Putra Nasution

Jaman Dulu…

“Dulu, kakek mau sekolah itu susah. Harus jalan 10 Kilometer setiap hari. Mau belajar malam susah, karena cuma ada lampu teplok. Makanan pun cuma ada beras catu.”

Cukup familiar dengan kalimat di atas? Saya yakin, hampir semua orang lebih muda yang berbicara kepada orang lebih tua pernah mendengar kalimat ini, dengan berbagai macam variasi. Intinya, hidup jaman dulu itu susah.

Saya sering mendengus sebal kalau sudah berjumpa dengan situasi seperti ini. Jaman dulu ya dulu, sekarang kan hidup sudah berbeda?

Sejak sering mendengar kalimat itu, saya pun sering mewanti-wanti diri sendiri agar saya tidak akan melakukan hal yang sama nanti ketika saya sudah tua. Saya ingin menjadi cukup arif dan bijaksana untuk bisa mengerti situasi jaman. Saya tidak ingin menjadi orang yang terperangkap dalam nostalgia masa lalu dan memperbandingnya dengan masa kini. Saya ingin tetap memiliki jiwa muda, saat nanti raga sudah menua.

Mereka (orang-orang tua itu) tidak tahu saja, bahwa saya pun pernah mengalami masa-masa sulit; walaupun tanpa todongan senjata penjajah, ataupun kekhawatiran akan dibom pesawat musuh saat menyalakan api di luar rumah.

Ketika pertama kuliah di Jojga dulu, saya tidak punya komputer, namun keinginan belajar tentang web tak terbendung lagi. Alhasil, jadilah saya sering memanfaatkan komputer teman-teman (jamak) ketika mereka sedang tidak menggunakannya; waktu mereka sedang tidur. Dan bermulalah cerita sang musafir lusuh yang sering terjaga sampai subuh, hehe.

Singkat kata, saya bekerja menjadi operator warnet. Bukan demi uang (karena gajinya kecil), tapi demi komputer dan internet gratis. Walaupun seringkali mendapat shift malam, saya tak pernah keberatan, karena umumnya para pelanggan akan mengambil paket hemat; 10 ribu Rupiah untuk akses internet dari pukul 00.00 sampai 06.00, dan para pelanggan tercinta itu takkan beranjak untuk merusuhi saya yang sedang belajar sampai saat saya memberikan pesan peringatan bahwa jam paket mereka akan segera berakhir.

Dari warnet dan komputer teman-teman itulah saya mulai belajar tentang pengembangan web sekaligus belajar desain. Referensi ketika itu belum banyak, google masih belum secanggih dan seterkenal sekarang ini. Ilmu yang di dapat pun masih dari trial and error; untuk mengetahui perusahaan webhosting mana yang bagus dan mana yang tidak didapatkan dari pahit manisnya tagihan. Pelajaran tentang manajemen proyek pun saya dapatkan dari klien-klien secara langsung, baik yang berhati setengah malaikat maupun jenis yang menyebabkan Adam dan Hawa terusir dari surga. Komplit.

Tak seperti saat ini, dulu saya masih seorang spesialis. Hanya mencintai dunia web. Jauh ketika desktop application masih menjadi primadona, saya sudah memiliki keyakinan bahwa suatu saat industri web akan berkembang pesat. Karakteristik web yang bisa berjalan di atas platform dan sistem operasi apapun, skalabilitasnya yang mudah untuk dikembangkan, dan teknologinya yang rapid memang sangat menjanjikan. Saya bahkan dalam salah satu seminar sempat menyebut bahwa Web adalah THE future platform.

Disamping itu keterlibatan saya dalam masa-masa awal berkembangnya blog di Indonesia dengan komunitas-komunitasnya kala itu (Blogbugs Indonesia, Angkringan Jogjakarta, BBV Bandung) membawa saya “terjerumus” makin dalam di dunia web.

Saya bukannya sedang bernostalgia ya, tapi masa-masa itu memang indah. Siapa bilang dunia maya itu penuh dengan penipu? Saya punya banyak sekali sahabat, klien, teman bisnis (bahkan, ehm, pacar) yang kenal dari dunia maya dan berakhir di dunia nyata.

