09/29 – 2:59 am
PS: Ini cuma berbicara tentang masa lalu. Jadi jangan tanya itu foto siapa ya
























March 23rd, 2010 at 8:10 am
tadinya mo cie cie..
ga tau nya masa lalu ya
*pukpukputra*
March 23rd, 2010 at 8:22 am
Kurang lebih, Lin..
Gak terlalu kenapa-kenapa juga sih, udah hampir lupa juga, tapi selalu pingin posting ulang puisi ini
March 23rd, 2010 at 10:51 am
itu photo siapa bro?
March 24th, 2010 at 8:21 am
baru ngeh kalo kamu pinter bikin puisi.

wew… aku nyerah deh kalo disuruh bikin puisi.
engg… tp kayaknya, isi puisinya itu loh…
sepertinya kamu tersiksa sekali.
atau aku yg salah tangkep? XD
March 24th, 2010 at 12:14 pm
@galeshka:
(taser) (taser) (taser)
@Juminten:
I once wrote, “Expectation is the most bitter happines..”
Yang kutulis di atas itu, kurang lebih perasaan yang sama kalau aku sedang punya “rasa” itu.
Tersiksa, tapi bahagia. Bahagia, tapi tersiksa..
March 24th, 2010 at 4:57 pm
aku suka puisi yang kayak tersiksa begini. And I’ve been also falling in love with a guy with a deep hurt past… and he writes words like you do
April 25th, 2010 at 7:10 am
bagus puisinya, mampir blog gw juga ya… cocoret dot kom
May 31st, 2010 at 6:18 am
looks like you’re addicted to pain brow