Namun memang, pahit getirnya kehidupan tersebut memang harus meminta pengorbanan. Kuliah saya yang tak kunjung selesai (karena saya sering berdebat dan beradu pandang dengan dosen) akhirnya saya tinggalkan; drop-out, 2 kali. Darah muda, kalau kata bang Haji Rhoma :D

Nah, pengalaman-pengalaman ini ingin saya bagi kepada adik-adik mahasiswa yang sedang kuliah dan belum tahu apa tujuan hidupnya, terutama yang mengambil bidang komputer. Saya jadi sering mengisi seminar, kuliah umum, membentuk forum-forum diskusi sampai ke kelas-kelas kecil di berbagai kampus.

Sampai suatu ketika, industri web mulai berkembang pesat. Google mulai menunjukkan kekuatannya bersaing ketat dengan Microsoft dan Yahoo, perusahaan-perusahaan besar mulai berinvestasi di dunia web, dan istilah Cloud Computing pun mulai menjadi pembicaraan disana-sini. Berprofesi di dunia web mulai diperhitungkan, baik sebagai developer, designer, consultant, publisher dan seterusnya. Jenis-jenis profesi baru pun lahir.

Dan sejak saat itu pula, banyak anak-anak muda yang ingin mencari uang di industri web. Tak mengapa lah, walau mereka banting-bantingan harga dan mengesampingkan kualitas, saya cukup senang. Seperti kata para musisi senior tentang kelahiran band-band baru, saya tak pernah menganggap mereka sebagai kompetitor. Disamping itu, saya juga sudah merambah ke industri lain, hehe.

Anak-anak muda yang bersemangat ini, mengingatkan kepada saya waktu masih muda dulu. Hanya saja, banyak dari mereka seringkali ingin instan; ingin cepatnya saja. Belum tahu tentang prinsip desain sudah ingin terjun langsung. Belum paham soal web usability, tapi sudah ingin bikin portal. Intinya, seperti Nobita bilang, “ingin ini, ingin itu, banyak sekali”, tapi gak mau menjalani prosesnya.

Anak-anak muda seperti ini juga yang kadang bikin naik darah. Apa mereka tidak tahu penemuan terhebat abad 21 yang bernama GOOGLE? Mereka mau belajar apa saja, tinggal ketik, dan hidangan ilmu pengetahuan pun tersaji di depan mata. Segampang itu.

Tapi herannya, kalau saya menyarankan mereka untuk mencari sendiri, mereka pasti menggerutu. Kalau saya bilang, “dulu, saya ini belajar bikin web itu harus bergadang sampai pagi. Mau pakai komputer siang-siang pasti gak kebagian, karena teman-teman saya pasti makai. Masih untung kalian sekarang, ada banyak tempat bertanya, ada google. Jaman saya dulu belajar? Boro-boro. Kalau di mIRC kebetulan ada orang yang jago sedang online, pasti bahasannya tingkat tinggi. Kalau saya minta ulang, mereka suruh cari sendiri dulu. Nah ini, kalian jaman sekarang mau beli laptop saja harganya sudah murah. Tinggal minta orang tua lagi. Jaman saya dulu? Harus banting tulang begadang berbulan-bulan nabung baru sanggup beli PC.”

Kalau sudah begini, biasanya mereka nyengir sambil ngacir. Tapi yang sudah-sudah sih, besoknya pasti kembali lagi, nanya yang instan-instan lagi. Duh. Apa mereka nggak pernah tahu teknologi masa kini, penemuan terhebat abad 21 yang namanya GOOGLE?

Mereka nggak tahu aja, jaman saya dulu belajar, jangankan beli laptop, beli PC butut aja nggak sanggup. Harus begadang sampai pagi nunggu teman-teman yang punya komputer tidur dulu.

Dasar anak muda jaman sekarang. Huh.



21 Dreams about “Jaman Dulu…”

  1. venus Says:

    iya nih mbah. dasar anak muda jaman sekarang. cuih!! :) )

    apa kabar, put? :D

  2. poetra Says:

    Tau nih, mbok, anak muda sekarang kurang radikal. Kita dulu melawan Belanda itu pake bambu runcing. Anak muda jaman sekarang ini tinggal mengisi kemerdekaan saja kok susahnya minta ampun…

    Kalo perang lawan Belanda, wes mesti bubar jalan..
    *sambil ngelus jenggot dan ngemil singkong rebus*

  3. Ronald Says:

    Kalau gitu ntar kita kasih latihan bambu runcing aja ya? Biar ndak mundur bubar!

  4. Juminten Says:

    percaya ga, sih? dulu seniorku ada yg dr awal kuliah sampe lulus jg ga punya komputer sama skali. padahal 95% kuliahnya sangat melibatkan komputer. (karena jurusan IT gitu, looohh…)
    salut deh dgn perjuanganmu, put. ;)

  5. cimot Says:

    iyaaa iyaaa ciput emang hebaadd,,, sabaaarrr… tekuuuunn…
    tetaplah membagi ilmu dengan adek2 yang pengen smuanya instan itu yaahhh.. mereka menganggap perjuangan mereka yang serba instan itu sudah sangat bisa diperhitungkan, hihihi kasiannyaa :D

  6. Takodok! Says:

    Si mbah jangan galak-galak dong :D *sungkem*

  7. sez Says:

    jadi.. ajarin dong…
    *mulai ngeyel dan pengen instan :p*

    apaaa.. budaya instan itu bermula dari makanan instan, mbah?
    *nyeduh pop mie*

  8. poetra Says:

    Enak deh ya blog jaman sekarang. Jaman dulu saya pertama ngeblog, belum ada itu commenting system. Mau titip pesan harus dari guest book atau pakai tagboard. Jaman sekarang enak sudah ada commenting system yang terintegrasi.

    Tapi sudah mudah begini, blog engine canggih-canggih, malah bukannya mau belajar nulis, kok malah tembak2an SEO, mau dijadikan mesin pencari uang. Padahal dulu, mau mikin blog saja harus coding dulu semalam sunt…

    *dibekap*

  9. rime Says:

    halo…

    saya mau menanggapi quote kamu yang ini:
    “Saya sering mendengus sebal kalau sudah berjumpa dengan situasi seperti ini. Jaman dulu ya dulu, sekarang kan hidup sudah berbeda?”

    sadarkah kamu sedang melakukannya?

    sama seperti bedanya jaman kita dengan jaman engkong kita, jamannya anak muda sekarang beda sama jaman muda kita dulu (beuh, sok kenal kalipun). anak jaman sekarang sejak bayi aja udah bersentuhan dengan dunia instan: susu formula, pampers, dll.. udah agak gedean dikit dicekokin mie instan, telepon, dll… jadi ya wajar aja kalo dewasanya jadi manja gitu

    kalo saya sih ga terlalu gimana-gimana sama anak yang kek gini.. mereka itu hanya butuh perhatian, dan perlu untuk diingatkan tentang mana yang baik dan mana yang buruk :)

  10. poetra Says:

    @rime:
    Halo juga, Rime. Saya sadar, and intentionally being sarcastic, to my self :)

  11. noegroho Says:

    Mengiyakan penemuan terbesar…..mbah Gugel.

    Tapi penemuan terbesarku di tanah perantauan adalah bertemu dengan narablog. klo jadinya kadang bikin mereka ngeluh ya minta maaf deh.

    *sambil ngeluarin selembar voucher potongan Gramed tuk sogokan* :)

  12. lindaleenk Says:

    hai putra…masih main plurk? :p
    mash beranteman sama ichanx? :D

  13. nopz Says:

    hahaha…
    maunya yg instant ya..
    mau hasil tanpa harus melalui proses…
    *tersindir*
    :-P

  14. zee Says:

    Jaman dulu ya dulu, sekarang kan hidup sudah berbeda? <– hahahah jadi ngakak baca ini. Ya kek gitulah orang-orang tua, mereka hanya bisa senang dengan kenangan-2 mereka itu.

    Tapi memang benar katamu, anak muda jaman sekarang terlalu ingin yang serba instan. Tidak mau melalui proses, tidak ingin bersusah-susah. Ya memang sih, kalau ada yang lebih mudah kenapa harus cari jalan yang susah? Tapi menurutku proses itu perlu, karena banyak ilmu yang bisa didapat di situ.

    Selain contoh tentang industri web, contoh yang sama juga bisa dari BLOG. Kan banyak tuh, blog2 yang ingin cepat dapat PR. Nembak keyword sana sini untuk postingan tak jelas mereka, buat emosi aja rasanya kalau udah lagi cari yang penting2 di google, tah kemana2 dikasih link. Lalu ingin buru2 dapat job review tanpa mau tahu bagaimana prosesnya.

    Dasar anak muda jaman sekarang. *tapi bukan berarti aku da tua ya… :D

  15. aprian Says:

    Apa tulisan ini mau nunjukin bahwa putra sudah tua? hihiihih *kaburr*

  16. sinta Says:

    Hahahaha, itu pemikiran dari segi internet ya Put, pemikiran dari segi gw adalah hahahaha lebih tepatnya iri (hihihi) punya Laptop merk Apel bukannya buat kerja yang serius malah digotong buat dengerin itunesnya kenceng-kenceng. Jadinya ngerasa kayak lagi makan diiringi pengamen dari luar negeri.

    Anyway how are you?

  17. poetra Says:

    @linda:
    Masiiih, hehehe.

    @zee:
    Setuju kak. Seperti yang kita “sepakati” dulu, monetisasi sah-sah saja, tapi script nembak sana-sini itu malah nyampahin search engine. Mereka2 yang kekgitu (yang mau asal monetisasi) sih gak pantas disebut blogger; mereka itu spammer :)

    @aprian:
    Bukannya tua, pri, cuma menyindir diri sendiri :D

    @sinta:
    Termasuk banyaknya fotografer facebook (yang punya DSLR canggih dan mahal, tapi settingan auto dan eksis di facebook) juga dong ya, sin? Hehehe.. Terasa pahit gitu ngeliatnya :)

    Alhamdulillah kabar baik, masih sedang berjuang untuk bangkit di segala sisi dan bidang, supaya bisa menebus hutang dan dosa-dosa lama, termasuk kepadamu. Sabar ya, doakan supaya bisa cepat recovery :)

  18. phued Says:

    saya terharu membAca nya abg. . .
    Bisa buat saya termotivasi. . .
    Semangat dalam belajar walau pun
    Saya belum terlalu mendalami apa itu
    KoMputer dsb. .
    Saya hanya orang awam yang ingin belajar dari awal. . ^^
    Mohon bantuan nya jika saya kesusahan ya abg. .

    Phued_d3 ilkom’09 usu

  19. Yudha Says:

    *Blogger sekarang sih enak, jaman kakek dulu mah belom ada listrik, Kalau online harus pake lilin, belom lagi ngeblog enggak bebas, takut di tangkep Belanda*

    * kutipan dari komik ChickenStrip :) )

    Setiap waktu ada jamannya … *kalimat yg aneh, tapi yah gitu deh :) *

  20. bocahbandel Says:

    Hahahaha..

    bang make gugel acemana?? kan gak enak belajar sama gugel. gada yang merepet-merepet.. xixixixi..

  21. itha Says:

    hahahaha…. kamu memang sudah tua put!!!! *tembak2 putra pake bedil*


Tell me your dream..

 



At A Glance

My name is Putra Nasution.
I am a newmedia developer,
blogger and musician, living
in Medan, Indonesia.

Contact me here, for anything. And yes, I am available for projects =)

Or you can just stalk me at :
Visit me on Friendster..  Visit me on Facebook..  Visit me on Technorati..  Visit me on Twitter..

 

Twittered

 

Add to Technorati Favorites

Powered by FeedBurner

Flickr

111098654312matesBergerak dan bersuaracuri-curiaudio workslove bizarre triangleslow motionsightspretenderoldfashionedlovestation

Others



 

ipoet.net is a valid xHTML and CSS site, powered by wordpress and hostemple

Copyright © Ilham Syahputra Nasution 2001 - 2009